
Walaupun aku sebenarnya sudah sangat nyaman dan merasa tenang tinggal di negara ini, namun sayangnya aku tetap harus memikirkan masa depan Teguh juga yang memang tinggal disana lebih baik di bandingkan di negara orang seperti ini, di tambah aku juga masih sangat merindukanmu sosok Nayla dan Rasya yang selalu menemani aku dikala aku berada dalam titik terendah hidupku dahulu, karena sebelumnya aku juga tidak sempat berpamitan kepada mereka berdua disaat aku hendak pergi ke negara ini dengan membawa Teguh yang bahkan baru saja lahir saat itu.
Aku ingin menebus kesalahan yang aku perbuat dimasa lalu kepada dia sahabatku itu, yang sempat aku tinggalkan tanpa alasan yang jelas, dan aku juga sangat berharap sekarang Nayla dan Rasya sudah bisa bersatu karena aku akan merasa sangat tidak enak jika seandainya aku kembali sekarang lalu berada diantara tengah-tengah mereka lagi dan aku takut itu akan membuat Nayla kesal dan cemburu kepadaku, apalagi jika sampai dia berpikir macam-macam tentang aku dan Rasya, itulah yang sangat aku takutkan sejak dulu.
Aku tidak mau merusak persahabatan yang sangat baik dan tulus itu hanya karena seorang pria, meskipun pria itu adalah orang yang sangat baik dan sempurna seperti Rasya, namun tetap saja aku tidak bisa memilih salah satu diantara mereka berdua sehingga aku lebih memilih untuk pergi dan menghindari hal tersebut saja, agar tidak ada yang aku sakiti nantinya, jika pun mereka sakit mungkin mereka akan merasakan sakit yang sama dengan sama-sama kehilangan aku saat itu.
Dengan begitu, baru aku bisa dikatakan adil dalam mengambil keputusan untuk mereka berdua, walaupun mungkin hanya aku yang sudah menginjak usia dua puluh lima tahun seperti sekarang ini dan masih lajang tapi malah sudah memiliki seorang putra berusaha lima tahun, semua itu sudah biasa aku dengan dari banyak orang yang merasa aneh denganku dan terkadang orang awam malah mengira bahwa Teguh adalah adikku padahal sudah jelas dia memanggil aku ibu dimanapun, kapanpun dan di hadapan siapapun, namun tetap saja masih sering sekali ada orang yang salah sangka kepadaku dan Teguh.
Tapi untungnya Teguh tidak marah ketika ada orang yang melakukan hal itu kepadanya, pagi jika sering di bilang wajahnya tidak mirip denganku, apalagi otaknya memang sangat jauh dariku, sebab saat kecil aku tidak pernah merasa menjadi sepintar Teguh saat ini, bahkan terkadang aku mengira sepertinya Teguh denganku memang akan lebih pandai Teguh, meski pun aku hidup lebih lama darinya dan meskipun aku lah yang sudah mengarahkan dia untuk belajar ini, belajar itu dan hal yang lainnya.
__ADS_1
Namun dia mungkin rajin belajar dan membaca sedangkan aku belum bisa sehebat dia karena aku malas membaca, dan selalu saja tidak memperdulikan banyak hal selain dari bekerja dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan aku dan Teguh selama tinggal di negara ini, sebab tabunganku meski sebelumnya sangat banyak, namun namanya juga uang jadi karena aku terus mengeluarkannya untuk banyak hal dan kebutuhan hidup kami bersama juga, jadi tentu uangnya tetap habis juga sehingga aku tetap harus bekerja keras menjadi sosok ibu sekaligus ayah yang harus menafkahi Teguh serta memberikan semua hal yang dia inginkan.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan berjalan menghampiri Teguh yang terlihat masih berbaring tertidur diatas ranjangnya sendiri saat itu, ku duduk di samping kepalanya dan aku usap pucuk kepalanya itu, sembari aku do'a kan dia semoga semuanya kenaikkan akan tercurahkan kepadanya, sambil terus saja mengusap kepalanya itu aku juga mengecup pipinya dengan lembut dan segera pergi keluar dari kamarnya.
Di sisi lain Teguh justru malah merasa dia tiba-tiba saja berada di dalam sebuah ruangan yang berwarna hitam dan hanya ada sosok pria yang bertemu dengan dia sebelumnya, lalu entah kenapa pria itu mendekati dia lalu berjongkok dihadapan dirinya sambil mengatakan bahwa dia itu adalah ayahnya, ayah yang sudah sangat merindukan dan mencari keberadaan dia selama ini.
Disaat Teguh hendak mengejarnya pria itu justru berjalan semakin cepat sehingga Teguh tidak bisa mengejar pria itu dan semakin dia ingin berlari dengan kencang justru semuanya terasa semakin lembat sedangkan pria tadi yang mengaku sebagai ayahnya dia malah berlari dengan sangat cepat.
Sampai ketikan Teguh berlari dengan lantang menyerang dan dia justru malah terjatuh dengan sangat keras yang ternyata dia sadar bahwa semua yang dia rasakan sebelumnya adalah sebuah mimpi saja, dan dia sebenarnya tidak tersandung tetapi jatuh dari ranjangnya ke lantai saat itu.
__ADS_1
"Aaahh...bruk." suara Teguh berteriak sangat kencang dan dia sudah ada di bawah terduduk dengan matanya yang menatap linglung sendiri termasuk sangat aneh dan heran dengan dirinya sendiri saat itu.
"Ya ampun ternyata aku hanya mimpi, aahh sayang sekali aku tidak lama ketika aku bertemu dengan ayah, tapi apa wajah ayahku memang seperti tuan yang mencuri ponsel ibuku itu? Aku juga memang terlihat agak mirip dengan pria aneh itu, tapi aku tidak ingin disamakan dengan seorang pecundang seperti dia itu," gerutu Teguh yang memang sudah lebih pintar dibandingkan dengan orang dewasa kebanyakan yang justru malah bertingkah dan berlaku seperti anak-anak, padahal usia itu bertambah dan akan terus berubah, jadi seharusnya kepribadian dan pola pikir juga harus mengikuti bertambahnya usia, agar tidak ada orang yang bisa meremehkan kita lagi di kemudian hari.
Aku senang sekali karena bisa di karuniai putra yang tampan, kulitnya putih, memiliki satu lesung pipi di wajahnya dan dia menggemaskan dan jenius, dia benar-benar tidak seperti seorang bocah usia lima tahun dia justru malah terlihat seperti anak yang sudah dewasa dengan pemikiran yang dia miliki saat ini.
Aku yang mendengar suara keras di kamar Teguh segera berlari untuk memeriksa keadaan dia saat itu, namun yang aku dapatkan saat aku masuk ke dalam kamarnya, justru malah melihat Teguh yang duduk termenung di lantai tepat di samping ranjangnya dengan selimut yang berserakan di lantai saat itu.
Aku merasa sangat kaget dan terus menggerutkan kedua alisku dengan perasaan yang sangat kebingungan dengan apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh putraku Teguh saat itu, atau apa yang sebenarnya sudah terjadi sebelumnya sampai membuat suara yang sangat keras hingga bisa aku dengar bahkan ketika aku tengah di dapur sebelumnya.
__ADS_1