
"Sayang, ayo lihat sebentar kemari, kamu harus menjadi anak yang baik dan menurut dengan ibu." Ucapku lagi sambil memegangi kedua tangannya semakin erat.
Sampai akhirnya Teguh mau menoleh ke arahku, meski masih memasang wajah yang kecut dan murung juga terlihat masih sangat kesal tetapi aku menghargai keputusan Teguh yang masih mau menatap ke arahku dan menghadap lurus di hadapanku.
Aku juga segera tersenyum lebar dengannya dan mulai bicara untuk menenangkan dia sekaligus membujuknya. "Teguh, ibu mengerti Teguh ingin tidur dengan ibu, tetapi berdebat dengan ayah sendiri itu tidak baik sayang, seorang anak yang baik tidak boleh melakukan hal tersebut, bagaimana pun tuan Jenson adalah ayahmu, usianya jauh diatas mu, jadi kamu harus tetap menghormatinya, sekarang Teguh masuk ke kamar, kita tidur bersama saja, bagaimana?" Ucapku berusaha mengambil jalan tengah yang adil.
Teguh langsung tersenyum lebar dan kedua matanya sangat cerah, dia langsung mengangguk dan berlari masuk ke dalam kamar hotel di sebelah, yang merupakan tempat aku dan tuan Jenson tidur sebelumnya, aku bisa merasa tenang karena Teguh bisa mengerti maksudku dari nasehat yang aku berikan kepadanya dan dia sudah tidak merajuk lagi, namun kali ini malah tuan Jenson yang harus aku hadapi dan tentu saja untuk membujuk tuan Jenson jauh lebih sulit dibandingkan membujuk Teguh yang lebih menurut denganku. Saat aku melihat Teguh masuk ke dalam kamar tersebut, wajah tuan Jenson terlihat semakin kesal dan dia terus saja berteriak berusaha untuk menghentikan Teguh tapi sayangnya Teguh berlari lebih dulu dan sudah masuk ke sana dengan riang.
"Eh...eh ..eh, bocah jangan kesana.... Aishh kenapa kau malah menyuruhnya untuk tidur dengan kita?" Tanya tuan Jenson terlihat begitu emosi denganku.
"Tapi tuan jika tidak begini maka permasalahannya tidak akan selesai, tidak papa Teguh tidur bersama kita, hanya untuk malam ini saja kok, kamu harus mengalah dengannya, dia kan putramu." Ujarku lagi sambil segera masuk ke dalam menyusul Teguh karena aku tidak mau ribut lagi dengan tuan Jenson, sehingga menghindarinya adalah jalan terbaik untukku, tidak hanya itu aku juga membawa koper ku termasuk milik Teguh masuk juga, meninggalkan tuan Jenson sendiri di luar, yang masih bisa aku dengar hentakkan kakinya serta gerutu nya yang kesal karena aku mengijinkan Teguh untuk tidur bersama kami.
Hingga waktunya tidur tiba, dimana kamu sudah mengambil posisi masing-masing, Teguh berbaring di tengah dan aku di sebelah kanan sedangkan tuan Jenson di sebelah kirinya, dia tidur dengan cepat, mungkin karena lelah di perjalanan yang begitu panjang dan lama, tetapi tuan Jenson masih saja memasang wajah kecut dan muram, apalagi disaat kaki Teguh berulah mengenai perutnya saat dia baru saja hendak tidur, membuat tuan Jenson hampir berteriak dan merutuki Teguh saat itu, tapi untungnya dengan cepat aku menutup mulutnya dan memberikan isyarat kepadanya agar tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras.
__ADS_1
"Sttt....jangan membangunkannya, aku akan memindahkan kaki Teguh." Ucapku kepada tuan Jenson berbisik pelan dan dia hanya membelalakkan matanya ke arahku, segera aku angkat kaki Teguh dengan perlahan dan memindahkannya ke tempat semula, menyelimuti dia lagi dan mulai mengecup keningnya dengan penuh kasih kasih sayang.
Segera aku berniat untuk tidur tapi tuan Jenson terus berdehem keras sambil menunjuk keningnya saat itu, membuat aku sangat heran dan tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan sebenarnya.
"Ekm .....e..ekm..." Suara tuan Jenson yang dia ulangi berkali-kali.
"Tuan ada apa kau terus seperti itu, apa keningmu gatal?" Tanyaku kepadanya dengan wajah kebingungan tidak tentu.
"Aishh....kenapa kau sangat tidak peka sih, kau mengecup Teguh saat dia tidur kenapa tidak melakukannya juga kepada suamimu?" Balas tuan Jenson membeberkannya.
"Aahhh sudahlah tuan aku sangat mengantuk kau juga terlalu jauh, ada Teguh di tengah-tengah kita jadi sebaiknya kau jangan meminta yang aneh-aneh." Balasku kepadanya sambil segera merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga ke dadaku.
Saat aku memejamkan mata tiba-tiba saja sebuah kecupan terasa mendarat di keningku, yang membuat aku kembali membuka mata dengan cepat, dan yang aku lihat adalah tuan Jenson yang sudah berdiri di tepi ranjangku dia tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun dan masih mau meminta aku mengecup keningnya juga.
__ADS_1
"Astaga...tuan kapan kau berpindah ke sini?" Tanyaku sangat kaget dibuatnya.
"Aku masih mau kau melakukannya, kau kan bilang terlalu jauh sekarang kita sudah dekat." Balas tuan Jenson lagi.
Dia benar-benar tidak bisa dibantah sama sekali, dan semakin kekanak-kanakan, tetapi aku menyukainya, segera aku menyuruhnya agar mendekat ke arahku dan aku mengecup keningnya sama dengan yang aku lakukan kepada Teguh, sampai akhirnya tuan Jenson tersebut dan dia kembali ke tempatnya lagi, tidak bicara apapun lagi dan langsung tidur terlelap dengan cepat, aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan dan merasa tidak habis pikir dengan tingkahnya tersebut, tetapi aku juga tidak terlalu memikirkannya yang terpenting saat ini, aku senang karena tuhan telah memberikan keluar kecil yang sangat perduli dan menyayangiku seperti tuan Jenson dan Teguh.
Bagiku kehadiran mereka berdua sudah cukup untuk mengobati rasa sakit ku di masa lalu.
Disisi lain Desi yang mendapatkan laporan bahwa Nayla telah melarikan diri dari villa tempat persembunyiannya dia langsung marah besar dan mulai menyuruh semua anak buah terbaiknya untuk mencari keberadaan Nayla ke seluruh penjuru kota.
"Sialan, cari dia sampai ketemu, dan tangkap dia entah hidup ataupun mati!" Ucap Desi dengan memegangi sebuah gelas berisi wine di tangannya dengan erat.
Semua anak buahnya seger bergerak dengan cepat, mereka berpencar ke seluruh tempat yang kemungkinan akan di datangi oleh Nayla saat dia kabur, bahkan Desi sendiri ikut turun tangan untuk mencarinya.
__ADS_1
Dia tidak bisa tinggal diam saja, sebab dia tahu betul bahwa Nayla pasti akan berusaha mencari Ros dan membebaskan suaminya dari proses hukum dan penjara, hal itu membuat dia sangat tidak tenang hingga harus turun tangan sendiri untuk ikut mencarinya. "Lihat saja kau Nayla, jika sampai aku menemukanmu, akan aku pastikan kau mendapatkan hukuman yang setimpal karena berani mengkhianati aku!" Ucap Desi dengan penuh emosi dan dendam yang begitu besar di dalam hati serta pikirannya terhadap Nayla.