
Selama berada di pesawat hatiku terus merasa tidak tenang, dan Teguh asik berbincang dengan tuan Jenson, aku sama sekali tidak bisa menghibur Teguh ataupun mengajaknya mengobrol seperti biasa, padahal dalam ekspektasi diriku sebelumnya, aku pikir perjalanan ini akan sangat menyenangkan, tapi sayang sekali semuanya malah menjadi seperti ini, pikirkanku terus terpusat pada Desi dan Mike, ada rasa cemas dalam diriku terhadap kakak kandungku tersebut, karena mau bagaimana pun aku tahu jelas bagaimana sikap Mike sesungguhnya, dan meski sudah mendengar dari Nayla bagaimana Desi kepadaku saat dibelakangku, rasanya aku masih belum bisa mempercayai ucapannya itu seratus persen, bukan karena aku tahu pada Nayla, tetapi aku hanya takut mungkin Nayla yang salah paham dan salah menilai kakakku, aku takut kakakku seperti itu karena hasutan dari Mike.
Aku terus melamun memikirkan bagaimana keadaan kak Desi saat ini dan apa yang dia lakukan kepada Raysa yang tidak bersalah itu. Hingga tiba-tiba saja tuan Jenson menggenggam tanganku dengan erat dan dia mulai menyadarkan aku dari lamunan yang begitu panjang dan sangat mengganggu pikiranku.
"Ros...sudah jangan terlalu dipikirkan lagi, orang-orang jahat seperti mereka tidak pantas untuk kamu pusingkan." Ucap tuan Jenson kepadaku.
"Tapi tuan dia itu kakakku, dia orang yang sudah merawat aku dan menjaga aku bak seperti pengganti ibuku dan ayahku ketika aku masih kecil, dia juga yang selalu mendukung aku untuk menjadi selebritis. Aku hanya merasa tidak mungkin jika dia akan sejahat itu denganku, iya kan?" Balasku mengatakan keraguanku itu.
"Kamu tidak akan pernah tahu apa yang terdapat di hati orang lain, sekalipun itu kakak kandungmu sendiri, meskipun dia baik denganmu selama ini, bagaimana jika ternyata semua kebaikan itu hanya untuk menguntungkan dirinya saja, kamu terlalu baik Ros dan kamu selalu berpikir baik terhadap semua orang, sehingga itu akan memudahkan orang lain untuk memperdaya dirimu, termasuk apa yang sudah dilakukan kakakmu itu sekarang." Balas tuan Jenson menjelaskannya kepadaku.
"Jika semua itu benar, lalu bagaimana denganmu, apa kamu sungguh menyukai aku, apa kau menyayangi aku dengan tulus, ataukah semua kebaikanmun juga demi Teguh saja?" Tanyaku mulai merasa ragu dengan perasaan semua orang terhadap diriku.
Aku pikir jika kakak kandungku saja yang sudah jelas memiliki darah sama denganku dan hidup berdampingan dalam waktu yang lama, bis berbuat sejahat ini denganku, bagaimana dengan tuan Jenson yang memang sejak awal hanya menginginkan hak asuh putranya saja, pemikiran itu membuat aku semakin cemas dan tidak bisa mempercayai semua orang lain. Sedangkan tuan Jenson sendiri terlihat membelalakkan matanya dengan sangat lebar, menatap ke arahku dengan begitu lekat dan terus saja tersenyum kecil, membuat aku semakin tidak senang dengannya.
__ADS_1
"Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Apa jangan-jangan yang aku takutkan benar, kau juga sama dengan kak Desi ya?" Tanyaku kepadanya memasang ajah yang ditekuk sangat kusut sekali.
"Ros ..Ros.. Apa kamu pikirkan rasa sayangku padamu hanya untuk mendapatkan hati Teguh saja? Itu semua tidak benar, karena aku tidak mungkin tidur sembarangan dengan wanita, kamu mengerti maksudku kan?" Ucap tuan Jenson mendekatkan wajahnya ke arahku, membuat aku sedikit gugup di buatnya.
"AA..AA..apa maksudmu, kita juga tidur karena sebuah kecelakaan sebelumnya dan kamu juga meniduri aku sembarangan, bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu itu." Balasku sambil memalingkan pandangan ke arah lain agar tuan Jenson tidak bisa menyadari kegugupan dalam diriku saat itu.
Bukannya marah tuan Jenson sendiri justru malah merasa tertantang dengan apa yang dikatakan oleh Ros kala itu, dia semakin mendekatkan dirinya dan terus mendesak Ros saat itu. "Itu aku dijebak dan tidak sadarkan diri, tapi yang kita lakukan di kamarku belakangan ini, itu aku lakukan dalam keadaan sadar dan kau yang memberikan izin secara langsung denganku, jadi apa kamu pikir aku hanya memanfaatkan dirimu saja setelah semua yang sudah aku lakukan padamu? Aku sangat kecewa denganmu jika kau berpikir seperti itu." Balas tuan Jenson yang langsung menjauhkan dirinya dariku seketika.
Dia terus saja menatap lurus ke depan dan memperhatikan Teguh yang duduk di bangku depan seorang diri.
Segera saja aku mulai mendekatinya lagi dan mencoba untuk meminta maaf dengannya.
"Ekm...tuan...aku aku minta maaf ya, tapi sebenarnya aku tidak berpikir kau sama seperti Desi, aku juga tidak berpikir kamu akan membohongiku, hanya saja aku terlalu takut untuk jika semua orang yang ada di sampingku tidak benar-benar menyayangi aku." Ucapku bicara dengannya saat itu.
__ADS_1
Sayangnya tuan Jenson tetap terlihat diam dan merajuk, seperti tetap marah denganku, membuat aku menghembuskan nafas dengan lesu dan tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk membujuk dia agar tidak marah lagi denganku.
"Huuhh... Tuan ayolah apa kau masih marah deganku, kalau kau begini liburannya tidak akan menyenangkan lagi, aku kan sudah minta maaf denganmu, bagaimana lagi cara agar kau mau memaafkan aku?" Ucapku kepadanya dan masih berusaha untuk membujuk dia dengan cara yang ingin dia lakukan sendiri.
Setelah aku bicara seperti itu akhirnya tuan Jenson mau berbalik menoleh ke arahku dan sebuah senyum kecil tergambar saat itu, membuat aku merasa sedikit curiga dengan apa yang sebenarnya tengah dia pikirkan saat itu.
"Ini cium disini baru aku akan memaafkanmu." Ucap tuan Jenson sambil memegangi bibirnya membuat aku sangat kaget mendengar permintaan darinya.
"Tuan ini di pesawat ada banyak orang yang bisa melihatnya, aku tidak mau." Ucapku menolak dengan tegas, terlebih lagi ada Teguh, aku tidak ingin anak kecil seusia dia melihat hal tidak senonoh seperti itu.
"Ya sudah kalau kau tidak mau jangan harap kita akan berbaikan." Balasnya dengan kembali melipatkan kedua tangannya di depan dada dan terus memalingkan kembali wajahnya ke depan, membuat aku bingung dan tidak memiliki pilihan lain lagi.
Aku terus saja berpikir dengan keras, yang pada akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menciumnya, melakukan apa yang dia inginkan agar dia bisa berhenti merajuk seperti anak kecil kepadaku, karena jika semua ini terus dibiarkan, aku tidak mau menghancurkan liburannya, apalagi menambah beban dalam pikiranku.
__ADS_1
Tapi walau aku sudah berniat seperti itu tetap saja rasanya sangat gugup sekali untuk mengatakannya kepada tuan Jenson.