
Semua ini begitu sulit bagi tuan Jenson sebab disisi lain dia sangat kesal dan sudah mendapatkan banyak kesulitan sekaligus rugi besar akibat kelakuan dari Rasya, tetapi disisi lain dia juga berhutang Budi kepadanya, karena jika bukan oleh Rasya, maka bisa saja Ros habis di serbu para fans dan orang suruhan dari Desi yang akan mencelakakan istri serta putranya Teguh, sampai tidak lama sekretaris Roy mulai memberikan pendapat kepadanya.
"Tuan, menurut saya ada baiknya kita membantu pria itu dulu, karena urusan kerugian perusahaan yang dia perbuat sebelumnya, mungkin dia memiliki alasan tersendiri kenapa dia melakukan hal itu sebelumnya." Ucap sekretaris Roy yang memberikan pencerahan bagi tuan Jenson saat itu.
"Kau benar, kalau begitu kita coba untuk mencari cara dan sewa pengacara terbaik yang bisa membebaskan pria itu, jangan lupa cari bukti-bukti yang kuat tentang kasus yang pernah di perbuat oleh wanita jahat itu, tidak perduli kasus apapun yang penting bisa untuk mendesak dan mengancamnya nanti." Ujar tuan Jenson yang sudah memutuskan rencana ke depannya. Dan disetujui oleh Roy.
Dia segera pergi untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh tuan Jenson, bahkan saat itu juga sekretaris Roy mencari semua datanya meskipun tangan dia masih belum pulih sepenuhnya kala itu, begitu pula dengan tuan Jenson sendiri, hingga malam terus berlalu dan akhirnya tuan Jenson datang ke kamarku, sedari tadi aku tidak bisa tidur karena mencemaskan dia dan merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh suamiku tersebut, hingga saat dia kembali ke kamar aku langsung menyambutnya dan bertanya dengan tuan Jenson tentang semua rasa cemas yang sudah aku tahan sedari tadi.
"Tuan akhirnya kamu kembali juga, bagaimana apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan Rasya?" Tanya ku sekaligus kepadanya.
Tuan Jenson tersenyum dan dia langsung mengusap lembut kepalaku sembari menyuruh aku untuk beristirahat sebab saat itu sudah sangat malam.
"Sudah kenapa kau belum tidur semalam ini, ayo tidur saja kau tidak perlu khawatir, aku akan menyewa pengacara terbaik yang akan membebaskan sahabatmu itu, aku juga berhutang budi padanya jadi kau jangan takut, aku akan memperlakukan dia dengan baik dan membebaskan dia secepatnya." Ujar tuan Jenson yang membuat aku merasa sangat lega ketika mendengarnya.
Segera saja aku memeluk tuan Jenson dan terus berterimakasih kepadanya dengan sangat tulus, pasalnya jika bukan karena tuan Jenson dan jika tidak kepadanya, aku tidak tahu lagi pada siapa dan harus bagaimana aku menyelamatkan Rasya. Terlebih dia dalam belenggu kakakku sendiri. "Tuan terimakasih banyak kamu sangat baik padaku, aku sungguh berhutang banyak denganmu, terimakasih tuan." Balasku terus merasa sangat bersyukur memiliki sosok suami yang sebaik dan seperduli tuan Jenson.
Bahkan dia mau membantu sahabatku sendiri, aku bisa tenang sekarang dan bisa menjelaskan kepada Nayla bahwa semua akan baik-baik saja.
Tuan Jenson segera saja mengajak aku tidur di ranjang dan kami pun terus berpelukan sepanjang malam, aku pikir saat itu semuanya sudah membaik dan tidak ada lagi yang perlu dicemaskan olehku maupun oleh Nayla.
Hingga keesokan paginya tuan Jenson benar-benar langsung pergi bersama sekretaris Roy untuk memeriksa secara langsung kondisi Rasya di kantor polisi dan mereka didampingi oleh pengacara juga penjaga beberapa orang yang mengikuti mobilnya, semua itu sudah dipersiapkan oleh tuan Jenson dengan amat sangat teliti, bukan hanya itu tetapi tuan Jenson juga menyuruh aku termasuk Nayla agar tidak pergi keluar dari rumah tersebut, karena tuan Jenson takut jika saja Desi berbuat jahat atau membuat rencana lainnya di belakang mereka saat itu, jadi diam di rumah adalah pilihan yang paling tepat dan sangat aman untuk kami semua, terlebih saat ini juga hari Minggu dimana Teguh libur sekolah dan kami berkumpul bersama di dalam rumah.
Aku mengantarkan tuan Jenson sampai ke depan mobil dan memeluk dia terlebih dahulu karena mau bagaimana pun aku tetap merasa sangat cemas saat tuan Jenson hendak pergi dari rumah saat itu.
__ADS_1
"Tuan kau berjanjilah agar kembali dengan selamat dan kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi, jangan membuat aku cemas apa kau mengerti?" Ucapku memperingati dia terlebih dahulu. Dan terus saja memeluk dia dengan erat, sampai tiba-tiba saja Teguh berlari ke arahku dan dia terus menarik tanganku dengan paksa.
Meminta aku agar berhenti memeluk ayahnya tersebut, sebab dia ingin segera bermain kembali denganku saat itu. "Ibu...." Teriak Teguh yang berlari dari dalam rumah dan terus saja memeluk aku sangat erat.
Aku terus terperangkap dengan penuh keheranan dan terus saja aku menatap dia dengan lekat sambil terus menaikkan kedua alisku. "Ibu ayo lepaskan ayah, jangan terus memeluknya lagi, ayo cepat ibu...ayo kita main saja." Teriak Teguh sembari terus menarik tanganku dan terus saja menarik ujung pakaianku saat itu, aku padahal sangat ingin memeluk tuan Jenson lebih lama lagi, tapi sayangnya Teguh terus meminta aku untuk terus saja pergi dengannya. Sehingga aku tidak memiliki pilihan lain lagi dan hanya bisa menurutinya saja.
"Teguh nanti ya ibu sedang berbicara dengan ayahmu, kamu bersama Tante Nayla dulu ya sayang." Ucapku kepadanya saat itu.
Aku berharap Teguh bisa menuruti ucapan dariku tetapi dia malah merajuk dan terus saja menatap kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dada, membuat aku sangat kebingungan dan segera saja memegangi pipinya agar dia menjadi lebih tenang dan bisa berhenti merajuk seperti itu kepadaku. "Adududuh sayang, sudah jangan memasang wajah cemberut begitu, ayo ibu akan menemani kamu untuk bermain, ayo kamu masuk lebih dulu." Ujarku kepadanya lagi yang akhirnya mau dituruti oleh Teguh.
"Tuan maaf ya aku harus pergi kamu hati-hatilah dijalan." Ucap terakhir kepadanya sembari melambaikan tangan dan terus berjalan masuk kembali ke dalam rumah bersama dengan Nayla, sedangkan tuan Jenson masuk ke dalam mobil dan terus saja melajukan kendaraannya itu dengan cepat.
Aku terus mendoakan keselamatan dia sejak pertama kali tuan Jenson keluar dari rumah, karena aku tahu dengan jelas bahwa saat ini dia menghadapi kakakku sendiri, aku bingung harus membela yang mana, Desi bagaimana pun adalah kakak kandungku, dia juga merawat aku sejak kecil hingga sebesar sekarang ini tapi di sisi lain Rasya juga orang yang sudah menyelamatkan hidupku dan menolong aku tanpa pamrih sedikitpun.
Hingga saat Nayla memanggil namaku dan meminta aku untuk mengambilkan bola yang tidak sengaja dilempar oleh Teguh ke depanku, aku tetap saja termenung dan tidak sadar dengan apa yang dikatakan oleh Nayla saat itu. "Ros...ayo berikan bolanya pada kami, Ros kenapa kau diam saja? Ros apa kau baik-baik saja? Ros..." Teriak Nayla yang membuat aku pada akhirnya tersadar dengan cepat.
Aku terperanjat dan segera saja bicara dengannya, sambil menanyakan kembali apa yang dia tanyakan kepada aku saat itu.
"AA..ahh iya ada apa Nayla, tadi kau bicara apa padaku?" Tanyaku kepada Nayla dengan wajah yang kebingungan sendiri.
"Astaga ..Ibu kenapa ibu melamun sih, tadi Tante Nayla meminta ibu mengambil bolanya dan berikan lagi padaku, itu bolanya ada di depan ibu, ayo cepat kemarikan Bu, aku ingin bermain lagi dengan Tante Nayla." Ujar Teguh memberitahuku.
Aku pun segera mengambil bola tersebut dan melemparkannya pelan ke arah Teguh hingga Teguh segera menangkap bola tersebut dan dia kembali asik bermain dengan salah satu pelayan yang ada disana, sedangkan Nayla mulai berjalan mendekatiku dan segera saja dia duduk di samping aku, sembari bertanya mengenai keadaan aku saat itu.
__ADS_1
"Ros ayo cepat bicara denganku, aku tahu kau pasti tengah memikirkan sesuatu kan? Kau tidak bisa berbohong atau menyembunyikan nya lagi dariku, ayo cepat bicara dan ceritakan apa yang membuat kamu termenung seperti itu?" Ujar Nayla yang langsung saja mendesak aku dan meminta aku untuk menceritakan apa yang aku pikirkan sebelumnya, tapi aku sungguh tidak bisa mengatakan semua itu di tempat ini dimana ada banyak pelayan dan Teguh yang asik bermain, aku tidak ingin siapapun mendengarkan penjelasan dan ceritaku yang sangat bersifat privat sekali.
Alhasil karena Nayla terus memaksaku untuk bercerita dengannya saat itu juga, aku pun mengalah dengannya dan segera saja mengajak Nayla pergi ke taman agar kami berdua bisa saling mengobrol dengan serius dan bercerita tanpa gangguan dari Teguh lagi.
"Tapi Nay, ini bukan saat yang tepat untuk aku menceritakan semuanya denganmu, terlebih disini terlalu banyak orang aku tidak mau membuat mereka menganggap aku aneh dan sebagainya, karena semua ini sulit untuk aku jelaskan denganmu." Balasku kepada Nayla dan berusaha untuk memberikan pengertian kepadanya.
Tetapi Nayla memang bukanlah orang yang bisa diajak kompromi ataupun seseorang yang bisa disuruh untuk menunggu, sebab dia selalu merasa penasaran dan selalu saja mendesak aku dan memaksa setiap kali melihat aku sedih, aku tahu niat dia sangat baik dan tulus, bahwa Nayla hanya ingin membuat aku tidak memikirkan semua kesulitan seorang diri, dan dia hanya mau membuat aku merasa lebih lega seandainya aku bisa bercerita kepadanya, setidaknya hal itu bisa membuat aku lebih nyaman setelahnya.
"Huuh... baiklah Nay aku akan cerita denganmu tapi tidak disini ya, ayo kita pergi ke taman dan beritahukan dulu pada Teguh bahwa ada urusan penting yang ingin kita lakukan sekarang." Ujarku memberitahukan itu kepada Nayla.
Sengaja aku menyuruh Nayla yang meminta izin untuk pergi kepada Teguh, sebab aku sudah tahu jika aku yang meminta izin putraku itu pasti tidak akan mengijinkan karena dia selalu taat dengan semua aturan yang sudah di tetapkan oleh tua Jenson sebelumnya, bahkan semakin kesini Teguh semakin lebih mudah menurut dengan tuan Jenson, jadi aku pun sering kali lebih banyak mengalah untuk dua orang yang sangat keras kepala tersebut. Untungnya Nayla mau membujuk Teguh untuk meminta izin kepada anak itu agar kami pergi dari sana sebentar.
"Teguh saya Tante mau pinjam ibumu dulu ya, ada hal tentang orang dewasa yang mau kami bicarakan, kau bermain dulu dengan bibi disini ya, tante janji ini hanya sebentar saja, oke." Ucap Nayla membujuk putraku Teguh, walau Teguh nampak menatapku sangat tajam dan dia terus saja beralih ke arah Nayla beberapa kali, akhirnya Teguh mengijinkan kami juga dan dia benar-benar menurut dengan Nayla, padahal biasanya dengan orang lain Teguh sulit sekali di bujuk dan tidak akan mudah untuk memberikan izin kepada orang lain jika ada yang mau bicara penting denganku.
"Ya sudah sana pergi, tapi ingat pesan ayah tadi, kalian jangan keluar dari rumah ini, Tante Nayla aku sudah menaruh banyak kepercayaan kepadamu jangan sampai kamu mematahkan kepercayaan ku itu ya." Ucap Teguh bisa bisanya bicara seperti orang dewasa seakan dia mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan kepada Nayla, bahkan hal itu membuat Nayla menahan tawa karena merasa Teguh sangat lucu dengan tingkahnya tersebut dan wajahnya yang begitu menggemaskan.
"Aduduh... keponakan Tante ini sangat pintar sekali sih, iya Teguh sayang, Tante janji denganmu, mana mungkin Tante akan membawa ibumu dalam bahaya, kau jangan cemas oke, kamu bisa memberikan seluruh kepercayaan kamu itu kepada Tante karena sejak dulu memang Tante yang menjaga ibumu bahkan saat kamu berada dalam perutnya." Balas Nayla sembari mencubit sebelah pipi Teguh dengan gemas.
Setelah berhasil meluluhkan hati Teguh kami segera pergi ke taman dan duduk di depan kolam renang saat itu, sembari menurunkan kaki kami ke air dan sengaja merendamnya, Nayla mulai kembali meminta aku untuk mulai bercerita tetapi aku langsung menatap ke arah langit terlebih dahulu, aku bukan orang yang senang bercerita atau curhat kepada orang lain, sehingga sangat sulit untuk diriku sendiri membujuk aku agar berani bercerita terhadap orang lain, apalagi untuk terbuka kepada semua orang, karena rasa trauma yang selalu menghantuiku membuat aku tidak bisa mempercayai siapapun, apalagi jika untuk bercerita tentang kehidupanku, aku takut siapapun yang aku percaya nantinya malah mengecewakan aku lagi.
Tetapi sekarang aku mungkin sudah bisa belajar sedikit terbuka hanya pada Teguh dan tuan Jenson, namun kini aku malah terdesak untuk bicara kepada Nayla juga, sehingga aku membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkan diri, salah satunya dengan melihat langit indah dengan banyaknya gumpalan awal yang terbawa oleh angin kencang di atas sana.
Ku tarik nafas dalam dan segera membuangnya perlahan, aku mengulangi hal itu berkali-kali hingga segera menatap ke arah Nayla sembari memulai pembicaraan dengannya lagi. "Huuh...begini Nayla, sebenarnya aku merasa bingung, dan cemas dengan tuan Jenson dan Rasya, apalagi kamu juga tahu kan bahwa orang dibalik kejadian buruk yang menimpa aku dimasa lalu adalah ulah kakak kandungku Desi, walaupun aku masih belum bisa mempercayai hal itu dan aku sama sekali tidak punya bukti tentang hal itu, tetapi kau juga sempat mencurigai dia sebelumnya bukan, kau yang menanyakan hal itu yang membuat aku berpikir sama denganmu hingga saat ini." Ucapku mulai menceritakan semua hal yang memberatkan diriku selama ini.
__ADS_1