
Karena tuan Jenson sudah bicara begitu dan dia sendiri yang mau melakukannya aku juga tidak bisa berbuat apapun, tidak mungkin aku menahan dia atau melarangnya untuk menjemput putranya sendiri jadi aku hanya diam saja, hingga sesampainya di sekolah dugaanku memang benar, Teguh sudah keluar dari kelasnya dan dia terlihat berdiri di depan gerbang sekolah dengan beberapa temannya yang juga tengah menunggu jemputan dari kedua orang tua mereka saat itu.
Aku turun dari mobil bersama dengan tuan Jenson dan Teguh langsung berlari ke arah kami sambil langsung memelukku sangat erat.
"Ibu kau akhirnya datang juga, wahh kau datang menjemputku dengan ayah? Apa kita akan pergi berjalan-jalan bersama?" Tanya Teguh kepadaku dengan wajahnya yang begitu ceria sekali.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat raut wajah Teguh sebahagia ini saat aku datang menjemputnya, padahal yang aku tahu selama ini dia anak yang sulit di dekati dan tidak mudah bergaul dengan orang lain, tidak memiliki teman dan jarang sekali tersenyum sampai menunjukkan giginya seperti sekarang, tapi kali ini dia terlihat begitu berbeda sekali.
Tapi aku juga segera menjelaskan kepadanya bahwa kami tidak akan pergi jalan-jalan namun sebelum aku sempat membalas ucapan dari Teguh, tuan Jenson justru lebih dulu menahan ucapanku dan dia malah mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah kami bicarakan sebelumnya.
"Teguh kita tidak..." Ucapku tidak sampai selesai.
"Kita tidak akan langsung pulang, ayah dan ibu akan membawamu bermain ke tempat yang kamu inginkan, kemanapun itu." Ucap tuan Jenson membuat aku merasa heran dan langsung memberi tatapan tajam kepadanya.
"Apa yang dia pikirkan, kenapa tiba-tiba saja memutuskan sendiri seperti ini?" Batinku merasa heran sendiri.
Tetapi tuan Jenson langsung saja membawa Teguh masuk ke dalam mobilnya dan Teguh terus mengajak aku untuk segera ikut dengannya, hingga aku pun ikut masuk dengan mereka, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh tuan Jenson sebelumnya, dia selalu memutuskan semuanya seenaknya bak seperti dia benar-benar seorang kepala keluarga dalam hidupku, sedangkan aku tidak terlalu senang dengan sikapnya tersebut.
__ADS_1
Seperti kali ini dimana dia benar-benar membawa aku dan Teguh ke taman bermain, tempat yang memang selalu Teguh inginkan namun belum sempat aku wujudkan dengan baik selama ini, Teguh terlihat begitu bersemangat, dia berlari dengan menarik tanganku dan terus saja memaksa untuk menaikkan salah satu wahana permainan yang ada disana, tapi aku melarangnya, aku pikir itu bukanlah permainan yang cocok bagi anak kelas satu SD seperti dirinya.
"Bu..ayolah aku ingin naik wahana itu, sepertinya keren sekali untuk menaikinya, aku bisa mengendarai mobil seperti ayah, ayolah ibu boleh ya, sekali saja." Ucap Teguh sambil terus menarik tanganku dengan paksa.
Aku pun langsung saja memegangi kedua tangannya dengan perlahan dan mencoba untuk memberikan pengertian kepadanya saat itu.
"Teguh sayang, dengarkan ibu dengan baik, permainan itu untuk orang dewasa, seandainya kau mau tetap naik harus tetap di dampingi dengan orang dewasa, kamu tidak naik ke sana seorang diri, badanmu masih terlalu kecil, nanti bagaimana jika kamu terhempas saat bermain disana sendirian, tapi sayangnya ibu tidak bisa bermain permainan seperti itu, kamu tahu kan ibu tidak senang untuk bermain permainan tersebut, ibu tidak mau terjadi sesuatu apapun yang membahayakan kesayangan ibu." Ucapku memberikan pengertian kepadanya.
Teguh terus saja cemberut dan merajuk dengan kesal kepadaku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Teguh mengerti dengan apa yang aku maksudkan kepadanya, karena semua itu aku lakukan demi kebaikannya juga.
"Ibu pelit, kenapa aku selalu tidak bisa melakukan apapun yang aku inginkan, aku kan sudah dewasa aku sudah enam tahun ibu, aku bukan anak kecil lagi!" Bentaknya sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Sampai tiba-tiba saja tuan Jenson lagi-lagi malah membelanya dan memberikan izin kepada Teguh untuk naik wahana tersebut dengannya.
"Tidak masalah, ayah akan membelikan tiketnya untukmu, hari ini apapun yang kamu inginkan, ayah akan mengabulkannya." Ucap tuan Jenson begitu saja.
Dia langsung saja pergi ke tempat pembelian tiket dengan segera sedangkan aku terus menatap dengan mengerutkan kedua alisku sangat kuat saat itu, aku tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
"Hah, tuan apa yang mau kamu lakukan, permainan ini sangat berbahaya bagi anak-anaknya, kamu tidak mungkin ikut dengan Teguh untuk naik ke sana bukan?" Ucapku menaha tangannya disaat dia hendak masuk ke dalam wahana tersebut.
"Aku akan naik dengannya, Teguh ayo cepat kemari." Ucap tuan Jenson langsung menarik tangan Teguh dan membawanya masuk bersama ke dalam wahana tersebut.
Aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa terus menatap heran dengan terperangah kepadanya, melihat tuan Jenson benar-benar masuk ke dalam wahana itu dan menemani Teguh bermain disana dengan begitu gembira, aku tidak menduga seseorang yang selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi dan selalu bersikap serius setiap saat seperti tuan Jenson, kini justru mau menemani seorang anak kecil yang begitu aktif dan bermain wahana seperti itu.
Teriakkan Teguh yang sangat kencang terdengar begitu keras begitu pula dengan tuan Jenson yang nampak begitu bersemangat sekali dalam mendampinginya.
Aku hanya bisa menatap dengan wajah terperangah dan hanya bisa diam mematung di pinggir wahana tersebut sambil terus saja merasa aneh dan kaget sendiri.
Hingga tuan Jenson selesai dari wahana itu dan dia terlihat begitu lemah, jalannya sudah tidak seimbang dan terus dia memegangi kepalanya sambil sempoyongan, aku langsung memegangi tangannya dan mengajak dia untuk segera duduk mengistirahatkan tubuhnya saat itu.
Sedangkan Teguh terus saja terlihat ceria dan sangat gembira setelah keinginannya sudah di wujudkan oleh tuan Jenson sebelumnya.
"Tu..tuan apa kau baik-baik saja?" Tanyaku merasa sedikit cemas ketika melihat keadaannya yang seperti itu.
Dia terus saja menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya saat itu, tapi melihat wajahnya yang terlihat sedikit pucat tentu saja aku tidak mempercayai apa yang dia katakan sekalipun dia sudah mengatakan bahwa dirinya sudah baik-baik saja saat itu.
__ADS_1
"Tuan kau tunggu disini sejenak aku akan membelikan minuman untukmu, Teguh jaga tuan Jenson dengan baik ya, ibu akan segera kembali." Ucapku menitipkan tuan Jenson pada Teguh.