
Malam itu juga tuan Jenson dan Roy terbang menuju negara asalnya, meninggalkan proyek yang tengah dalam perbaikan tersebut, tuan Jenson tidak bisa melepaskan anak laki-laki yang memiliki wajah mirip dengan dirinya tersebut, ditambah wajah wanita yang bersama dengannya dia ingat jelas bahwa dia seperti pernah bertemu dengan wanita tersebut dimasa lalu sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya beberapa jam saja dia sudah tiba di bandara internasional, dan langsung pergi menuju kediaman besarnya, mengistirahatkan tubuhnya dan langsung menyuruh Roy untuk pergi dari rumahnya begitu saja.
Diam-diam tuan Jenson terus mencaritahu mengenai Teguh dan wanita yang mengaku sebagai Rosa tersebut, dia mulai mengacak semua berkas lama di lima tahun yang lalu, hingga tidak sengaja dia menemukan sebuah memori internal yang terselip di dalam sebuah berkas, dia mengambilnya dan memeriksa isi dalam memori tersebut, dan yang membuat dia kaget adalah, itu ternyata rekaman cctv dari ruangan pribadi dia di kantornya yang dulu, rekaman seorang wanita yang tengah meminta pertanggung jawaban terhadap dirinya.
Dan ketika dia menghentikan rekamannya lalu memperbesar wajah wanita tersebut, tuan Jenson barulah menemukan sesuatu yang selama ini dia cari tahu.
Dia adalah Rosa, tetapi dalam rekaman tersebut dia mengaku bernama Ros, hal tersebut membuat tuan Jenson mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan terus saja merasa heran. "Siapa wanita ini sebenarnya, apa dia Ros si selebritis terkenal yang bersamaku malam itu, ataukah Rosa yang aku temui di negara lain?" Gerutu tuan Jenson dengan penuh kebingungan sekali.
Dia mengambil rekaman itu dan menyimpannya dengan baik sebagai bukti kuat untuknya suatu saat nanti, setelah mendapatkan sedikit petunjuk barulah tuan Jenson dapat tertidur dengan lelap.
...****************...
Berbeda dengan dirinya, kini Teguh mulai berangkat ke sekolah pertamanya, dia sangat tampan dan berpakaian begitu rapih, aku sudah mempersiapkan bekal untuk sekolahnya dan siap untuk mengantarkan dia ke sekolah pagi ini.
"Teguh ayo cepat sayang, ini sudah siang." Teriakku memanggilnya dengan kencang.
Teguh akhirnya keluar dari kamar dan dia segera sarapan dengan cepat bersamaku, kita menikmati sepotong roti yang sudah aku berikan selai rasa coklat kesukaannya, dia nampak begitu lahap dan bisa menghabiskan susunya dengan cepat.
Kami bergandengan keluar dari rumah dan segera masuk pada taxi yang sudah aku pesan sebelumnya.
Mengantar Teguh ke sekolah barunya dan segera pergi kembali ke butik, hari ini butik semakin ramai, bahkan hampir seluruh butik dipenuhi oleh pengunjung yang datang, ada juga beberapa orang yang dengan sengaja ingin merancang baju khusus disini, aku bisa menerima semua pesanan dari konsumen dan berusaha keras untuk membuatkan desain terbaik bagi mereka.
Disana juga ada Nayla dia membantuku menyambut pelanggan di depan kasir, karena hari ini benar-benar membeludak sekali, tidak ada istirahat bagi kita semua, hingga sore tiba aku lupa tidak menjemput Teguh sebelumnya, karena terlalu sibuk dengan banyaknya pekerjaan di butik ini, tapi untungnya Teguh tiba-tiba saja datang ke butik bersama dengan Rasya.
"Mamah...." Teriak Teguh kencang kepadaku sambil berlari dan memeluk kakiku saat itu.
Aku tentu saja kaget dan langsung menatap kearahnya dengan wajah penuh kebingungan saat itu.
__ADS_1
"Eh... Sayang dengan siapa kamu kemari, aahh mamah lupa tidak menjemputmu, maafkan mama ya." Ucapku langsung merasa bersalah kepada Teguh.
"Aku pulang dengan om Rasya ma, dia yang menjemput aku, saat aku keluar dari kelas om Rasya sudah berdiri di depan gerbang sekolah menungguku, jadi aku ikut saja dengannya." Balas Rasya kepadaku saat itu.
Aku langsung menoleh ke arah Rasya yang tengah berdiri di samping Nayla dan aku tahu mungkin dia di beritahu oleh Nayla untuk menjemput Teguh, sebab dia tahu aku begitu sibuk dan tidak memiliki banyak waktu.
Senang sekali rasanya bisa memiliki teman yang begitu pengertian dan saling memahami seperti mereka, aku sangat bersyukur sekali, dan segera saja aku menyuruh Teguh untuk menungguku di ruangan tempatku bekerja.
"Aahh.. baiklah, kamu tunggu mamah sebentar di ruangan ya, disana ada komputer kamu bisa main dengan itu sembari menunggu mamah kembali." Ucapku kepadanya.
Teguh mengangguk dan langsung pergi dari sana secepatnya, aku kembali fokus dengan para pembeli yang meminta di ambilkan sempel bahan dan sebagainya, semuanya berjalan dengan lancar dan baik, aku senang bisa mendapatkan banyak sekali orderan yang masuk hari ini, namun sayangnya bahan kain sudah semakin berkurang dan sepertinya aku sudah harus belanja lagi hari ini.
Saat pengunjung sudah tidak terlalu ramai, aku datang menghampiri Nayla dan meminta uang untuk berbelanja bahan kain dan sebagainya hari ini.
"Nayla, aku mau pergi belanja bahan," ucapku kepadanya.
Dengan bicara begitu saja Nayla sudah mengerti apa yang aku minta darinya dan dia langsung saja memberikan aku sebuah kartu lalu kami tersenyum satu sama lain, aku pergi bersama Teguh karena dia tidak mungkin mau ditinggalkan sendiri disana, pergi dengan taxi ke pusat kain yang jaraknya cukup jauh dari sana, tapi aku tidak takut sama sekali karena ada Teguh yang menemaniku.
"Pak bagaimana, apa masih bisa digunakan?" Tanyaku kepada supir taxi tersebut.
"Aduh.. maaf neng, bannya meletup dan sepertinya butuh waktu lama untuk memperbaikinya, belum lagi kita di jalanan sepi, jaraknya cukup jauh untuk memanggil tukang kemari." Balas sang supir kepadaku.
"Ya sudah deh, ini ongkosnya saya akan pesan taxi lain saja." Balasku kepada supir taxi tersebut.
Aku pun berniat memesan taxi lain namun sayangnya taxi yang aku pesan tidak kunjung datang, ini sudah hampir setengah jam tidak ada yang datang sama sekali, wajah Teguh sudah terlihat masam karena terlalu lama berdiri di pinggir jalan.
"Teguh kalau kamu lelah, duduk dulu di samping, ayo duduk saja tidak masalah seragamnya kotor, nanti bisa mamah cucikan." Ucapku kepadanya.
Teguh terus meggelengkan kepala dan dia malah tersenyum kepadaku sambil mengatakan bahwa dia baik-baik saja meski harus tetap berdiri di sampingku saat itu.
__ADS_1
Hingga tidak lama sebuah mobil hitam tiba-tiba saja berhenti di hadapanku dan Teguh, aku pikir itu taxi yang aku pesan jadi aku langsung masuk ke dalam begitu saja, namun saat aku sudah masuk dan mobil sudah melaju, aku baru merasa heran sebab mobil itu justru tidak melaju ke tempat yang sesuai dengan apa yang aku katakan kepadanya sesuai dengan aplikasi, mobilnya malah melaju ke arah lain saat itu.
"Ehh.. pak sepertinya anda salah jalan, aku kan mau pergi ke pusat kain bukan kesini, harusnya kita lurus." Ucapku kepada supir di depan.
Sampai supir itu bicara dan aku mulai mengenali suara yang terasa tidak asing tersebut.
"Siapa bilang aku ingin mengantarmu kesana." Balas pria yang duduk di depan kemudi.
Aku tersentak kaget dan segera menatap ke depan sampai ketika dia menoleh ke arahku ternyata dugaanku benar dia adalah tuan Jenson bukan supir taxi yang aku pesan sebelumnya. Dengan wajah yang menegang dan tatapan kaget aku terus saja menutup mulutku yang terperangah dengan kedua tangan saat itu.
"Astaga...kau? Turunkan aku sekarang juga! Cepat hentikan mobilnya!" Bentakku kencang kepada dia.
Namun sayangnya tuan Jenson sama sekali tidak melakukan semua itu, bukannya menghentikan mobilnya dia justru malah mempercepat laju mobil tersebut, sampai membuat aku harus berpegangan dengan Teguh dan terus merasa cemas.
"Hei.. apa kau gila, aku bilang hentikan mobilnya, kenapa kau malah mempercepat lajunya seperti ini! Hentikan mobilnya tuan Jenson!" Bentakku keceplosan menyebut nama pria tersebut.
Namun ucapanku itu juga berhasil membuat dia langsung menghentikan mobil itu seketika, tapi sayangnya pintu mobil sudah dikunci olehnya, jadi tetap saja aku tidak bisa melarikan diri saat itu.
"Eugh... Teguh ayo bantu mamah mendobrak pintu mobilnya, cepat Teguh." Ucapku meminta bantuan dari putraku sendiri.
"Tidak ada gunanya kalian melakukan itu, mobilku bukan mobil murahan, bahkan peluru sekalipun tidak akan mampu menembus kacanya." Ucap tuan Jenson membuat aku dan Teguh patah semangat dalam seketika.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, cepat buka pintunya, aku sama sekali tidak mengenalimu, dan jangan ganggu putraku!" Bentakku kepada dia lagi.
"Jika kau tidak mengenali aku, kenapa kau bisa tahu namaku, bahkan kau memanggilku sebelumnya?" Balas tuan Jenson menatap sinis kepadaku.
"Mah.. apa mama mengenali pria itu?" Tanya Teguh kepadaku.
Aku benar-benar dihadapkan dengan sebuah pilihan yang begitu rumit dan sulit, aku tidak mau memberitahu Teguh tentang semua ini, tapi di sisi lain aku juga takut tuan Jenson melakukan sesuatu yang buruk terhadap aku dan Teguh, jika saja aku tetap berbohong dan menutupi semuanya seperti ini.
__ADS_1
"Ya ampun, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batinku terus saja merasa kebingungan sendiri.