
Saat itu jam sudah menunjukkan p*kul 9 malam dan butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke rumah tuan Jenson, selama perjalanan Nayla sama sekali tidak tenang dia terus mengigit kuku ibu jarinya dan tangisan tiada Hendi keluar dari pelupuk matanya tersebut, rasa cemas, sakit dan panik bercampur menjadi satu pada diri Nayla kala itu, membuat sekretaris Roy kebingungan dan mencoba bertanya lagi degannya setelah melihat Nayla lebih baik dari sebelumnya.
"Nona Nayla apa anda sudah merasa lebih baik? Bisakah anda memberitahu saya, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya sekretaris Roy saat itu, sembari menatap sekilas ke arah Nayla.
Sebenarnya Nayla tidak ingin membicarakan hal itu kepada orang lain apalagi dalam kondisi seperti ini, tetapi dia juga tidak bisa menahannya lagi, hatinya terus saja bergejolak seakan dia harus memberitahu siapapun tentang keadaan suaminya secepat mungkin, agar Rasya bisa segera di selamatkan.
"Hiks..hiks..begini Roy, sebenarnya aku meminta kamu segera mengantarkan aku pada Ros karena semua ini berhubungan dengan suamiku, dia dalam bahaya dan dia...sekarang dia...dia sudah habis, wajahnya penuh luka dan ada banyak darah, dia sepertinya di p*kuli oleh orang lain di dalam sel, aku tidak bisa melihat suamiku dalam kondisi seburuk itu." Balas Nayla yang semakin terpuruk setiap kali mengingat kondisi dari suaminya yang begitu mengenaskan.
Tidak hanya Nayla tetapi sekretaris Roy juga sangat kaget mendengarnya dia tidak percaya jika di dalam sel penjara yang dijaga oleh polis pun masih dapat terjadi hal seperti ini.
"Astaga... bagaimana mungkin di dalam sel bisa seperti itu, ini pasti ada permainan, dia harus di pindahkan dari sana." Balas sekretaris Roy kepada Nayla yang langsung dianggukkan dengan cepat.
"Iya. Kau benar Roy, kita harus memindahkan suamiku dari sel itu, setidaknya dia boleh dipenjara tetapi di dalam sel khusus saja, suaminya Ros pasti bisa membantuku kan, dia orang yang kaya raya dan terlihat berkuasa, dia pasti bisa membantu aku kan Roy?" Tanya Nayla kepada sekretaris Roy saat itu.
"Eumm.. masalah itu sepertinya anda harus membicarakan secara langsung kepada tuan Jenson, atau kalau tidak kepada nona Ros saja, dia akan lebih memilih hati dibandingkan bosku." Balas sekretaris Roy yang tidak bisa memberikan janji dan keputusan sendiri.
Nayla mengangguk paham, dia mengerti bagaimana posisi Roy disana dan dia pun memiliki tekad yang kuat untuk membujuk tuan Jenson bila seandainya dia tidak mau membantu dirinya nanti. Tidak lama satu jam diperjalanan sudah berlalu, Nayla langsung berlari masuk ke dalam rumah tuan Jenson bahkan penjaga disana sampai kesulitan untuk menahannya, untung saja ada sekretaris Roy yang menghentikan para penjaga yang hendak mengejar Nayla, jadi dia bisa segera masuk ke dalam rumah dan berteriak mencari Ros sahabatnya tersebut.
Saat itu aku sendiri tengah menikmati tontonan di ruang keluarga bersama dengan tuan Jenson, karena Teguh sudah tidur lebih dulu aku pun memutuskan untuk menonton film horor bersama tuan Jenson hingga momen dimana hantunya muncul aku langsung memejamkan mata dan terus saja memeluk tuan Jenson sangat erat, tetapi yang lebih menakutkan adalah kemunculan Nayla yang datang secara tiba-tiba dan malah berdiri di sampingku. "Ros." Ucap Nayla membuat aku sangat kaget ketika melirik ke arahnya.
"Aarrkkkk...." Teriakku sangat kencang dan terus saja semakin menenggelamkan wajahku pada dada bidang tuan Jenson.
Lampu dinyalakan oleh sekretaris Roy dan tuan Jenson mengetahui bahwa itu adalah Nayla, dia malah menertawakan aku karena ketakutan sebab sahabatku sendiri.
"Ahahaha..hei lihat dengan benar dia itu sahabatmu, bagaimana mungkin kau malah mengira dia sebagai hantu, ayo cepat lihat kesana itu Nayla." Ucap tuan Jenson menyadarkan aku, walau sebenarnya saat itu aku masih tidak mempercayai ucapannya dan menoleh dengan perlahan sambil membuka mataku pelan-pelan.
Baru saja aku membuka mataku seluruhnya dan bisa bernafas lega, Nayla malah langsung berjongkok di hadapanku dan dia memohon bantuan kepadaku saat itu, aku keheranan dan merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga naylaymenjelaskan semuanya dan memperlihatkan foto Rasya yang sudah sangat parah dengan banyak luka di sekujur tubuhnya.
"Ros aku mohon tolong bantu aku, bantu Rasya kali ini saja, dia benar-benar sangat membutuhkan bantuan kita saat ini, dia dalam bahaya Ross." Ucap Nayla dengan air mata yang terus berlinang.
__ADS_1
Aku juga tidak sanggup melihat kondisi sahabatku sendiri seperti itu, hatiku terasa sakit dan aku terus termenung, tidak dapat berkata-kata lagi.
"Hei darimana kau mendapatkan foto itu, apa itu benar suamimu atau bukan?" Tanya tuan Jenson kepada Nayla saat itu.
"Lihat...lihat baik-baik ini Tos, lihat gelang yang ada di pergelangan tangannya, ini gelang yang pernah kau berikan kepada Rasya untuk hadiah ulang tahun, dan ini adalah gelang milikku yang kau berikan juga, kau ingat itu kan, orang lain tidak mungkin mengenakan gelang ini karena ini gelang pasangan dan Ros yang membuatkannya sendiri, tidak ada yang menjual gelang ini, dia sungguh Rasya suamiku, kita harus menyelamatkan dia Ros. ROS ayo bicara, kenapa kau diam saja?" Bentak Nayla terus mendesak aku.
Tanpa dia beritahukan semua itu aku juga sudah tahu dan sangat yakin bahwa orang yang ada pada foto tersebut adalah Rasya, sahabat terbaikku dan aku sangat menyayanginya seperti keluargaku sendiri, tetapi rasanya sangat berat ketika aku tahu bahwa semua ini perbuatan dari kakak kandungku sendiri, aku ingin menyelamatkan sahabatku tetapi aku tidak ingin kakakku dalam bahaya.
"Maafkan aku Nayla, aku bukannya tidak ingin membantumu dan Rasya tetapi kita tidak bisa berbuat apapun dengan terburu-buru seperti ini, aku tahu semua ini pasti ulah kakaku lagi kan? Aku minta maaf jika itu benar, biarkan aku berpikir sejenak untuk mencari solusi dari semua permasalahan ini." Ucapku berusaha untuk menjadi adik di hadapan Nayla saat itu.
"Itu kau tahu, aku memang mendapatkan foto ini dari Desi, dan kau tahu Ros, Desi sudah berubah banyak, dia bukan dirinya yang dulu lagi, dia bukan kakakmu yang baik itu, dia wanita jahat yang kejam sekarang, dia bisa memb*nuh Rasya kapan saja jika kita terlalu lama membiarkan dia terus meny*ksa Rasya seperti ini, kita harus cepat Ros!" Balas Nayla yang mungkin tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan kepada-nya.
"Aku mengerti Nayla, tetapi kita juga tidak bisa menolongnya detik ini juga, kita butuh rencana yang matang, kau tau Desi begitu dan dia memiliki kekuasaan serta uang saat ini, mudah baginya melakukan apapun. Itulah kenapa aku meminta kamu untuk menunggu sejenak, kita buat rencana yang paling bagus dan matang untuk bisa mengeluarkan Rasya dari penjara." Balas ku berusaha untuk meyakinkan Nayla dengan memegangi kedua pundaknya cukup kuat.
Aku mengerti saat ini Nayla hanya dalam keadaan panik dan dia begitu mencemaskannya suaminya, aku mungkin akan lebih parah dari dia jika sampai sesuai terjadi dengan tuan Jenson dan Teguh jadi aku pun masih memahami posisinya.
"Apa yang dikatakan oleh istriku benar, kau tidak bisa gegabah dalam bertindak, apalagi saat kau tahu bahwa musuhmu sangat kuat, kita akan membuat rencana dahulu, dan kau sebaiknya tenangkan dirimu dulu, serahkan semuanya padaku dan Roy, kita akan melakukan yang terbaik agar bisa menolong pria itu." Balas tuan Jenson membuat Nayla jauh lebih tenang dan aku tidak menduga jika tuan Jenson mau ikut terlibat dengan hal seperti ini, bahkan mau untuk membantunya sekaligus.
Padahal aku tahu dia sangat sibuk belakangan ini, apalagi setelah liburan yang kita lakukan, ada banyak pekerjaan yang tertunda di kantornya, tetapi tuan Jenson masih saja mau meluangkan waktu serta pikirannya untuk membantu sahabatku seperti ini, yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan dia sedikit pun.
Nayla nampak begitu senang mendengar hal itu dan dia terus mengucapkan terimakasih yang begitu banyak kepada tuan Jenson dihadapanku sendiri kala itu.
"Benarkah? Tuan terimakasih banyak, aku sungguh beruntung bisa mengenalmu, terimakasih sudah mau membantu suamiku tuan." Ucap Nayla sambil memegangi lutut tuan Jenson dan dia berjongkok di bawahnya.
Aku tidak bisa diam saja saat melihat temanku sendiri harus melakukan hal itu dengan merendahkan dirinya di depan suamiku sendiri seperti itu, jadi dengan cepat aku segera menarik tangan Nayla dan menyuruhnya agar segera bangkit berdiri.
"Nayla sudah, hentikan semua ini, untuk apa kamu harus bersikap seperti itu di depan suamiku, kau memiliki harga diri yang perlu kamu pertahankan, jangan merendahkan dirimu lagi kepada siapapun saat dihadapanku, karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada sahabatku." Ucapku melarangnya melakukan hal itu.
Nayla menangis dalam pelukanku dan aku pun ikut terharu mendengar ucapan darinya.
__ADS_1
"Huaa.. terimakasih banyak Ros, kamu adalah sahabat terbaikku, aku sangat beruntung sekali bisa mengenal dirimu, aku sungguh berhutang banyak denganmu, terimakasih Ros." Ucap Nayla denganku dan aku terus mengusap punggungnya dengan lembut agar Nayla bisa menjadi lebih baik dan berhenti menangis tersedu-sedu lagi seperti sebelumnya. Aku juga tidak tega melihat Nayla se kacau itu.
Aku pun memutuskan untuk membawa Nayla pergi ke kamar tamundan kami bercengkrama bersama disana, malam ini aku menyuruh Nayla untuk tinggal disini saja denganku karena ini sudah terlalu malam untuk dia kembali ke apartemen bersama Roy, aku mencemaskan dia, karena tahu dirinya sendiri masih dalam kejaran anak buahnya Desi.
Sedangkan tuan Jenson dan Roy mereka mulai memikirkan rencana untuk membebaskan Rasya, keduanya mencaritahu kasus yang membuat Rasya bisa dijebloskan ke penjara oleh Desi sebelumnya dan setelah mereka berdua mencari tahu semuanya lewat Nayla serta beberapa sumber lain yang berhasil merebut temukan, akhirnya sekretaris Roy mulai mendapatkan titik terang dari hal tersebut.
Tetapi hal itu juga tidak terlalu bagus karena sekretaris Roy menemukan bahwa Rasya suaminya Nayla dan sahabatnya nona Ros, ternyata adalah orang yang pernah berhubungan bisnis dengan perusahaan cabang milik tuan Jenson sebelumnya.
"Astaga..tuan lihatlah ini, aku tidak tau apakah ini sebuah jawaban yang bagus ataukah hal yang buruk." Ucap sekretaris Roy sembari memperlihatkan data-data yang baru saja dia cocokkan dengan orang dalam pencarian dirinya juga Rasya yang ada dalam penjara saat ini.
Semua data disana sangat cocok, bahkan tanggal dan waktu dimana Rasya ditemukan sama persis, membuat mereka tidak dapat mengelak sedikitpun.
Tuan Jenson membelalakkan matanya sangat lebar dia tidak menduga jika ternyata Rasya yang itu adalah Rasya yang sama dengan buronan yang sudah dia cari selama ini dan telah mengambil banyak keuntungan ilegal dari perusahaan cabang miliknya yang hampir gulung tikar beberapa tahun yang lalu.
"Jadi kabar dari kepolisian yang mengatakan orang itu sudah berhasil ditangkap, itu adalah hari yang sama dimana Rasya di bawa oleh Desi?" Tanya tuan Jenson memastikannya lagi dan mencocokkan semua datanya termasuk wajah Rasya di tahun yang berbeda.
"Yap, itu benar tuan, dan Rasya yang telah menipumu adalah Rasya yang harus kau tolong saat ini." Balas sekretaris Roy menegaskan semuanya.
Hal itu langsung membuat tuan Jenson menyandarkan tubuhnya ke belakang dan menghembuskan nafas dengan lesu, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini, disisi lain dia merasa orang itu pantas mendapatkan hukuman sebagai karma yang telah dia lakukan terhadap perusahaan cabang miliknya yang mengakibatkan beberapa karyawan tidak bersalah mendapatkan dampak PHK saat itu, dia juga harus menjual beberapa saham perusahaan untuk menyetabilkan kondisi keuangannya, butuh waktu dua tahun lamanya untuk tuan Jenson kembali bangkit dari keterpurukannya dan dia bisa semakin berjaya seperti saat ini, tetapi disisi lain dia juga merasa kasihan atas Nayla yang sudah memohon bantuan terhadap dirinya, dan dia juga tau bahwa pria itu juga yang telah membantu merawat istrinya selama ini, bahkan membantu proses persalinan putranya sendiri, kebaikan yang dilakukan oleh Rasya juga tidak kalah besar, sehingga hal itu membuat tuan Jenson semakin dilema.
"Aahhh... bisa-bisanya dia adalah orang yang sama, Roy apa menurutmu dia pantas mendapatkan hal itu karena apa yang telah dia lakukan padaku?" Tanya tuan Jenson meminta pendapat dari sekretaris Roy saat itu.
"Menurutku ini setimpal, tetapi jangan lupakan dia juga memiliki sisi yang baik, dia telah menjaga dan merawat nona Ros disaat anda tidak ada disampingnya, itu juga sangatlah luar biasa." Balas sekretaris Roy yang memiliki sudut pandang sama dengan tuan Jenson.
"Hal itulah yang membuatku sulit Roy. Aishh... bisakah kita meruntuhkan otaknya saja?" Balas tuan Jenson lagi saat itu.
"Tidak bisa tuan, nona Desi dalang dari semua ini, tetapi aku sangat yakin nona Ros tidak akan senang jika anda melakukan sesuatu kepada wanita itu di belakangnya, sebab kauntahu bukan nona Desi adalah kakak kandungnya nona Ros dan dia juga wanita yang cukup berjasa bagi nona Ros dalam hidupnya saat kecil." Balas sekretaris Roy semakin membuat sulit tuan Jenson dalam mengambil keputusan.
Tuan Jenson semakin termenung dan mengerutkan kedua alisnya sangat kuat, dia berpikir keras tentang keputusan apa yang harus dia ambil saat ini.
__ADS_1