
Karena sudah terdesak dan sangat tidak memungkinkan bagi sekretaris Roy untuk membuka pintu apartemennya sendiri, dia pun terpaksa harus mengesampingkan ego dan rasa gengsi dalam dirinya, dia kembali berusaha untuk menahan Moris dan memohon bantuan dengan cara yang baik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Moris sebelumnya.
"Aish... tunggu-tunggu jangan pergi dulu, aaahh kau ini oke aku minta maaf denganmu, aku membutuhkan bantuan darimu, jadi sekarang aku mohon dengan hati yang tulus kepadamu, agar kamu membantu aku membukakan pintu apartemen milikku, bagaimana apa kau sudah mau sekarang?" Ucap sekretaris Roy kepadanya dengan wajah yang penuh dengan harapan, dia terus saja menatap dengan tatapan yang menyedihkan sehingga membuat Moris merasa kasihan dengannya dan dia pun akhirnya mau membantu sekretaris Roy, walaupun dengan gerutuan kesal, dan dia terus merampas kartu akses itu dari tangan sekretaris Roy sangat kasar.
"CK..ya sudah sini, kemarikan kartunya aku akan membuka pintunya untukmu, aahh harusnya kau sangat berterima kasih denganku, jika bukan karena adanya manusia baik seperti aku, kau tidak akan bisa masuk ke dalam apartemen mu sendiri, ini sudah terbuka sekarang, ayo sana masuk dan ini kartumu aku kembalikan." Balas Moris sambil menaruh kartu akses itu pada tangan sekretaris Roy lagi.
Sekretaris Roy juga masih saja tidak tahu diri, dia sama sekali tidak mengucapkan terimakasih sedikit pun kepada Moris yang sudah berbaik hati mau membantunya, yang ada sekretaris Roy malah langsung menerima kartu itu dan berjalan melewati Moris dengan santai hingga dia langsung masuk ke dalam apartemen miliknya tanpa bicara apapun lagi, hal itu tentu membuat Moris tidak habis pikir dengan tingkah sekretaris Roy, membuat Moris tercengang dan mulai merutuki nya lebih parah lagi.
"HAH? Apa-apaan manusia sialan ini, yang benar saja? Apa dia tidak salah bersikap denganku? Mana mungkin ada orang yang bertingkah laku sepertinya, tadi saja masih bisa memohon bantuan dengan wajah menyedihkan, giliran aku sudah membantunya dia sama sekali tidak mengucapkan terimakasih sedikit pun, apa dia gila? Wah..wah..aku benar-benar dibuat darah tinggi dengan kelakuannya, sialan!" Gerutu Moris sambil terus saja merasa emosi dan dia berkacak pinggang di depan pintu apartemen sekretaris Roy saat itu, pergi dengan emosi yang masih menggebu dan langkah kaki yang begitu kasar.
Padahal tanpa Moris ketahui, sebenarnya saat itu sekretaris Roy masih berada di balik pintu dan dia mendengar semua gerutuan yang dikatakan oleh gadis keribo tersebut, bukan tanpa alasan apalagi sengaja sekretaris Roy melakukan hal itu, tetapi dia tidak bisa menahan dirinya saat di depan Moris, bagaimana pun dia memang merasa beruntung karena bertemu dengan Moris di waktu yang tepat dan gadis itu sudah mau membantunya, tetapi berkat kebaikan dari Moris hal itu malah membuat sekretaris Roy merasa tidak tentu dengan perasaannya sehingga dia tidak mau berlama-lama berada di dekat Moris, sebab dia merasa sangat aneh dan tidak tenang dengan hatinya sendiri.
Sampai Moris sudah pergi jauh dari sana pun sekretaris Roy masih saja memegangi dadanya sendiri dan bicara kebingungan dengan apa yang baru saja dia rasakan kala itu.
Disisi lain Desi yang mendapatkan kabar bahwa kedua anak buahnya telah meninggal dunia dan yang dua lagi dalam kondisi kritis serta tangan dan kaki mereka yang mengalami patah tulang serta cedera ringan, dia mulai mengamuk dan mengerutkan keningnya semakin kuat, bukan karena merasa kesal sebab kedua anak buahnya meninggal dunia, dan luka-luka, tetapi dia kesal karena merasa ke empat anak buahnya itu sama sekali tidak becus untuk melenyapkan satu orang wanita lemah saja.
"Sialan, bisa-bisanya mereka kalah hanya dengan seorang pria dan gadis lemah seperti Ros, apa aku harus turun tangan sendiri untuk melenyapkan bocah benalu itu?" Ucap Desi sambil terus menatap cermin dan kedua tangan yang terkepal sangat kuat.
__ADS_1
Disana juga ada Mike yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Desi lewat telpon di ruang ganti tersebut, dengan cepat Mike melabrak Desi, dia masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu sama sekali dan malah langsung berteriak kepada Desi dengan lantang.
"APA KAU BILANG? Kau mau melenyapkan Ros? Siala yang mengijinkan kau untuk melakukan hal kriminal seperti itu? Ros kau boleh sangat membenci adikmu dan saling menyimpan dendam satu sama lain tapi ingat jangan sampai melibatkan tindakan kriminal seperti itu dengannya, bagaimana pun dia adik kandungku dan kau adalah seorang selebritis nomor satu saat ini, jangan sampai tindakan tidak sabaranmu itu akan membuat kau jatuh ke jurang ke hancuran!" Bentak Mike memberitahu Desi dan berusaha untuk menyadarkannya.
Meski di dalam lubuk hatinya yang terdalam Mike juga tidak memperdulikan Desi, sekalipun dia di penjara karena tindakan kriminal itu, tetapi yang dia perdulikan disini adalah kondisi perusahaan nya yang saat ini begitu sulit dalam masalah keuangan, dan Mike tidak bisa membiarkan Desi bertindak seenaknya lagi, apalagi sampai mengancam nyawa orang lain yang bisa menghancurkan nama baik perusahaan dia jika sampai rencana buruknya itu diketahui oleh publik atau ada orang yang melaporkan dia nantinya.
Sayangnya Desi yang mendapatkan bentakkan seperti itu dari Mike dia justru malah menjadi salah paham dan malah mengira jika Mike menahan dia dan melarangnya melakukan hal itu karena Mike masih mencintai adiknya tersebut.
"Ahahah..omong kosong Mike, katakan saja jika kau masih mencintai benalu itu kan, itulah kenapa kau melarang aku untuk bertindak kepadanya?" Balas Desi sambil terus menyelidik orang yang dia cintai tersebut.
"Kenapa kau diam saja, apa yang aku duga benar bukan, kau pasti masih mencintai gadis lemah itu, iya kan?" Bentak Desi meninggikan suaranya dan kembali bertanya lagi untuk mendapatkan kepastian dari Mike.
Mike terus berjalan mendekatinya dan dia terus menggelengkan kepala dengan pelan, berusaha untuk mengatakan kepada Desi bahwa dia sama sekali tidak berpikir ke arah sana dan dia memang masih menyukai Ros, karena hanya Ros seorang yang berhasil mengambil hatinya, tetapi itu dulu karena sekarang seiring berjalannya waktu Mike mulai membuka hatinya bagi Desi hanya saja Desi yang begitu gelap mata dia sama sekali tidak mempercayai hal itu jadi dia tetap marah besar kepada Mike.
"Tidak aku melakukan hal ini bukan karena aku mencintai adikmu itu, tetapi semua ini demi kebaikan dirimu, juga demi karirmu di masa depan, coba kau bayangkan sendiri seandainya tindakan kotor mu itu diketahui oleh para fans atau haters mu di luar sana, maka semuanya akan mati untukmu, kau akan dianggap orang paling jahat dan berakhir di dalam jeruji besi, aku tidak mau hal menyeramkan seperti itu dialami oleh pacarku sendiri jadi aku melarang mu karena aku tahu apa yang terbaik untukmu dan menjaga kau agar tetap aman." Balas Mike menjelaskannya lagi.
Dia juga segera meraih tangan Desi dan terus saja menangkupkan nya bersama dengan kedua tangan dia saat itu, Mike berusaha untuk meyakinkan kekasihnya tersebut agar mempercayai yang dia katakan. "Desi apa menurutmu aku akan melakukan hal se intim antara aku dan kau kepada orang yang tidak aku sukai? Aku bukan pria seperti itu, jika kau masih ragu padaku, aku bisa berjanji untuk menikahi dirimu." Ujar Mike sampai beraninya membuat janji dengan seorang wanita licik seperti Desi ini.
__ADS_1
Mendengar itu akhirnya Desi dapat luluh juga dia mulai menurunkan emosi dalam dirinya dan sebuah senyum kecil tergambar di pipinya yang perlahan menjadi semakin lebar, memperlihatkan dia yang begitu senang mendengar janji dari kekasih tercintanya itu.
"Kau sudah berjanji denganku ya, awas saja jika kau berani mengingkarinya apalagi membohongi diriku, akan aku cari kau sampai ke ujung dunia sekalipun. Ingat itu dengan baik!" Balas Desi memperingati Mike dengan tatapan sinis.
Mike menganggukkan kepala dengan cepat dan dia mulai memeluk Desi sangat erat, sembari mengusap punggungnya pelan dan terus berusaha menenangkan Desi.
"Aku janji denganmu sayang, asal kau bisa menuruti ucapanku, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meneror adikmu tersebut, kau juga tidak bisa gegabah yang pada akhirnya malah membuat anak buahmu sendiri menjadi korban seperti saat ini, kamu mengerti maksud dariku bukan?" Balas Mike lagi kepada Desi.
"Iya, sekarang aku sudah mengerti sayang, terimakasih sudah mau mengingatkan aku." Balas Desi yang langsung bersikap lembut dan berubah drastis di hadapan Mike.
Mike mempercayai Desi, yang padahal di belakangnya Desi belum tentu akan terus bersikap selembut itu, dan Mike sama sekali tidak tahu bagaimana dia saat dibelakang dirinya dan se licik apa sosok Desi ini.
"Dasar pria bodoh, untuk apa juga aku mengikuti ucapanmu, memangnya kau pikir kau siapa, tidak ada yang bisa menghentikan aku sedikit pun aku akan tetap melengkapi Tos tanpa jejak, lihat saja nanti." Batin Desi yang masih saja bersikukuh dengan keinginan dia yang sebelumnya.
Entah apa yang telah merasuki diri Desi, dia sangat membenci Ros hanya karena merasa Ros lebih beruntung dibandingkan dirinya, setiap kali melihat Ros mendapatkan pujian dari banyak orang sebab parasnya yang cantik, maka saat itu juga Desi merasa iri dan rasa benci dalam dirinya kepada Ros akan semakin bertambah sedikit demi sedikit.
Hingga seiring berjalannya waktu, Desi sebagai kakak pertama yang harus menggantikan sosok ibu sekaligus ayah dalam keluarganya sendiri, membuat gadis itu tidak sempat untuk menata rambutnya, pergi ke salon apalagi perawatan wajah, jadi wajar saja jika misalkan kulitnya berbeda jauh diantara dia dan adiknya.
__ADS_1