
Setelah aku memberi tahu Moris jika kedua orang itu adalah supir dan asistenku, dia pun langsung saja menggoda aku dan membawa-bawa nama tuan Jenson saat itu membuat aku merasa sangat malu dengan kelakuannya dan memang aa yang dia tebak itu benar, pada nyatanya kedua bodyguard itu di perintah oleh tuan Devon agar menjaga aku dari Desi nantinya.
"Eumm..ciee itu pasti perintah dari tuan Jenson kan, terakhir kali aku lihat dia sepertinya sangat mencemaskan kamu, pasti dia kan yang mengirimkan kamu dua orang itu." Ucap Moris sambil menyenggol bahu kiri ku.
"Ya ampun Moris kamunini kenapa sih, sudah diam jangan bawa-bawa nama suamiku disini, nanti kalau orang dengar bagaimana, aku tidak bisa jadi selebritis lagi tahu!" Bentak ku memberikan kode kepadanya sembari mengerutkan kedua alisku.
"Ehh..kau ini aku kan juga bicaranya pelan orang lain pada sibuk dengan urusannya masing-masing jadi kau tidak perlu cemas sampai sebegitunya dong, aku justru sangat iri denganmu, kamu punya suami ganteng, tajir melintir dan anak yang imut, kenapa juga kamu masih harus mencari pekerjaan seperti ini, kalau aku jadi kamu aku lebih senang duduk bersila di depan taman dan menikmati cemilan mewah sendiri." Ucap Moris sambil terus memperagakan dirinya yang tengah melakukan semua itu dan membayangkan apa yang ada di kepalanya kala itu, aku langsung menyentil keningnya pelan agar dia mau berhenti membayangkan hal-hal konyol seperti itu.
"Adududuh...Rosa kau kenapa menyentil jidatku, aahh ini sakit tahu!" Balas dia dengan rasa kesal sembari mengusap jidatnya berkali-kali saat itu.
Aku terus saja menahan tawa melihat kelakuan Moris yang benar-benar sangat konyol, ada-ada saja dia ini malah meminjam rambutku untuk menggosok keningnya yang aku sentil sebelumnya, bahkan beberapa orang lain menatap ke arah ku saat itu.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana lagi, mau bagaimana pun dia benar-benar sangat konyol karena menggunakan rambutku untuk menggosok jidatnya yang aku sentil itu, sampai disaat Moris terus merasa kesakitan, tidak lama munculah Mike dan Desi, mereka baru saja turun dari mobil dan berjalan ke depan mereka, menjelaskan tentang syuting yang akan dilaksanakan saat ini namun sedari tadi aku terus saja merasa heran dengan penampilan Desi yang tidak biasanya mengenakan kacamata hitam dengan sebuah masker yang menutupi seluruh wajahnya seperti itu, beberapa orang yang duduk di belakangku juga saling berbisik membicarakan hal yang sama, bahkan Moris juga mendekati aku dan menanyakan hal itu juga, padahal aku sendiri juga merasa heran dan tidak mengerti kenapa Desi harus menutup wajahnya sampai seperti itu.
"Syutt Rosa kau lihat di Desi aktris sombong itu, bukannya dia pemeran wanita pertama dalam drama ini? Kenapa tumben sekali dia malah mengenakan kacamata dan masker begitu, mencurigakan iya kan?" Ucap Moris berbisik pelan ke samping telingaku.
Dengan cepat aku menyuruhnya untuk diam dan tidak boleh ikut-ikutan membicarakan Desi, karena aku takut dia akan ketahuan oleh Mike dan Desi nantinya itu akan sangat sulit untuk di selesaikan jika sudah berhubungan dengan mereka berdua.
"Eehh sudah diam, jangan bicara begitu lagi, mereka itu berbahaya untuk kit, jadi baiknya kamu jaga posisimu, mana kita hanya jadi peran pendamping lagi, sudah jangan cari masalah oke." Ucapku kepadanya, dan langsung dianggukkan oleh Moris walaupun sambil menggerutu pelan kepadaku saat itu.
Karena semua pemeran dan crew film sudah tidak dan semua persiapan syuting sudah dilakukan, para pemain juga sudah berlatih dengan dialog yang mereka dapatkan masing-masing, hingga tidak lama proses syuting take pertama akan dilaksanakan saat itu juga semua orang sangat lihai dalam memainkan peran mereka masing-masing, sampai tibalah giliran aku yang bermain peran dengan Moris, dalam adegan kali ini Moris akan membentak aku dan tidak setuju atas hubungan sang pemeran pria denganku, karena disini Moris menjadi ibu dari pemerintah utama pria sedangkan aku menjadi saudara dari pemeran utama wanita yang mana aku mencintai pemeran utama pria dalam cerita ini.
Aku tahu aku akan berakhir menyedihkan karena pada akhirnya tetaplah pemeran utama wanita dan pria yang akan bersatu, tapi aku sama sekali tidak mengeluh apalagi sedih, apapun perannya aku akan tetap berusaha menjadi aktor yang profesional dan menjalankan semua peran semaksimal mungkin yang aku bisa, jadi saat itu aku melakukannya sesuai dengan latihan yang sudah aku lakukan, semuanya berjalan cukup lancar hanya dalam satu take semuanya sudah jadi tanpa ada kesalahan sedikit pun sehingga sang sutradara film memuji aktingku dan Moris yang begitu terlihat asli juga sangat keren karena tidak melakukan kesalahan seperti para pemeran pendamping lainnya.
__ADS_1
"Prok...prok..prok.. bagus, kalian berdua sepetinya sangat cocok untuk peran ini, penulis Jack memilih orang yang tepat, pertahankan skill akting kalian yang tadi." Ucap sang sutradara film saat itu, aku tersenyum dan terus membungkuk berterima kepada sang sutradara termasuk crew yang lainnya begitu pula dengan Moris yang melakukan hal yang sama denganku, dan dia adalah orang yang paling bahagia sampai memeluk aku dengan begitu erat dan kami melompat berbarengan.
"Aaahh. Rosa aku sangat beruntung karena berpasangan denganmu dan bisa beradu akting dengan orang seperti mu, tadi itu kau sangat hebat sekali ekspresi yang kau keluarkan membuat aku merasa kau menentang aku sungguh jadi bisa membuat aku terpancing emosi dan marah dengan benar kepadaku, aaahhh terimakasih banyak Rosa.." ucap Moris yang rupanya dia benar-benar tersulut emosi karena ekspresi di wajahnya yang terus menentang dia agar aku tetap berpacaran dengan putranya di film ini.
Kami pun mendapat sebuah pujian yang luar biasa dan itu artinya ada kesempatan besar untuk kita di panggil lagi dalam bermain peran pada judul lain oleh sutradara tersebut, karena akting kita memang sudah terlihat sangat nyata, jika melihat Moris senang aku pun turun senang dan ikut merasa lega atas apa yang telah kami lakukan sebelumnya.
Kini aku dan Moris beristirahat dahulu di salah satu kursi yang sudah di persiapkan khusus dengan nama-nama peran yang ada di sandaran kursi tersebut agar kami bisa duduk dan beristirahat di kursi masing-masing, namun saat aku hendak kembali ke tempat istirahatku dengan Moris yang berdekatan posisinya, aku melihat ada Mike yang menduduki kursiku saat itu, Moris yang pertama kali menyadarinya dan memberitahukan itu denganmu.
"Ehh, Rosa lihat deh bukankah itu tuan Mike yang mendanai semua projek film kita, kenapa dia duduk di kursimu?" Tanya Moris sambil menunjuk ke arah sana.
Aku pun menoleh ke arah yang ditunjukkan olehnya dan langsung saja mengerutkan kedua alisku dengan kuat, aku bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh Mike di kursiku saat itu, tapi saat aku sudah menyadarinya dia juga menatap ke arahku dan sudah mengetahui keberadaan aku saat itu, segera saja aku berjalan cepat untuk menghampirinya dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya tengah dia lakukan di kursiku itu.
__ADS_1