
Dia pun mengangguk dan duduk di samping tuan Jenson aku juga segera pergi untuk membeli minuman di sekitar sana agar tuan Jenson bisa menenangkan dirinya, tapi saat aku kembali tiba-tiba saja aku melihat sudah ada seorang wanita yang berpakaian rapih duduk di samping tuan Jenson saat itu, dan dia terlihat begitu dekat dengannya, sedangkan Teguh berdiri dengan wajah cemberut menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Ehh..siapa wanita yang bersama dengan tuan Jenson itu?" Gerutuku merasa heran saat pertama kali melihatnya.
Segera saja aku menghampirinya karena merasa sangat penasaran dengan wajah wanita tersebut, aku langsung menyapa mereka dan hendak memberikan air yang sudah aku belikan untuk tuan Jenson saat itu, namun sayangnya saat aku menyapa mereka, rupanya tuan Jenson sudah diberikan air oleh wanita yang ada di sampingnya jadi aku pun dengan cepat menyembunyikan air yang sudah aku beli ke belakang tubuhku.
"Tuan, siapa wanita ini?" Tanyaku kepadanya.
"Eh kau sudah kembali mana air untukku?" Tanya tuan Jenson padaku.
"Tidak ada, kau kan sudah minum barusan, dan di tanganmu sudah ada air dari wanita lain, untuk apa meminta air lagi dariku, Teguh ini untukmu sayang, kamu baik-baik saja kan?" Balasku kepadanya dan langsung saja memalingkan pembicaraan kepada Teguh.
Hingga tidak lama wanita itu bangkit dan segera berpamitan kepada tuan Jenson dengan cepat. "Tuan kalau begitu saya pergi dulu, terimakasih atas waktumu, semoga harimu menyenangkan." Ucap wanita itu sambil tersenyum lebar kepada tuan Jenson.
Kemudian dia pergi melewati aku dan Teguh begitu saja, jalannya sangat anggun dan dia memakai pakaian yang cukup cantik dibandingkan diriku, aku benar-benar tidak suka dengan wanita seperti itu.
Apalagi saat melihat ternyata wanita itu memiliki wajah cukup cantik juga, meskipun aku tahu aku bisa menjadi lebih cantik di bandingkan wanita tersebut, seandainya aku berdandan dan merawat diriku seperti dulu.
"Hei.. sampai kapan kau mau terus menatap Naura?" Ucap tuan Jenson kepadaku.
"Oh.. jadi namanya Naura, dia kekasihmu ya? Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau memiliki kekasih?" Balasku kepadanya dengan cepat.
__ADS_1
Tuan Jenson terlihat kebingungan mendengar ucapan dari Ros yang nampak salah paham dengan dirinya, dia hanya menaikkan kedua alisnya dengan merasa heran saat itu.
"Hei ada apa denganmu, apa kau salah makan sebelumnya? Sudahlah, ayo kita pergi membawa Teguh bermain ke tempat lain." Ucap tuan Jenson begitu saja.
Teguh langsung menolaknya karena dia terlihat begitu malas dan sudah tidak memiliki mood lagi untuk bermain hari ini, wajahnya juga terlihat sudah lelah.
"Aku tidak mau main lagi ayah, lagi pula bukankah besok ayah dan ibu akan menikah, kalian harus mempersiapkan semua itu, jadi aku mau pulang untuk beristirahat saja." Ucap Teguh mengatakannya.
Tuan Jenson langsung saja mengusap kepala Teguh dengan lembut dan dia langsung mengajak Teguh untuk berjalan keluar dari taman bermain tersebut dengan segera.
"Anak pintar, kau selalu tahu apa yang ayahmu pikirkan, kalau begitu ayah akan memanggil Roy untuk menjemputmu, kau bisa pulang dengannya, bagaimana?" Ucap tuan Jenson sambil terus berjalan beriringan dengan Teguh.
Yang membuat aku kesal adalah, Teguh menjadi lebih dekat dan sangat menurut kepada tuan Jenson, mereka terlihat bak seperti seorang ayah dan anak sungguhan yang begitu harmonis dan sangat dekat, padahal sebelumnya aku melihat dengan Jelas Teguh menatap kesal dan cemberut kepada tuan Jenson saat ada seorang wanita yang duduk di sampingnya beberapa menit yang lalu. Meski sebenarnya mereka itu memang ayah dan anak kandung, tapi tetap saja rasanya aku tidak terima jika melihat Teguh lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan denganku.
Tapi kini mereka sudah menjadi sangat dekat kembali, bahkan meninggalkan aku yang berjalan di belakang seorang diri.
"Apa semudah itu Teguh kembali akur dengan tuan Jenson, euhh...aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi." Gerutuku sangat kesal sambil terus saja menghentakkan kakiku dengan penuh kekesalan.
Sampai ketika kami tiba di luar taman bermain tiba-tiba saja sudah ada Roy disana, dan Teguh langsung dibawa masuk ke dalam mobil bersama dengan Roy, aku yang berjalan di belakang mereka tidak sempat menghentikan Teguh dan mereka sudah terlanjur pergi dari sana, terus saja aku berterima berusaha untuk menahan Teguh sekuat tenagaku.
"Ehh...mau kemana dia, Teguh... Tunggu Teguh kamu mau kemana sayang Teguh!" Teriakku memanggilnya namun sudah terlambat.
__ADS_1
Langsung saja tuan Jenson menarik tanganku dan membawa aku ke sisi mobilnya sambil dia membukakan pintu mobil untukku dan menyuruh aku untuk masuk saat itu.
Aku terus saja berontak dan tidak mau masuk ke dalam mobilnya karena belum mendengar penjelasan dari tuan Jenson sendiri tentang dia yang malah memberikan Teguh masuk ke dalam mobil orang lain begitu saja.
"Ayo cepat masuk, kenapa kau terus berdiri seperti ini dan terus saja menatapku begitu?" Tanya dia kepadaku dengan sorot matanya yang tajam.
"Tidak! Aku tidak mau masuk ke dalam, kau mau kemanakan Teguh, kenapa membiarkan dia masuk ke dalam mobil orang asing seperti itu?" Bentakku menatap dengan sangat serius kepadanya.
Bukanya segera menjawab ucapanku, tuan Jenson justru malah terus saja menatap dengan kedua alisnya yang terangkat kepadaku dan tersenyum kecil saat itu.
"Kenapa kau tersenyum begitu, aku tanya padamu, kemana tadi Teguh pergi?" Tanyaku lagi kepadanya saat itu.
Tiba-tiba saja tuan Jenson terus semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku, dia terus mendesak aku hingga aku mulai merasa semakin gugup dan tidak tahu harus berbuat apa, wajahnya terlalu dekat denganku saat itu, membuat degup jantungku terasa sulit untuk terkendali. Sampai akhirnya dia mulai bicara denganku.
"Hei, Teguh ikut dengan Roy, aku yang dengan sengaja menyuruh Roy untuk mengantarkan Teguh pulang, dia sudah sangat lelah tidak mungkin dia mau ikut denganku untuk pergi memilih gaun pernikahan kita." Ucap tuan Jenson membuat aku sangat kaget dengannya.
"Aa...apa? Jadi yang tadi itu mobilnya Roy?" Tanyaku untuk memastikan lagi dengannya.
Tua Jenson langsung mengangguk dengan cepat dan dia kembali menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
Karena sudah tahu begitu, aku pun segera masuk dengan cepat dan duduk di samping tuan Jenson yang mengemudikan mobilnya sendiri, meski aku sudah tahu jika ternyata Teguh diantar pulang oleh Roy, tetap saja aku tidak bisa bersikap baik dengan tuan Jenson karena aku masih merasa kesal dengan seorang wanita yang belum tuan Jenson jelaskan kepadaku saat itu.
__ADS_1