Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Segera Pergi


__ADS_3

"Semangat sayang, ayo tersenyum lebih lebar lagi, mau sangat keren saat tersebut seperti itu!" teriakku kepadanya sambil terus saja tersenyum lebar.


Sebab aku tahu dia pasti akan merasa sendiri dan kesepian jika aku tidak terus berteriak memanggil namanya dan terus memberikan dukungan keras kepada dia sama seperti yang dilakukan para ibu lainnya yang hadir dalam acara kelulusan tersebut.


"Teguh....sayang kau sangat hebat...kau anak yang luar biasa, kau kebanggaan ibu dan sekolahmu!" Teriakku kepadanya lagi sambil terus saja memberikan senyuman yang lebar hingga Teguh menganggukkan kepala dan dia memberikan sebuah senyum yang sama lebarnya dengan apa yang aku lakukan kepadanya saat itu.


Hingga acara selesai, aku dan Teguh tidak langsung pulang, karena Teguh menginginkan makan di restoran dan dia tidak mau makan di rumah saat itu, sehingga aku masih harus menuruti keinginan dia sebab satu janji yang sudah aku katakan pada diriku sendiri untuk mengabulkan semua keinginan Teguh dan membuat dia terus merasa bahagia.


"Bu....ayo kita makan di restoran dahulu, aku ingin sekali makan di dalam restoran mewah sama seperti yang dilakukan teman-temanku lainnya." Ucap Teguh kepadaku saat itu.


"Baik, pak kita berhenti di depan ya." Ucapku menyetujuinya dan segera menyuruh super taxi untuk berhenti di restoran yang cukup besar di depan sana.


Hingga setengah sampai di dalam restoran aku segera memesan dan saat melihat bandrol harga di dalam buku menu aku benar-benar sangat kaget dibuatnya, semua harganya sangat mahal sekali, tapi aku tidak bisa menunjukkan semua itu di depan Teguh, sehingga aku memilih untuk membiarkan Teguh yang memesannya saja lebih dulu, semua makanan disana benar-benar memiliki harga di luar nalar sekali dan sejujurnya aku menyesal karena sudah membawa Teguh ke tempat seperti itu yang membuat diriku sendiri menjadi terjebak tidak bisa kemana-mana lagi.


"Astaga ..kenapa harga sebuah es teh saja harus semahal ini, apa mereka mau merampok aku?" Gerutuku dalam hati saat itu.


"Kenapa Bu? Apa sudah ada yang mau ibu pesan, aku sudah tidak sabar." Ucap Teguh kepadaku saat itu.

__ADS_1


"Ohh...tidak, ibu tidak lapar kamu saja yang pesan ya," ucapku berbohong kepada Teguh saat itu.


Namun untungnya Teguh tidak mencurigai aku karena dia juga tahu sebelumnya aku memang sudah makan dengan dia sebelum pergi ke acara kelulusannya.


Teguh pun segera memesan sendiri dan dia sangat memahami kondisi ekonomi ibunya sehingga aku sangat lega ketika mendengar Teguh hanya memesan sebuah makanan besar yang harganya paling murah di tempat tersebut juga sebuah air mineral saja.


"Teguh....kenapa kamu hanya memesan itu, kamu boleh memesan apapun yang kamu mau, kali ini kamu tidak perlu melihat harganya, anggap ini hadiah dari ibu untuk hari kelahiranmu besok." Balasku kepadanya.


"Tidak papa bu, aku memang hanya ingin pesan itu saja." Balas dia kepadaku.


Aku bahkan selalu merasa bahwa Teguh ini lebih cocok menjadi teman curhatku saja dibandingkan dengan menjadi putraku sendiri, sebab pemikirnya itu sungguh sudah seperti orang dewasa saja.


Tapi itu cukup baik untuknya karena dengan begitu aku dan Teguh bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain tanpa perlu bertanya dan melakukan apapun lagi untuk saling kompak satu sama lain.


Aku hanya bisa terus melihat Teguh yang menikmati makanannya sendiri dengan begitu lahap, dia sangat lucu dan melihat dia makan saja sudah bisa membuat aku kenyang saat itu, aku benar-benar merasa sangat senang ketika melihat Teguh bisa sesenang itu.


Hingga tidak lama kemudian, aku tidak sengaja melihat sosok pria yang sebelumnya terlihat selalu berada di samping tuan Jenson, dan orang itu terlihat duduk di salah satu kursi yang hanya terhalang beberapa baris saja dari tempatku duduk dengan Teguh.

__ADS_1


"Ya ampun bukannya pria itu adalah pria yang bersama dengan tuan Jenson kemarin siang?" Gerutuku memikirkan.


Karena aku masih belum merasa yakin, aku pun terus saja menatapnya dengan lebih lekat lagi hingga tidak lama memang dugaanku benar tuan Jenson juga muncul dari pintu masuk restoran itu dan dia berjalan mendekati pria yang lebih dulu aku lihat sebelumnya.


Mereka duduk bersampingan di kursi itu dan terlihat seperti tengah menunggu seseorang, aku langsung saja memberitahu Teguh untuk lebih cepat menghabiskan makanannya karena aku harus segera kabur dari tempat ini secepatnya, sebelumnya tuan Jenson ataupun anak buahnya itu mengetahui keberadaan aku di sini.


"Teguh, ayo habiskan makananmu lebih cepat, kita harus segera pulang sekarang." Ucapku kepadanya saat itu.


Aku sengaja tidak memberitahu Teguh soal kebersihan tuan Jenson disana karena aku tidak ingin Teguh kembali bertemu atau menatap wajah ayah yang pernah tidak mengakui dirinya. Bahkan mungkin sampai sekarang tuan Jenson itu tidak akan menganggap Jenson meski dia memiliki wajah yang di wariskan kepada Teguh hampir seluruhnya.


Sedangkan Teguh sendiri malah mengerutkan keningnya padaku, dan dia mulai bertanya kepada dia harus mempercepat makannya.


"Kenapa kita harus cepat-cepat pergi bu?, Aku suka disini." Balas Teguh malah balik bertanya kepadaku.


"Sayang ini sudah sangat larut ibu juga agak mengantuk kita kan mau pergi ke taman bermain besok, tentu kamu harus istirahat yang cukup juga agar besok bisa bermain dengan lebih leluasa dan lebih puas lagi." Balas ku memberikan alasan kepadanya dengan sebisaku.


Untungnya Teguh percaya dan mengangguk dengan cepat kepadaku, dia juga segera melanjutkan makannya dengan lebih cepat lalu aku segera memanggil pelayan disana dan membayar tagihannya, barulah setelah itu aku segara menuntun Teguh dan membawanya pergi dari restoran dengan secepatnya, sambil terus saja aku berjalan menunduk agar tuan Jenson dan orang di sampingnya itu tidak menyadari keberadaan aku yang baru saja lewat di samping meja yang mereka tempati saat itu.

__ADS_1


__ADS_2