
Sedangkan disisi lain tuan Jenson yang baru saja sampai di kantor polisi bersama dengan seorang pengacara handal dan terkenal, mereka sudah mengantongi beberapa bukti kuat untuk bisa mengeluarkan Rasya dari balik jeruji besi tersebut, pertama pihak kepolisian sama sekali tidak memberikan izin apapun dan mereka harus memberitahu pihak pelapor terlebih dahulu agar dapat diadakan sidang nantinya yang bisa memberi keadilan bagi kedua belah pihak, sehingga tuan Jenson terpaksa harus menunggu kedatangan dari pihak Desi terlebih dahulu yang merasa telah dirugikan oleh Rasya dan merasa telah di tipu.
Sedangkan saat itu tuan Jenson sama sekali tidak dapat menampakkan wajahnya di hadapan wanita tersebut dia harus tetap menjaga identitas dirinya, sehingga untuk menjaga kerahasiaannya tersebut, terpaksa tuan Jenson harus bertukar tempat dan identitas bersama dengan sekretaris Roy, dimana saat ini tuan Jenson harus mengenakan tanda pengenal di samping jasnya sedangkan sekretaris Roy berpakaian layaknya seorang bos besar, semua itu dilakukan untuk menjaga identitas tuan Jenson agar lebih aman, sebab dia hanya takut orang akan mengenali dirinya sebagai CEO di salah satu perusahaan besar sehingga memicu kejahatan lain terjadi nantinya, jika begini dia dapat mengantisipasi semuanya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya asisten Desi tiba disana bersama dengan bosnya yang tidak lain adalah Desi sendiri, dia menatap lekat ke arah tuan Jenson dan sekretaris Roy. "Siapa diantara kalian bertiga yang bernama tuan Jenson?" Tanya Desi sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada, dia terlihat begitu sinis memerhatikan tuan Jenson dan membaca tulisan di samping jasnya tersebut.
"Aahh aku sudah tahu, anda pasti tuan Jenson bukan? Apa yang ingin kau lakukan denganku, kenapa kau meminta aku untuk mencabut semua laporanku tentang Rasya yang jelas sudah menyebabkan banyak kerugian bagi perusahaanku juga salah satu perusahaan besar yang lainnya, dia telah menjadi penipu yang handal dan saat ini saya tidak ingin mengalah sedikit pun, pada siapapun itu termasuk anda, sekalipun saya tahu Anda adalah suami dari mantan adik saya." Ujar Desi menjelaskan semuanya dan menegaskan bahwa dia tidak mau mengalah dalam proses hukum ini.
Sekretaris Roy mulai melakukan acting dengan sangat lancar dan sama sekali tidak terlihat kebohongan dalam ucapan serta gerak geriknya tersebut, hingga hal itu membuat tuan Jenson sendiri menahan tawa sebab sekretaris Roy begitu totalitas untuk berperan menjadi dirinya. "Fffttt...dasar Roy, dia benar-benar terlihat mirip denganku." Batin tuan Jenson menahan tawa pada dirinya sendiri.
Sedangkan sekretaris Roy sendiri nampak terus percaya diri menjadi bos, karena dia pikir kapan lagi dirinya dapat berlagak seperti itu dan bisa bersikap seenaknya, ini adalah yang pertama kalinya dan momen paling berharga baginya jadi dia harus mengambil kesempatan dalam hal yang sangat baik ini. "Iya, saya Jenson, dan saya adalah suami dari Ros, ada hal yang perlu saya bicarakan dengan anda, silahkan masuk dahulu." Ucap sekretaris Roy sembari berjalan lebih dulu melewati Desi dan asistennya
Di ikuti oleh pengacara serta tuan Jenson yang asli di belakangnya.
Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang ada di kantor polisi tersebut, itu adalah ruangan negosiasi yang dapat digunyoleh pihak keluarga atau pihak manapun untuk membuat kesepakatan ataupun diskusi lainnya.
__ADS_1
Desi terus saja menghembuskan nafas dengan kesal dan segera mengikuti sekretaris Roy yang dia anggap sebagai tuan Jenson ke dalam ruangan tersebut, disana kedua belah pihak di pertemukan dan duduk berhadapan secara langsung untuk membicarakan masalah yang terjadi diantara keduanya.
"Cepat katakan apa yang anda inginkan, dan satu lagi meski anda suaminya Ros, itu tidak ada urusannya dengan kasus Rasya yang telah menipuku sangat banyak dan saya dengar anda juga sempat terkena tipuan pria itu, bukankah seharusnya kau memilih keinginan yang sama denganku, untuk memberikan pria itu pelajaran yang setimpal." Balas Desi yang sudah membuntukan ucapan disaat sekretaris Roy belum sempat menjelaskan semuanya.
Dengan tatapan mata sinis yang begitu mendominasi, sekretaris Roy langsung bengkit dari kursinya karena Desi juga tidak mau duduk dengan tenang disaat dia sudah mencoba untuk mempersilahkan dirinya agar duduk dan membahas semuanya dengan kepala dingin dan tenang. "CK... Turunkan nada suaramu nona Desi, jangan mencoba mendesak aku, apa kau lupa siapa aku? Aku bahkan bisa menjebloskan dirimu ke tempat yang paling menderita daripada jeruji besi di tempat ini!" Balas sekretaris Roy benar-benar membuat Desi merasa takut dan dia langsung berjalan mundur mencoba untuk menjaga jarak dari sekretaris Roy saat itu.
Bahkan wajahnya saja nampak menjadi gugup, dia terlihat sangat takut dan mulai menjawabnya lagi dengan tatapan yang di palingkan ke arah yang lain. "AA..AA..apa yang kau katakan, kau tidak akan bisa melakukan apapun kepadaku, justru akulah yang akan terus menahan Rasya termasuk dengan Nayla, aku tahu kau yang menyembunyikannya!" Bentak Desi dengan penuh percaya diri, meski sebenarnya saat itu hati dia tengah dipenuhi dengan kecemasan.
Tetapi karena Desi sudah terbiasa diharapkan dalam situsnya seperti ini, jadi dia tetap saja terlihat santai dan masih saja dapat menjawab ucapan dari sekretaris Roy kala itu.
"Haha... Roy, tunjukkan padanya apa yang kita punya." Ucap sekretaris Roy yang berpura-pura memanggil tuan Jenson dengan namanya.
Tuan Jenson menaruh laptop tersebut tepat di depan Desi dan dia langsung memutarkan sebuah rekaman video dimana Desi tengah memasukan Ros ke dalam sebuah kamar hotel milik tuan Jenson dan dia begitu senang smbari menepuk tangan mengakui dirinyalah yang telah menjebak Ros malam itu. "Besok namamu akan hancur dan aku akan merebut semuanya dari dirimu, hahaha...aku akan menjadi terkenal menggantikan kau!" Ucap Desi dalam rekaman video singkat tersebut.
Tidak hanya itu saja bahkan tuan Jenson sengaja menunjukkan sebuah video lain dimana Desi tengah melakukan kejahatan dengan menyogok penulis Jack bersama dengan Mike saat itu agar dia bisa mendapatkan peran utama dalam sebuah film yang tengah mereka garap saat ini. Melihat semua itu Desi langsung terbelalak kaget, kedua tangannya dia kepalkan sangat kuat dan begitu emosi, wajahnya mulai merah padam dan menatap sinis ke arah wajah sekretaris Roy yang dia pikir sebagai tuan Jenson tersebut.
__ADS_1
"Sial. Beraninya kau memata matai aku dari belakang, dasar pengecut!" Balas Desi nampak sangat kesal dibuatnya.
"Hahah...bukankah kau lebih licik dan lebih pengecut dibandingkan kami? Ingat nona Desi, orang licik akan tetap kalah dengan orang yang cerdik." Ucap sekretaris Roy kepadanya.
Dia kemudian berjalan semakin mendekati Desi dan mulai membenarkan pakaian Desi sambil terus bicara pelan untuk mendesak dia saat itu.
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, nanti kau akan semakin jatuh dan tidak ada yang bisa menolongmu saat mau sudah masuk ke dalam lubang perangkap milikku, kau mengerti maksudku bukan." Ucap sekretaris Roy sembari menatap sinis ke arah Desi dan menaikkan kedua alisnya saat itu, membuat Desi semakin merasa cemas dan ketakutan tidak menentu, dia terus saja berusaha untuk menahan dirinya sendiri agar tidak terpancing emosi terlebih dahulu, hingga sekretaris Roy mulai menyuruh sang pengacara dan tuan Jenson agar melaporkan kejahatan yang dilakukan oleh Desi dengan bukti yang mereka bawa, barulah dengan cepat Desi menahan tangan sekretaris Roy dengan cepat dan mulai mengatakan hal yang ingin di dengar oleh tuan Jenson sejak awal.
"Roy dan pengacara berikan semua bukti itu pada pihak berwajib, sepertinya Rasya butuh teman untuk tinggal di satu sel yang sama." Ucap sekretaris Roy saja itu.
"Aishh...tunggu, aku akan mencabut tuntutannya." Ucap Desi yang langsung saja menahan tangan sekretaris Roy saat itu.
Membuat tuan Jenson tersebut senang begitu pula dengan sekretaris Roy, rencana mereka benar-benar berhasil dengan begitu mudahnya, bahkan tanpa perlu melibatkan pengacara yang sudah mereka persiapkan sebelumnya, semua jauh lebih mudah dari apa yang mereka pikirkan.
Dengan cepat sekretaris Roy langsung saja berbalik lagi ke hadapan Desi dan terus saja dia melepaskan pegangan tangan Desi dari tangannya. "Oke. Itu pilihan yang sangat bagus untukmu, kalau begitu aku lakukan sekarang juga, pengacaraku akan membantumu untuk bicara dengan kepolisian." Ucap sekretaris Roy yang langsung dianggukkan oleh Desi.
__ADS_1