
"Ibu aku angkat kepalamu, aku sangat menyayangimu kau tidak boleh sedih begini, apa yang membuat kau sedih, ayo cerita pada Teguh." Ucap bocah kecilku yang masih berusia enam tahun, tetapi sudah memiliki perhatian yang sangat ekstra terhadap ibunya sendiri.
Dia seakan bisa merasakan apa yang tengah aku rasakan saat ini, segera saja aku mengangkat kepalaku lagi dan mulai membalas pelukan darinya, menggendong Teguh dan mendudukkan dia di atas pangkuanku saat itu.
"Teguh sayang, ibu baik-baik saja, kamu jangan cemas, ibu ini hanya tengah bingung sedikit saja, lagi pula sekarang kamu sudah bisa bersekolah di sekolah terbaik dan mendapatkan bimbingan belajar yang sangat luar biasa dari tuan Jenson, apa lagi yang akan ibu khawatirkan disaat putra kesayangan ibu yang sangat jenius ini sudah memiliki masa depan yang tertata dan cerah." Balasku sengaja menyembunyikan perasaanku sendiri darinya.
Aku tidak ingin membuat Teguh harus ikut memikirkan masalahku ini, apalagi dia terlalu kecil untuk membicarakan masalah seperti ini, dia hanya perlu belajar dan bermain di usianya ini, tidak dengan mendengarkan permasalahan orang dewasa yang mungkin saja akan membebani pikirannya nanti dan mempengaruhi pertumbuhan otak dan pola pikirnya, sehingga aku terus saja menyuruh Teguh untuk pergi bermain secepatnya. "Ibu, tapi tadi aku lihat kau menghembuskan nafas dengan lesu dan terus menundukkan kepalamu seperti tadi, aku tahu kau sedih, apa yang membuatmu sedih ibu, apa ayah jahat lagi padamu?" Ucap Teguh kepadaku yang masih saja memintaku untuk bercerita kepadanya saat itu.
Melihat dia yang begitu perhatian terhadapku itu sungguh membuat aku sangat terharu dan aku mulai sadar, mungkin inilah yang sudah tuhan rencana untukku, meski awalnya aku menerima rasa sakit yang teramat dalam, tetapi kini aku bisa memiliki putra yang sangat tampan, cerdas dan sangat tulus dalam menyayangiku, selain itu tuhan juga sudah menunjukkan dengan sangat jelas kepadaku bahwa ternyata orang yang aku percayai dan aku anggap seperti saudara sendiri ternyata dapat berlaku sejahat ini padaku, bahkan ketika dia sudah mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai aku, tetapi masih bisa bersikap sekejam ini padaku, dan sekarang aku justru merasa sangat takut dengan Desi, aku takut jika dia ternyata benar-benar telah berubah dan tidak menganggap aku lagi sebagai adiknya.
"Bu..ibu kenapa diam saja, ibu apa yang kamu pikirkan?" Tanya Teguh menyadarkan aku dalam lamunan panjang saat itu.
"Ahh..tidak ada sayang, ibu hanya baru ingat jika sebentar lagi ayahmu akan tiba, ibu harus masak dulu untuk kita makan malam jadi kamu bermain dulu ya dengan pelayan disana, jangan nakal dan jangan mencemaskan ibu lagi, ibu baik-baik saja tadi hanya memikirkan menu untuk ibu masak malam ini, sudah sana main dulu." Ucapku beralasan kepadanya dan segera menyuruh Teguh untuk pergi bermain.
__ADS_1
Akhirnya Teguh bisa mengangguk dan menuruti aku juga, dia pergi bersama salah satu pelayan yang selalu mengasuhnya dan aku juga segera bergegas ke dapur untuk memasak, menyiapkan semua makanan untuk tuan Jenson seperti yang biasa aku lakukan sejak beberapa hari yang lalu.
Meski sebenarnya aku memasak untuk Teguh karena dia yang awalnya meminta agar aku memasakan makanan untuknya sama dengan yang biasa aku lakukan ketika aku dan dia tinggal hanya berdua saja, makanya aku mulai memasak dan kami tidak lagi menyuruh pelayan untuk membuat makanan, tuan Jenson juga mulai makan di rumah, meski biasanya dia selalu makan di luar dan hanya sarapan saja yang sering di siapkan oleh pelayannya tersebut, tapi kali ini karena Teguh yang selalu memintanya pulang tepat waktu agar bisa makan malam bersama, ternyata hal itu membuat tuan Jenson menjadi kebiasaan dan sejak saat itu dia selalu pulang tepat waktu, makan malam dan selalu sarapan bersama di meja makan dengan hangat.
Bahkan saat makan siang pun aku akan mengantarkan makannya sendiri ke kantor ataupun menitipkan makanan itu kepada supir yang sering mengantarkan makanannya.
Lagi-lagi itu bukan kemauanku, mana mungkin aku akan memiliki inisiatif untuk melakukan hal itu, lagi pula sejak awal aku sudah tahu hubungan aku dengan tuan Jenson tidak seharmonis yang dilihat ketika ada Teguh di tengah-tengah kami, dan tentu saja semua yang aku lakukan untuk membuat Teguh mengira bahwa kami memang sudah baikan dan agar dia bisa merasa berada dalam keluarga harmonis seperti yang dia idam-idamkan selama ini, tugas untuk membuatkan maka siang dan mengantarkannya ke kantor itu juga ide dari Teguh, aku hanya menjalankannya sesuai dengan yang diharapkan oleh Teguh saja.
Setelah mendapatkan kabar bahwa ternyata aku mendapatkan pemeran pendamping, rasanya tetap saja sangat sakit meskipun aku berusaha untuk tegar, rasa penyesalan dalam diriku karena aku tidak menerima bantuan dari tuan Jenson tentu saja ada dalam hatiku saat ini, tapi di samping itu semua, aku masih harus menguatkan diriku sendiri bahwa aku mampu untuk melewati apapun rintangan dalam hidup ini, terus saja aku memasak sambil tidak bisa berhenti memikirkan masalah akting nanti.
"Bagaimana aku bisa beradu akting dengan kakakku sendiri nantinya, sementara aku tahu Desi masih sangat marah denganku, terakhir kali dia bahkan tidak mengenali aku dan tidak meganggapku, pasti nanti akan sangat canggung sekali, bagaimana ini." Batinku terus saja memikirkan masalah itu tanpa henti.
Hingga tiba-tiba saja tidak sengaja tanganku malah menyentuh ujung wajan panas yang saat itu hendak aku angkat, langsung saja aku berteriak cukup kencang dan menjauhkan diri dari sana secepatnya. "Aahhh...." Teriakku kaget dan memeriksa jari telunjukku.
__ADS_1
Tapi baru saja aku berniat untuk memeriksanya, entah datang darimana tua Jenson langsung menarik tanganku dengan cepat dan membawa aku ke wastafel, dia menaruh tanganku di bawah kucuran air dingin dan terus saja merawat jariku dengan sangat baik.
"Kenapa kau melamun seperti ini, sampai tanganku terbakar, apa kau sudah gila ya?" Ucap tuan Jenson dengan wajahnya yang terlihat cemas denganku.
Aku hanya bisa menatap kagum dengan sikap sigapnya ketika membantuku saat ini.
Dia bahkan terus meniup tanganku dan mulai memberikan salep saat itu, hingga dia kembali meniupnya dengan serius, membuat aku merasa sangat senang bisa mendapatkan perhatian seperti ini darinya.
"Tuan apa kau mencemaskan aku?" Tanyaku kepadanya dengan lekat.
"Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja aku mencemaskanmu, kau kan istriku, bagaimana sih." Balas tuan Jenson yang membuat aku semakin senang dibuatnya.
Aku pikir dia menjauhiku beberapa hari ini karena dia jarang sekali bicara ataupun mengobrol denganku dan lebih memiliki banyak waktu di kantornya, tetapi setelah mendengar semua ini darinya aku tiba-tiba merasa jauh lebih tenang.
__ADS_1