Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Gagal Melarikan Diri


__ADS_3

Aku pikir saat itu aku sudah aman dan bisa melarikan diri tanpa perlu di ketahui oleh tuan Jenson maupun orang kepercayaannya itu, tapi sayangnya dugaanku salah besar, saat aku menuntun Teguh untuk keluar dari sana tidak sengaja aku malah menabrak seorang perlahan yang tengah membawa makanan pesanan orang lain untungnya pesanan itu tidak jatuh sehingga aku tidak perlu mengganti rugi tapi aku harus meminta maaf kepadanya saat itu juga.


"Brukk....aahh..maafkan aku, mbak maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Ucapku sambil membungkuk meminta maaf kepadanya.


Kejadian itu membuat tuan Jenson menatap ke arahku dan dia mengetahui keberadaan aku karena melihat sosok Teguh yang aku gandeng saat itu.


"Ros..." Ucap Roy yang memanggil namaku cukup kencang saat itu.


Aku refleks langsung menoleh ke belakang dan membelalak mataku sangat lebar ketika melihat kedua pria itu menatap ke arahku dan mereka mengetahui keberadaan aku saat itu.


Segera saja aku menggendong Teguh dan membawanya berlari sekencang yang aku bisa, namun sayangnya karena aku memakai high heels lariku terhambat dan tidak bisa secepat biasanya sehingga satu pria yang rupanya adalah asisten entah sekretarisnya tuan Jenson berhasil menyusul aku dan dia langsung menghadang jalanku dengan merentangkan tangannya di hadapanku saat itu.


"Hah! Mau pergi kemana lagi kau?" Ucap pria itu kepadaku.


"Bu bagaimana ini, dia berhasil menahan kita, turunkan saja aku bu, aku bisa berlari sendiri," ucap dia kepadaku saat itu.


Aku tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan tapi aku sungguh tidak bisa menurunkan Teguh, aku tahu dia masih lima tahun, jadi aku tidak bisa jika harus menurunkannya, aku takut nanti dia sendiri yang akan tertangkap oleh tuan Jenson nantinya.


"Sudah kau tenang saja, ibu bisa mengatasi ini." Ucapku kepada Teguh.


Aku harus meyakinkan Teguh bahwa aku bisa melewati semua ini, jadi aku terus saja mengusap kepalanya dan dia mengangguk kepadaku saat itu, sampai tidak lama kemudian muncul tuan Jenson dari belakangku, padahal saat itu aku baru saja berbalik dan hendak melarikan diri lewat belakang kepadanya, namun karena tuan Jenson juga menghadang ku di belakang jadi aku benar-benar terperangkap saat itu.

__ADS_1


"Hei....bisakah kita bicara sebentar, aku bukan orang jahat, aku hanya ingin berbicara sesuatu kepadamu saja." Ucap tuan Jenson padaku saat itu.


"Apa yang mau kau bicarakan, aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan antara kita berdua, aku tidak mengenalmu dan kau sebaiknya membiarkan aku pergi atau aku akan berteriak bahwa kau mau menculik putraku." Ucapku mengancam dia saat itu.


Bukannya takut tuan Jenson justru malah tertawa pelan padaku saat itu.


"Ahahah...jangan bodoh, silahkan saja kau berteriak tidak akan ada yang mempercayai dirimu karena putramu mirip denganku, aku bisa saja mengaku bahwa dia putraku, semua orang tidak ada akan yang mempercayai ucapanmu itu." Balas tuan Jenson yang memang benar adanya.


Aku hanya bisa berdecak kesal dan merasa putus asa saat itu, terlebih seorang pria menahan tanganku dan aku juga harus menurunkan Teguh saat itu.


"Eugh..lepaskan aku, aku tidak mau bicara dengan kalian." Ucapku berusaha berontak saat itu.


Namun pria bernama Roy itu malah menarik Teguh dia memisahkan aku dan Teguh sehingga membuat aku panik dan tidak memiliki pilihan lain lagi selain menyetujui apa yang mereka inginkan saat itu.


"Saya akan menjaga putramu Ros tapi kamu sebaiknya bicara dahulu dengan tuan Jenson, dia hanya ingin berbicara sedikit saja, silahkan masuk ke dalam mobil, aku jamin ini akan aman." Balas pria itu kepadaku.


"Eughh....ibu, tolong aku bu, eughh...ibu kau jangan mencemaskan aku, aku akan melarikan diri dari pria sialan ini." Teriak Teguh yang dibawa pergi oleh pria tersebut.


Aku tidak bisa mengejar Teguh karena tanganku langsung ditahan oleh tuan Jenson dengan kuat dan lagi-lagi dia malah menyuruh aku untuk masuk ke dalam mobilnya yang berada di samping jalanan tersebut.


"Teguh....." Ucapku hendak mengejarnya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa pergi, dia akan aman dengan asistenku, ayo masuk semakin cepat kita bicara semakin cepat kau akan bertemu putramu kembali." Ucap tuan Jenson kepadaku.


Aku tidak bisa menjadi keras kepala lagi, akhirnya aku pun menuruti ucapannya dan segera masuk ke dalam mobil tersebut, begitu pula dengannya yang duduk bersampingan denganku saat itu.


"Cepat katakan apa yang ingin anda bicarakan denganku!" Ucapku kepadanya tanpa menatap sedikitpun ke arah dia saat itu.


Bahkan menatap wajahnya saja sudah membuat aku sangat muak dan aku begitu membenci dirinya, setelah semua yang pernah dia lakukan kepadaku di masa lalu, tidak mungkin aku melupakan semua itu apalagi memaafkan dia dengan mudah, disaat dia sendiri sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan kepadaku beberapa tahun yang lalu.


"Aku hanya ingin bertanya padamu mengenai anak laki-laki yang bersamamu barusan, apakah dia putramu?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Iya dia memang putraku." Balasku kepadanya dengan cepat.


"Lalu dimana ayahnya sekarang, kenapa aku tidak melihat dia denganmu?" Tanya tuan Jenson lagi kepadaku.


"Ayahnya di luar negeri, dia bekerja dan tidak pulang kemari dalam waktu yang singkat." Balasku berbohong kepadanya.


"Kalau begitu bisa aku lihat foto ayahnya?" Tanya dia lagi yang sangat menjengkelkan untukku.


Aku langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam dan tidak bisa menahan emosi lagi hingga langsung saja membentak dia dengan keras.


"Untuk apa aku menunjukkan suamiku kepada orang sepertimu, lagi pula semua kehidupanku tidak ada urusannya dengan dirimu, sudah aku mau keluar saja, pergi kau dari sini!" Bentakku kepadanya sambil hendak keluar dari mobil saat itu.

__ADS_1


Namun disaat aku hendak pergi ke luar dari mobilnya dia malah menarik tanganku dengan kuat dan aku terus saja terbawa olehnya aku langsung jatuh menimpa tubuh tuan Jenson dan bibirku mengenai bibirnya dengan lekat.


__ADS_2