
Bahkan saat ini suasananya menjadi semakin menegangkan dimana tuan Jenson terus saja menghadap ke arah Teguh dengan memasang wajah yang sangat serius dan mereka berdua saling tatapan satu sama lain tiada henti. Tiada ada yang mau mengalah diantara mereka berdua karena sama-sama memiliki ego yang sangat tinggi, terus saja bertengkar memperebutkan untuk siapa yang akan tidur denganku malam ini.
"Sudah pokoknya kamu tidur sendiri, ayah yang akan tidur dengan ibumu, dan kau tidak boleh membantah lagi, apa kau paham hah?" Bentak tuan Jenson dengan tatapan tajam dan memegangi tangan Teguh dengan kuat, saking gemasnya dengan putra dia sendiri.
Teguh juga tidak mau kalah, dia terus merasa kesal dan dibuat emosi oleh tuan Jenson, bukannya mengalah atau pun takut, Teguh justru malah menarik tangannya dengan kuat dan terus mendorong tuan Jenson ke belakang dengan kedua tangannya dan sekuat tenaga malah menarik tanganku mencoba untuk membawa aku dengan paksa ke dalam kamarnya saat itu, tapi dengan cepat tuan Jenson menahan tanganku juga, hingga saking tarik pun tidak dapat aku hindari, terlebih lagi tenaga tuan Jenson jelas lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Teguh, tetapi dia tetap saja tidak mau kalah sedikit pun.
Membuat aku sangat jengkel dengan kelakuan dia orang tersebut.
"Ibu ayo ikut denganku saja." Teriak Teguh dan terus menarikku sangat kuat.
"Tidak. Kau harus ikut denganku, ayo cepat kita harus pergi ke kamar kita." Ujar tuan Jenson sambil menarik sebelah tanganku yang lain.
__ADS_1
Aku tidak bisa bergerak dan kepalaku mulai terasa sangat pusing karena terus ditarik kesana kemari dengan berlawanan arah dan terasa sangat menyulitkan sekali bagiku, tanganku terasa sakit dan terus terombang ambing kesana kemari tidak karuan.
Hingga emosi dalam diriku mulai memuncak dan aku sudah sangat tidak tahan lagi untuk meladeni kelakuan dua orang menjengkelkan ini.
"STOP! BERHENTI!" Bentakku sangat kencang sambil terus saja menatap tajam ke arah dia orang tersebut dengan nafas menderu yang begitu kencang.
Sampai akhirnya tuan Jenson dan Teguh pun terdiam, mereka berdua seketika berhenti dan menatap ke arahku dengan kedua mata mereka yang menatap terperangah, sambil terus saja tuan Jenson mulai berdecak pelan dan dia masih saja berusaha untuk menarik aku lagi ke sisinya. Namun untungnya dengan cepat aku menyingkir darinya dan berusaha untuk menjaga jarak dari kedua orang tersebut.
Disisi lain apa yang dikatakan oleh tuan Jenson memang benar, dia adalah suamiku dan aku sebagai istri yang baik, harus menuruti semua ucapan dari suamiku selama ini hal yang baik dan positif, sedangkan tidur dengannya memanglah sebuah kewajiban juga untukku, sudah seharusnya juga aku memang tidur dengannya karena dia suamiku dan orang yang paling berhak atas hidupku di bandingkan siapapun bahkan lebih daripada kedua orangtuaku sendiri meski seandainya kedua orangtuaku masih ada di dunia ini.
Tetapi ketika menyadari ke sisi lain dimana ada Teguh disana, aku juga merasa sangat berat untuk menolak permintaan Teguh, karena dia juga putraku dan usianya enam tahun masih terlalu kecil bagiku jika dia dibiarkan tidur sendiri di dalam ruangan hotel yang begitu luas, ditambah Teguh sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak berani untuk tidur sendiri di kamar hotel tersebut.
__ADS_1
Belum sempat aku bicara lagi untuk menengahkan mereka berdua, tapi sayangnya Teguh sudah lebih dulu bicara kepadaku.
"Aishh...tidak bisa ayah aku ini putramu satu satunya kenapa kau begitu keras kepala dengan putramu sendiri, aku mau dengan ibu, pokoknya jika ibu tidak tidur denganku aku tidak mau masuk ke kamar ini!" Bentak Teguh mulai merajuk dan dia terus saja cemberut dan melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Tuan Jenson masih saja tidak mau kalah dia semakin mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan terus saja berkacak pinggang di depan Teguh, tatapan mata mereka berdua sangat tajam bak keluar sebuah kaset merah yang saling bertarung satu sama lain, tersorot begitu tajam kepada mata mereka berdua masing-masing.
"Astaga... sudah-sudah, tuan aku mohon padamu tolong mengalahkan dengan Teguh, bagaimana pun kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah, seharusnya kamu mengalah dengan anak kecil, kamu mengerti maksudku kan?" Ucapku bicara kepadanya dan terus saja berusaha untuk membujuknya.
Tapi tuan Jenson tetap saja terdiam, dia terlihat begitu tidak terima dengan ucapan dariku, dan malah memalingkan pandangan ke arah lain dengan cepat.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas denganesu dan berusaha untuk beralih terlebih dahulu dari tuan Jenson ke arah Teguh, aku rasa tidak hanya tuan Jenson saja yang harus aku berikan ucapan nasehat, tetapi Teguh juga perlu untuk aku beritahukan juga, bahwa sikapnya yang bertengkar dengan ayahnya sendiri juga bicara dengan sangat lantang seperti itu sangatlah tidak baik, tetapi untuk Teguh aku juga mengerti bahwa cara terbaik untuk mengingatkan dia adalah dengan cara yang lembut, aku tidak bisa bicara terlalu keras apalagi kasar kepada Teguh seperti apa yang sudah dilakukan oleh tuan Jenson kepada dia sebelumnya, jadi aku pun mulai menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, berusaha untuk mempersiapkan diriku sendiri untuk menghadapinya. "Huuh...Teguh sayang, lihatlah kemari, ibu ingin bicara serius denganmu, dan tolong dengarkan ucapan ibu ini." Ucapku kepadanya dengan wajah yang tersenyum kecil dan berusaha untuk mendekatinya segera.
__ADS_1
Wajah Teguh sudah terlihat sangat murung, aku paham sekali bahwa saat itu Teguh pasti merasa kesal karena ucapan dariku, tetapi aku tidak bisa terus menjadi lembek dengan Teguh, aku tidak mungkin membenarkan sikapnya yang salah, jadi aku terus saja berusaha mendekatinya lagi dan lagi, sembari memegang kedua tangannya dengan lembut dan menyuruh dia untuk menatap ke arahku secepatnya.