Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Pertemuan Ketiga Moris dan Roy


__ADS_3

Wajah Nayla yang tadinya terlihat begitu tegang dan nampak sangat panik, kini berangsur membaik dia terlihat lebih tenang dan nampak menghembuskan nafas dengan lega setelah mendengar penjelasan dari sekretaris Roy, dan mengetahui bahwa Ros dan putranya telah selamat, tanpa ada kekurangan suatu apapun.


"Ahhh.... syukurlah jika mereka baik-baik saja, terimakasih banyak ya Roy, kamu sudah mau melindungi mereka dengan sangat baik." Balas Nayla yang tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada sekretaris Roy, Roy hanya menanggapinya dengan senyuman kecil dan dia pun segera untuk pergi ke apartemennya, karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan lain dalam pekerjaan dia saat ini.


Nayla memahami posisinya yang sibuk dan dia juga memutuskan untuk tinggal di apartemen itu bersama dengan sekretaris Roy, sampai semua keadaan membaik, duduk di balkon kamar dan menatap ke luar, melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan riang gembira, ada yang membawa hewan peliharaannya berjalan-jalan dan ada beberapa anak kecil yang bercanda riang, Nayla mulai terhipnotis dengan semua keindahan sederhana yang dia lihat kala itu, dia juga pernah bermimpi dengan suaminya Rasya untuk memiliki seorang anak, tapi sayangnya dia belum juga hamil hingga saat ini, padahal mereka sudah menjalani semua cara untuk bisa memiliki anak, entah ada kelainan dengan rahim yang dia miliki ataukah memang tuhan yang belum bisa mempercayai seorang bayi kepada mereka.


"Andai aku punya anak, mungkin aku akan sebahagia Ros, dan seperti mereka." Ucap Nayla dengan tatapan mata yang terlihat berkaca-kaca saat itu, dia merasa sedih dan senang dalam waktu bersamaan kala itu, tapi dengan cepat ia menghapus air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.


Bagi Nayla saat ini bukan saatnya dia meratapi nasih sial dan begitu pula yang menimpa dirinya, tetapi saat ini justru waktu yang tepat untuk dia bangkit dari keterpurukan dan masih harus melindungi Ros serta suaminya, Nayla sudah sangat merindukan Rasya dan rasa benci dalam hatinya semakin besar serta dalam dalam setiap waktu kepada Desi dan Mike yang sudah berani bermain-main dan menipu dirinya.


Sedangkan disisi lain sekretaris Roy yang hendak masuk ke dalam apartemen baru yang dia tinggali, dia nampak kesulitan saat hendak menggesekkan kartu tersebut agar bisa membuka pintunya, karena tangan kanannya terluka dia harus menggunakan tangan kiri yang jelas agak sulit bagi tangan kiri yang jarak dia gunakan untuk menggeser kartu kunci tersebut, sudah cukup lama sekretaris Roy berdiri dan mendengus kesal karena selalu gagal dan dia kesulitan, hingga akhirnya ada Moris yang baru saja keluar dari rumahnya, dia melihat seorang pria di hadapannya tengah kesulitan, tentu saja dia datang untuk membantu, dan mulai menyapa sekretaris Roy yang dia pikir sebagai orang lain.

__ADS_1


"Permisi, tuan apa ada yang bisa saya bantu, kelihatanya sedari tadi anda..." Ucap Moris tidak sampai selesai karena dia terlanjur melihat pria itu berbalik.


Moris langsung terperangah kaget saat mengetahui ternyata pria yang hendak dia tawari bantuan adalah pria yang sama dengan yang dia temui di tempat makan serta di bawah apartemen tersebut sebelumnya.


"Kau, aishh kenapa aku sial sekali selalu bertemu dengan pria menjengkelkan sepetimu." Ucap Moris yang langsung saja mengubah ekspresi pada wajahnya, dia nampak emosi bahkan disaat pertama kali melihat sekretaris Roy kala itu, dan sekretaris Roy pula hanya bisa tersenyum kecil dengan sebagian bibir yang dia angkat, menunjukkan rasa tidak senang dalam dirinya ketika mendengar ucapan dari Moris.


Tidak sampai di situ, sekretaris Roy bahkan berani balik menghina Moris dengan mengatainya wanita keribo sebab rambut keritingnya yang begitu mengembang hingga mirip orang yang keribo.


"Diam kau kribo, sudah tahu orang lain kesulitan kau malah mengatai aku pembawa sial seperti itu, dasar manusia tidak punya hati nurani, minggir kau, datang hanya untuk mengacau saja, sana pergi!" Bentak Roy dengan begitu jutek dan menatap tajam.


Dia benar-benar terlihat sangat kesal kepada sekretaris Roy, sebab dia sudah berniat untuk berbuat baik namun malah mendapatkan penghinaan seperti itu, pantas saja jika Moris menjadi kesal dan emosi dibuatnya.

__ADS_1


Awalnya sekretaris Roy memang benci dan tidak membutuhkan bantuan dari gadis keribo itu, tetapi saat Moris berlenggang pergi dia baru menyadarinya bahwa dia memang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk bisa membuka kunci pintunya tersebut, sebab mau bagaimana pun, tangannya terasa sangat sakit dan menggunakan tangan kiri begitu sulit untuknya. "Aahh...hei tunggu, kau tidak boleh pergi dulu." Ucap sekretaris Roy yang pada akhirnya berteriak memanggil Moris dan menghentikannya.


Dia berjalan dan berhasil menarik tangan Moris hingga membuat gadis itu segera berbalik dengan ekspresi yang kesal dan mulai menghempaskan tangan sekretaris Roy yang memegangi tangannya saat itu. "Ihk.. lepaskan, kau ini apa-apaan sih, beraninya memegang tanganku seenaknya, sana menjauh dariku, mundur, ayo cepat mundur, apa lagi yang kau tunggu." Ucap Moris dengan wajah kesal dan dipenuhi emosi dengan sekretaris Roy, dia sudah hampir pergi dan sangat malas untuk menghadapi seorang pria seperti Roy, yang penuh dengan rasa gengsi, bahkan dengan lantangnya merendahkan dia berkali-kali di setiap pertemuan yang tidak sengaja diantara mereka berdua belakangan ini.


"Ayolah cepat bantu aku menggesekkan kartunya, ini sangat sulit untuk dilakukan sendiri saat tangan kananku sakit, aku bukan kidal jadi kesulitan sekali." Ucap sekretaris Roy memberanikan diri untuk meminta bantuan dari Moris lebih dulu.


Dia sudah berusaha keras untuk mengesampingkan dahulu rasa gengsi di dalam dirinya sehingga dia berani untuk melakukan hal itu, yang menariknya adalah ini pertama kalinya seorang sekretaris Roy yang terkenal dengan gagah berani serta penampilannya yang keren bisa mengakui kekalahannya dan meminta bantuan terhadap orang lain dengan cara seperti ini, tentu menurunkan ego dan mengesampingkan gengsi sangatlah sulit, tapi sayangnya Moris sama sekali tidak tahu dengan hal itu, sehingga dia tetap saja bersikap santai dan tidak perduli meski sekretaris Roy sudah bicara seperti itu kepadanya.


Bagi Moris cara meminta bantuan Roy terhadap dirinya masih terkesan sombong dan tidak seperti orang yang benar-benar membutuhkan bantuan dari orang lain.


"Heh, ada apa denganmu, apa kau barusan meminta bantuan dariku? Untuk membuka pintu apartemen mu itu, iya?" Tanya Moris memastikannya dahulu.

__ADS_1


"Iya, cepat bukakan pintunya." Balas sekretaris Roy sambil mengulurkan kartu itu ke depan Moris.


"Heh, apa apaan kau ini, mana ada orang yang mau meminta bantuan sepertimu, kau lebih mirip menyuruhku dan memerintahkan aku daripada meminta bantuan denganku, tidak mau aku tidak akan membantu manusia sombong yang merasa dirinya tidak akan membutuhkan orang lain sepetimu, sana buka saja sendiri." Balas Moris dengan wajah yang cukup menyebalkan dan terus saja dia pergi meninggalkan sekretaris Roy saat itu.


__ADS_2