Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Menduga Pelakunya


__ADS_3

Setelah beberapa saat aku menidurkan Teguh barulah aku segera kembali ke lantai bawah dan menemui tuan Devon yang tengah bicara sangat serius dengan sekretaris Roy, aku juga sempat mendengarkan suara sekretaris Roy yang tengah menceritakan semua kejadian yang kami alami saat di perjalanan saat itu, tuan Jenson nampak sangat marah besar wajahnya mulai memerah dan tangannya sudah dia kepalkan dengan kuat.


Aku tahu dia sangat mencemaskan aku dan aku juga merasa beruntung sekali karena akhirnya aku selamat dari kejadian yang hampir saja akan menewaskan aku dan sekretaris Roy, tetapi marah dalam situasi seperti ini bukanlah hal yang tepat, segera aku menghampiri tuan Jenson dan memegangi tangannya, ku tatap wajahnya dengan lekat dan memberikan senyuman kecil kepadanya aku bicara dengan pelan dan lemah lembut agar tuan Jenson bisa meredam emosi dalam dirinya dahulu.


"Tuan kau tidak perlu marah dan memendam emosi seperti ini, aku baik-baik saja, kami sudah selamat itu yang terpenting saat ini, memendam emosi sama saja dengan dendam aku tidak ingin kamu tersiksa dengan dendam dalam dirimu sendiri yang kamu ciptakan." Ucapku berusaha untuk menenangkan tuan Jenson.


Kemudian aku menyuruhnya untuk duduk dan segera menarik nafas dan membuangnya perlahan, untungnya saat itu tuan Jenson mau menuruti ucapan dariku jadi tidak terlalu sulit untuk aku mengarahkannya, dia benar-benar mulai mengatur nafasnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya membaik, kemudian aku memberikan dia minum begitu pula dengan sekretaris Roy, aku tahu dia sangat lelah dan mungkin masih cukup syok setelah melewati masa paling menegangkan saat di perjalanan saat itu.


"Ini kamu minum dan tenangkan dirimu dulu jangan mudah terpancing emosi, kau juga minum dulu Roy, pasti kamu sangat lelah dan panik ketika melewati kejadian tadi, ayo minum tenangkan dirimu juga." Ucapku terus menyuruh mereka berdua untuk menenangkan diri masing-masing.


Aku tahu segala sesuatu harus dibicarakan dalam keadaan kepala dingin dan salah satu cara untuk membuat emosi mereka mereda, hanya dengan mengatur nafas masing-masing dan membiarkan mereka terdiam sejenak, hingga akhirnya aku mulai membuka pembicaraan lagi setelah aku rasa mereka sudah bisa tenang dan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.


"Oke sekarang kalian sudah jauh lebih tenang, biarkan aku bicara dahulu, karena aku merasa ada yang sangat menjanggal sekali dengan kedua pengemudi motor yang berboncengan itu, Roy kamu tahu kan sebelumnya salah satu dari mereka tidak sengaja berhasil kamu senggol dan jatuh di jalanan, beberapa saat sebelum mereka jatuh aku melihat tanda nama di salah satu pakaian orang yang diboncengi, ada logo M terbalik di pakainya tersebut, saat aku ingin membacanya dia sudah lebih dulu terjatuh dan kamu juga melakukan mobil sangat cepat sampai aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, entah kenapa aku curiga jika apa yang terjadi denganku hari ini, pasti ada hubungan dengan Mike, hanya perusahaan dia yang memiliki logo hurum M terbaik di setiap pakaian karyawan atau anak buahnya, logo itu juga bisa digunakan untuk menyadap perangkat bukan?" Tambahku mengatakan semuanya kepada tuan Jenson dan sekretaris Roy, mereka juga terus mendengarkan penjelasan dariku sangat serius.


Kedua alis mereka sudah di tekuk semakin keras dan tuan Jenson sudah bisa menduganya bahwa semua ini pasti ada sangkut pautnya dengan salah satu orang yang pernah dia temui dalam rapat antar perusahaan entertainment sebelumnya, dimana apa yang dikatakan olehku memang benar, semua karyawan dan orang-orang yang bekerja di bawah perusahaan milik Mike tersebut, semuanya akan diberikan logo huruf M terbalik yang harus di pasang pada pakaian dinas mereka.


Tuan Jenson semakin mengerutkan kedua aslinya kepadaku dan dia langsung ikut mencurigai apa yang aku pikirkan saat itu, begitu pula dengan Roy yang baru menyadari hal itu juga, dia langsung menatap ke arahku dengan kedua mata yang terbuka lebar.


"Ahh, iya kau benar sekali, aku juga sempat melihatnya sekilas, aku yakin ini pasti kerajaan Mike, dia kan pemilik perusahaan M. Entertainment, bisa saja dia merasa tersaingi dengan perusahaanmu tuan, kemarin kan dia..." Ucap sekretaris Roy yang tiba-tiba saja langsung di bekap oleh tuan Jenson saat itu.


Melihat hal tersebut aku merasa seperti ada yang disembunyikan oleh tuan Jenson dari diriku, tapi aku belum tahu hal apa sebenarnya itu, jadi aku hanya bisa menduga-duga untuk sementara waktu, aku langsung bertanya lagi dengannya apa yang sebenarnya tuan Jenson coba sembunyikan dariku.


"Aishh...dasar kau mulut lemes, aku kan sudah bilang jangan bicarakan tentang bisnis di depan istriku, kau mau mati ya Roy." Bisik tuan Jenson kepada sekretaris Roy saat itu.


Dengan cepat sekretaris Roy mengangguk dan dia takut dengan ancaman dari bosnya tersebut sehingga dengan cepat dia memalingkan pembicaraan kepada hal lain disaat aku mulai bertanya kepada mereka saat itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian, tuan kenapa kau membekap mulut Roy disaat dia sedang bicara, ayo katakan apa yang mau kau bilang barusan, ada urusan apa Mike dengan perusahaan tuan Jenson?" Tanyaku kepada mereka berdua dengan penuh kepenasaranan.


"A..ahhhh begini nona Ros, maksudku Mike itu kan tahu bahwa perusahaan dia tidak akan bisa berkembang lagi jika seandainya nona Ros kembali pada dunia hiburan secara mandiri, jadi bisa saja dia menyimpan dendam dan mencaritahu tentang keberadaan nona Ros, dan mengirimkan anak buahnya untuk mencelakai dirimu, hingga terjadilah hal seperti tadi, iya kan?" Balas sekretaris Roy segera mengatakan pemikirannya tersebut.


Karena apa yang di curigai oleh Roy terdengar masuk akal, aku pun mengesampingkan rasa curigaku kepada tuan Jenson untuk sementara, meski sebenarnya saat itu aku juga masih merasa ada yang mengganjal dari apa yang diucapkan oleh sekretaris Roy kepada ku saat ini. "Tunggu, apa kau bilang barusan? Jadi maksudmu bisa saja pria itu mengancam istriku?" Ucap tuan Jenson yang tiba-tiba saja sangat serius dan dia baru menyadari bahwa alasan yang dikatakan oleh Roy sangat masuk akal sekali.


Padahal sebelumnya dia berpikir bahwa semua itu di lakukan karena persaingan perusahaan dia dengan perusahaan M. Entertainment milik Mike yang sebelumnya mengalami pertarungan sangat ketat dan malah dimenangkan oleh dirinya, sehingga kini Mike mendapat banyak kerugian dalam bisnisnya tersebut.


Tuan Jenson dan sekretaris Roy terus saja saling tatap dengan sangat tajam dan raut wajah mereka yang saling memberikan kode satu sama lain, yang membuat aku semakin mencurigai mereka. "Hei, ada apa dengan kalian berdua, kenapa kalian saling tatap sedekat itu?" Tanyaku di tengah-tengah ketegangan tersebut.


Dengan cepat tuan Jenson dan Roy menjauh satu sama lain, hingga dengan cepat tuan Jenson memikirkan cara yang harus dia lakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan diriku selama dia tidak ada di sampingku, karena apa yang sudah terjadi sebelumnya sangatlah berbahaya dan hampir melenyapkan nyawaku dan sekretaris Roy.


"Aahh...siapapun yang ada di balik kejadian tadi, pokoknya mulai saat ini Roy kau harus menyuruh beberapa penjaga handal yang terlatih untuk melindungi istri dan putraku, dan kau, aku tidak mau kau pergi ke luar seorang diri lagi, kau harus pergi dengan supir dan para penjaga setidaknya dua penjaga harus ikut denganmu, jika kau tetap ingin keluar." Ucap tuan Jenson yang menjadi sangat ketat dan protektif denganku.


"Apa? Tuan yang benar saja, itu terlalu banyak, dua pengawal dan satu supir? Aku ini sudah dewasa aku sudah memiliki seorang putra, dan kalau aku pergi ke tempat syuting dengan mereka, itu pasti akan membuat semua orang curiga denganku." Ucap ku merasa keberatan dengan apa yang dikatakan oleh tuan Jenson.


Melihat cara tuan Jenson yang menjaga aku begitu baik dan dia yang sangat memikirkan aku, tentu saja aku tidak bisa menolaknya, lagi pula aku ini seorang aktris yang akan mulai syuting, mungkin membawa pengawal dan supir itu sudah tidak akan asing lagi bagi seorang selebritis sepertiku, dan itu juga bisa menjadi alasan yang tepat jika para wartawan menyorotiku dan membahas mengenai pengawal yang ikut bersamaku nantinya.


"Baiklah aku akan menuruti ucapanmu, tapi hanya dia pengawal dan satu supir saja ya, aku tidak mau kau nanti berubah pikiran lagi dan malah menambah orang." Balasku menyetujuinya.


"Iya hanya itu saja, terimakasih ya sayang, kamu sudah mau menurutiku." Balas tuan Jenson denganku sambil mengecup keningku saat itu.


Dia mungkin lupa bahwa di depan kami masih ada sekretaris Roy saat itu, dia bahkan masih harus mengobati luka di tangannya karena sempat terkena pecahan kaca dari mobil sebelumnya.


"Ekm...tuan kalian jangan lupakan disini masih ada manusia lain, apa kalian anggap aku ini patung yang tidak hidup?" Ucap sekretaris Roy yang membuat aku dan tuan Jenson langsung menjauh dan meminta maaf kepadanya dengan perasaan yang tidak enak.

__ADS_1


"Eheh..maafkan kami ya Roy, kalau begitu biar supir mengantarmu pulang, tanganmu kan luka, kamu tidak bisa menyetir lagi dengan tangan seperti itu." Ucapku sengaja mengalihkan pembicaraan.


Lagi pula pembahasannya sudah selesai, aku mempercayai tuan Jenson dan biarkan mereka menyelesaikan semua ini nanti, sebab saat ini aku mengerti bahwa sekretaris Roy juga butuh istirahat yang cukup, terlebih dia adalah orang yang paling banya berkontribusi dalam kejadian sebelumnya, dia orang yang sangat baik dan aku sudah berhutang kepadanya, tuan Jenson juga segera mengantarkan sekretaris Roy ke luar dan supir membawanya pergi dengan cepat.


Aku juga mendapatkan kabar dari Moris bahwa syuting film akan di mulai lusa, dan kami di minta untuk menjaga kesehatan masing-masing karena sang penulis dan produser tidak mau ada siapapun pemeran yang tidak hadir dengan alasan apapun di hari pertama.


"Aahh.. baiklah terimakasih sudah memberitahuku Moris." Ucapku terakhir kali dan mematikan panggilan telepon dengannya.


Tuan Jenson menggandeng aku dan dia kembali bertanya tentang kondisiku saat itu, tapi dengan cepat aku meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja, agar dia tidak perlu cemas lagi dengan kondisiku, karena aku memang sungguh baik-baik saja sekarang.


Sedangkan disisi lain Moris yang saat itu tengah mengangkat beberapa barang bawaan ke apartemen baru miliknya dia segera di bantu oleh Nayla yang tidak sengaja lewat di lorong tersebut. Mereka pun berkenalan satu sama lain dan menjadi cukup akrab, bahkan Moris juga mempersilahkan Nayla untuk masuk ke dalam apartemen baru yang akan dia tinggali tersebut. Menyajikan minuman kepada Nayla dan cemilan sebagai tanda terimakasih karena Nayla sudah membantu dia mengangkut barang bawaannya tersebut.


"Ayo silahkan di nikmati dulu, terimakasih ya sudah mau membantuku pindahan padahal kita baru saja bertemu." Ucap Moris kepadanya.


"Sama-sama, tapi maaf ya aku tidak bisa lama-lama, aku harus segera kembali ke apartemenku, temanku sudah mau pulang soalnya." Balas Nayla yang seger berpamitan setelah dia meminum minuman yang disajikan oleh Moris sebagai tanda menghormatinya.


Tepat beberapa saat ketika Moris menutup pintu rumah barunya sekretaris Roy baru saja tiba dan bertemu dengan Nayla, dia bertanya darimana Nayla sudah berjalan dari lorong tempat apartemen baru yang akan dia tempati tersebut.


"Eh, nona Nayla kenapa anda berjalan dari sana? Apa anda pergi untuk mencariku?" Tanya sekretaris Roy saat itu.


"Oh, tidak kok, aku hanya membantu tetangga kita mengangkat barangnya, dia baru saja pindah barusan." Balas Nayla kepada sekretaris Roy.


Sekretaris Roy hanya mengangguk saja sedangkan Nayla mulai menatap heran kepada tangan sekretaris Roy yang nampak di balut dengan perban, dia pun merasa cemas karena sebelumnya Nayla juga tahu bahwa sekretaris Roy pergi untuk menjemput Ros di bandara bersama dengan tuan Jenson dan putranya. "Eh, Roy, kenapa dengan tanganmu, apa kamu kecelakaan di jalan, bagaimana dengan Ros, apa dia baik-baik saja?" Tanya Nayla dengan wajah yang panik dan penuh kecemasan.


Sekretaris Roy, langsung mengajak Nayla untuk masuk ke dalam apartemen untuk menceritakan apa yang sudah dia lalui sebenarnya, Nayla juga menuruti dengan cepat dan sekretaris Roy menjelaskan semuanya kepada Nayla, membuat Nayla terus menutup mulutnya dengan wajah penuh kecemasan dan sangat takut. "Astaga...aku yakin ini semua pasti perbuatan dari Desi, lalu bagaimana dengan keadaan Ros sekarang, apa dia terluka, ayo katakan Roy, jangan membuat aku cemas begini!" Bentak Nayla yang sudah sangat tidak sabar mendengarkan kabar tentang sahabat baiknya tersebut.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu cemas nona Nayla, karena saya sudah berhasil menyelamatkan nona Ros dan sekarang dia sudah berada di kediaman tuan Jenson bersama dengan suami dan putranya, dia baik-baik saja, tidak ada yang terluka sedikitpun, akulah yang terluka karena menjaganya. Ini buktinya." Balas sekretaris Roy menjelaskan kepada Nayla.


Akhirnya Nayla pun bisa merasa lega dan jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan dan kabar tentang Ros dari sekretaris Roy, dia sama sekali tidak terlalu cemas jika hanya sekretaris Roy saja yang terluka karena yang dia pikirkan hanya Ros saja.


__ADS_2