
Padahal sebelumnya aku sudah sangat yakin bahwa aku pasti bisa untuk bertemu dengannya dan menanyakan tentang hal ini dengan tegas, tetapi bahkan hanya berdiri di depan pintu kamarnya saja aku sudah merasa gugup dan sudah tidak seberani sebelumnya lagi.
"Aahh aku ketuk atau jangan ya?" Gerutuku terus saja mengigit kuku ibu jariku sambil berjalan mondar mandi di depan pintu kamar tuan Jenson saat itu, dengan jantung yang terus berdegup semakin kencang dan sulit untuk aku kendalikan saat itu.
Sampai tiba-tiba saja tuan Jenson sudah berada di belakangku dan dia memanggil namaku saat itu. "Ros, sedang apa di depan kamarku?" Tanya dia membuat aku sangat kaget dan begitu gugup sekali, sampai aku tidak tahu ucapan apa yang harus aku katakan saat menghadapinya kali ini.
"Aa..AA..ahhh..tuan itu, aku, aku hanya lewat saja kok, aku pergi dulu." Ucapku langsung saja bicara apapun yang bisa aku keluarkan dari mulutku saat itu.
Sampai tuan Jenson tiba-tiba langsung menarik tanganku dan membuat aku menatap kebingungan dengannya saat itu. "Ada apa tuan?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang masih terperangah, tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
"Ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucapnya tiba-tiba saja bicara seperti itu kepadaku dengan ekspresi wajahnya yang sangat serius sekali, aku benar-benar semakin gugup dan penuh dengan kecemasan saat itu, tuan Jenson juga terus saja menggerutu kedua alisnya semakin di tekuk kuat kepadaku, aku menjadi sangat ragu untuk bertanya lagi dengannya, hanya bisa menunjukkan kedua alisku yang aku angkat kepadanya dengan bingung, serta hati yang terus saja merasa sangat tidak tenang kala itu.
Sampai tiba-tiba saja tuan Jenson langsung membawa aku masuk ke dalam kamarnya dan dia menutup pintu itu dengan cepat, semakin saja aku panik di buatnya, keringat bercucuran dingin mulai mengendap di dahiku dan aku semakin tidak karuan.
"Ros.. apa kau merasakan hal yang sama denganku?" Tanya dia kepadaku secara tiba-tiba, aku sendiri tidak tahu apa yang tuan Jenson maksudkan saat itu, sementara dia terus saja memegangi kedua tanganku dengan begitu erat dan menatapku sangat lekat.
__ADS_1
"Tuan sebenarnya kenapa kau bicara seperti ini kepadaku, tolong katakan saja apa yang sebenarnya mau kamu katakan denganku?" Tanyaku langsung mendesaknya karena aku tidak mau terus penasaran tidak berujung seperti itu.
"Aku mau kau menjadi.. Ahhh sudahlah kau boleh tidur di kamarku mulai sekarang." Ujar tuan Jenson begitu saja.
"Ehh..apa maksudmu, aku kan punya kamar sendiri, kenapa aku harus tidur di kamarku?" Tanyaku bingung dibuatnya, tetapi bukannya menjawab ucapanku tuan Jenson justru malah kembali berjalan mendekati ranjangnya lalu langsung saja tidur disana begitu mudahnya, sama sekali tidak mendengar ucapan dariku yang semakin kebingungan dengan dirinya.
"Tuan Sebenarnya kau ini kenapa sih, aneh." Ucapku lagi dengannya.
Sampai pada akhirnya tuan Jenson justru malah menyuruh aku untuk mengobati kakinya yang sempat tersandung sebelumnya, nampak kuku ibu jarinya terlihat patah dan mengeluarkan darah, walaupun darahnya terlihat sudah agak kering tetapi dia tetap saja menyuruhku untuk mengobatinya, membuat aku terpaksa harus menuruti dia, padahal saat itu aku sudah ingin tidur dan aku ingin bicara serius dengannya tetapi semua niat awalku sudah terlanjur hilang begitu saja karena kelakuan dia juga.
"Sudah jangan banyak bicara lagi, aku memintamu untuk tidur disini karena kakiku luka dan sebagai istri yang baik kau seharusnya mengobati kaki suamimu bukan.
Aku berjalan dengan lesu dan wajah yang sangat kesal dengannya sambil mulai mengobati kakinya, berjongkok di bawah kaki dia dan mulai membersihkan kakinya tersebut hingga membalutnya dengan perban kecil.
"Nah, sudah selesai, jadi aku tidak perlu tidur di kamarku kan." Balasku kepadanya sambil menaruh kembali alat kesehatan tersebut ke dalam salah satu laci di kamar tuan Jenson.
__ADS_1
"Ros apa kau sungguh tidak merasakan apapun setelah kejadian barusan diantara kita berdua?" Ujar tuan Jenson yang pada akhirnya mulai membahas mengenai hal itu lebih dulu, karena dia sudah sangat tidak tahan dengan sikap cuek dan dinginnya Ros kepada dia selama ini, sehingga tuan Jenson juga sangat penasaran tentang bagaimana perasaan Ros terhadap dirinya selama ini.
Terlebih disaat mereka sudah hampir saja akan melakukan hal layaknya suami istri pada kedua kalinya. Sedangkan aku sendiri hanya bisa berusaha tenang agar bisa menjawab ucapan dari tuan Jenson dengan masuk akal dan tidak terlihat gugup olehnya.
Aku juga tidak tahu apakah dia menyukai aku atau tidak, meski sebenarnya aku sendiri juga merasa ada banyak hal yang berubah dalam diriku dan ada beberapa hal yang aku merasa setiap kali berada di samping tuan Jenson aku selalu merasa tenang dan damai, aku merasa cemas ketika dia tidak ada dan aku merasa bahwa diriku benar-benar sudah menjadi istri dia sesungguhnya.
Tapi aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini kepadanya, sehingga aku hanya diam saja dan terus menutup laci tersebut dengan cepat.
"Aa..ahh..tidak ada, aku sama sekali tidak merasakan apapun selain dari kesal kepadamu karena kau sudah bersikap tidak sopan denganku." Balasku menutupi semua perasaan sesungguhnya yang aku rasakan kepada tuan Jenson.
Mendengar itu dari Ros, nampak wajah tuan Jenson sedikit kecewa, dia pun menghadap ke arah Ros dengan lurus dan kembali bertanya kepadanya untuk mendapatkan kepastian yang nyata. "Hei, kalau kau tidak suka denganku atau sama sekali tidak merasakan apapun padaku, kenapa kau malah membalas ciumanku sebelumnya?" Bentak tuan Jenson mulai meninggikan suaranya kala itu.
"Aa..aaa..ahh itu hanya untuk mengimbangi kau saja, jika aku tidak melakukannya aku akan kehabisan nafas lebih cepat, makanya aku membalasmu." Balasku kembali membuat alasan yang menurutku masuk akal.
Hingga wajah tuan Jenson semakin ditekuk sangat rapat dan dia terus saja menatapku sangat sinis sambil terus menyelidik tanpa henti.
__ADS_1
"Ros, aku tanya padamu sekali lagi, apa kau sungguh tidak menyukai aku?" Tanya tuan Jenson lagi kepadaku.
Aku tetap menggelengkan kepala kepadanya dan segera saja pergi dari kamar tuan Jenson dengan cepat, karena aku takut pertahanan diriku akan rubuh jika harus terus berhadapan dengan tuan Jenson dan dihadapkan dengan orang sepertinya, dimana dia terus saja menanyakannya lagi dan lagi sambil semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku. Membuat pertahananku semakin lemah dibuatnya. Jadi sebelum semua itu benar-benar rubuh, aku lebih memilih untuk pergi lebih cepat dan tuan Jenson sama sekali tidak menahanku saat itu, padahal di dalam hati kecilku, aku ingin ditahan olehnya.