
Setelah memikirkan semuanya cukup panjang dan terus saja kebingungan, akhirnya aku pun mulai memutuskan untuk melakukannya karena memang tidak ada pilihan lain lagi yang bisa aku lakukan, ini semua juga demi kebaikan aku dan Teguh juga, tidak akan seru rasanya jika liburan dalam suasana seperti ini di tambah tuan Jenson yang merajuk, cepat atau lambat nantinya Teguh juga pasti akan merasa curiga jika melihat ayah dan ibunya menjaga jatah dan tidak akur seperti biasanya.
Aku rasa kali ini aku harus menurunkan gengsi dalam diriku dan harus sedikit mengalah kepada tuan Jenson, demi kebaikan semua orang aku rela mengesampingkan gengsi yang tertanam begitu besar dan sangat tinggi dalam diriku ini.
Ku tarik nafas dalam dan mulai membuangnya perlahan, berusaha untuk memantapkan tekadku dan mulai memegangi ujung pakaian tuan Jenson, sembari menariknya dengan pelan. "Tuan....tuan kemari lah sebentar... Tuan ayolah mendekat sedikit." Ucapku berusaha untuk membujuknya karena dia terlihat masih sangat kesal kepadaku.
Tuan Jenson akhirnya mau melirik ke arahku dan mulai mendekat sedikit, aku terus menyuruhnya lebih mendekat lagi dan lagi hingga dia merasa kesal dan menggerutu keras denganku. "Aishh...kau ini sebenarnya mau apa sih kenapa terus menyuruhku untuk..." Ucap tuan Jenson yang tidak selesai karena aku langsung mengecup pipinya sekaligus, sama dengan apa yang dia inginkan.
*Muach*
Sebuah ciuman kecil yang aku berikan kepadanya membuat tuan Jenson seketika terdiam dan terus membelalakkan matanya sangat lebar lalu menatap ke arahku kebingungan, aku hanya tersenyum kecil dan memasang wajah datar kemudian, mencoba untuk menahan rasa gugup tidak karuan di dalam diriku, ditambah rasa malu yang sangat menyeruak membuat aku sulit untuk mengendalikan diri sendiri, aku pun hanya bisa diam dan terus menatap ke depan tidak berani untuk menatap ke arah tuan Jenson yang terus menatapku sangat lekat dengan tangannya yang memegangi pipi bekas ciuman dariku sebelumnya.
"Aishh...tuan berhenti menatapku begitu, kau membuat aku sangat gugup!" Ucapku sambil mendorong tubuhnya untuk sedikit menjauh dariku.
__ADS_1
Tapi sialnya bukan menjauh tuan Jenson justru malah semakin mendekatkan dirinya denganku dan dia menarik tanganku, menggenggamnya dengan erat dan mengecup tanganku begitu saja sambil tersenyum lebar saat itu, kini malah aku yang dibuat kaget dan salah tingkah karena dirinya.
"Eh, tu...tu...tuan apa yang kamu lakukan, kita di pesawat, hentikan ini sangat memalukan." Ucapku dengan gugup dan pipi yang mulai merona.
"Tenang saja nanti aku akan membeli jet pribadi untukmu, agar kau tidak perlu malu lagi jika mau bermesraan denganku dimana saja, bagaimana?" Balas tuan Jenson semakin membuat aku tidak nyaman mendengarnya.
"Aishh..otakmu itu selalu saja ke arah yang memalukan, sudahlah lepaskan tanganku, aku sangat gugup sekarang." Ujarku berusaha melepaskan tangan darinya.
Tetapi tuan Jenson malah semakin mempererat genggaman itu dan dia memeluk tanganku sangat kuat, sembari menyandarkan kepalanya di pundakku, dia mulai bersikap manja sangat jauh berbeda dengan sikap dia yang biasanya, apalagi dengan sikap dia dahulu, aku merasa bertemu dengan tuan Jenson yang baru dan aku tidak mengenalinya.
Aku hanya bisa pasrah dan menghembuskan nafas dengan lesu, sembari mulai menyandarkan tubuhku ke belakang dan terus saja membiarkan tuan Jenson terus bersikap semua dia saja, karena sebenarnya di lubuk hatiku yang paling dalam, sejujurnya aku juga merasa senang, karena dengan begitu aku bisa tahu bahwa tuan Jenson benar-benar telah jatuh hati padaku, dan dia pria yang sangat bertanggung jawab, sehingga aku bisa mempercayai dia sepenuhnya, meski sebelumnya aku sangat membenci dia dan menyimpan dendam yang begitu besar padanya.
"Hmm ternyata benar ya, apa yang menurut kita buruk belum tentu aslinya seburuk itu, dan apa yang menurut kita baik bisa saja itu yang paling menginginkan kehancuran atas hidup kita sendiri, aku masih belum menyangka jika kak Desi bisa bersekongkol dengan seseorang seperti Mike, dan aku tidak menduga jika seorang tuan Jenson benar-benar menepati janjinya untuk bertanggung jawab atas aku juga putraku. Terimakasih tuan, kamu sudah mengubah takdirku yang semula kelam menjadi lebih terang dan berwarna." Gumamku dalam hati yang senang dan penuh rasa syukur.
__ADS_1
Kini aku sudah tidak mencemaskan apapun lagi, selama ada tuan Jenson di sampingku aku merasa tenang dan damai, entah kenapa kini aku sangat yakin bahwa tidak akan ada sesuatu apapun yang bisa melukai aku ataupun Teguh selama ada tuan Jenson di samping kami, karena aku tuan Jenson adalah orang yang penuh dengan perhitungan dan rencana mendetail dia akan selalu waspada dan begitu berhati-hati, jadi aku bisa mempercayai apapun dengannya termasuk tentang Nayla yang harus tinggal sementara waktu bersama sekretaris Roy.
Aku ikut menutup mataku dan memutus untuk beristirahat di dalam pesawat sembari menunggu kami tiba di tempat tujuan beberapa jam lagi.
Hingga sesampainya di Jepang dan kami sudah berada di hotel milik tuan Jenson, aku dan Teguh segera pergi ke kamar yang sudah tuan Jenson pesankan, disini hanya ada dua kamar saja yang dipesan oleh tuan Jenson, satu untuk Teguh dan satunya untuk aku serta dirinya, tetapi Teguh mulai perotes kepadaku karena dia tidak mau tinggal di kamar seorang diri. "Ayah apa kau tidak salah, kenapa memberikan aku kamar sebesar ini untuk ditinggali sendiri? Aku tidak mau aku terlalu kecil untuk menempati kamar ini, bagaimana jika ibu tidur denganku saja, dan biar ayah yang tidur sendiri." Ucap Teguh mengambil ide yang cukup bagus menurutku dan aku langsung menyetujuinya.
"Eum... Boleh saja, nanti ibu akan tidur denganmu." Balasku kepada Teguh sambil tersenyum ramah tanpa memikirkan perasaan tuan Jenson yang sudah menatap geram dengan mata sinis di sampingku.
Dia tiba-tiba saja menarik tanganku disaat aku hendak membawa masuk Teguh beserta koper milik kami. "Ehh siapa bilang kamu boleh tidur dengan Teguh, kau kan istriku, kau harus tidur denganku, biarkan anak itu tidur sendiri dia kan sudah enam tahun apa yang perlu ditakutkan." Balas tuan Jenson yang menahanku dan melarang aku dengan keras.
Aku terus menaikkan kedua alisku cukup tinggi dan merasa heran serta kebingungan dengan apa yang tuan Jenson pikirkan karena dia lebih memilih Teguh untuk tidur sendiri dibandingkan dirinya yang sudah sebesar itu.
Teguh juga langsung kesal dia membalas ucapan tuan Jenson tanpa henti hingga perdebatkan diantara ayah dan anak itu tidak bisa dihindari.
__ADS_1
"Ayah apa-apaan kau ini, lihatlah tubuhmu dan tubuhku sangat jauh berbeda, kau sudah begitu tinggi dan besar, kenapa kau tidak mengijinkan ibu untuk tidur denganku, dan lagipun sebagai seorang ayah yang baik harusnya kau mengalah atas putramu bukannya seperti ini!" Balas Teguh tidak setuju dengan ucapan tuan Jenson.
Sayangnya tuan Jenson tetap tidak mau kalah, sekalipun lawannya adalah anak kecil dan itu adalah putranya sendiri, sikap mereka bak seperti buah yang dibelah dua dimana tidak ada perbedaan sedikit pun, sama-sama keras kepala dan begitu jenius, tidak mau kalah dan berebut untuk tidur ditemani olehku.