Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Menjelaskan


__ADS_3

Ku tarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, aku pun segera bicara dengannya dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya aku maksudkan sedari tadi.


"Begini mas, maksudku itu, kamu kan ayahnya dan kamu jauh lebih dewasa dibanding dengan Teguh, jadi aku harap kamu bisa mengalah darinya setidaknya kamu jangan terlalu keras dengan dia, bagaimana pun Teguh masih anak-anak dan dia begitu rentan dia sangat sensitif, kamu mengerti dengan maksudku kan?" Ucapku berusaha untuk memberikan pengertian kepada tuan Jenson saat itu agar tuan Jenson bisa memahami perasaan putranya sendiri, karena aku tahu bahwa Teguh perlu di didik dengan cara yang lembut baru dia mau memahami dan mengerti jika dengan didikan yang kasar maka semuanya akan sia-sia dan percuma saja nantinya.


Meski aku tahu mungkin tuan Jenson tidak senang dengan hal seperti itu dan buktinya saja saat ini dia terlihat begitu kesal dan nampak emosi sendiri, padahal saat ini aku tengah memberikan nasehat kepadanya dan mencoba untuk bicara dengan baik-baik kepadanya tetapi dia malah terus saja menjadi sangat menyebalkan seperti ini.


"Hei, mas sebenarnya kau ini mendengarkan aku atau tidak sih?" Bentak aku cukup kuat saat itu karena sudah benar-benar naik pitam dibuatnya, aku merasa kesal sebab dia terus saja menatap ke arah lain dan seperti tidak mau mendengarkan aku sama sekali kala itu, padahal aku tengah bicara serius dengannya dan ingin memberikan penjelasan yang baik kepada dirinya dengan cara yang lemah lembut.

__ADS_1


Tapi jawaban dari tuan Jenson benar-benar sangat tidak enak untuk di dengar sedikit pun.


"Kau ini bagaimana sih, kalau kau memang mau membela putramu yang manja itu yang sudah jangan sok perduli denganku!" Balas tuan Jenson yang membuat aku mengerutkan kedua alis dengan penuh keheranan, aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran yang dimiliki oleh tuan Jenson hingga bisa-bisanya dia menjadi seperti ini, dan sangat sulit diatur olehku.


"Tuan kenapa kau malah membentak aku begini, apa salahku sebenarnya?" Tanyaku kepada dia saat itu dengan penuh rasa tidak terima kepada-nya.


Ku tarik nafas dengan panjang lalu membuangnya perlahan aku terus saja menenangkan diri dengan sekuat yang aku bisa dan terus berusaha untuk menjadi lebih tenang agar tidak mudah terpancing emosi olehnya.

__ADS_1


"Fyuhhh...begini tuan maksudku tidak begitu aku hanya ingin menjelaskan kepada saja kalau aku memang tidak membela salah satu diantara kalian hanya saja disini Teguh bukan hanya anakku tetapi dia anakmu juga yang mana seharusnya sebagai seorang ayah kamu juga memperdulikan dia dan harus turut senang maupun sedih ketika Teguh merasa sedih juga, kamu mengerti dengan maksudku bukan?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan apakah dia sudah mengerti dengan maksud yang aku ungkapkan atau tidak sama sekali karena tuan Jenson memang sangatlah sulit untuk diberitahukan dia orang yang paling keras kepala dan sulit diatur jadi perlu ekstra sabar untuk menghadapinya.


Saat ini saja disaat aku sudah berusaha menjelaskan semuanya dengan lembut hingga menarik nafas begitu dalam dan membuangnya pelan dia tetap saja cemberut menatap ke arah lain dan terus memalingkan wajah begitu saja. Padahal aku selalu ingin dia menatap serius ke arahku disaat aku sedang menjelaskan sesuatu kepadanya.


"Tuan ayo bicara kenapa kamu malah diam saja, apa kamu masih tidak mengerti dengan maksudku?" Tanyaku lagi kepadanya untuk mendesak dia lebih mendekat saat ini.


"Iya aku mengerti kok dengan maksudmu tapi masalahnya itu kau terlalu dekat dengan Teguh dan bocah itu selalu saja menghalangi disaat aku ingin mencoba lebih dekat atau bermesraan denganmu seperti yang dilakukan oleh kedua sahabatmu di depan kita tadi." Balas tuan Jenson lagi dengan wajahnya yang masih saja cemberut tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2