Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Kejadian Memalukan


__ADS_3

Terus saja aku merasa gugup dan dia malah mendesak aku lagi sambil kembali mencoba membukakan pintu mobilnya dan mendorong tubuhku untuk keluar dari sana dengan paksa, membuat sang polisi di luar sana mulai menatap penuh curiga ke arah kami.


"Hei, ayo cepat jawab, kalau tidak kau mau keluar ya? Ya sudah sana keluar ayo cepat keluar... Untuk apa kau masih disini." Ucap tuan Jenson kepadaku terus menerus.


"Aishh.. tuan hentikan! Ayo cepat tutup kembali pintunya, lihat polisi itu mulai menatap curiga kesini, ayo cepat!" Ucapku terus berusaha untuk menarik pintunya tersebut.


"Katanya kau kan tidak setuju dengan syarat yang aku berikan, jadi untuk apa aku membantu orang keras kepala sepertimu, sana pergi!" Balasnya yang masih saja mengusir aku lagi dan lagi.


"Aaahh... Iya iya, aku setuju denganmu, aku akan menikah denganmu, dan tinggal denganmu, apa kau puas?" Balasku langsung dengan wajah yang mengkerut dan terus saja merasa sangat kesal dengannya.


Tuan Jenson mulai tersipu, dia merasa sangat senang karena akhirnya rencana yang sudah susah payah dia rencanakan sejak awal akhirnya bisa berjalan dengan lancar, dia pun mengangguk kepadaku dan langsung menutup pintu mobil dengan segera, tapi sayangnya kedua polisi yang ada di luar menghampiri kami, aku benar-benar merasa sangat gugup dan takut, langsung saja aku bersembunyi dengan menundukkan kepalaku pada pangkuan tuan Jenson karena tidak ingin mereka melihat wajahku.


"Astaga.. mereka kemari, aahh ini semua karenamu, bagaimana jika mereka mengetahui keberadaan aku, aahh aku harus bagaimana ini." Ucapku terus saja merasa tidak tenang.


"Diam dan terus seperti ini, biar aku yang menghadapi mereka." Balas tuan Jenson yang segera aku anggukan.


Untuk saat ini aku hanya bisa mempercayakan semuanya kepada dia, karena jika tidak, maka tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, hingga tidak lama kemudian kedua polisi itu mengetuk kaca mobil, dan aku terus saja memegangi pinggang tuan Jenson semakin erat, aku sangat takut mereka akan memergoki keberadaan aku yang bersembunyi di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Tuan Jenson juga malah menurunkan kaca mobilnya dan berbincang dengan kedua polisi tersebut, aku semakin gugup tidak karuan sampai akhirnya kedua polisi itu tidak banyak bertanya lagi dan mobil mulai di jalankan kembali oleh Roy, barulah saat itu aku merasa lega dan bisa segera menghembuskan nafas dengan leluasa.


"Huuhh... akhirnya bisa lolos dari mereka juga." Batinku saat itu.


Sedangkan tuan Jenson sendiri justru malah terus menahan tawa dalam dirinya, dia memegangi mulutnya sendiri dengan sebelah tangan untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak tahan ingin tertawa melihat kelakuan konyol yang Ros lakukan di depan matanya barusan.


"Ahahah... Hei, sampai kapan kau akan terus bersembunyi pada pangkuanku dan terus memelukku seperti itu? Bukannya kau sangat membenci aku ya?" Ucapnya kepadaku saat itu.


Aku pun mulai tersadar, tiba-tiba saja aku menoleh ke samping dan mendapati tanganku yang memang tengah memeluk tubuh tuan Jenson dengan begitu erat, saat sudah sadar aku langsung bangkit kembali duduk dengan tegak, dan segera menggeserkan tubuhku untuk menjauh darinya saat itu juga.


"Memangnya siapa yang mengatakan bahwa kau tengah mengambil kesempatan dariku? Atau jangan-jangan kau memang senang memelukku ya?" Balas dia yang malah terlihat ke gr an sendiri.


Aku langsung berbalik menatapnya dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar dan terus saja merasa kesal setelah mendengar ucapan darinya, padahal sudah jelas aku sebelumnya hanya bersembunyi dari kejaran dia polisi itu, tidak ada maksud lain yang aku pikirkan, apalagi mengambil kesempatan untuk memeluk orang sialan sepertinya.


"CK... Kau terlalu percaya diri, menyebalkan." Gerutuku sangat kesal dengan mulut cemberut begitu kuat.


Tidak lama setelah aku merasa kesal dan membalas ucapannya dengan lantang, perutku tiba-tiba saja bersuara yang membuat aku harus kembali menahan malu dihadapan tuan Jenson dan Roy, mereka juga menertawakan aku untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Kreokk ...kreokkk.....kreokkk..." Suara perutku yang begitu keras.


Langsung aku memegangi perutku dan mulai membelalak mata cukup lebar, karena sadar bahwa itu adalah suara perutku yang keroncongan karena sedari tadi pagi aku tidak sempat memakan apapun, selain karena terburu-buru dan bertanya pada Teguh aku juga lupa jika untuk mengisi perutku itu.


"Apa kau lapar?" Tanya tuan Jenson kepadaku dengan menatap datar saat itu.


"Tidak, aku tidak lapar, kreookk...." Baru saja aku mengatakan tidak lapar kepadanya karena merasa gengsi tapi sudah langsung mendapatkan ultimatum dari perutku sendiri yang malah kembali bersuara dan mengeluarkan suaranya yang semakin keras daripada sebelumnya.


"Ekm.....nona Ros sepertinya mulut dan perut anda tidak dapat bekerjasama, sebaiknya kita pergi mencari tempat makan terdekat dulu sebelum pulang." Ucap Roy yang mengemudi di depan sana.


Aku hanya bisa menahan malu dan tidak tahu lagi harus menanggapi ucapan dia seperti apa, mungkin saat ini wajahku sudah memerah saking malunya menghadapi situasi ini.


"Aishh... Dasar perut sialan kenapa harus bersuara di waktu yang tidak tepat sih, bikin malu saja." Gerutuku merasa kesal dengan perutku sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi, meski aku menggerutu dan terus menyalahkan perutku sendiri tetap saja semua ini terjadi karena ulahku juga, jika aku tidak lupa untuk sarapan mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi, dan aku tidak akan menanggung malu yang begitu besar di hadapan orang yang sangat aku benci.


Setelah bertahun-tahun lamanya berpisah dan tidak pernah bertemu sekalipun, ini adalah pertama kalinya aku makan bersama dengan orang yang pernah merenggut kesucian dalam diriku, hal yang paling berharga dan paling aku jaga dengan baik, tapi sekarang ini, aku tidak terlalu mempermasalahkan semuanya karena sudah ada Teguh di sampingku, hingga kami mulai menikmati makanan yang telah disajikan oleh pelayan di restoran mewah yang kami kunjungi.

__ADS_1


__ADS_2