Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Dibela Tuan Jenson


__ADS_3

Dia membawa buket bunga di tangannya dan langsung diberikan kepadaku sambil menundukkan kepalanya dan berjongkok di lantai, aku langsung menerima bunga tersebut dan dia mulai memberikan sebuah cincin pernikahan diantara kami berdua tepat ketika kami sudah mengikat janji suci satu sama lain sebelumnya.


"Ros maukah kau menghabiskan sisa hidupmu untuk menata keluarga bahagia bersamaku?" Ucap tuan Jenson dengan wajah yang berseri dan nada bicara yang begitu lembut, dia mengutarakan semua itu dengan begitu tulus dari lubuk hatinya yang terdalam sekaligus, membuat aku merasa sangat kaget mendengarnya.


Bagiku setelah bertahun-tahun berlalu, ini adalah pertama kalinya seorang tuan Jenson berbicara dengan begitu lembut dan sangat menyentuh hatiku, aku langsung mengangguk untuk menerimanya dan dia segera bangkit sambil memakai cincin itu pada tanganku, aku pun memakaikan satu cincin lainnya di jari manis milik tuan Jenson.


Kemudian dia mulai memelukku dan semua orang bersorak agar kami berciuman sebagai tanda kami telah sah menjadi pasangan suami istri di hadapan semua orang.


Jantungku tidak bisa berhenti berdegup sangat kencang dan aku terus saja merasa sangat gugup, bahkan mataku rasanya tidak berani untuk menatap terlalu lama dengan tuan Jenson saat itu, dia terus memberikan tatapan yang sangat lekat kepadaku membuat aku semakin gugup dibuatnya.


Dia mulai mendekatkan wajahnya terhadapku, aku semakin tidak menentu dan aku pun mulai menutup mataku karena saat itu aku pikir dia akan mencium aku sesuai dengan sorakan yang semua orang teriakkan kepada kami.


"Hei....kenapa kau menutup mata, aku hanya ingin membenarkan riasan mu." Bisik tuan Jenson pada samping telingaku saat itu.


Langsung saja aku membuka mata dengan sangat lebar dan pipiku terasa mulai memanas karena merasa sangat malu sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap tuan Jenson sebelumnya. "Aa..AA..ahhh..aku..aku hanya merasa sedikit perih saja, jadi aku menutup mataku beberapa saat." Balasku beralasan kepadanya.

__ADS_1


"Apa kau akan melakukannya dengan baik jika aku sungguh menciummu?" Tanya tuan Jenson lagi membuat aku semakin membuka mata lebih lebar menatapnya dengan tajam tanpa berkata-kata.


"Te..te..tentu saja, bukankah sekarang kita sudah menjadi suami istri yang sah?" Balasku kepadanya dengan sebuah pernyataan lagi.


"Apa kau tidak akan mengatakan bahwa ini sebuah kesalahan lagi?" Tanya tuan Jenson sambil menaikkan kedua alisnya kepadaku.


Aku benar-benar berada sangat malu ketika dia berkata seperti itu kepadaku, karena kejadian tadi malam bisa langsung teringat kembali dengan begitu jelas di kepalaku, dia membuat aku merasa semakin kacau dan tidak menentu, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku jawab kepadanya saat itu, namun ternyata sebelum aku menjawabnya dia langsung saja menciumku secara tiba-tiba sehingga membuat para penonton berteriak sangat keras, bukan hanya mereka yang kaget tetapi aku juga merasa jauh lebih kaget dibandingkan siapapun kala itu.


Dia terus melakukannya dengan sangat lembut, lebih baik daripada yang dia lakukan tadi malam kepadaku, dan semuanya berakhir dengan begitu lancar sesuai dengan rencana, para tamu undangan yang terdiri dari rekan bisnis tuan Jenson bersalaman denganku, mereka tidak menyangka jika tuan Jenson adalah suami dari seorang selebritis terkenal sepertiku, tetapi aku hanya bisa terus menunduk dengan malu karena aku tahu mereka sebenarnya tengah menyinggung diriku sebab rumor buruk yang aku miliki di masa lalu.


Tetapi mungkin mereka menyinggung aku dengan sebuah pujian kepada tuan Jenson.


"Ekm...selamat ya tuan Jenson, kau adalah pembisnis yang sangat unggul dan tidak pernah memiliki rumor apapun selama ini, kau juga terlihat senang sekali bisa menikah dengan istri seorang selebritis terkenal seperti nona Ros ini, semoga pernikahan kalian awet ya." Ucap salah satu wanita yang tidak aku kenal dengan penampilan cetar dan sangat penuh dengan riasan.


Bahkan jika bisa dibilang riasan yang wanita itu pakai di wajahnya lebih tebal dibandingkan aku yang menjadi pengantinnya hari ini.

__ADS_1


Tuan Jenson langsung menatap ke arahku dan aku langsung terus tertunduk, aku merasa menjadi wanita yang sangat buruk dan tidak sepadan untuk menjadi pendamping tuan Jenson saat ini, karena jelas sekali bahwa standar dia dan aku begitu jauh berbeda.


Tapi yang membuat aku kaget, tuan Jenson ternyata mau membelaku dan dia membalas dengan cepat ucapan dari wanita tersebut yang membuat wanita itu seketika menjadi diam membisu.


"Ya kau benar aku memang luar biasa, tapi bukan Ros yang hebat bisa mendapatkan aku, tapi akulah yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan wanita secantik dirinya, tidak hanya cantik di wajah tetapi hatinya juga begitu baik, lebih baik dari hati busuk yang kau gunakan saat ini." Balas tuan Jenson sangat menohok.


Wanita tersebut terlihat sangat tidak senang, dia menghentak-hentakkan kakinya dengan kencang dan langsung pergi dari sana dengan cepat, aku hanya bisa menahan senyum sendiri selama itu dan terus saja menundukkan kepala karena tidak mau tuan Jenson melihat kelakuan dariku saat itu, yang malah menertawakan wanita lain setelah mendapatkan balasan darinya.


"Hei, sudah angkat kepalamu, pengantinku tidak boleh rendah diri, kau lebih baik dibandingkan siapapun, itulah kenapa aku memilihmu." Ucap tuan Jenson sambil memegangi daguku dan mengangkat kepalaku hingga aku menatap ke arahnya dengan wajah yang tegak.


Tingkahnya yang seperti itu dan terlihat begitu keren sebagai pria, membuat aku merasa semakin tidak karuan, rasa takjub dan kagum aku semakin bertambah untuknya, hingga saat itu aku tidak mampu untuk mengeluarkan satu kata pun, hanya bisa membalas ucapannya dengan anggukan kepala pelan dan wajah datar yang terperangah dengan ucapannya barusan.


Sedangkan tuan Jenson sendiri nampak tersenyum kecil denganku dan dia terus saja mengelus tanganku dengan lembut, menggandeng aku selama acara berlangsung dan membuat semua orang menatap iri padaku.


Meski tamu undangan yang hadir saat itu hanya sedikit dan hampir semuanya hanya rekan bisnis tuan Jenson dan karyawan di perusahaannya, tetapi itu lebih baik dibandingkan dengan pernikahan yang dihadiri banyak orang yang tidak aku harapkan itu.

__ADS_1


Karena aku yakin semakin banyak orang yang datang ke pesta pernikahanku ini, justru akan semakin banyak orang jahat yang bisa saja menghancurkan hubunganku dengan tuan Jenson, jadi bagiku seperti ini jauh lebih baik dan menenangkan.


Aku juga tidak butuh pengakuan dari orang lain, aku hanya mencari ketenangan dalam hidup dan tidak berharap untuk bahagia, sebab kebahagiaan itu sangat relatif, bahkan hal-hal kecil yang mungkin bagi kita sepele itu bisa juga menjadi hal yang membahagiakan orang lain, berbeda dengan sebuah ketenangan yang hanya dapat kita rasakan dan nikmat sendiri dalam diri dan jiwa kita.


__ADS_2