
Karena jam sudah sangat mepet dan tidak ada waktu lagi untuk ikut dalam penerbangan pesawat bersama dengan istri juga putranya, tuan Jenson pun memutuskan agar Roy membawa dia ke bandara terlebih dahulu, sebelum mengamankan wanita aneh dan menyebalkan tersebut. "Roy kita pergi ke bandara dulu, istri dan anakku pasti sudah menunggu disana." Ujar tuan Jenson memutuskan.
"Baik tuan, kita akan segera sampai." Balas Roy yang langsung meningkatkan kecepatan mengemudinya, karena dia paham betul apa yang diinginkan oleh bos nya tersebut.
Hingga sesampainya di bandara gadis yang ikut bersama mereka justru malah berlari mengejar tuan Jenson yang masuk ke bandara dan sekretaris Roy gagal untuk menahan wanita tersebut, terjadilah kejar kejaran diantara mereka, sampai ketika tuan Jenson tiba di tempat dimana ada Ros dan Teguh, wanita itu juga muncul di belakangnya sambil berteriak memanggil nama istrinya yang membuat tuan Jenson mengerutkan kening dengan sangat kuat. "Ros...Ross...ini aku Nayla Ros.." teriak perempuan tersebut sambil terus berlari mendahului tua Jenson karena dia dikejar oleh sekretaris Roy dari belakang.
Aku yang melihat kemunculan Nayla secara tiba-tiba seperti itu tentu saja dibuat kaget dan kebingungan sekali, dia bahkan sampai jatuh tepat di hadapan Teguh karena tersandung dan tangannya di ikat ke belakang oleh sebuah dasi, segera aku membantunya berdiri dan menanyakan keadaannya saat itu.
"Ya ampun Nayla, ada apa denganmu, ayo bangun apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku dengan wajah panik dan segera membantunya bangkit berdiri sekaligus melepaskan ikatan di tangannya dengan cepat.
Tapi disaat aku hendak melepaskan ikatan itu, justru tuan Jenson malah menarik tanganku dan dia membentak aku agar tidak melepaskan ikatan tersebut.
__ADS_1
"Tunggu, jangan beraninya kamu melepaskan wanita ini, dia sudah menguntit kita dan mobil yang mengikuti kita itu juga ulahnya, jadi berhati-hatilah meski kau mengenalinya." Ucap tuan Jenson kepadaku.
Aku semakin dibuat kaget dan tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini, langsung aku menatap ke arah Nayla dan mencoba untuk mencari penjelasan darinya, hingga Nayla pun dapat menahanku dan mencoba mengatakan semuanya tanpa harus aku tanyakan lagi.
"Ros tolong dengarkan penjelasan dariku dulu, aku bisa menceritakan semuanya kepadamu, yang pertama aku tahu pria ini adalah suamimu dari Mike, aku juga mengenal kakak kandungmu Desi, aku kemari hanya untuk menyelamatkan kamu juga suamiku Rasya, jadi tolong jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku, niatku sungguh baik, kamu percaya denganku bukan?" Ucap Nayla dengan wajahnya yang terlihat bersungguh-sungguh, membuat aku mempercayai dia sekaligus.
"Aku percaya denganmu, tuan bisakah kamu melepaskan ikatan di tangannya, dia sahabatku, aku mempercayai dia, karena sejak dulu dia memang bukanlah orang yang jahat." Ucapku mulai memohon kepada tuan Jenson.
Aku pikir tuan Jenson akan mempercayai ucapanku, tetapi nyatanya mungkin rasa cemas dia lebih besar saat itu, sehingga tuan Jenson malah tetap tidak mengijinkannya.
Aku pun mengalah karena waktu kamu sangatlah sempit, begitu juga dengan Nayla dia segera menjelaskan semuanya kepadaku dengan begitu rinci, tentang semua perjalanan yang selama ini dia lewati hingga dia bertemu dengan Desi dan Mike, lalu ditawarkan untuk bekerjasama dengan mereka agar Raysa bisa aman, namun nyatanya semua itu hanyalah tipu daya mereka saja, yang hanya memanfaatkan dirinya juga Rasya untuk menghancurkan aku, ketika mendengar semua penjelasan dari Nayla, aku rasa sekarang aku mengerti kenapa, saat itu Nayla menghindari dariku, dan aku juga mengerti kenapa Rasya tiba-tiba saja menghilang.
__ADS_1
"Tapi Ros, saat ini yang lebih penting bukan masalah aku ataupun Rasya, tetapi ini untukmu, Desi sudah merencanakan hal besar untuk membalaskan dendam denganmu, meski aku tahu kamu tidak salah tetapi dia bukan orang sebarangan, dia akan selalu menghalalkan segala cara untuk menglahakanmu, dia tidak senang kamu kembali lagi ke dunia hiburan, dia membencimu Ros, dan dia ingin mencelakai kamu." Ucap Nayla yang membuat aku sangat kaget mendengarnya.
Mataku mulai berkaca-kaca dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini, tubuhku terasa sangat lemas dan rasanya seperti di tancapkan banyak sekali panah ke jantungku dalam seketika, mendengar kakak tercintaku, yang sangat aku banggakan dan begitu aku sayangi, nyatanya membenciku sebesar itu, hingga ingin menyingkirkan aku.
Saat aku tengah terdiam dengan kepala menunduk tiba-tiba saja terdengar suara dari pengeras bahwa penerbangan menuju Jepang akan segera dilakukan, dan kami harus segera berangkat saat itu juga.
"Sayang ayo kita pergi, pesawatnya akan segera terbang, masalah ini kita bisa menyelesaikannya nanti dan Nayla bisa tinggal di bersama Roy selama kita di Jepang, bagaimana?" Ucap tuan Jenson sambil memegangi kedua pundakku saat itu.
Nayla menatap lekat ke arahku dan dia terus menganggukkan kepala, dia juga menyuruh aku untuk segera pergi karena dia pikir Jepang lebih aman untukku dibandingkan di negara ini. Meski sebenarnya aku sangat berat untuk meninggalkan dia dalam kondisi seperti ini, tetapi aku harus tetap menuruti keinginan dari Teguh juga apa yang terbaik untuk diriku sendiri. "Pergilah Ros, aku akan baik-baik saja, aku akan menunggumu, dan ingat satu hal Ros, Desi tidak pernah menyayangimu kau harus sadar dan menerima semua itu, jangan pernah bersikap baik lagi kepada orang bermuka dua sepertinya." Ucap Nayla sambil memegangi kedua tanganku dan dia terus berusaha untuk meyakinkan aku.
Aku hembusan nafas dengan berat hati dan mulai mengangguk kepadanya, berusaha untuk bisa menerima semua kenyataan pahit ini.
__ADS_1
"Eumm...aku tahu Nayla, terimakasih sudah mau memberitahukan aku semua ini, jaga dirimu baik-baik ya, aku janji akan membantu Rasya juga agar dia bisa bebas dari penjara termasuk dari Desi." Balasku kepadanya.
Kami berpelukan dengan begitu erat, melepaskan rindu yang selama ini tertahan sekaligus pelukan perpisahan, tuan Jenson juga mulai menarik tanganku, membawa aku bersama Teguh untuk segera pergi dari sana, Nayla melambaikan tangan ke arahku dengan wajahnya yang berkaca-kaca, dan aku bisa merasakan apa yang dia rasakan saat itu, melihat wajah Nayla untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah dan sekarang pun masih dihadapkan dengan situasi yang begitu menyulitkan kami berdua seperti ini, membuat aku merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.