
Di depan kami semua Nayla terus meminta maaf dan saling berpelukan dengan Rasya, aku ikut terharu dan menitipkan air mata saat melihat pasangan suami istri dan keduanya adalah sahabat baikku, mereka menjadi akur kembali dan nampak saling mengasihi, itu membuat aku merasa sangat tenang sekarang.
"Maafkan aku sayang, aku akan mempercayai apapun tentangmu mulai saat ini, sungguh tolong maafkan aku karena sempat marah dan ragu denganmu." Ucap Nayla kepada Rasya, yang langsung di elus kepalanya lembut oleh Rasya.
"Sudah, aku mengerti kamu begitu karena tidak tahu dan takut aku berbuat salah dan jahat, kamu tidak perlu meminta maaf, aku sangat menyayangimu Nayla." Ujar Rasya sangat lembut dan terus menyeka air mata yang mengalir membasahi pipi Nayla.
Disaat aku tengah terharu melihat keromantisan Nayla dan Rasya juga cinta sejati mereka yang begitu kuat, tiba-tiba saja tuan Jenson malah merangkul pundakku dan terus menyeret aku hingga sangat dekat dengannya bahkan dengan sengaja dia menarik kepalaku hingga menyandarkannya di bahu dia sendiri dan terus mengusap kepalaku sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Rasya kepada Nayla sebelumnya, aku merasa heran dan terus saja menatap tajam dengan mengerutkan kedua alisku kepadanga, aku juga langsung melepaskan tangan tuan Jenson yang terus merangkul pundakku saat itu.
"Aishh..tuan lepaskan, kau ini apa-apaan sih, benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan ya?" Bentakku keras kepadanya yang membuat Rasya dan Nayla langsung menahan tawa melihat ke arahku saat itu.
Sementara tuan Jenson masih saja bersikap santai dan terus berusaha untuk merangkul aku lagi secara diam-diam, membuat aku merasa sangat kesal dengan kelakuannya itu, karena dia benar-benar tidak tahu tempat, dimana-mana selalu saja mengambil kesempatan untuk dekat denganku, entah merangkul aku, memegangi tanganku atau bahkan memainkan rambutku yang aku kucir satu ke belakang, persis dengan apa yang dia lakukan saat ini.
"Tuan ayolah kenapa kau terus memegangi rambutku dan merangkul aku begitu, aku tidak nyaman tahu!" Tegas ku lagi menegurnya.
"Ahaha...Ros Ros, kamu yang sabar laki-laki memang seperti itu, itu tandanya tuan Jenson sangat menyukai kamu, mungkin kamu belum memberikan dia jatah ya?" Ucap Rasya yang malah mendukung tuan Jenson saat itu.
"Nah benar apa yang dikatakan oleh sahabat baikmu itu, kamu memang sangat jarang memberikan aku jatah akhir-akhir ini, selalu saja menolak saat aku menginginkannya, kamu lebih sibuk dengan Teguh, saat ada kesulitan baru saja datang padaku, kau ini bagaimana sih, aku kan masih suamimu aku juga butuh asupan energi tahu." Ucap tuan Jenson semakin bermanja-manja kepadaku dengan memeluk sebelah tanganku cukup erat saat itu.
Aku langsung menatapnya dengan tajam dan langsung memberikan peringatan keras kepada Rasya agar tidak membela tuan Jenson lagi, karena aku sudah cukup baik mengenalnya, tuan Jenson akan semakin besar kepala jika dia terus di kompori seperti itu oleh Rasya apalagi di dukung oleh Nayla, aku benar-benar sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya kali ini.
"Rasya sudah hentikan, kau hanya akan membuat tuan Jenson semakin mendapat dukungan darimu, dia akan semakin menyusahkan aku nantinya." Ucapku kepada Rasya saat itu, dan mereka berdua malah terus saja tertawa keras sambil berpamitan untuk istirahat ke kamarnya, karena pembahasan kali ini sudah selesai.
Sedangkan disisi lain tuan Jenson masih saja memintanya padaku, dia bahkan tiba-tiba saja bersikap baik dan menawarkan jasa untuk memijat tanganku padahal aku sama sekali tidak pagal ataupun terkilir, namun dia tetap saja mendekati aku meski aku sudah berusaha untuk menjauh darinya. "Sayang kamu pasti lelah kan, sini biar aku bantu memijat tanganmu." Ucap tuan Jenson membuat aku semakin terperangah aneh dibuatnya. Mataku tidak bisa berhenti terbelalak kepadanya.
__ADS_1
"Eh...eh...eh...eh, hentikan! Tuan kau ini kenapa sih, berhenti memijatku aku tidak pegal sama sekali, yang ada tanganku yang tadinya baik-baik saja menjadi sakit dan ngilu karena pijitan asal yang kau lakukan!" Tegasku lagi dengan nada bicara yang sangat tinggi dan sorot mata yang tajam membulat.
Aku terus menarik tanganku dan menggeser tempat dudukku untuk menjauh darinya tetapi tuan Jenson malah terus ikut bergeser dan mendekati aku lagi dan lagi sambil terus memohon memanggil namaku juga dengan sebutan sayang yang sangat geli untuk aku dengar kala itu. "Ros...ayolah, Ros sayang ..kesayanganku...istriku... Aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin malam ini juga, sekali saja, aku janji ya?" Ucap tua Jenson memasang wajah menyedihkan di hadapan aku dan begitu dekat dengan wajahku sendiri saat itu, aku benar-benar tidak habis pikir dengan tingkahnya yang menjadi kekanak-kanakan seperti sekarang ini.
Padahal sebelumnya dia sangatlah kejam, dingin dan tidak banyak bicara sama sekali, bahkan sekali menatapku saja tatapannya bak hendak menusuk jantungku dan kerap kalo membuat aku takut dan gugup, tapi sekarang setelah kami sudah menjadi suami istri sungguhan, aku tidak mengerti kenapa dia bisa bisanya berubah drastis seperti ini dan malah menjadi sangat bucin padaku, padahykan sama saja tidak ada yang berubah dari aku ataupun dirinya.
"Tuan apa kau sehat? Ada apa sih denganmu, mau benar-benar sangat banyak berubah kau tidak seperti tuan Jenson yang aku kenal sebelumnya." Ucapku kepada dia sembari menahan dadanya yang terus mendekati aku dan mendesak aku tanpa henti.
"Aku memang sudah bukan Jenson yang kesepian dan menyedihkan lagi sekarang, tapi aku sudah menjadi Jenson yang bahagia dan penuh cinta berkat adanya kamu dan anak kita Teguh, aku mau anak lagi darimu sayang." Ucap tuan Jenson kepadaku membuat aku sangat ngeri mendengarnya.
Langsung saja aku bergegas berkali menjauh darinya dan menaiki tangga dengan secepat yang aku bisa agar bisa menghindari dirinya. Tapi tuan Jenson malah terus saja mengejar aku dan pada akhirnya aku tetap melakukan apa yang dia inginkan karena bagaimana pun dia tetaplah suamiku, aku juga tidak bisa menolaknya terus menerus, terlebih dia sudah membantu aku untuk membebaskan Teguh, aku anggap itu sebagai hadiah untuknya karena sudah memperlakukan aku dengan baik dan mau membantu sahabatku sendiri dengan segala upaya yang dia lakukan selama ini.
"Ehh..Ross..tunggu aku, sayang..kau tida akan bisa lari lagi dariku!" Teriak tuan Jenson terus saja mengejarku hingga kami sampai di kamar saat itu.
Sedangkan disisi lain Desi sendiri justru malah terus merasa kesal dan dia melampiaskan semua emosi dalam dirinya dengan anak buahnya yang saat itu juga gagal untuk mencaritahu identitas Ros dengan benar termasuk dengan alamat tempat tinggalnya Tos yang selalu di inginkan oleh Desi, dia terus saja melemparkan berbagai macam barang yang ada di sekitarnya dan yang bisa dia jangkau kala itu, dia terus saja emosi dan benar-benar mengamuk sangat keras sekali, bahkan dia membanting ponsel yang dia pegang sendiri kala itu hingga ponselnya remuk dan pecahannya berhamburan kemana-mana saat itu, dan para anak buahnya pun begidik takut sembari terus menunduk dan menjaga jarak agar tidak terkena lemparan barang sembarangan oleh Desi yang tengah kalap sekali saat itu.
"Aarrkkk... Dasar manusia tidak becus! Kalian semua berhenti jadi anak buahku mulai saat ini, dan ini bayaran terakhir untuk kalian semua!" Bentak Desi sembari melemparkan sejumlah uang dengan jumlah yang begitu banyak kepada kedua dari anak buahnya tersebut.
Mereka tidak terima karena diperlukan seperti itu oleh Desi terlebih ini bukan pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini kepada mereka semua namun selama ini mereka semua terus saja berusaha sabar dalam menghadapi sifat Desi yang sangat menyebalkan dan selalu semena-mena kepada anak buah dan para karyawannya, jadi kali ini karena mereka sudah di pecat dan diberhentikan tanpa alasan yang jelas dan sebelum kontak habis, mereka pun berani untuk melawan Desi dan mengembalikan ucapan jahat yang selalu dia lontarkan kepada mereka semua selama ini.
"CK..dasar kau wanita kejam tidak tahu diri, jika bukan karena kita semua yang terus bergerak membantumu, kau tidak akan bisa sampai seperti ini, hei kalian hajar dia!" Ucap sang ketua preman tersebut kepada anak buahnya. Langsung saja para anah buahnya itu memberikan satu p*kulan terhadap Desi yang mengenai bagian perut dan pipinya, bahkan hingga dia jatuh tersungkur di lantai dengan keras.
"Bruk...aaahh..awww..hentikan..aaa." Teriak Desi menahan sakit di sekujur tubuhnya saat itu dan dia pun segera saja jatuh pingsan seketika.
__ADS_1
Para preman tadi kaget melihat Desi sudah tidak sadarkan diri sehingga mereka semua pun kabur untuk melarikan diri tanpa meninggalkan jejak apapun karena mereka semua juga takut jika nantinya mereka akan di tangkap atau diperlakukan apapun yang membuat hidup mereka tidak tenang, jadi mereka pun segera saja pergi dengan cepat dan berlari dengan merusak cctv yang ada disana agar jejaknya tidak tertinggal sedikit pun. "Gawat bos orangnya pingsan, kita harus gimana sekarang?" Tanya salah satu anak buahnya tersebut yang nampak cemas dan ketakutan karena mereka malah menghantam Desi terlalu kuat sebab dikuasai oleh emosi sebelumnya.
Sehingga semua preman disana mulai panik ketakutan dan segera saja sang pemimpin preman tersebut meminta para anak buahnya untuk menghancurkan salah satu kamera cctv yang ada disana lalu segera kabur melarikan diri dengan cepat.
"Ayo hancurkan cctv yang ada di ruangan ini, dan kita kabur secepatnya, ingat jangan tinggalkan jejak sedikit pun buat semuanya seakan ini hanya kecelakaan biasa saja yang dia buat sendiri, sehingga kita bisa aman." Ucap sang pemimpin tersebut yang langsung dianggukkan oleh semua anak buahnya, mereka semua langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan sang pemimpinnya dan terus saja kabur tanpa memperdulikan Desi yang masih pingsan dengan kondisi tubuhnya yang babak belur.
Dia sangat mengkhawatirkan dan tidak ada siapapun yang mengetahui hal itu, sebab Mike tengah tidak berada di rumahnya malam ini dan dia hanya tinggal sendiri di tempat tersebut, terlebih semua pelayannya sudah pergi dari sana sebab Desi hanya mempekerjakan semua pelayannya setengah hari, itu pun hanya untuk membersihkan semua area rumahnya saja dan dia tidak pernah makan di rumah tersebut sejak dia pertama kali menempatinya hingga saat ini.
Disisi lain Mike yang tengah disibukkan dengan meeting penting yang dia lakukan bersama penulis Jack juga beberapa orang lainnya yang bekerjasama atas penayangan film yang hendak mereka lakukan saat ini, saat di tengah pembicaraan meeting penting tiba-tiba saja Mike merasa cemas dengan Desi, dia teringat dengan Desi yang hanya dia tinggal sendiri saja di rumahnya malam itu.
"Kenapa aku tiba-tiba mengingat Desi yaz ada apa dengannya, apa dia baik-baik saja aku tinggalkan di rumah seorang diri." Gerutu Mike pelan dan terus saja menjadi tidak fokus dengan pembicaraan yang tengah mereka bahas saat itu, sampai kondisi tersebut di ketahui oleh penulis Jack yang langsung menegurnya dengan cepat, karena itu merupakan tindakan tidak profesional untuk seorang manager aktris dan pemilik perusahaan yang akan menayangkan film besar ini.
"Maaf tuan Mike apa anda setuju dengan konsep yang akan kita lakukan di syuting pertama nanti?" Tanya sang penulis kepadanya meminta persetujuan.
Tapi sayangnya Mike sama sekali tidak mendengarkannya dan dia terus saja melamun memikirkan Desi dan sangat mencemaskan dia tanpa alasan yang jelas, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak terpikirkan pada Deso dia bisa fokus seperti biasanya dan terus berbicara sangat serius membahas mengenai konsep dan segala macam persiapan syuting pertama film drama romantis tersebut, tapi sayangnya kali ini seakan dia tidak bisa mengabaikan perasaan dan pemikirannya yang terus saja terpaut kepada Desi tanpa henti, hatinya merasa cemas dan takut akan kondisi Desi, sehingga dia menjadi tidak fokus meskipun orang-orang disana sudah mencoba memanggil dia berkali-kali.
"Tuan Mike apa anda mendengarkan semua penjelasan kami?" Tanya sang produser film yang langsung menepuk salah satu pundak Mike cukup kuat, hingga berhasil menyadarkan dia yang terus melamun sepanjang pembahasan tadi.
"AA..ahhh..iya tuan, bagaimana? Apa yang mau anda katakan kepada saya?" Tanya Mike dengan wajah kebingungan dan sama sekali tidak tahu apapun dengan apa yang tengah mereka bahasa sebelumnya.
Hal itu membuat sang produser film dan penulis Jack kesal mereka langsung menundukkan kepala sembari menggelengkan kepala mereka pelan, karena mereka merasa kecewa atas sikap ketidak profesionalnya Mike di tengah rapat penting seperti ini yang seharunya dia perhatikan dengan baik dan harus dibahas hingga selesai saat itu juga, sebab jadwal syuting sudah sangat mendesak dan tidak ada kesempatan lain lagi untuk mereka bisa berkumpul bersama orang-orang yang berkontribusi besar dalam pembuatan film layar lebar drama kolosal romantis seperti ini.
Mike juga merasa sangat bersalah juga tidak enak hati terhadap semua kliennya juga kepada sang penulis dan sutradara film serta produser yang ada disana.
__ADS_1
"Maafkan saya semuanya tadi saya hanya mencemaskan seseorang, maafkan saya, saya akan mendengarkannya dengan baik kali ini, mohon untuk di ulang pembahasan yang kita bicarakan sebelumnya, atau dengan titik singkatnya saja, saya akan mencoba memahaminya secepat mungkin." Ujar Mike meminta maaf sambil berdiri dan mau membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di depan semua orang yang hadir dalam rapat penting tersebut.