
"Hah? Apa, aku suka sama kamu? Haha...jangan harap ya tuan Jenson, aku memang sudah tidak sebenci dulu lagi kepadamu, tapi tetap saja kesal denganmu, dan ingat jika sekali lagi aku melihat kau berdekatan dengan wanita sembarangan apapun alasannya, aku mau kita cerai saja!" Balasku kepadanya dengan lantang dan memasang wajah yang cemberut.
Entah kenapa rasanya hatiku tetap saja tidak terima dan merasa sangat kesal setiap kali mengingat momen dimana tuan Jenson sangat dekat dengan perempuan bernama Naura tersebut, meski aku sudah tahu dia hanyalah sekretaris di perusahaan cabangnya, tetap saja aku kesal dan emosi tidak menentu, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk meredakan emosi dalam diriku ini.
Sedangkan tuan Jenson sendiri saat itu malah terus saja menatap aneh dengan sebelah tangannya yang menutupi mulut dan terlihat seperti menertawakan aku saat ini, tentu saja aku merasa semakin kesal dibuatnya.
"Hei... Kenapa kau terus menatapku begitu, apa ada yang lucu dariku?" Bentakku kepadanya dengan kesal.
"Ahaha..tentu saja ada, dan kau lah yang membuat aku tersenyum terus, kau memiliki ego yang sangat tinggi, kenapa kau tidak mengaku saja kepadaku bahwa kau sebenarnya memang menyukai aku selama ini, begitu saja sulit sekali." Balasnya membuat aku semakin cemberut dan mengerutkan kedua alis lebih kuat dari sebelumnya.
"CK.... Kenapa anda terlalu percaya diri tuan?" Balasku kepadanya.
Aku langsung bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana dengan cepat, tapi tuan Jenson terus menahan tanganku dan dia malah menarik aku pergi keluar dari ruangannya tersebut, hingga dia malah membawa aku masuk ke dalam mobilnya dengan paksa, semua teriakkanku yang meminta untuk dilepaskan darinya sama sekali tidak dia dengar, hingga saat di perjalanan aku mulai perotes lagi dengannya.
"Tuan sebenarnya kau ini mau membawaku kemana sih, kenapa menyeret tanganku seperti tadi?" Bentakku kepadanya dengan kesal.
__ADS_1
"Lihatlah jam sekarang, ini sudah waktunya kita menjemput putra kesayangannyamu bukan, tidak mungkin kau lupa lagi soal itu." Balas tuan Jenson yang langsung saja mengingatkan aku tentang Teguh.
"Aahh...iya kau benar, kenapa aku bisa lupa, semua ini pasti karena kau juga." Balasku yang menyalahkan semuanya kepada tuan Jenson.
"Aish... Kau yang lupa kenapa menyalahkan orang lain." Gerutu tuan Jenson pelan sekali namun masih saja bisa terdengar olehku.
Aku terus saja berbalik ke arahnya dan langsung memberikan tatapan tajam kepada dia yang membuat tuan Jenson seketika langsung diam dan kembali fokus menyetir ke depan.
Karena aku pikir jika aku tidak menyaksikan kejadian sebelumnya dan memakan cukup banyak waktu untuk dia menjelaskan semuanya kepadaku, mungkin sejak beberapa saat yang lalu aku sudah menyelesaikan semua yang ingin aku katakan padanya dan sudah bisa pergi sendiri untuk menjemput Teguh.
Aku sangat sebal saat mendengar itu darinya, dia merasa berjasa hanya karena hal sepele seperti ini, sedangkan dia lupa bertahun-tahun aku di tinggalkan olehnya dan dia sama sekali tidak pernah mencariku selama itu, sampai sekarang saat dia tahu bahwa putra dalam kandunganku terlihat begitu mirip dengannya baru saja dia mau mengakuinya dan ingin mengambil kembali Teguh ke sisinya.
Jika dikatakan apakah aku dendam dengan tuan Jenson, tentu saja aku merasa dendam dan terus kesal dengan dia dimasa lalu yang bisa-bisanya menelantarkan aku juga putranya sendiri, setidaknya jika dia tidak percaya dia juga bisa melakukan tes DNA dahulu, atau dia bisa menunggu sampai Teguh lahir ke dunia saat itu, bukannya malah langsung tidak mengakui anak dalam kandunganku seenaknya begitu saja dan betapa teganya dia malah memberikan uang padaku untuk tutup mulut saat itu, padahal aku sendiri juga tidak datang untuk uangnya tetapi tanggung jawab darinya.
Itu yang membuat aku merasa sangat berat untuk mengakui perasaanku dengannya, karena bagaimana pun ada bagian dalam hatiku yang belum sepenuhnya pulih kembali.
__ADS_1
...****************...
Tidak ada percakapan lagi diantara kami berdua setelah kejadian saat itu, hingga sesampainya di depan sekolah, rupanya anak-anak kelas satu masih belum bubar saat itu, masih ada waktu lima menitan lagi untuk jam bubarnya, sehingga aku pun terus saja duduk diam di dalam mobil bersama dengan tuan Jenson yang sibuk mengotak ngatik ponselnya saat itu.
Aku tidak tahu dia sedang menghubungi siapa tetapi wajahnya terus saja terlihat begitu serius, dan dia hanya mengetik beberapa saat, hingga tidak lama dia pun kembali menaruh ponselnya itu dengan cepat.
Teguh keluar dari gerbang sekolahnya dan aku segera saja menghampiri dia dengan cepat. "Teguh kemari sayang." Teriakku memanggilnya sambil melambaikan tangan kepadanya dengan tersenyum lebar.
Teguh berlari kecil menghampiri aku dan dia terus memelukku sangat erat aku sangat senang, kami juga segera masuk ke dalam mobil dengan cepat dan aku pikir saat itu tuan Jenson akan mengantarkan aku dan Teguh pulang ke rumah atau kembali ke kantornya lagi karena saat aku melihat jam ini masih masuk dalam jam kerjanya, tetapi aku merasa sangat aneh karena tiba-tiba saja mobilnya itu masuk ke dalam gerbang sebuah rumah yang sangat mewah dan menjulang sangat tinggi, aku tidak tahu kemana dia membawaku saat itu, dan rumah kali ini justru lebih besar dibandingkan dengan rumah tuan Jenson sendiri yang aku pikir itu sudah sangat besar.
"Tuan kau membawa kami kemana, rumah siapa ini?" Tanyaku kepadanya saat kami sudah keluar dari dalam mobil dan berdiri tepat di hadapan banyak pelayan yang berjajar rapih menyambut kedatangan kami saat itu.
"Ini rumah nenekku, dia sudah mendesak aku sejak lama, karena dia ingin bertemu dengan putraku dan kau, jadi ayo cepat masuk, dia pasti sudah menunggu di dalam sedari tadi." Ucap tuan Jenson mempersilahkan kepadaku.
Mataku langsung saja terbelalak sangat lebar dan begitu kaget saat mengetahui bahwa itu adalah rumah neneknya tuan Jenson, aku mendapatkan menjadi gugup tidak karuan dan parahnya tuan Jenson malah berjalan lebih dulu di depan sementara aku berlari kecil mengikutinya masuk ke dalam dengan Teguh, rumah ini benar-benar sangat mewah, jauh lebih besar dibandingkan rumah tuan Jenson dan dua kali lipat lebih besar dibandingkan rumah yang aku tempati sebelumnya dengan Desi. "Wahh....ibu rumah ini sangat besar sekali, nanti jika sudah dewasa aku ingin sekali punya rumah sebesar ini, agar aku bisa bermain dengan leluasa, bisa kan ibu." Ucap Teguh bicara kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya tetapi, belum sempat aku menjawab ucapan dari Teguh, tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya yang memakai tongkat kayu mengkilap berwarna coklat terlihat berjalan ke arah kami dengan perlahan sambil menjawab ucapan dari Teguh. "Tentu saja cucukku bisa melakukannya, bahkan rumah ini sudah menjadi miliknya mulai sekarang." Ucap sang wanita itu dengan senyum kecil menatap ke arah Teguh dan aku bergantian sesekali.