
Meski sebenarnya saat itu aku sangatlah takut dan panik dengan dia, tetapi aku masih bisa menguatkan diriku sendiri dan terus saja berjalan dengan secepat yang aku bisa untuk keluar dari ruangan tersebut secepatnya, hingga saat aku baru saja keluar dari gedung tersebut, tiba-tiba di aku malah bertubrukan dengan Moris yang juga hendak masuk ke dalam, aku langsung terjatuh ke belakang dan tersungkur di lantai cukup kuat sampai kakiku terkilir dan terasa sangat sakit dibuatnya.
"Aaahhh bruk." Suaraku yang jatuh bertabrakan dengan Moris.
Bukan hanya aku saja yang jatuh tetapi Moris juga, hanya saja Moris masih sempat untuk berpegangan pada bagian samping pintu yang ada disana sehingga dia tidak jatuh terlalu keras dan cepat seperti yang aku rasakan, jadi dia tidak menjerit sekencang yang aku lakukan saat itu.
"Aduh....Rosa, kamu gakpapa? Sini aku bantu, ayo berdiri pelan-pelan." Ucap Moris sambil membantuku berdiri dengan cepat.
__ADS_1
Dia terus memapah aku hingga mendudukkan aku di salah satu sofa kecil di ruang tunggu yang ada di lobby sana, hingga Moris memeriksa kakiku yang terkilir dan dia mengatakan bahwa kakiku itu perlu di urut dan di beri obat oles sebagainya.
"Astaga...Rosa, kakimu sepertinya harus segera di obati dan di urut, ya ampun maafkan aku ya Rosa, gara-gara aku kakimu jadi begini, aduh sekarang aku harus bagaimana, kalau tidak apa ada keluargamu yang bisa aku hubungi?" Ucap Moris kepadaku dengan wajahnya yang panik dan terus saja menatap aku dengan kedua matanya yang terbuka sangat lebar saat itu.
Dengan cepat aku segera menghentikan dia dan mengatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja, aku juga berusaha untuk membuat dia berhenti terlalu mencemaskan aku berlebihan seperti ini, karena aku pikir aku masih bisa mampu untuk menahan rasa sakit di kaki ini, tetapi dia tetap saja sibuk meminta aku untuk menghubungi keluargaku untuk menjemput aku pulang saat itu. "Moris tenangkan dirimu dulu, aku baik-baik saja, tidak perlu terlalu berlebihan begitu, lagi pula aku masih sanggup untuk berjalan kok." Balasku meyakinkan Moris saat itu.
"Ya ampun Rosa apa kau ini buta atau bagaimana sih, lihat luka di kakimu ini benar-benar bukan main-main yang bisa kamu abaikan begitu saja, sudah kemarikan ponselmu ini biar aku yang menghubungi keluargamu saja, siapa nama kontaknya, ayo cepat sebutkan." Ucapnya mendesak aku dan malah merampas ponselku dari tanganku begitu cepat, aku bahkan dibuat kaget sekali dengan kelakuannya barusan.
__ADS_1
Tapi sayangnya dia tetap saja tidak memberikan ponsel itu kepadaku yang ada dia malah membukanya sendiri, terlebih aku memang tidak pernah menggunakan kunci apapun pada ponselku sehingga orang lain bisa membukanya dengan leluasa dan sialnya disaat Moris menjauh, aku sama sekali tidak bisa menahan dia atau menghentikan dia agar tidak mencari kontak seseorang di dalam ponselku untuk dia hubungi saat itu, karena disaat aku hendak menghentikan dia, justru kakiku malah terasa semakin sakit dan ngilu dibuatnya, ini benar-benar tidak bisa aku bayangkan sama sekali sebab rasa sakitnya itu benar-benar membuat aku ingin menjerit kencang.
Hingga pada akhirnya Moris menemukan kontak tuan Jenson dan dia menanyakan nama itu kepadaku yang membuat aku terus berteriak berusaha untuk menahan dia agar tidak menghubunginya. "Ehh Rosa tuan Jenson itu siapa, apa dia orang dekat denganmu, kenapa kau memberikan emot marah di akhir nama kontaknya? Apa aku hubungi dia saja ya, sepertinya dia orang yang dekat denganmu, chattannya saja paling atas, aku hubungi dia saja ya." Ucap Moris yang membuat aku sangat panik tidak karuan.
"Eehh..jangan, Moris jangan coba-coba kamu hubungi manusia itu, jangan, aku bisa pulang sendiri, aku baik-baik saja kok, kamu tidak perlu menghubungi siapapun aku tidak punya keluarga disini, kau harus percaya denganku, apa kau mengerti?" Ucapku kepadanya sambil terus saja berusaha untuk membuat dia mempercayai ucapanku saat ini.
Namun bukannya mendengarkan ucapanku justru malah Moris sendiri yang terlihat dengan sengaja mengerjai aku.
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat begitu panik dan sangat tidak mau, ketika aku mau menghubungi nomor ini? Apa jangan-jangan kau memang menyembunyikan sesuatu dariku ya?" Ucapnya mulai menaruh curiga semakin dalam kepadaku.
Membuat aku semakin bingung dan tidak tahu lagi apa yang harus aku jelaskan lagi kepadanya saat ini.