
Seketika tuan Jenson tiba-tiba berhenti dengan perlahan dia mulai mengangkat kakinya, hingga Mike bisa segera diangkat oleh beberapa orang yang membantu disana dan dia langsung saja dibawa pergi dari sana secepatnya, karena mulutnya itu tidak bisa berhenti terus menunjuk ke arahku dan pada tuan Jenson aku takut jika Mike terus dibiarkan berlama-lama disana maka riwayatnya akan benar-benar habis hari ini juga.
"Hei.. awas saja kau aaahh sakit sekali, beraninya kau menginjak tanganku, aku akan menandai wajahmu itu, awas saja kalian dasar pasangan sialan, kau j*Lang gila awas kalian semua!" Teriak Mike yang begitu kencang dan masih saja berani meneriaki aku seperti itu disaat dia sudah mendapatkan tangannya di injak oleh tuan Jenson hingga terdengar patah seperti sebelumnya.
"Aishh...dasar orang bodoh, dia benar-benar bosan hidup." Batinku saat itu.
Tuan Jenson juga terlihat begitu kuat untuk melawan Mike lagi, tapi aku masih terus berusaha menahan tubuhnya tersebut, aku tidak ingin membuat nama tuan Jenson semakin buruk di mata publik hanya karena apa yang dia lakukan kepada Mike hari ini, padahal sudah jelas Mike adalah orang yang menjadi sumber permasalahannya, tetapi aku tahu seperti apa Mike, aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap tuan Jenson dan aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam permasalahan antara aku dan Mike, lagi pula bagiku semuanya sudah benar-benar berakhir, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang jahat seperti mereka.
Hingga beberapa saat setelah Mike sudah pergi dari sana, aku benar-benar sangat lupa kalau saat itu aku terus saja memeluk tuan Jenson.
"Hei.. mau sampai kapan kau terus memelukku begini?" Ucap tuan Jenson menyadarkanku.
"Astaga..aahh..maaf tuan aku lupa, aku benar-benar tidak bermaksud apapun, aku hanya berniat untuk meredakan emosi dalam dirimu saja." Balasku memberikan alasan dan penjelasan kepadanya agar dia tidak berperasangka yang tidak-tidak terhadapku.
Namun dia mulai menatap aku semakin lekat dan tajam, mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan terus saja mendekati wajahku terus menerus memperhatikan aku begitu lama dan semakin dekat denganku, membuat aku merasa sangat gugup tidak menentu dan terus saja aku hanya bisa menunduk untuk menghindari tatapan darinya.
"Kalau hanya itu alasan kau memelukku, kenapa kau terlihat begitu gugup saat aku menatapmu?" Tanya dia kepadaku.
"A...a..ahh kau terlalu dekat, aku tidak terbiasa dalam posisi seperti ini." Balasku lagi sambil segera berjalan mundur menjauhinya.
__ADS_1
Tuan Jenson hanya terlihat tersenyum sesaat kemudian dia langsung menggandeng tanganku dan menarik aku hingga masuk ke dalam mobilnya, lalu kami segera sampai di kediaman tuan Jenson yang begitu besar, bahkan aku baru menyadarinya saat ini jika ternyata rumah tuan Jenson ini lebih besar dari apa yang aku duga ketika aku sempat ke rumahnya pada malam hari, dan ketika aku tiba disana semuanya nampak terlihat begitu jelas ketika siang hari seperti ini, rumahnya begitu mewah dan besar juga ada banyak sekali pelayan serta penjaga disana.
Aku seperti seseorang yang sangat penting karena disambut banyak orang ketika sampai di kediamannya untuk pertama kali.
"Ayo masuk kenapa kau diam saja seperti itu, apa kau tidak pernah melihat rumah sebesar ini?" Ucap tuan Jenson menyinggungku.
"Ya, itu kau tahu." Balasku kepadanya.
"Bukankah sebelumnya kau seorang selebritis terkenal?" Ucap tuan Jenson yang membuat aku begitu kaget.
Sebelumnya berita tentang aku sudah terkubur sangat lama dan tidak pernah terkuak lagi ataupun terdengar lagi nama panggung ku di manapun, tetapi tiba-tiba saja aku mendengar tuan Jenson mengenai identitasku tersebut yang paling aku jaga kerahasiaannya dari semua orang, tentu aku begitu cemas dan langsung saja mengikuti tuan Jenson sambil berusaha untuk menghentikan dia saat itu.
"Iya, aku tahu semuanya tentangmu, bahkan aku sudah tahu sejak lama, kenapa kau terlihat takut seperti itu?" Balas dia yang malah balik kembali menyelidiki aku.
"Tuan aku mohon, tolong rahasiakan identitasku yang sebenarnya, dan tolong jangan biarkan Teguh tahu jika sebelumnya aku seorang selebritis, aku tidak ingin dia melihat semua masa kelam dalam hidupku. Apa kau bisa menjaga rahasia ini untuk ku?" Ucapku langsung memohon kepadanya.
Dia terlihat tersenyum kecil dan malah tidak menyetujui apa yang aku minta darinya, padahal menyembunyikan semua itu tidak ada ruginya bagi dia dan tidak ada sulitnya untuk menutup mulut atas semua yang dia ketahui tentangku.
"Tidak, untuk apa aku harus menjaga rahasia orang lain. Apa untungnya bagiku." Balas dia membuat aku sangat kesal dan depresi.
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, dengan santainya dia langsung pergi meninggalkan aku dan malah menyerahkan aku pada asistennya begitu saja.
"Sudahlah aku sangat sibuk hari ini, Roy tunjukkan kamarnya." Ucap tuan Jenson dan dia pergi dengan cepat.
"Ehh...tuan tunggu, tuan Jenson kau mau kemana hei... Aku belum selesai bicara denganmu, tuan Jenson!" Teriakku yang sama sekali tidak dia gubris saat itu.
Aku sangat kesal dan hanya bisa menghentak-hentakkan kakiku dengan kuat, sambil terus saja menggerutu kesal tiada henti, sebab dia terlihat begitu santai dan terus saja memberikan tatapan tajam yang aneh kepadaku, lalu tiba-tiba saja meninggalkan aku seenaknya seperti ini, disaat aku tengah bicara serius dengannya.
"Aishh...dasar manusia robot, sialan, tidak punya hati, aaahh Roy kenapa sih kau harus memiliki bos sepertinya," gerutuku merasa sangat kesal dengannya.
"Mari nona saya tunjukkan kamarnya." Ucap Roy kepadaku saat itu.
Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja berjalan mengikuti Roy untuk naik ke lantai atas dan dia sudah menunjukkan aku kamar yang akan aku tempati, namun setelah itu Roy langsung saja pergi.
"Ini kamarnya nona, jika anda membutuhkan apapun anda bisa memanggil pelayan, nanti mereka akan datang menemuimu, atau kau bisa menekan tombol berwarna hitam yang ada di dinding kamarmu, itu untuk memanggil pelayan." Ucap Roy memberitahuku.
Aku hanya mengangguk mengerti sampai dia pergi dan aku pun bisa segera beristirahat sejenak, melepaskan penat dalam tubuhku dan berusaha untuk tidak memikirkan lagi masalah Nayla dan Raysa, meskipun sebenarnya aku sangat ingin mendengar kabar mereka, meskipun mereka salah, tetapi mereka pernah sangat baik dan membantu aku begitu banyak.
Hal itu tidak mungkin aku lupakan dengan begitu mudah, sebab jika dulu tidak ada mereka aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku, mungkin akan sulit untuk aku mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
__ADS_1