Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Berusaha Jadi Istri Yang Baik


__ADS_3

Hingga acara pernikahanku selesai dan aku tiba di kediaman tuan Jenson, sejak hari itu aku telah mengikat janji sehidup semati dengan sosok pria yang dulu sangat aku benci, yang kehadirannya selalu aku jauhi dan tidak pernah aku harapkan sekalipun, tetapi takdir memang tidak ada yang tahu, terkadang apa yang kita inginkan dan apa yang menurut kita baik bisa jadi itu bukanlah jalan yang sudah tuhan tentukan, dan kini aku merasakannya secara langsung.


Rasa syukur aku tingkatkan dalam diriku, tatkala melihat sosok suamiku saat ini yang begitu luar biasa, dia adalah panutan ku, selain dari perekenomiannya yang begitu luar biasa dia juga memperlakukan aku lebih baik dibandingkan dengan apa yang aku bayangkan, bahkan ketika kami sudah menjadi pasangan suami istri yang sah saat ini, tuan Jenson tidak memaksaku untuk menjadi istri seutuhnya bagi dia, sebab dia tahu rasa trauma dalam diriku teramat besar dibandingkan rasa bahagia yang baru aku rasakan saat ini.


Kami masih tetap tidur di kamar terpisah dan Teguh juga tidak pernah mempermasalahkan apapun, dia semakin ceria dan nampak lebih mudah bergaul dibandingkan sebelumnya, hingga aku sadar, bahwa ternyata mental dan kepribadian seorang anak itu juga terpengaruh dari latar belakang keluarganya sendiri.


Pagi ini aku pergi mengantarkan Teguh ke sekolah sedangkan tuan Jenson pergi ke kantor, meski aku belum mau melakukan hubungan suami istri sebagaimana mestinya tetapi aku akan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi tuan Jenson, dengan menyediakan sarapan untuknya dan menyalimi dia bak suami istri pada umumnya.


Saat aku berniat untuk mencium tangannya tuan Jenson justru malah menatap dengan heran dengan kedua alis yang dia naikkan sangat tinggi kala itu.


"Ehh....mau apa kau, apa kau mau minta uang dariku, ini kau pakai saja kartunya, kau bisa membeli apapun yang kau inginkan." Ucap tuan Jenson yang justru malah mengira hal yang tidak masuk akal sama sekali.


"Tuan aku ingin menyalami tanganmu, bukan meminta uangmu." Balasku kepadanya dan dengan cepat aku meraih tangannya lalu mencium tangan dia layaknya seorang istri pada seorang suami saat itu.


Tuan Jenson malah terbelalak sangat lebar, ekspresi yang dia perlihatkan kepadaku justru membuat aku merasa malu karena dia sama sekali tidak menanggapi apapun lagi selain wajah kaget dan kebingungan yang dia tampakkan saat itu.


"Tuan sudahlah berhenti menatapku begitu, aku hanya bersikap sebagaimana mestinya seorang istri yang baik kepada suamiku, jadi jangan memandangku begitu kau membuat aku merasa tidak karuan." Balasku lagi dan segera saja menyuruhnya untuk cepat pergi dari sana sebelum aku akan benar-benar merasa salah tingkah.

__ADS_1


"Kau....apa kau sungguh yakin ingin menjadi istri sungguhan untukku seperti ini?" Tanya tuan Jenson kepadaku dengan wajahnya yang menyelidik.


"Sudahlah tuan sebaiknya kau pergi saja ini sudah siang nanti kau akan terlambat ke kantor, aku juga akan segera mengantar Teguh ke sekolahnya dan aku akan pergi sendiri tidak butuh supir atau siapapun karena aku tidak akan melarikan diri dari suamiku sendiri. Aku pergi." Ucapku kepadanya dan segera saja pergi lebih dulu karena melihat tuan Jenson yang tetap diam dan berdiri mematung di depan pintu saat itu.


Teguh juga ikut menarik tangan tuan Jenson dan dia menciumnya mengikuti perbuatan yang aku lakukan sebelumnya dia bahkan melambaikan tangan kepada tuan Jenson sambil memanggilnya dengan sebutan ayah, membuat tuan Jenson semakin tidak menentu dan dia terlihat seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan.


"Bye..bye..ayah hati-hati di jalan, aku sekolah dulu, dah ayah." Teriak Teguh terus melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar kepada tuan Jenson hingga aku terus menarik tangannya dan membawa dia pergi ke luar dari rumah tersebut hingga masuk ke dalam taxi yang sudah aku pesan sebelumnya.


Sedangkan tuan Jenson sendiri terus saja berdiri mematung dengan tangannya yang masih dia angkat dan terus saja dia menatap telapak tangannya itu sambil tersenyum kecil, membayangkan apa yang dia rasakan sebelumnya.


Hal tersebut membuat Roy yang baru saja turun dari mobilnya dan berniat untuk menjemput tuan Jenson merasa heran hingga mengerutkan kedua alisnya sangat kuat, dia terus saja memanggil tuan Jenson sambil menepuk pundaknya cukup kuat karena tuan Jenson terlihat agak aneh baginya.


"Tuan....tuan Jenson apa anda baik-baik saja?" Ucap Roy menyadarkan tuan Jenson.


"Aahh, aku baik-baik saja, ayo kita pergi." Balas tuan Jenson sambil tersenyum kecil kepada Roy untuk pertama kalinya.


Roy semakin di buat bingung hingga dia terus menggaruk belakang kepalanya beberapa saat karena mendapatkan sebuah senyuman kecil dari bosnya yang sejak dulu terkenal dengan kekejaman dan wajah dinginnya itu.

__ADS_1


Tetapi kini untuk pertama kalinya, Roy merasa tuan Jenson benar-benar sangat berbeda dibandingkan tuan Jenson yang dulu dia kenal.


Mulai dari raut wajahnya yang terus saja terlihat lebih ceria juga bibirnya yang terus tersenyum selama di perjalanan, dia juga beberapa kali mencuri-curi pandang pada tuan Jenson selama mengemudikan mobilnya, karena masih merasa tidak percaya melihat tuan Jenson yang terus saja tersenyum lebar dan terus menatap telapak tangannya sendiri sangat lama.


"Ekm...tuan apa anda yakin anda baik-baik saja? Jika anda merasa ada yang salah pada tubuh anda, kita bisa pergi dulu ke dokter untuk memeriksanya, lagi pula hari ini jadwalnya tidak terlalu padat." Ucap Roy yang mulai mencemaskan kondisi dari tuan Jenson.


Namun dengan cepat tuan Jenson langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan dia terus saja menjelaskan kepada Roy bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ah? Tidak Roy aku baik-baik saja, ahaha...aku sangat bahagia sekali hari ini." Balas tuan Jenson kepadanya hingga membuat Roy hanya bisa mengangguk patuh walau sebenarnya dia masih tetap kebingungan dan merasa cemas dengan kondisi dari tuannya tersebut yang nampak jauh berbeda dengan keadaan dia sebelumnya.


"Ternyata orang yang baru menikah bisa jadi gila seperti ini ya? Aaahh apa sebaiknya aku harus menikah juga agar bisa merasakan hal yang sama?" Batin Roy memikirkan sendiri semua itu sambil terus mengemudikan mobil dengan cepat.


Dia tidak mau terus melihat kondisi tuan Jenson yang sangat aneh seperti itu terlalu lama, jadi dia melajukan mobilnya lebih kencang lagi daripada sebelumnya, agar bisa cepat sampai di kantor.


Rupanya bukan hanya tuan Jenson saja yang merasa berbunga-bunga dan sangat bahagia sepanjang hari, tetapi aku juga merasakan hal yang sama, namun mungkin aku tidak terlalu menyadarinya karena terus mengesampingkan dan menyangkal perasaan yang sebenarnya telah tumbuh di dalam hatiku selama ini.


Saat aku sudah mengantarkan Teguh ke sekolahnya, aku segera kembali ke rumah dan terus saja merasa senang sendiri saat mengingat kejadian tadi pagi.

__ADS_1


__ADS_2