Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Kedatangan Tuan Jenson


__ADS_3

Terlebih lagi wajah Moris benar-benar menatap sangat lekat dan dia menyipitkan matanya ke dekat wajahku, membuat aku semakin gugup di buatnya dan terus saja memalingkan pandangan ke arah lain sebisaku kala itu, namun yang tidak aku sangka baru saja aku ingin mengatakan alasan terbaik yang sudah ada di kepalaku saat itu, tetapi sayangnya ketika aku berbalik, Moris malah sudah menghubungi nomor tuan Jenson dan dia tengah bicara dengan dia lewat panggilan telepon dari ponselku.


"Halo apa ini benar dengan tuan Jenson?" Ucap Moris yang membuat aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar dan terus saja menyuruhnya untuk menghentikan kelakuannya itu.


"Hah? Moris hentikan dia bukan orang sembarangan, aishh Moris kembalikan ponselku, aahhh kau ini benar-benar yah!" Gerutuku sambil terus berusaha untuk meraih tangannya yang memegangi ponselku dan terus menelepon dengan tuan Jenson sampai dia akhirnya malah mengatakan apa yang terjadi denganku saat ini dan tidak lama panggilan pun langsung terputus dengan cepat.


"Aku Moris, Ros jatuh dan kakinya terkilir, sekarang dia tidak bisa jalan, bisakah kau....aahhh iya kita ada di gedung perusahaan G. Entertainment, iya kami ada di lobby depan." Ucap Moris begitu saja dan barulah dia mengembalikan ponselku lagi.


"Ini aku kembalikan, kau sensi sekali sih, memangnya siapa pria itu, tadi saat aku memberitahu kepadanya tentang keadaanmu, dia langsung terdengar sangat panik dan menanyakan dimana kamu sekarang, sepertinya dia sangat perduli denganmu, siapa sih dia?" Tanya Moris kepada saat itu.


Sekarang aku benar-benar dihadapkan dengan situasi yang lebih menyulitkan di bandingkan sebelumnya, tapi walau begitu aku hanya memiliki kesempatan saat ini untuk menghentikan kepenasaranan dalam diri Moris jadi langsung saja aku berbohong dengan dia dan mengatakan bahwa tuan Jenson yang baru saja dia panggil adalah bosku di tempat kerja. "Aahhh dia itu bosku, mungkin dia cemas karena aku tidak akan bisa kerja jika kakiku kenapa-kenapa, ahaha iya begitu, dia bos yang baik dengan karyawannya." Balasku beralasan sebisa yang aku katakan kepadanya saat ini.


Wajah Moris nampak begitu ragu ketika mendengar jawaban dariku dan dia semakin mengerutkan kedua alisnya dan menatap semakin sinis, bak siap untuk menelan aku bulat-bulat di mulutnya kala itu.

__ADS_1


"Ekm...kenapa kau menatapku begitu, apa kau tidak percaya denganku?" Ujarku sengaja mendahului dirinya.


"Tentu saja aku sulit untuk percaya denganmu, memangnya bos mana yang akan bersedia menyisihkan waktunya yang berharga hanya untuk seorang karyawan biasa sepertimu, kecuali jika bos itu." Ucapnya semakin lekat menatap ke arahku.


Membuat aku semakin gugup dan tidak tahu kemana arah tujuan dari ucapannya tersebut, jadi aku pun hanya bisa menaikkan kedua alisku dengan wajah kebingungan sendiri dan merasa tidak karuan. "Kecuali apa?" Tanyaku lagi dengannya.


"Aahhh aku tahu bosmu itu pasti menyukaimu, iya dia sedang mengejarmu saat ini, makanya dia begitu perhatian dan sangat baik padamu." Tambah Moris yang semakin diluar dugaan dan kendali diriku.


Semua pikirannya itu juga sangat berbeda dengan tujuan pertama yang mengatakan hal itu karena aku pikir dengan berpura-pura menjadi karyawan tuan Jenson itu akan menyelamatkan aku dari kecurigaan Moris sebelumnya, tapi sekarang keadaannya justru malah semakin sulit dan menyebalkan seperti ini.


"Eh, kenapa kau terlihat kusut begitu, hei Ros aku beritahu kepadamu ya, semua bos itu tidak akan ada yang begitu perhatian dan baik seperti bosmu ini, waktu adalah uang dan hal itu sangat berharga bagi seorang yang kaya raya dan penuh kesibukan seperti mereka, kau bayangkan saja disaat bosmu itu meninggalkan pekerjaannya untuk datang kemari menemui dirimu, berapa banyak uang yang hilang saat itu? Iya kan, aku yakin seribu persen dia pasti tertarik denganmu." Tambahnya lagi sambil duduk tepat di sampingku dan terus saja menasehati aku dengan kalimat yang terdengar sangat konyol dan dia benar-benar telah salah paham terlalu jauh dari apa yang aku pikirkan sebelumnya.


Aku tidak bisa bicara lagi dan hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu sampai tiba-tiba saja tuan Jenson benar-benar datang ke tempat itu, dia berlari sambil memanggil namaku dan langsung memarahi aku begitu saja di hadapan Moris yang menatap dengan heran ke arahku dan tuan Jenson.

__ADS_1


"Hei, apa kau baik-baik saja? Dimana yang terluka, apa kakimu terluka sangat parah? Kenapa kau bisa terjatuh, siapa yang berani macam-macam denganmu, ayo jawab aku Ros? Kenapa kau diam saja, cepat jawab!" Ucap tuan Jenson yang terus bertanya bertubi-tubi dengan banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa di jawab sekaligus olehku kala itu.


Segera aku menghentikan tingkah konyolnya dan berusaha menenangkan tuan Jenson dahulu sebelum nanti identitas asli antara aku dan dia akan terbuka di hadapan sahabat baruku Moris. Aku pegangi tangannya dengan kuat dan berusaha untuk menahan dia agar tidak memeriksa kakiku dengan berjongkok di depan banyak orang seperti ini.


"Tuan...tuan hentikan, aku baik-baik saja, buktinya sekarang aku masih bisa bicara denganmu, yang terkilir hanya kakiku saja dan ini juga akan sembuh, hanya perlu di urut saja kok, jangan kamu jangan terlalu cemas." Ucapku berusaha untuk menenangkannya.


Ku pikir dengan aku bicara seperti itu, maka tuan Jenson akan berubah menjadi tenang dan bisa menjaga sikapnya di depan Moris juga beberapa orang yang berlalu lalang di depan kami, tapi sayangnya bukan tenang tuan Jenson malah semakin memarahi aku dan membentak aku sangat kencang.


"Heh, apa kau ini tidak punya otak? Bagaimana mungkin aku bisa tenang disaat istriku terluka seperti ini, sudah cepat duduk kembali biar aku yang membenarkan kakimu yang terkilir itu." Bentak tuan Jenson yang tidak bisa aku bantah.


Dan yang membuat aku semakin bingung adalah dia yang malah menyebutkan kata istri di hadapan Moris, padahal sedari tadi aku sudah berusaha keras untuk menutupi seja kebenaran ini, tapi malah tuan Jenson sendiri yang membongkarnya dengan begitu jelas hingga aku tidak dapat mengelak lagi dari Moris yang kaget mendengar kalimat itu.


"A..A..apa istri? Tunggu, tuan siapa yang barusan kau anggap istri? Apa temanku ini istrimu?" Tanya Moris yang mencari kebenarannya kala itu.

__ADS_1


Aku hanya bisa menunduk dengan lesu, sebab aku tahu meski aku sudah memberikan isyarat kepada tuan Jenson agar dia tidak mengatakan yang sebenarnya, tetapi tuan Jenson tidak peka dan sama sekali tidak mengerti dengan banyaknya kode yang aku berikan kepada dia saat itu.


"Haduhh...matilah aku." Batinku yang sudah sangat pasrah.


__ADS_2