Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Mengejar Desi


__ADS_3

Selang beberapa waktu, aku dan Moris berpisah, tentunya setelah kita saling memberikan semangat satu sama lain dan menaruh keyakinan yang kuat pada diri masing-masing bahwa kami akan lolos dalam proses penyeleksian film tersebut.


Aku pulang dengan keadaan yang lesu dan tidak tau lagi harus bicara seperti apa kepada tuan Jenson nantinya, terlebih semalam aku sudah menolak mentah-mentah bantuan yang akan dia berikan kepadaku, sejujurnya setelah menerima semua perlakuan buruk dari Mike, aku hampir saja akan merasa menyesal dan ingin menggunakan kekuasaan tuan Jenson untuk bisa membantuku mendapat peran itu, tapi kembali lagi aku tersadarkan pada keinginan awalku, dimana aku tahu dan sudah mendapatkan pelajaran lebih dulu dari kakakku Desi dan Mike, bahwa jika aku berhasil atas campur tangan orang lain, sehebat apapun usahaku dan sebesar apapun semangatku tetap saja pada akhirnya itu bukan menjadi milikku seutuhnya dan mereka yang membantuku bisa saja membuang aku kembali layaknya orang yang sudah tidak berguna, persis seperti yang telah dilakukan oleh Mike kepadaku sebelumnya.


Aku juga sangat ingin bertemu dengan Desi tapi untuk sementara waktu, aku tahu Desi pasti sangat sibuk, mungkin dia juga akan mendengar kabar tentangku dari Mike, dan aku berharap dia bisa datang menemui aku ataupun mencari keberadaanku, karena aku sangat merindukan dirinya dan berharap aku dan dia bisa kembali berkumpul menjadi saudara yang baik juga saling menyayangi satu sama lain seperti dahulu.


Sama dengan apa yang diamanatkan oleh kedua orangtuaku dahulu, sebelum mereka meninggal dunia, bahwa aku dan Desi harus terus menjalani hidup bersama dan saling menjaga juga menyayangi, aku masih percaya bahwa Desi juga merindukan diriku, hanya saja mungkin dia terlalu sibuk atau tidak mendapatkan izin dari Mike untuk bertemu denganku saat ini, karena aku memahami posisinya dia sekarang sudah bukan kak Desi yang dulu lagi, kini dirinya adalah seorang superstar dan aktor yang terkenal, memiliki banyak penggemar dan selalu diikuti oleh para wartawan kemanapun dia pergi, sehingga aku pikir hal itulah yang menyulitkan kak Desi untuk berjumpa denganku.


Aku pulang ke rumah tanpa banyak bicara sama sekali, pergi mengganti pakaian dan segera pergi untuk menjemput Teguh lebih awal, saat diperjalanan aku tidak sengaja berpapasan dengan mobil aktris yang aku ketahui bahwa itu adalah mobil dari agensi yang menaungi kak Desi, langsung saja aku meminta sang supir taxi untuk mengikuti mobil tersebut, karena aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan kak Desi.


"Ahh...bukankah itu mobil agensi, pasti ada kak Desi di dalamnya, pak cepat putar mobilnya dan ikuti mobil hitam yang baru saja lewat." Ucapku terus memerintah.

__ADS_1


Supir itu menuruti ucapanku dan dia terus saja mengikuti mobil yang aku tunjukkan kepadanya, hingga ternyata dugaanku memang benar, mobil tersebut berhenti di perusahaan milik Mike juga ada kak Desi dengan beberapa aktris lain yang turun dari mobil tersebut, mataku langsung berbinar dan aku sangat senang.


Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari menghampiri kak Desi sambil berteriak menyebut namanya dan berlari kencang ke arahnya sambil merentangkan kedua tanganku untuk memeluknya saat itu. "Kak Desi..." Teriakku sangat kencang dengan penuh kebahagiaan, namun disaat aku sudah berada di hadapannya, tiba-tiba saja kak Desi tampak mengerutkan kedua alisnya sangat kuat padaku.


Dan dia langsung tidak mengenali aku sedikitpun. Padahal beberapa aktris disana sudah bisa mengenali aku disaat mereka melihat wajahku untuk pertama kalinya saat itu.


"Ee..ee..ehh..siapa kau, beraninya mau memelukku seenaknya!" Ucap kak Desi sambil menghindari diriku dan dia nampak terlihat sangat tidak senang dengan kemunculanku.


Aku terus merasa bingung dengan apa yang dia katakan padaku, aku pun mulai menyebutkan namaku dan mengatakan bahwa aku adalah adiknya.


"Aku sama sekali tidak memiliki adik bernama Ros, apalagi seseorang yang sangat murahan sepertimu, sana pergi. Aku jijik melihatmu!" Bentak kak Desi begitu saja.

__ADS_1


Dia kemudian pergi dengan beberapa rekannya masuk ke dalam gedung perusahaan tersebut setelah dia mendorongku hingga aku hampir jatuh ke belakang saat itu, hatiku hancur, kakiku terasa sangat lemas, aku langsung terduduk di tanah begitu saja dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang memegangi dadaku erat saat itu.


Ini rasanya bahkan lebih sakit dibandingkan dengan kejadian di lima tahun yang lalu, saat aku mendapatkan banyak hujatan di internet dan di asingkan oleh semua orang juga di usir oleh kak Desi, dia bahkan tidak mau menatap wajahku sedikit pun, menghempaskan tanganku dan mendorong bahuku sangat kuat, dia tidak mengakui aku sebagai adiknya lagi. "Kak apa kau sesakit itu atas perbuatanku dahulu? Seandainya kau mau mendengarkan penjelasan dariku, sebetulnya semua itu hanyalah jebakan dari orang jahat yang membenciku, kenapa kau tidak mempercayai aku kak?" Ucapku terus saja tertunduk dengan lesu dan terus saja merasa sangat sakit hati.


Aku sungguh telah kehilangan satu-satunya saudaraku dan keluarga di dunia ini, langit terlihat mulai mendung dan udara menjadi semakin sejuk, aku pikir tidak akan ada waktu untuk aku menjemput Teguh saat ini, aku pun menghubungi tuan Jenson dan meminta dia untuk menjemput Teguh ke sekolahnya.


Aku menghubunginya dengan sebuah pesan singkat karena jika aku menelepon tuan Jenson aku takut dia akan bertanya-tanya tentang keadaanku karena mendengar suaraku yang sendu, meski aku bisa saja berbohong dan menyembunyikan semuanya kepada tuan Jenson, tetapi aku tahu suara tidak akan dapat aku sembunyikan dan tuan Jenson bukanlah orang bodoh yang bisa aku bohongi dengan semudah itu, jadi aku memilih cara yang aman dengan mengabarinya lewat pesan singkat, lagi pula aku tahu dia sudah melihatnya dan dia pasti akan menjemput putra kesayangannya tersebut.


Ku usap sisa air mata di pipiku dan aku tegarkan diriku sendiri, segera saja aku bangkit dengan semua sisa kekuatan di dalam diriku sendiri, pergi dari sana dan menatap untuk terakhir kalinya. "Maafkan aku kak." Batinku sangat berat sekali untuk meninggalkan tempat itu.


Tapi disaat aku berbalik tiba-tiba saja seorang wanita menatap ke arahku dengan wajah yang sangat aku kenal, dia adalah Nayla, tapi yang membuat aku heran saat mataku bertemu dengan matanya dia tiba-tiba saja pergi berlari masuk ke dalam gedung perusahaan agensi Mike, dan dia sama sekali tidak mendengar teriakkan dariku yang memanggilnya begitu kencang saat itu.

__ADS_1


"Nayla? Nayla tunggu, kau mau kemana Nayla..." Teriakku terus berlari mengejarnya.


Tapi sayangnya dia sudah masuk lebih dulu ke dalam perusahaan tersebut dengan memakai penutup di kepalanya dan membawa tas selempang di sampingnya, aku tidak dapat mengejar dia sampai ke dalam karena aku sama sekali tidak memiliki kartu akses ataupun janji apapun dengan orang di dalam sana. Sehingga dua penjaga di depan sana menahan tubuhku sangat kuat, dan aku kehilangan Nayla saat itu.


__ADS_2