
"Iya dia istriku, memangnya siapa kau, berani bicara seperti itu kepadaku, sayang siapa dia?" Ucap tuan Jenson yang semakin memperkeruh suasananya.
Aku semakin terhimpit dalam situasi yang sangat sulit ini dan tidak tahu dengan apa yang harus aku jawab kepadanya, di tambah wajah Moris yang semakin serius juga kedua alisnya yang ditekuk sangat tajam ke arahku, aku benar-benar sangat kaget dibuat.
"Ahh...hahah...sekarang dia memanggilmu sayang, astaga Ros, kau membohongi aku ya?" Ucap Moris yang pada akhirnya mengeluarkan pembicaraan lebih dulu dengan mengusap rambut keribonya dengan kasar.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan tidak bisa melakukan apapun sama sekali, karena saat ini semuanya sudah terbongkar jadi mencari alasan atau membuat kebohongan lain pun tidak akan ada gunanya, semua hanya akan sama saja, terlebih sekarang ada tuan Jenson dan dia akan menggagalkan semua rahasia yang berniat aku sembunyikan dari semua orang.
"Ros ada apa ini sebenarnya, kenapa kamu diam saja, kebohongan apa yang manusia keribo ini maksudkan?" Tanya tuan Jenson lagi dengan wajah yang kebingungan.
"Hmm...begini Moris, tuan, kalian jangan potong pembicaraan aku dulu, biar aku menjelaskan satu per satu." Ucapku mulai berniat meluruskan semuanya.
Mereka pun diam dan menatapku dengan tajam, Moris kembali menyuruhku untuk segera menjelaskannya karena dia terlihat sangat tidak sabar kala itu.
"Begini Moris, dia ini memang suamiku, namanya tuan Jenson, aku bukannya sengaja untuk menutupi kebenaran bahwa aku sudah menikah dan memiliki seorang putra dengan tuan Jenson ini, tapi untuk jadi selebritis dan mendapatkan peran identitas itu akan sulit bagiku, jadi aku menyembunyikannya darimu juga semua orang, aku harap kamu bisa mengerti maksudku, maafkan aku Moris." Balasku menjelaskan semuanya dengan jujur sekaligus meminta maaf dengannya.
__ADS_1
Meski wajah Moris terlihat cukup kesal, tetapi untungnya, dia masih bisa memaafkan aku dan tidak lagi memperpanjang masalah ini, namun dampaknya sekarang dia malah kaget ketika mendengar bahwa aku sudah memiliki seorang putra, dan dia malah terus penasaran dengan kehidupanku. "Huuhh, ya sudahlah aku bisa memahamimu, tapi awas saja jika kau mencoba menutupi hal lainnya lagi dariku, aku kan sudah menceritakan semua tentangku padamu, jadi kau juga harus jujur denganku, kau janji ya Rosa." Ujar Moris sambil terus mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku.
Aku mengangguk menyetujui apa yang dia katakan, agar dia merasa percaya dan senang, sampai dia bisa kembali tersenyum lagi dan aku bisa jauh lebih baik sekarang, sedangkan tuan Jenson sendiri terus kembali mengobati kakiku, dengan sangat lembut dan hati-hati, hingga aku tidak sadar bahwa kakiku sudah membaik.
"Terimakasih Moris." Balasku dengan senang kepadanya.
"Iya, tapi Ros kau bilang sudah punya putra, aku mau dong bertemu putramu itu lain kali, dia pasti sangat tampan seperti ayahnya, iya kan?" Balas Moris yang membuat tuan Jenson seketika bangkit berdiri dan dia langsung mengajak aku untuk pergi dari sana secepatnya.
"Kakimu sudah aku obati, ayo kita pergi dari sini." Ujarnya begitu saja membuat aku dan Moris kaget karena tidak sadar kapan tuan Jenson mengobati kakiku.
"Coba saja kamu berdiri dan rasakan perbedaannya, kamu itu tadi mengobrol dengan begitu serius jadi tentu saja tidak sadar saat aku mengobatinya dan mengurutnya pelan." Balas tuan Jenson yang langsung aku turuti karena ingin membuktikan ucapannya.
Aku syok karena apa yang dikatakan oleh tuan Jenson sungguh nyata, aku sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, kakiku sudah bisa aku gerakan dengan bebas, meski masih tersisa sedikit rasa ngilu dan lebamnya masih terlihat cukup besar, tetapi ini sungguh jauh lebih baik dibandingkan kondisi kakiku yang sebelumnya.
"Wahh...Moris benar kakiku sudah jauh lebih baik, lihatlah ini aku sudah bisa menggerakkannya dengan bebas, hebat bukan? Wahhh. Terimakasih banyak tuan kamu hebat sekali, bisa mengobati kakiku tanpa aku merasakan sakit sama sekali." Ucapku sambil memeluknya dengan erat tanpa aku sadari.
__ADS_1
Tuan Jenson hanya diam menahan senyum di wajahnya karena dia juga kaget ini pertama kalinya seorang Ros memeluk dia dengan begitu erat dan dipenuhi kesenangan, sedangkan Moris hanya menatap sinis karena dia merasa dianggap seperti orang ketiga diantara mereka berdua kala itu. "Heh....heh...heh..berhenti! Kalian ini bisa tidak pelukannya jangan di hadapan manusia jomblo sepertiku, bikin panas hati saja, sudahlah, aku mau pulang kau hati-hati dengan suamimu ya, bye Ros..." Ujar Moris sambil segera pergi dan melambaikan tangannya ke arahku.
Aku membalasnya dengan lambaian tangan juga tetapi tuan Jenson terus menarik tanganku dan menahan aku agar tidak meladeni Moris saat itu, karena dia tidak senang dengan penampilan Moris yang terkesan sedikit berantakan dan juga perkataan terakhir yang dia ucapkan saat berpamitan pergi dari sana.
"Ehh.. sudah-sudah, kau ini jangan berteman dengan manusia aneh seperti dia, sudah kepalanya keribo, kelakuannya juga sangat aneh, kalau kau terus berteman dan bersanding di sampingnya, orang akan mengira dia buruk rupa." Ujar tuan Jenson yang terlihat begitu serius ketika mengatakannya.
"Ya ampun tuan, kau jangan bicara begitu, dan jangan menilai manusia dari tampilan luarnya saja, walau begitu Moris orang yang sangat baik, tulus dan apa adanya, kamu jangan begitu dengannya, jangan lupa dia juga yang sudah menolong aku sebelumnya dia juga yang menghubungimu sebelumnya." Balasku kepada tuan Jenson sambil menahan tawa melihat ekspresi dia yang terlihat begitu tidak senang dengan Moris.
Walau aku sudah memberitahu tuan Jenson untuk tidak menilai Moris dari tampilan luarnya saja, tetapi tetap saja dia terlihat enggan denganku dan terus saja menggendongku sekaligus, membawa aku ke mobil dan terus menyuruh aku untuk diam, aku pun menuruti semua ucapannya, karena aku tahu jika aku menolak ucapan darinya maka bisa saja dia marah dan berubah sikap denganku.
Walau begitu aku tetap merasa senang karena sekarang tuan Jenson terlihat lebih perhatian dan sangat baik denganku, aku merasa dia bisa menjadi suami yang sangat baik dan bertanggung jawab atas Teguh, dirinya dan aku sebagai istrinya.
"Tuan, terimakasih banyak sudah mau membantuku." Ucapku kepadanya sambil menatap wajahnya yang fokus menyetir di sampingku saat itu.
"Ehhh, apa kau bilang barusan, apa aku tidak salah dengar, seorang Ros yang begitu angkuh dan keras kepala kini malah berterima kasih kepada orang yang dia benci, ahaha yang benar saja." Ujarnya yang membuat aku kesal.
__ADS_1
Padahal sebelumnya aku mengatakan itu dengan hati yang tulus.