
Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya anak laki-laki kesayanganku mau juga keluar dari kamarnya, aku begitu senang ketika melihat dia mau makan masakan ku, meski dia memakannya diam-diam di belakangku saat itu, aku tersenyum melihat Teguh yang asik makan dengan begitu lahap.
"Masakanku tidak akan pernah di tolak siapapun, apalagi Teguh. Syukurlah dia masih mau makan." Gerutuku sambil segera menutup pintu kamar.
Aku tidak ingin mengganggu dia dan memutuskan untuk memberikan luang waktu sendiri untuknya, agar dia bisa lebih tenang dan memikirkan semuanya sendiri bahwa semua yang aku lakukan adalah demi kebaikan dia juga, aku sungguh masih takut dan merasa cemas, tidak bisa aku biarkan Teguh menebak siapa ayah dia sebenarnya, aku tidak ingin dia merasa kecewa karena memiliki ayah yang jahat dan sama sekali tidak mau mengakui dirinya sejak dia dalam kandunganku dahulu, bahkan saat aku harus menerima masa-masa yang begitu sulit sekali.
Ke esokan paginya aku bangun lebih awal dan melihat Teguh yang sudah rapih, kami bersiap untuk pergi ke bandara, mengambil penerbangan pagi dan akan pergi secepatnya dari kota ini segera, agar tidak bertemu dengan tuan Jenson.
Hingga sesampainya di negara tempat tinggalku dahulu, aku benar-benar bisa menghirup udara segar, pergi membawa Teguh ke tempat dimana dulu aku pernah tinggal, aku masih berharap bisa menemukan Rasya dan Nayla, kedua sahabatku yang dulu pernah melindungi aku, merawati aku dan senantiasa memberikan dukungan atas derita dan kesulitan yang aku alami dahulu.
Namun sayangnya mungkin aku terlalu berharap banyak, sayangnya ketika aku sampai di tempat itu, semuanya telah banyak berubah, jelas sekali aku sudah meninggal tempat ini hampir lima tahun lamanya, seumur dengan usia Teguh bahkan mungkin sudah lebih dari itu karena kini Teguh sudah hampir enam tahun, aku menghembuskan nafas dengan lesu saat kamar kos yang dulu berjajar rapih dan memiliki pintu berwarna biru, kini sudah berubah menjadi sebuah bangunan megah dengan dua lantai yang memiliki halaman luas dan sangat cantik.
"Ibu kenapa kamu menghembuskan nafas seperti itu? Apa ini rumah yang akan kita tinggali?" Tanya Teguh kepadaku.
"Tidak sayang, ini tempat dahulu ibu pernah tinggal, sebelum ibu memiliki kamu, tapi sayangnya semua sudah berubah banyak, ibu sudah terlalu lama tidak kembali ke sini, mungkin sahabat ibu juga tidak ada disini lagi, dan Teguh mulai sekarang panggil ibu dengan sebutan mamah ya, anggap kita memulai hidup baru lagi disini." Ucapku kepadanya.
Teguh sangat penurut sekali, dia langsung mengangguk dengan perintah dariku, aku tidak mau dia memanggil aku ibu karena kita memiliki bahasa yang berbeda di tempat ini.
__ADS_1
"Iya mah, kalau begitu kita akan kemana sekarang?" Tanya dia lagi kepadaku.
"Kita pergi ke satu tempat lagi ya, siapa tahu mamah bisa bertemu dengan sahabat mamah disana." Balasku kepadanya lagi saat itu.
Kami pun segera pergi ke tempat yang aku tuju yang tidak lain adalah cafe tempat dulu aku pernah bekerja disana, kami masuk dan cafenya masih sama seperti dulu, hanya sedikit tataan mejanya saja yang sedikit berubah, selain dari itu semuanya masih terlihat sama dan masih banyak juga pengunjung yang datang ke dalam cafe tersebut, aku bersyukur sekali setidaknya masih ada satu tempat yang bisa aku kunjungi dan tidak berubah, agar aku bisa mengenang kembali masa-masa yang sangat indah dan selalu aku rindukan tersebut, aku pergi ke dapur berharap bisa bertemu dengan Rasya maupun Nayla, namun rupanya cafe itu sudah tidak mempekerjakan mereka, semua karyawan di cafe itu semuanya baru, aku sama sekali tidak mengenali siapapun disana.
Sehingga aku kembali dan memilih satu meja disana sambil mulai memesan makanan, karena aku tahu Teguh pasti sudah sangat lapar dan sudah lima jam kita masih belum istirahat atau makan sejak turun dari pesawat sebelumnya.
"Teguh, kamu mau makan apa sayang?" Tanyaku sambil memberikan menu makanan kepadanya, Teguh pun mulai memesan makanannya sendiri dan aku hanya mengikuti kemauannya saja.
"Maaf pak, tapi bisakah anda menegurnya tidak di tempat umum dan bahasa yang ka.... Rasya?" Ucapanku terpotong karena saat berbalik rupanya pria itu adalah Rasya.
Dia kini sudah menjadi manager di cafe itu sekaligus pemiliknya, aku benar-benar di buat kaget oleh dia, yang tiba-tiba saja sudah menjadi se sukses saat ini, aku langsung mengobrol dengannya, dan memperkenalkan dia dengan putraku Teguh, dia juga begitu senang bertemu denganku, membawa aku dan Teguh ke rumahnya yang ternyata dia sekarang sudah memiliki rumah cukup besar, dan yang paling membuat aku kaget rupanya Rasya sudah menikah dengan Nayla.
"Nayla? Kenapa kamu ada di rumah Rasya, apa dia yang sudah memberitahumu jika aku kembali?" Tanyaku kepada dia saat pertama kali masuk ke dalam rumah Rasya dan melihat Nayla duduk di sofa.
Nayla berlari dan langsung memeluk aku dengan begitu erat juga perasaan penuh haru, aku menerima pelukannya dan memberikan dia pelukan hangat penuh dengan kerinduan selama ini.
__ADS_1
"Ya ampun Rosa, kenapa kamu baru kembali, kenapa kamu pergi begitu saja saat itu, aku membencimu tapi aku tidak bisa, aku sangat menyayangimu Rosa." Ucap Nayla yang membuat aku semakin terharu.
Dia segera mempersilahkan aku duduk di sofa dan kami berbincang cukup banyak termasuk dia yang menjelaskan kepadaku bahwa mereka sudah menikah satu tahun yang lalu, hanya saja masih belum di karunia anak sampai sekarang.
Ada rasa senang dalam hatiku ketika mendengar kabar yang selama ini memang aku harapkan dari hubungan mereka, tetapi entah kenapa ada juga sedikit rasa sedih dalam diriku, karena aku melepaskan seseorang sehebat Rasya untuk wanita lain disaat jelas sekali aku ketahui bahwa Rasya pernah menyukai aku sebelumnya, namun aku tetap harus mengikhlaskan dia, bagaimana pun mereka berdua sahabat terbaikku tidak mungkin aku akan menjadi duri dalam pernikahan mereka.
"Kamu tahu, aku dan Rasya sudah menikah sejak satu tahun yang lalu, impianku untuk menjadi istrinya benar-benar terkabul Rosa, aaah ini adalah hal yang paling menyenangkan untukku, aku tahu dia dulu menyukaimu dan aku juga sudah tahu rahasia besar mu dari Rasya, aku tetap menyayangimu, meski kamu Ros yang di layar tv ataupun Rosa yang bekerja denganku di cafe. Kau tetap sahabatku, jadi tolong jangan pergi lagi dari kami, apa kamu mengerti?" Ucap Nayla memegangi kedua tanganku.
Dia benar-benar orang yang sangat baik, aku semakin merasa bersalah sekarang, kenapa dulu aku bisa sejahat itu kepada mereka, dengan meninggalkan kedua orang yang luar biasa baiknya seperti ini, mau menerima aku apa adanya dan tidak memperdulikan latar belakang aku, meski saat itu aku tengah diterpa rumor yang sangat besar.
"Maafkan aku Nayla, aku turut senang sekali atas pernikahan kalian, dan aku benar-benar menyesal telah memilih pergi dari orang-orang baik seperti kalian, terimakasih sudah mau menerima aku kembali Nayla, Rasya." Ucapku kepadanya dengan wajah yang sendu dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Eehh..sudah sudah, jangan jadi sedih begini, kalian pasti lelah kan, ayo aku antar ke kamar, apalagi putramu, lihatlah dia sudah menguap berkali-kali sejak tadi, dia sangat tampan sekali, benar-benar tidak mirip dengan ibunya." Ucap Rasya sengaja menggoda aku.
Kami pun tertawa pelan mendengar gurauan dari Rasya saat itu.
Aku segera berniat menggendong Teguh karena dia sudah sangat mengantuk dan lemas, tapi Rasya menghalangi dan dia membantu aku menggendongnya, membawa Teguh ke kamar dan menidurkan dia dengan sangat lembut, aku semakin berharap Teguh bisa memiliki sosok ayah yang dia impikan suatu saat nanti, yang bisa menggendong dia ketika dia ketiduran seperti ini.
__ADS_1