Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Ke Kantor Tuan Jenson


__ADS_3

Terlebih wajah Desi yang begitu menghayati saat mengatakan semua itu kesalahanku dan semua orang mendukungnya juga mulai menghakimi diriku, entah kenapa sejak saat itu aku merasa banyak hal yang ternyata sudah berubah selama aku pergi, banyak hal yang tidak sama lagi seperti dulu, selain sekarang aku sudah menjadi istri orang lain dan sudah bukan selebritis terkenal lagi, bahkan kakak kandungku sendiri sudah seperti ini, dia tega bicara seperti itu di depan publik tanpa merasakan perasaanku yang terluka seorang diri disini. "Kak Desi tahukah kamu, bahwa selama ini aku merindukanmu, kenapa kau tidak mencariku kenapa kau tega mengusirku dari rumah, apa semua ini karena Mike?" Gerutuku memikirkannya lagi.


Bagaimana pun aku masih sulit menyadari semuanya, karena semua kebaikan yang telah kak Desi lakukan kepadaku sangat lah besar, dia orang paling berjasa di dalam hidupku, sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa dia menjadi seperti ini, aku mulai bertekad semakin kuat untuk bisa kembali menjadi selebritis terkenal seperti dulu, bukan untuk mendapatkan gelarku semata, tetapi aku ingin menunjukkan pada dunia dan mengatakan kepada semua orang bahwa rumor buruk tentangku di masa lalu semuanya adalah sebuah kebohongan belaka, aku akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini.


Langsung saja aku mematikan televisinya dan segera mengambil tas lalu pergi dengan cepat menuju kantor tuan Jenson saat itu.


Aku rasa saat ini hanya dialah orang yang bisa membantu aku untuk kembali ke dunia hiburan, dengan masuk dalam agensinya dan mulai mendapatkan beberapa peran kecil, aku merasa sangat yakin bahwa diriku bisa memulai semuanya kembali sekalipun harus dari nol lagi. "Iya aku harus menemui tuan Jenson, awas saja kau Mike aku akan melawanmu, mulai sekarang!" Ucapku begitu tegas dengan tekad yang kuat.


Semangat dalam hatiku kini kian menggebu, aku masuk ke dalam perusahaan milik tuan Jenson tersebut, bahkan aku tidak sempat untuk menanggapi beberapa orang yang menyambut kedatanganku saat pertama kali masuk ke dalam kantor tersebut, aku langsung masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas tempat dimana kantor pribadinya tuan Jenson berada.


Saat keluar dari lift aku berpapasan dengan Roy, dia menyapaku dengan wajah yang cukup kaget saat melihat aku yang tiba-tiba saja sudah berada di kantor.


"Astaga...nona Ros, sedang apa anda disini?" Tanya Roy kepadanya dengan wajah yang kaget dan kebingungan tidak menentu.

__ADS_1


Hal itu membuat aku merasa sedikit curiga dengannya karena selain bertanya dengan wajah anehnya itu, Roy juga menghalangi jalanku beberapa kali, padahal aku sedang terburu-buru untuk menemui tuan Jenson dan ingin mengutarakan sesuatu yang mendesak saat ini, tapi Roy seakan sengaja menghalangi aku dan terus berdiri di hadapanku. "Aku ingin bertemu dengan bosmu, dia ada di ruangannya kan?" Balasku lagi sambil bertanya dengannya yang langsung di balas anggukkan oleh Roy.


Aku pun berniat melanjutkan jalanku tetapi dengan cepat manusia menyebalkan ini kembali menghalangi aku dan menahan langkahku.


"Eehh..tunggu nona Ros, tuan Jenson sedang sibuk saat ini, jadi sebaiknya kau kembali beberapa saat lagi, atau kau bisa menunggu hingga urusan pentingnya selesai di ruanganku, disana juga sudah ada sofa untuk tamu sekarang. Kau bisa menunggu disana dengan nyaman." Ucap Roy terlihat semakin mencurigai bagiku.


Karena tidak biasanya dia menahan aku untuk menemui tuan Jenson, bahkan ketika tuan Jenson tengah meeting atau sibuk dengan klien sekalipun, tapi kali ini untuk pertama kalinya Roy terlihat gugup dan terus menahan aku.


"Ehh..jangan begitu nona Ros ada baiknya kamu menungguku di ruangan aku saja ya, disana kan lebih nyaman." Ucap Roy terus saja memaksaku.


"Roy, ada apa denganmu? Kenapa aku merasa sedari tadi kau terus mencoba untuk menahan langkahku agar tidak bertemu dengan tuan Jenson, memangnya urusan penting apa yang sedang dia lakukan dalam ruangan pribadinya itu?" Tanyaku kepada dia mulai mengutarakan kecurigaanku secara langsung.


"Aa..aahh..tidak ada nona Ros itu hanya ada sekretaris dari perusahaan cabang yang harus menjelaskan proyek terbaru mesin digital ke depannya, jadi tuan Jenson mungkin tidak akan senang jika anda tiba-tiba masuk dan mengganggu pembicaraan mereka yang sangat serius itu." Balas Roy terlihat menatap ke arah lain dan menjauhi tatapan dariku.

__ADS_1


"Roy, kau tidak sedang berbohong denganku bukan?" Tanyaku lagi semakin merasa penasaran dengannya.


Saat aku bertanya seperti itu, dia langsung saja terlihat gugup dan mulai kebingungan sendiri. "Ahh ti...ti...tidak kok, sama sekali tidak, ma..mana mungkin aku berani membohongi istri bosku sendiri, ahaha...nona Ros ini bagaimana sih." Balas Roy sangat tidak meyakinkan bagiku.


Aku terus menatapnya semakin lekat dan begitu tajam, untuk mencari kebenaran lewat sorot matanya, tetapi dia justru malah terus memalingkan pandangannya ke arah lain dan jelas sekali terlihat bahwa saat itu Roy tengah panik dan tidak jelas, aku pun tidak bisa mempercayai dia dengan penampilannya yang tidak meyakinkan seperti ini, sehingga disaat dia sedikit lengah, langsung saja aku menyingkirkan tubuhnya dan berlari ke ruangan tuan Jenson dengan cepat, sambil langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tuan Jenson, membuat Roy berteriak memanggilku dengan kencang.


"Eehh...nona Ros, tunggu, nona Ros kau tidak boleh masuk dulu, nona Ros!" Teriak Roy kepadaku namun sama sekali tidak aku dengar saat itu.


Aku terus saja mendorong pintu ruangan tuan Jenson sampai pada akhirnya aku sendiri yang menyesal karena sudah masuk ke dalam sana.


"Tuan?" Ucapku langsung memanggil tuan Jenson dengan wajah yang sangat kaget karena melihat dia tengah berhadapan dengan seorang wanita yang memakai pakaian terbuka sekali diatas meja kerjanya.


Terlebih wanita itu terlihat tengah memegangi bagian leher tuan Jenson dan mereka terlihat begitu dekat saat itu, aku sangat kaget melihatnya dan entah kenapa jantungku seakan seperti berhenti berdetak dan hatiku terasa sangat sakit ketika melihat hal seperti itu di depan mataku sendiri, sedangkan tuan Jenson langsung menatap ke arahku begitu pula dengan wanita yang memakai pakaian berwarna merah marun yang segera bangkit turun dari meja kerja tuan Jenson, dia menoleh ke arahku dan ternyata wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang sebelumnya bertemu dengan tuan Jenson di taman bermain. "Ternyata dia membohongi aku sebelumnya?" Batinku dengan rasa sesak yang begitu mendalam.

__ADS_1


__ADS_2