Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Perihal Nama Panggilan


__ADS_3

Aku hanya bisa menganggukkan kepala kepadanya sambil terus saja mengiyakan apa yang dikatakan oleh Teguh saat itu, dia terlihat begitu senang sekali dan sangat antusias dalam menyambut liburan yang sudah dia impikan selama ini, aku juga ikut senang jika melihat putra kesayanganku terlihat bahagia seperti ini, aku pun segera menyuruh Teguh untuk pergi ke kamarnya dahulu karena aku mau bicara dengan tuan Jenson saat itu.


"Wahh. Hebat sekali, ya sudah kamu ke kamar dulu ya, siapkan barang apa saja yang mau kamu bawa kesana, ibu mau bicara dulu dengan ayahmu." Ujarku kepadanya saat itu.


Dia mengangguk dan segera pergi dari sana.


Sedangkan aku mulai berjalan menghampiri tua Jenson membantunya membawakan tas kerja yang ada di tangannya termasuk menyalimi tangannya saat itu dan menciumnya sekilas tuan Jenson juga mengecup keningku dengan lembut, aku sungguh merasa sangat senang karena akhirnya kami bisa saling merasakan kasih sayang satu sama lain dan aku tidak menduga jika ternyata diam-diam tuan Jenson sudah mempersiapkan semuanya dengan begitu matang hingga sudah mendapatkan tiket seperti itu.

__ADS_1


"Tuan kamu pasti lelah biar aku ambilkan minuman untukmu, ayo duduk dulu disini." Ucapku kepadanya sambil segera pergi ke dapur dan mengambilkan minum untuknya sekaligus dengan cemilan yang ada disana.


Tuan Jenson meminum dan dia mulai bicara lebih dulu kepadaku.


"Ros, kita ini kan sudah memutuskan untuk menjadi suami istri sesungguhnya, kita juga sudah semakin dekat, bisakah kau tidak memanggil aku dengan sebutan tuan lagi, rasanya jika kamu terus memanggilku begitu, aku seperti bosmu bukan suamimu." Ujarnya kepadaku begitu saja.


"Memangnya aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Tanyaku kepadanya karena merasa bingung dengan sebutan apa yang harus aku ucapkan untuk memanggilnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika kau memanggilku sayang saja, bukankah semua orang yang pacaran dan menjadi suami istri akan memanggil dengan sebutan sayang seperti itu?" Balas tuan Jenson memberikan usulan kepadaku.


Aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar karena sebutan yang tuan Jenson katakan terdengar agak aneh di dalam kepalaku saat ini, terlebih lagi aku belum pernah memanggil sayang kepada siapapun kecuali itu pada Teguh, karena dia memang kesayanganku, sedangkan kepada tuan Jenson meski aku juga menyayanginya, hanya saja kadar sayangnya itu tetaplah terasa sangat berbeda, aku rasa ini akan menjadi sangat canggung dan agak tidak nyaman untuk aku ucapkan menjadi sebuah nama panggilan untuknya. Aku pun mencoba untuk membicarakan semua itu kepadanya terlebih dahulu, dengan cara yang pelan dan baik agar dia tidak tersinggung apalagi marah dengan apa yang ingin aku sampaikan kepadanya saat ini.


"Eumm tuan, aku rasa panggilan itu terlalu aneh dan pamiliar gak sih? Aku juga tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan itu, jadi aku rasa aku lebih senang memanggilmu dengan sebutan yang umum dikatakan oleh orang-orang di sekitarmu saja." Balasku kepadanya dengan sangat hati-hati.


"Jadi kau tidak mau memanggilku dengan sebutan itu?" Tanya dia lagi kepadaku dengan sorot matanya yang terbuka sangat lebar dan terlihat tidak cukup senang mendengar jawaban dariku, apalagi saat aku menganggukkan kepala dengannya.

__ADS_1


Wajahnya langsung berubah menjadi lesu dan dia terus saja terlihat sangat murung sekali, aku jadi merasa tidak enak hati dengannya dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada dia lagi bahwa aku tidak bermaksud seperti itu untuk menolak dia dengan gamblang seperti yang dia pikirkan.


"Tuan, kau tidak marahkan denganku? Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu, apalagi untuk menolak apa yang kamu inginkan hanya saja mungkin sebutan lain akan lebih enak di katakan." Tambahku lagi bicara dengannya saat itu, aku sungguh berharap dia bisa mengerti dengan apa yang aku maksudkan.


__ADS_2