Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Kekesalan Tuan Jenson


__ADS_3

Disisi lain tuan Jenson belakangan ini tengah disibukkan dengan salah satu proyek yang mendapat sebuah kegagalan kecil, dia marah besar dan meminta semuanya diulang kembali, dia terus saja menggerutu kesal di dalam ruang kantor pribadinya, dengan wajah yang kusut dan kedua alis yang dia kerutkan dengan kuat, menatap tajam ke depan penuh dengan emosi saat itu.


"Aaarrkkk...aku tidak mau tahu, proyek pembangunan hotel di negara ini harus di selesaikan sebagaimana mestinya!" Bentak tuan Jenson sangat kencang sambil bangkit berdiri dengan wajah yang kusut.


Beberapa orang yang ada disana mulai bergetar ketakutan mendapatkan teriakkan sangat kencang dari tuan Jenson saat itu. Emosinya sudah sangat meledak-ledak dan sulit untuk dikendalikan, hingga saat itu juga semua pemimpin staf perusahaan cabang di tempat tersebut di bubarkan dengan segera.


"Keluar kalian semua, dan perbaiki semua kesalahan yang sudah terjadi, aku tidak mau menerima kesalahan lagi, jika sampai terjadi kalian semua aku pecat!" Bentak tuan Jenson dengan kencang.


Mereka semua langsung saja membungkuk dan pergi dari sana dengan segera, mereka terlalu takut dan cemas terlihat tidak bisa melakukan apapun lagi dan hanya bisa pasrah serta berusaha keras memperbaiki kesalahan pada pembangunan proyek yang hampir setengahnya sudah selesai saat itu.


Setelah semua karyawan disana keluar dari sana, tuan Jenson mulai teringat kepada seseorang yang tengah dalam pencariannya saat ini.


"Hei...Roy, mana informasi yang kau mau berikan padaku tentang bocah kecil itu?" Tanya tuan Jenson dengan wajah yang sangat serius menatap kearahnya.


Seketika pria dengan tubuh tegak itu langsung saja terlihat gemetar sedikit dan langsung terburu-buru, memberikan layar tablet tipis di tangannya ke depan tuan Jenson dan memberikan semua informasi yang dia dapatkan sebelumnya.

__ADS_1


"Ini tuan, anak itu bernama Teguh, dia putra pertama dari seorang gadis bernama Rosa, mereka warga negara pindahan sebelumnya, dan sudah tinggal di tempat kumuh itu selama lima tahun lebih, anak itu dikenal dengan kejeniusan otaknya, saya sudah mencaritahu tentang anak itu pada TK tempat dia sekolah sebelumnya dan mereka memberi informasi bahwa anak laki-laki yang memiliki wajah sepertimu mendapatkan beasiswa di negara kita, kemungkinan mereka akan pergi ke sana demi pendidikan anak laki-lakinya." Balas Roy menjelaskan semuanya.


Tuan Jenson langsung membelalakkan matanya sangat lebar, dia langsung membentak Roy dengan kencang dan menyuruh dia untuk segera memeriksa tempat tinggal yang dihuni Ros sebelumnya saat itu juga.


"Bodoh! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Cari keberadaan mereka berdua sekarang juga!" Bentak tuan Jenson dengan wajah yang marah dan dia menatap gemas pada Roy saat itu.


Dengan wajah panik dan ketakutan, Roy tidak banyak bertanya lagi, dia segera bergegas, pergi dengan cepat menuju sebuah apartemen kecil, dimana Rosa pernah tinggal disana, sayangnya dia telah terlambat sangat jauh, apartemen itu bahkan sudah dihuni oleh orang lain dan sang pemilik mengatakan bahwa Rosa dan putranya telah keluar dari sana beberapa Minggu yang lalu.


Roy benar-benar semakin ketakutan, dia tidak berani untuk memberikan kabar ini kepada tuan Jenson, karena dia sudah lalai dalam pekerjaannya sendiri, dan telah kembali kehilangan jejak dari Rosa dan putranya tersebut.


"Aishh..sial, bagaimana aku memberitahu tuan sekarang, dia pasti akan marah besar kepadaku." Gerutu Roy di depan mobilnya.


"Kenapa kau terus menunduk Roy? Katakan bagaimana keadaan mereka?" Tanya tuan Jenson sangat serius.


"Ahh.... Itu tuan, maafkan saya tapi kita kehilangan jejak mereka lagi, pemilik apartemennya mengatakan bahwa mereka sudah pergi dari sana beberapa Minggu yang lalu, tepatnya ketika mereka bertemu dengan kita saat kau menyekapnya ke dalam mobil dengan paksa. Aku rasa mereka sengaja menghindari kita tuan." Balas Roy mengatakan semuanya.

__ADS_1


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Roy, tuan Jenson langsung menggebrak meja kerjanya dengan kencang hingga membuat dia kaget bukan main, hingga terperanjat keras, mundur ke belakang beberapa langkah saat itu.


'Brak!' suara gebrakan meja yang sangat kencang.


"Dasar kau bodoh! Aku kan sudah bilang tugaskan beberapa orang untuk memantau tempat itu, kenapa kau bisa kecolongan seperti ini Roy?" Bentak tuan Jenson dengan nafasnya yang menderu dan wajah yang merah dipenuhi emosi yang tidak terkendali.


"Maafkan saya tuan, saya terlambat, tolong maafkan saya, tapi saya berjanji akan terus menyelidiki tentang kepergian mereka sampai kita akan menemukan mereka lagi." Balasnya dengan wajah semakin gugup.


"Tidak usah! Aku tahu kemana mereka akan pergi." Balas tuan Jenson dengan raut wajahnya yang terlihat begitu serius.


Mata yang menyipit dan tatapan tajam yang tertuju lurus ke depan, dia langsung keluar dari meja kerjanya dan langsung menyuruh Roy untuk menyiapkan penerbangan ke negara asalnya saat itu juga.


"Roy, siapkan penerbangan ke negara kita malam ini!" Ucapnya dengan berjalan keluar dari ruangannya dan merapihkan jas yang dia pakai saat itu.


Karena dia kebingungan, Roy segera saja berlari pelan menghampiri tuan Jenson dengan mengikuti langkahnya yang terburu-buru dan lebar, sambil terus bertanya dengannya.

__ADS_1


"Tuan untuk apa kau memesan tiket pesawat, apa kita akan terbang kesana malam ini juga?" Tanya Roy yang selalu saja penasaran dengan apa yang hendak dilakukan oleh bosnya sendiri, sehingga hal itu cukup membuat seorang tuan Jenson merasa jengkel dan kesal dalam menghadapi pertanyaan dari Roy yang masih saja terus banyak bertanya kepadanya saat itu.


Sebuah tatapan tajam di berikan oleh tuan Jenson kepada Roy, hingga berhasil membuat Roy langsung menunduk dan terdiam membisu, dia seketika tidak merasa penasaran lagi setelah mendapatkan tatapan setajam itu dari tuan Jenson yang kini digantikan dengan rasa takut di dalam dirinya, sehingga diam adalah pilihan terbaik untuknya saat itu.


__ADS_2