
Untungnya kedua bodyguard itu mau menuruti permintaan dariku mereka benar-benar membawa aku ke salah satu tempat yang tenang dan memiliki pemandangan cukup indah, ini memang taman kota yang sunyi dan ada air mancur yang dapat aku lihat dari kaca mobil sekalipun air mancur itu berada cukup jauh dari pinggir jalan namun dalam kondisi hati yang tengah kacau balau seperti ini, bisa melihat air yang terlihat begitu segar dan terus mengaliri pancuran disana, itu saja sudah membuat aku merasa sangat senang.
Lagi pula saat ini aku hanya ingin mencari ketenangan hati dan mendinginkan pikiranku, aku terus menatap air mancur dan beberapa orang yang berjalan-jalan ditaman, ada yang membawa anak mereka dan mengingatkan aku akan Teguh ada juga anak muda yang berjualan bunga dengan sepeda, aku merasa dia memiliki nasip yang sama denganku sebelumnya, banyak juga anak muda yang berpacaran di sekitar taman itu semuanya nampak begitu romantis dan terlihat sangat bahagia, aku merasa hanya diriku sendiri yang tengah sedih dan pilu sampai aku tidak berani untuk pergi keluar dari mobil.
"Nona apa anda mau tetap di dalam mobil? Atau kami perlu mengantar anda ke taman dan beberapa saat berjalan-jalan?" Tanya salah satu bodyguard yang mencemaskan aku.
"Tidak perlu, lagi pula aku keluar dari sini hanya akan memberikan dampak negatif yang aku bawa kepada semua orang yang begitu bahagia disana." Balasku mengatakan apa yang aku pikirkan dan kedua bodyguard tersebut langsung menganggukkan kepala menyetujuinya, kembali aku diam lagi dengan tatapan mata kosong dan pikiran yang tidak bisa berhenti berpikir sedikit pun.
Sampai tidak lama tiba-tiba saja bibirku bicara sendiri tanpa aku sadari dan sebenarnya saat itu aku tidak bermaksud bicara kepada dua bodyguard di dalam mobil yang menemani aku saat itu, tapi semuanya keluar begitu saja dari mulutku, membuat aku sulit untuk menahannya sendiri. "Apa kalian punya saudara?" Tanyaku secara tiba-tiba bertanya kepada dia orang itu tanpa melirik ke wajah mereka sama sekali.
Keduanya langsung saling tatap dan kebingungan lalu balik bertanya untuk memastikan.
"Ehh, apa tadi nona bertanya kepada kita?" Tanya salah satunya yang segera dianggukkan olehku sampai akhirnya mereka menjawab pertanyaan dariku.
__ADS_1
"Aku anak terakhir, dan kedua kakakku sudah meninggal dunia saat kami masih kecil jadi bisa di bilang aku sekarang tidak punya kakak, bahkan tidak ingat bagaimana wajah mereka berdua." Balas salah satu bodyguard tersebut.
"Kalau aku punya sih, satu kakak tapi dia sudah menikah dan sekarang malah menjadi asing denganku, tidak tahu juga dia tinggal dimana setelah mendapatkan warisan dari kedua orangtua kami." Balas yang satunya lagi menanggapi.
Aku tersesat ketir mendengar apa yang mereka bicarakan, awalnya aku pikir hanya aku yang memiliki masalah dengan saudara kandungku sendiri dan bisa menjadi penasaran besar hingga jadi musuh seperti saat ini, tapi setelah mendengar jawaban dari dia bodyguard itu, aku pun mulai mengerti bahwa seorang kakak beradik sekalipun akan tetap meninggalkan kita dan kita tidak tahu harus seperti apa dalam menanggapinya.
"Hmmm..kenapa ya, saudaraku sejahat itu padaku, kenapa dia bisa membeci aku, apa aku sangat menyebalkan, ataukah aku pernah berbuat salah dengannya, kenapa aku tidak tahu apapun." Ujarku yang keceplosan begitu saja dengan air mata yang mulai kembali berkaca-kaca lagi.
Kedua bodyguard itu menatap kebingungan dengan apa yang harus mereka jawab kepadaku, karena mereka juga merasa tidak tega dan tidak bisa diam saja saat melihat istri majikannya terus menangis seperti itu, sampai salah satu diantara mereka memberanikan turun tangan, dia awalnya memberikan tisyu kepadaku lalu memberikan sebuah nasihat yang sangat bermanfaat dan bisa mengubah pola pikir dalam kepalaku.
"Nona Ros, silahkan ambil tisyu nya," ujar salah satu bodyguard itu sebelum mengatakan pendapatnya kepadaku.
Segera ku ambil tisyu di tangannya dan ku ucapkan terimakasih kepada dia yang sudah menjaga aku dan memperdulikan aku dengan baik.
__ADS_1
"Ahh, terimakasih." Balasku kepadanya dan segera aku menghapus air mataku dengan perlahan. Hingga tiba waktunya bodyguard itu bicara kepadaku.
"Nona Ros, jika saya boleh memberikan saran dan sedikit masukan, apa nona Ros tidak masalah?" Tanya bodyguard tersebut meminta izin terlebih dahulu denganku.
Jelas aku mengijinkannya karena memang saat ini aku tengah butuh nasihat dan pandangan dari orang lain, lagi pula aku sendiri tahu segala sesuatu tidak dapat aku putuskan sendiri aku butuh orang lain dan sangat butuh mengetahui bagaimana sudut pandang mereka dan apa pendapat mereka tentang hidupku ini, agar aku tahu harus bagaimana lagi aku menghadapinya. "Oh tentu saja ayo katakan." Balasku mempersilahkan dengan segera, bodyguard itu tersebut sesaat lalu dia mulai berbalik menatap ke arahku.
"Begini nona Ros, terkadang sebaik apapun kita, pasti akan ada orang yang tidak menyukai kita, dan terkadang orang yang paling merasa tersaingi, iri hingga dapat membenci diri kita adalah orang yang paling dekat dengan kita, bisa jadi orangtua, saudara bahkan pasangan sendiri, jadi nona Ros seharunya tidak perlu merasa resah ataupun bingung, apalagi menyalahkan diri nona Ros sendiri seperti tadi, menurut saya nona Ros orang baik sejak dulu, dan nona Ros juga mungkin tidak melakukan kesalahan apapun hanya saja saudara nona Ros itu yang tidak ingin kalah dengan anda atau dia memang tidak senang saat melihat anda bahagia di atas panggung, dan itu adalah hal yang wajar dalam sebuah keluarga." Jelas bodynya tersebut menjelaskan semuanya dengan suara yang rendah dan dia sama sekali tidak menyudutkan siapapun dalam ucapan penjelasan yang dia berikan beberapa saat yang lalu.
Mendengar penjelasan darinya itu bisa langsung membuat aku tersadar dan segera aku bicara dengan mereka berdua. "Kau benar, mungkin bukan aku yang salah tetapi kak Desi yang memang membenciku tanpa alasan atau dia yang merasa tersaingi dengan diriku, terimakasih banyak sudah mengingatkan sekaligus berhasil menyadarkan aku sangat cepat, caramu bicara dan menjelaskan itu sangat cocok untukku dan begitu baik karena kamu bisa memandang dari segara arah dan aspek kemungkinan." Balasku berterima kasih dengannya dan merasa sangat senang karena ada orang yang mau mengingatkan aku dan menyadarkan aku seperti ini.
Setelah merasa jauh lebih baik dan aku sudah mendapatkan pencerahan dari bodyguard ku itu, dia pun mulai mengajakku untuk pulang karena dia tahu bahwa beberapa saat lagi adalah waktu biasanya tuan Jenson pulang bekerja, dan dia juga tahu jika aku harus sudah berada di rumah sebelumnya tuan Jenson sampai.
"Ekm...nona kita kan sudah bicara dan sepertinya nona Ros sudah lebih tenang sekarang, bagaimana jika kita pulang saja, nanti tuan Jenson bisa cemas jika nona belum kembali ke rumah saat dia tiba." Ucap salah satu bodyguard tersebut.
__ADS_1