Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Hari Kelulusan


__ADS_3

"Teguh....ada apa sayang?" Tanyaku cukup keras sambil menatap ke arah Teguh yang ternyata saat itu dia tengah hendak berdiri di lantai dengan selimut yang berantakan tergeletak di lantai tempat dia berdiri saat itu.


Segera aku berlari menghampiri Teguh yang tengah merapihkan pakaiannya dan segera aku memegangi kedua pundaknya sambil bertanya kepada dia tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan dia sampai dia bisa ada di bawah ranjang seperti tadi.


"Teguh ada apa sayang? Apa kamu terluka?" Tanyaku kepadanya dengan penuh kecemasan.


"Ehehe...tidak ada apapun bu, tadi itu aku tidur dan mengigau makanya aku sampai jatuh ke lantai, tapi aku baik-baik saja sama sekali tidak terluka, kamu jangan terlalu mencemaskan aku bu, aku kan Teguh anak ibu Ros yang paling kuat dan jenius." Balas dia sambil tersenyum ceria kepadaku.


Aku pun membalas dia dengan sebuah senyuman yang lebih lebar sambil segera menyuruh dia agar segera pergi ke kamar mandi karena waktu untuk pergi ke sekolahnya sudah tiba.


"Aahh....begitu ya, ibu sangat tenang jika benar begitu, ya sudah sana kamu pergi ke kamar mandi, sebentar lagi juga kita akan pergi ke sekolahmu kan." Ucapku kepadanya sambil tersenyum dan memberikan handuk mandinya dengan segera.


"Eum...baik bu." Balas Teguh yang begitu penurut denganku.


Aku pun segera saja pergi kembali ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Teguh sebelum kita akan pergi ke acara kelulusan Teguh di TK nya nanti, aku juga sudah menyiapkan banyak sekali makanan yang disukai oleh Teguh dan sangat yakin sekali bahwa Teguh pasti tidak akan bisa menolak semua makanan kesukaan dia yang sudah aku buatkan khusus untuknya.


Hingga setengah Teguh selesai mandi aku juga segera membantunya mengganti pakaian lalu menyisir rambutnya sekaligus mendandani dia sedikit hingga dia terlihat begitu keren sekali, tetapi disisi lain ketika aku melihat sosok Teguh di pantulan cermin, entah kenapa aku merasa sosok Teguh saat ini justru malah semakin mirip dengan tuan Jenson yang merupakan ayah kandungnya, memang ini adalah pertama kalinya Teguh memakai setelan jas seperti ini, dan aku merasa dia benar-benar seperti orang dewasa bak kembar di belah dua dengan tuan Jenson, hanya saja umur mereka yang tentunya berbeda sangat jauh.

__ADS_1


Aku terus menatap Teguh lewat pantulan cermin dan tersenyum menatap kepadanya.


"Dia sangat tampan dan begitu jenius, apa mungkin itu mengalir dari tuan Jenson." Batinku memikirkannya.


Sampai Teguh berbalik menatap ke arahku dan dia langsung menarik tanganku mengajakku untuk segera keluar dari kamar dan dia sudah sangat lapar saat itu.


"Bu aku sudah siap, ayo cepat kita makan, aku sudah sangat lapar, kamu memasak apa kali ini?" Ucap dia sambil terus menuntun aku dan bertanya tentang menu hari ini kepadaku.


Aku pun bisa langsung mengesampingkan pikiran yang telah mengganggu otakku sebelumnya, karena Teguh aku bisa terus bertahan dengan penuh ketegaran dan kekuatan meski aku hanya seorang diri dan sebatang kara, tidak memiliki saudara, teman ataupun pasangan, aku hanya benar-benar memiliki Teguh seorang, jadi aku akan sangat menyayangi dia dan menjaga dia dengan segenap jiwa dan ragaku.


Segera aku angkat dia untuk naik ke kursi di depan meja makan dan mengambilkan nasi serta lauk yang dia inginkan.


Dia juga terlihat begitu bersemangat dan sangat antusias sebab semua makanan kesukaannya ada di atas meja dan dapat dia makan dengan sepuasnya saat itu.


"Waahh...Bu apa kamu tidak salah memasak sebanyak ini, kita kan hanya berdua saja, apa kamu akan mengadakan festa atau semacamnya ya?" Balas Teguh kepadaku saat itu.


"Tidak sayang, semua ini sengaja ibu siapkan untuk memberikan selamat kepada putra tercinta ibu yang sudah bisa lulus dengan mendapatkan beasiswa sekaligus mendapatkan peringkat paling tinggi, padahal kamu baru berusia lima tahun, dan karena besok hari ulang tahunmu ibu akan membawa kamu pergi berlibur dan berjalan-jalan ke taman bermain sepuasnya." Ucapku kepada dia.

__ADS_1


Teguh semakin senang dan langsung bersorak sangat kencang saat itu, sebab jarang sekali aku bisa mengajak dia pergi bermain bersama, apalagi pergi ke tempat wisata dan taman bermain seperti itu.


"Benarkah? Apa ibu tidak sedang memberikan aku harapan palsu?" tanya dia dengan menyelidiki kepadaku.


Membuat aku ingin tertawa keras saat mendapatkan reaksi seperti itu dari putraku sendiri yang sangat mirip seperti orang dewasa saja saat itu.


"Sungguh sayang, mana mungkin ibu memberikan harapan palsu kepada putra kesayangan ibu sendiri, ahaha...kamu ini ada-ada saja." balasku kepadanya sambil tertawa pelan.


"Yeayy... terimakasih banyak ibu, aku sudah lama ingin pergi ke taman bermain denganmu, aahh aku sudah sangat tidak sabar menunggu hari besok." Balas dia kepadaku saat itu.


Melihat putraku bisa senang dan sangat antusias seperti itu, aku merasa ikut bahagia, senyuman Teguh adalah kebahagiaan untukku dan air mata Teguh adalah sebuah rasa sakit terdalam untukku saat ini, selama Teguh senang dan bahagia semua akan aku lakukan, bahkan jika aku harus mengorbankan diriku sendiri untuk kebahagiaan dirinya.


Dia bahkan makan dengan sangat lahap hari ini, dan begitu bersemangat untuk pergi ke sekolahnya, dia lebih aktif dari biasanya dan terus saja melambaikan tangan kepadaku saat namanya mulai di sebut oleh gurunya untuk naik ke atas panggung menerima penghargaan saat itu.


Begitu pula denganku yang harus ikut pergi mendampingi Teguh saat itu, rasa bangga dan sangat gembira benar-benar tidak bisa aku gambarkan lagi, aku bahkan hampir menangis terharu ketika melihat begitu banyak perlombaan yang diikuti anakku ini, ditambah semuanya mendapatkan juaranya masing-masing yang sangat luar biasa.


"Teguh sayang ibu sangat bangga sekali padamu, kau putra ibu yang sangat luar biasa dan begitu istimewa." Ucapku sambil menciumi pipinya dan memeluk dia dengan sangat erat.

__ADS_1


Dia juga membalas pelukanku dan kami menikmati acara kelulusan Teguh saat itu, berfoto bersama semua teman-teman Teguh juga para orang tua wali saat itu, semuanya sangat ceria dan itu pertama kalinya aku bisa melihat Teguh tersenyum menampakkan giginya dengan lebar di tengah-tengah teman-teman sekelasnya secara langsung, terutama di depan kamera yang dimana sebelumnya Teguh adalah anak yang sangat anti dengan kamera dan sangat membenci kamera, dia selalu pergi dan marah ketika harus berfoto, namun kali ini dia mengikutinya dengan sangat baik dan lancar, aku terus memberikan semangat dan dukungan yang besar kepadanya.


__ADS_2