Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Mempercepat Pindah


__ADS_3

Senyum menyeringai tergambar jelas di wajah tuan Jenson, dia sudah cukup lama menunggu hal baik seperti ini, karena perasaannya terlalu yakin bahwa anak kecil tersebut memiliki gen sama dengannya, terlebih neneknya sudah mendesak dia untuk segera memiliki cucuk. "Jika dia anakku, aku akan mengambil anak itu, dengan begitu baru aku tidak perlu menikah dengan wanita manapun lagi." Batin tuan Jenson memikirkannya.


Ke esokan paginya aku segera mempercepat proses keberangkatan ku ke negara C bersama dengan Teguh, aku berangkat pagi-pagi sekali mengurusi semuanya sekaligus, hingga akhir keberangkatan bisa di percepat dan aku sudah bisa berangkat besok pagi untuk penerbangan menuju negera C, sangat senang rasanya aku bisa segera pergi meninggalkan kota ini.


Meski sebenarnya sudah sangat nyaman berada di lingkungannya, tetapi semenjak munculnya tuan Jenson dimanapun aku berada, tempat itu selalu tidak nyaman dan tidak aman, aku hanya takut dia akan mengusik diriku lagi, setelah merenggut hal paling berharga di dalam diriku dan tidak ku pungkiri, dia juga salah satu sebab hancurnya karir yang aku bangun susah payah dari nol, seharusnya jika memang dia tidak menyukai diriku, dia tidak sepantasnya melakukan hal tersebut pada orang mabuk dan dalam pengaruh obat.


Kejadian kelam malam itu selalu terekam dengan jelas di dalam kepalaku, meski aku tidak sadar ketika melakukannya tetapi rekaman saat aku bangun dan menyadari semuanya telah hilang membuat aku kerap kali frustasi dan tidak bisa menerima kenyataan itu, tetapi Teguh sudah hadir di sisiku, dia menjadi bukti nyata bahwa aku sudah bukan gadis lagi, aku bukan wanita yang suci sejak satu tahun yang lalu.


Tatapanku kosong dan terus saja melamun memikirkan semua hal yang sudah aku alami selama ini. Hingga Teguh menyadarkan ku.


"Bu....ibu kenapa kau melamun?" Tanya dia padaku dengan menarik ujung pakaian yang aku kenakan.


Segera aku menoleh ke arahnya dan langsung saja tersenyum untuk menyembunyikan semua yang tengah aku pikirkan sebenarnya, mana mungkin aku akan bicara jujur pada anak di usia sekecil itu, dia sama sekali tidak bersalah dan Teguh berhak bahagia layaknya anak-anak lain di usianya, permasalahan besar seperti ini tidak pantas di ketahui olehnya, sekalipun dia selalu mendesak padaku.

__ADS_1


"Aaahh...tidak papa, ibu hanya berpikir sedikit sedih sebab harus meninggalkan kota kelahiranmu." Balasku membohongi putraku entah untuk kesekian kalinya.


Meski hatiku terasa pedih dan merasa sangat bersalah, sebab kebohongan demi kebohongan aku lontarkan pada putraku sendiri, hanya bisa meminta maaf di dalam hati dan berharap semua ini akan segera berlalu, agar aku bisa menjadi setenang dulu lagi.


"Bu...jangan berbohong padaku, wajahmu memperlihatkan ekspresi yang jujur kenapa mulutmu berbohong, ibu pasti memikirkan pria jahat itu kan?" Ucap Teguh yang seakan mengetahui isi dalam pikiranku.


Segera aku menoleh ke arahnya dengan menatap heran dan kedua alis yang aku naikkan, tidak pernah aku duga Teguh bisa bicara seperti itu, dan ternyata dia malah mengetahui apa yang sebenarnya aku pikirkan, padahal aku berusaha keras untuk membohonginya.


"Eehh.... Siapa bilang ibu memikirkannya, untuk apa ibu memikirkan orang asing seperti dia, kamu ini ada-ada saja." Balasku padanya.


Rasa cemas mulai menyeruak dalam diriku, aku sangat takut hal yang selalu aku sembunyikan akan diketahui oleh putraku, dengan cepat aku membentak Teguh dan menyuruhnya agar tidak membicarakan mengenai pria itu lagi.


"Cukup Teguh! Kenapa kamu selalu membicarakan pria itu, ibu kan sudah bilang dia hanya orang asing, dia bukan orang yang baik dan tidak ada hubungannya dengan kita, dia hanya merasa tidak senang sebab wajahnya terlihat mirip dengan wajahmu, kau jangan pernah dekat-dekat dengannya, jika suatu saat bertemu pria itu tanpa ada ibu di sampingmu, kau harus lari, jangan pernah mengobrol dengan orang asing lagi!" Kataku yang langsung dianggukkan oleh Teguh.

__ADS_1


Untungnya Teguh adalah anak yang baik dan penurut dia bisa mengerti apa yang aku rasakan dan memahami apa yang aku larang darinya, saat itu juga Teguh langsung mengangguk patuh kepadaku, meski wajahnya langsung terlihat lesu dan tertunduk sedih.


Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan merasa sangat bersalah dengannya, aku tidak bermaksud membentak Teguh sampai seperti itu, tetapi entah kenapa aku selalu merasa terpancing emosi tiap kali membicarakan mengenai pria tersebut.


Lukanya belum kering dan sekarang malah di buka kembali dan menjadi semakin besar, bagaimana mungkin aku tidak terpancing emosi dengan kemunculannya, dia duri dalam hidupku dan dia kenangan buruk yang selalu ingin aku lupakan, seandainya ada teknologi yang bisa membuatku menghilangkan ingatan buruk dalam kepalaku, aku akan melakukannya, akan aku hapus ingatan menyedihkan yang ada dalam otakku.


Itulah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk melupakan semua kenangan buruk, sayangnya teknologi seperti itu tidak ada di dunia pada zaman ini, sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam begitu pula dengan Teguh yang terus tertunduk hingga sampai di rumah pun dia langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa bicara apapun lagi denganku.


Aku berdiri di samping pintu masuk kamar Teguh dan memegangi pintunya, berat sekali rasanya melihat putraku menjadi seperti ini denganku, karena sebelumnya dia tidak pernah marah ataupun merajuk hingga seperti ini.


"Teguh....tok...tok...tok... Ayo makan dulu sayang, sedari tadi kamu belum makan." Ucapku sambil mengetuk pintu kamar Teguh. Berusaha membujuknya.


"Tidak mau, aku ingin tidur saja, ibu makanlah lebih dulu." Balas dia kepadaku.

__ADS_1


Aku tahu dia marah denganku dan aku tahu dia tidak mudah dibujuk ketika dia merajuk, hanya bisa membiarkan dia tenang hingga dirinya sendiri yang mau keluar dari kamar, aku pikir jika dia lapar dia mungkin akan keluar dengan sendirinya, sehingga aku meninggalkan kamar Teguh dan segera menyiapkan makanan untuknya, meninggalkan makanan itu diatas meja dan segera masuk ke dalam kamar, aku tahu dia tidak akan keluar dari dalam kamarnya ketika masih ada aku di dapur, oleh karena itu aku sebagai ibunya lebih mengalah asal Teguh mau makan. Aku terus berdiri di balik pintu kamarku menunggu Teguh keluar dari kamarnya.


__ADS_2