Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Mencari Teguh


__ADS_3

Sang nenek hanya bisa menggelengkan kepala dan mengusap dadanya lagi berulang kali, dia sudah sangat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh cucuknya tersebut, selalu mengambil keputusan sendiri dan melakukan semua hal tanpa sepengetahuan dirinya, bahkan sekarang tiba-tiba saja sudah memiliki seorang anak laki-laki dibelakang dirinya.


"Jenson nenek sangat mempercayaimu, tapi satu yang nenek minta padamu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, nenek pernah kehilangan ibumu dan dia sangat menderita karena ayahmu yang tidak setia dan gagal dalam membina rumah tangganya, nenek tidak ingin kejadian serupa terjadi pula denganmu, kau harus menjadi pria yang tangguh dan penuh akan prinsip, jika kamu menyukai wanita itu, kamu harus mengejarnya, bertanggung jawab atas putra yang sudah dia lahirkan karena ulahmu itu, kamu juga sakit hati bukan ketika ayah dan ibumu pergi meninggalkanmu, maka itu juga yang dirasakan anakmu jika kau menelantarkan dia dan ibunya." Balas sang nenek langsung memberikan nasihat yang begitu dalam kepada tuan Jenson.


Mendengar nasihat yang dikatakan oleh neneknya, tuan Jenson mulai merasa bersalah atas apa yang pernah dia lakukan kepada Ros di lima tahun yang lalu, tepat ketika dia sama sekali tidak menganggap bayi di dalam perut wanita itu sebagai putranya, namun sekarang setelah tes DNA keluar dan wajah anak laki-laki itu begitu mirip dengannya, barulah dia menyadari semuanya dan mengakui anak itu, sebagai putranya.


"Apa dia akan memaafkan aku?" Batin tuan Jenson memikirkan.


Tidak hanya tuan Jenson yang tersadarkan oleh nasihat sang nenek, tetapi Roy yang berdiri di samping sofa saja terlihat begitu terharu ketika mendengar nasihat dari nenek Sulistyo yang sangat terasa nyata.


"Heh.. Roy kenapa kau begitu, jangan lebay kau!" Bentak sang nenek langsung menyinggung Roy yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"I..i..iya nek, aku kan masih belum menangis." Balas Roy dengan gugup dan kembali berdiri tegak.


"Aishh.. sudahlah, pergi kalian dari rumahku, dan kau Jenson, selesaikan semua permasalahanmu itu, baru kau bisa kembali ke rumah ini jika kau bisa membawa anak laki-laki dan istrimu, ingat itu!" Ucap sang nenek memberikan peringatan keras kepada cucuknya tersebut.

__ADS_1


Kemudian nenek Sulistyo langsung bangkit berdiri di bantu dengan pelayannya yang segera mendampingi dia pergi meninggalkan tuan Jenson dari sana.


Tuan Jenson juga segera pergi dengan Roy, tekad di dalam dirinya semakin besar untuk mengambil Teguh dari tangan Ros, dia merasa semua ini adalah hal yang sudah besar, segera saja dia pergi untuk kembali ke perusahaannya tersebut, sedangkan dia menyuruh Roy untuk mengerahkan anak buah agar bisa menemukan keberadaan Ros dan putra kecilnya tersebut.


"Roy, kerahkan semua anak buah untuk melacak bocah itu!" Ucap tuan Jenson dengan mata yang tajam.


Roy segera mengangguk dan saat itu juga dia langsung memerintahkan hal yang sama pada semua anak buah ahli yang dia miliki.


Hal tersebut sangat mudah untuk mereka, apalagi sebelumnya tuan Jenson diam-diam sudah menempelkan alat pelacak pada leher Teguh saat dia membawa Teguh masuk ke dalam mobilnya beberapa hari yang lalu, alat itu sangat kecil dan tahan air, dan tidak mudah lepas dari tempatnya melekat, jadi tuan Jenson sangat yakin anak buahnya bisa menemukan keberadaan putranya tersebut dengan cepat.


...****************...


Di sisi lain ini, Teguh yang tengah menunggu jemputan dari ibunya dia berdiri di depan gerbang sekolah seorang diri dan memegangi tas punggungnya, dia terus menunggu hingga semua anak yang berdiri bersamanya sudah pergi di jemput oleh orang tua mereka satu per satu, hingga hanya tersisa dirinya saja.


"Aduh... Mamah kemana sih, apa dia melupakan aku?" Batin anak laki-laki berusia enam tahun tersebut.

__ADS_1


Ya tepat hari ini, adalah hari ulangtahun Teguh yang ke enam tahun, aku terlalu sibuk mempersiapkan kejutan bagi Teguh di rumah dan siap untuk menyajikan kue ulangtahun untuknya, hingga aku terlambat untuk menjemput dia ke sekolah, sayangnya ketika aku sampai di sekolah Teguh sudah tidak ada, gerbang sekolah sudah tertutup rapat dan di kunci, aku sudah bertanya-tanya kepada guru yang mengajarnya tapi mereka mengatakan bahwa Teguh sudah pulang satu jam yang lalu.


Hatiku mulai merasa cemas dan takut, aku terus mencari teguh di sekitar jalanan sana, aku pikir mungkin saja Teguh pulang berjalan kaki sambil menunggu aku menjemputnya, tapi sayangnya aku tetap tidak berhasil menemukan dia, hatiku semakin cemas dan tidak karuan, aku berusaha untuk menghubungi Nayla namun nomornya sama sekali tidak bisa di hubungi, begitu juga dengan Rasya.


"Ya ampun Teguh, kamu dimana sayang." Gerutuku terus saja menangkupkan kedua tanganku penuh kecemasan terhadapnya.


Di sisi lain Teguh justru sudah berada di kediaman tuan Jenson, dia duduk diatas sofa dengan santai sambil bermain sebuah video game kesukaannya, hingga tuan Jenson kembali ke rumah dan dia memberikan sebuah ponsel canggih miliknya kepada Teguh dan menyuruhnya untuk menghubungi ibunya sendiri.


"Kau bisa menghubungi ibumu agar dia datang menjemputmu sekarang." Ucap tuan Jenson kepada Teguh.


Dengan senang hati Teguh langsung mengambil ponsel itu, tetapi disaat dia hendak mengetik nomor ponsel ibunya, tiba-tiba saja dia berhenti seketika.


"Tuan, jika aku menghubungi ibu dan memintanya menjemputku disini, dia akan marah, apalagi jika dia tahu kalau aku main ke rumahmu tanpa izin dengannya terlebih dahulu." Ucap Teguh kepada tuan Jenson.


"Tidak masalah, aku akan bicara dengan ibumu, jadi dia tidak akan berani memarahimu lagi." Balas tuan Jenson sengaja terus membujuk Teguh.

__ADS_1


Akhirnya Teguh pun mengangguk, dia mulai menghubungi ibunya hingga panggilan itu terhubung dengan cepat. Dan tuan Jenson tersenyum licik karena dengan begitu dia berhasil mendapatkan nomor ponsel milik Ros.


__ADS_2