Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Berhasil Membawa Pulang Rasya


__ADS_3

Dengan terpaksa Desi melakukan semua yang diucapkan oleh sekretaris Roy, dia mencabut semua tuntutan kepada Rasya dan pengacara membantu dia bicara untuk menyelesaikan semuanya agar lebih cepat dan mudah, yang pada akhirnya tidak butuh waktu lama lagi, akhirnya Rasya dapat di bebaskan, dia bertemu dengan tuan Jenson saat pertama kali di pertemukan pada orang yang menjamin dirinya, Rasya jelas mengenal wajah tuan Jenson yang asli karena dia pernah bekerja sama dalam bisnis dengannya, tetapi dia merasa heran sebab disaat dia hendak mengucapkan terimakasih kepada tuan Jenson, tiba-tiba saja seorang pria yang dia kenal adalah sekretaris Roy langsung menahan tangannya dan malah mengucapkan kalimat sama-sama lebih dulu.


"Aahh.. sama-sama, kau tidak perlu berterimakasih kepadaku, aku sudah tahu kalau diriku memang sangat baik hati dan tidak sombong, mulai sekarang kau ikut denganku, dan kau Desi aku berikan peringatan kepadamu, jika kau berani melakukan trik kotor lagi untuk memenjarakan Roy ataupun istrinya, maka kau akan berhadapan denganku, camkan itu." Ujar sekretaris Roy memotong ucapan Rasya dengan cepat.


Dia kemudian menarik tangan Rasya dan membawanya keluar dari kantor polisi itu dengan cepat, karena dia takut Rasya akan memberitahu Desi bahwa dia bukanlah tuan Jenson yang sebenarnya, sedangkan Desi sendiri hanya bisa berdecak kesal dan menghentak-hentakkan kakinya sangat kencang sembari menggerutu tiada henti.


"CK. Berani sekali dia mengancamku seperti itu setelah apa yang sudah aku lakukan dengannya, jika bukan karena aku, Rasya sialan itu tidak akan pernah bebas dengan mudah dari jeruji besi itu, awas saja kau Ros, kau sudah berani ikut campur dalam urusanku sejauh ini, akan aku pastikan kau jatuh di tanganku sendiri!" Ucap Desi dengan penuh dendam dan mengepalkan kedua tangannya sangat kuat.


Saking emosinya, Desi sampai meleparkan minuman yang diberikan oleh asistennya tadi, dan terus saja pergi dari sana dengan cepat, dia tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan, yang pasti saat ini dendam dalam hatinya semakin besar terhadap Ros dan dia menyalahkan Ros lagi atas semua kejadian yang terjadi malam ini kepada dirinya.


Sedangkan tuan Jenson dan sekretaris Roy mulai merasa lega karena mereka sudah bisa bersikap seperti semula, di perjalanan Rasya hanya terus diam dengan kondisi wajahnya yang sudah habis babak belur, nampak bekas luka di area wajahnya masih begitu baru dimana dia mungkin di p*kuli lagi sebelum akhirnya di bebaskan.


"Aahhh..tuan akhirnya aku bisa leluasa juga, astaga...apa kau tahu seberapa takutnya aku sedari tadi, aku tidak mau menyamar jadi dirimu lagi, walau awalnya itu sangat menarik dan menyenangkan, tapi aku tidak mau lagi." Ujar sekretaris Roy yang benar-benar dibuat kapok dan tidak mau berpura-pura sebagai tuannya lagi.


"Ahahah...kau ini, baru saja segitu sudah kewalahan dan tidak sanggup, bayangkan jika kau jadi aku, aku lebih menderita setiap harinya." Balas tuan Jenson lagi.


Roy mulai memperhatikan wajah Rasya dan dia berinisiatif menanyakan asal dari luka-luka di wajahnya itu lebih dulu. Dengan sedikit basa basi untuk mendekatkan diri dan mulai mengutarakannya segera.


"Ekm..Rasya kalau aku boleh tahu kenapa wajah dan tubuhmu banyak sekali lebam dan bekas luka, itu juga terlihat baru di beberapa tempat, apa kau mendapatkan perlakuan buruk dari mereka sebelum mereka mengeluarkan kau dari sel?" Tanya sekretaris Roy yang memiliki rasa kepenasaranan yang besar dan begitu kuat.


Awalnya Rasya sulit untuk bicara jujur apalagi menceritakan semua yang dia alami selama berada di dalam sel penjara tersebut, tetapi karena dia merasa sangat berterima kasih kepada tuan Jenson dan sekretaris Roy maka dari itu dia akhirnya berani untuk mengatakan semuanya dengan jujur.


"Sebenarnya memang sejak awal masuk ke dalam sel, ada beberapa orang yang selalu tidak senang denganku, tapi mereka tidak pernah melakukan kontak fisik apapun, tetapi belakangan ini tiba-tiba saja ada beberapa orang tahanan baru yang masuk ke dalam sel yang sama denganku, dan yang sebelumnya di pindahkan, sejak itulah aku mulai mendapatkan perlakuan yang sangat parah dari mereka, mulai dari makananku yang selalu direbut dan tubuhku yang d*t*ndang oleh mereka berkali-kali, selebihnya kau mungkin bisa tahu dari bekas luka dan lebam yang aku dapatkan, mereka benar-benar m*nghajar aku habis-habisan, dan aku tahu bahwa mereka adalah komplotan anak buahnya Desi, dia yang sengaja memasukkan anak buahnya ke dalam penjara agar bisa m*nyiksa aku." Balas Rasya menjelaskan semuanya sejak awal hingga akhirnya dia dapat babak belur seperti itu dan sangat lemah, bahkan badannya pun terlihat lebih kecil dibandingkan sebelumnya.


Sekretaris Roy dan tuan Jenson yang mendengarkan cerita dari Rasya terus saja mengerutkan kedua alisnya sangat kuat, mereka berdua tidak menduga jika Desi benar-benar seperti binatang buas yang sangat kejam, bahkan terkesan lebih kejam dari tuan Jenson yang sudah terkenal dengan kekejamannya sejak dulu.

__ADS_1


"Dia benar-benar iblis, bagaimana bisa ada wanita sejahat dan se licik dia, jika dia saja bisa melakukan itu dengan seorang pria seperti dia, maka kita harus berhati-hati lagi ke depannya." Balas tuan Jenson dengan wajah yang begitu serius.


Sekretaris Roy juga setuju dengan apa yang dibicarakan oleh tuan Jenson, ini juga pertama kalinya dia mengenal ada wanita sejahat itu dan sangat berani untuk melakukan tindakan kriminal yang tidak benar ini secara terang-terangan, bahkan dia sejahat itu kepada sahabat dari adiknya sendiri, tidak bisa dibayangkan bagaimana kejamnya Desi jika dia menyimpan dendam kepada orang lain, atau orang yang sangat dia cintai nantinya.


"Tidak hanya itu, ada hal lain lagi yang ingin aku akui kepada kalian berdua, bisnis yang pernah kita sepakati, sebenarnya itu bukan kemauan dariku, tetapi aku sangat terdesak saat itu, sebab istriku ingin membuka toko kue sedangkan aku tidak membutuhkan uang yang cukup, oleh karena itu aku menjadi gelap mata dan malah menghilang dari jangkauan anda, aku pikir kita tidak akan bertemu atau berhubungan apapun lagi dan aku pikir orang sekaya dirimu tidak akan terlalu memperdulikan uang. Namun ternyata aku salah, aku telah menipu kalian, maafkan aku tuan Jenson dan sekretaris Roy." Tambah Rasya mengakui kesalahan yang telah dia perbuat selama ini.


Kebetulan sekali saat ini tuan Jenson tengah berbaik hati sehingga dia tidak mempermasalahkan hal seperti itu lagi dengan Rasya, dan malah menyuruh Rasya untuk menenangkan dirinya juga mempersiapkan diri saat bertemu dengan istri dan sahabatnya nanti. Ini adalah hal paling dewasa dan bijaksana yang pernah dilakukan oleh tuan Jenson menurut sekretaris Roy yang tersenyum senang menanggapinya.


Mendengar jawaban dari tuan Jenson yang ternyata sama sekali tidak marah kepadanya dan tidak menyimpan dendam kekesalan sama sekali, itu sungguh membuat Rasya kaget dengan menatap ke arahnya terperangah, dia langsung mengucapkan terimakasih sembari menarik tangan tuan Jenson dan terus saja membungkuk menyalimi tangannya.


"Tuan apa kau sungguh tidak marah denganku atau kesal atau mau menghukumku, aku tidak akan keberadaan jika kau mau memberikan hukuman apapun padaku, aku sungguh-sungguh tuan." Ucap Rasya saat itu.


"Tidak ada, untuk apa aku memberikan hukuman padamu, itu tetap tidak akan bisa mengembalikan uang yang sudah kau habiskan." Balas tuan Jenson dengan wajahnya yang sinis dan memang selalu sangat serius dalam bicara.


"Aahh.. sudah-sudah,. lepaskan tanganku, kau ini terus menarik dan menciumi tanganku kau pikir aku kakekmu!" Bentak tuan Jenson sambil menarik tangannya dengan kuat.


Rasya tidak bisa berhenti tersenyum dengan lebar, dia benar-benar merasa sangat senang sedangkan sekretaris Roy yang menyaksikan kejadian itu dia justru harus menahan tawa dibuatnya dan hampir saja terkekeh karena mendengar jawaban dari tuan Jenson kepada Rasya saat itu, selain tidak menduga bahwa seseorang seperti tuan Jenson memiliki sisi hati yang baik, tetapi sekretaris Roy juga merasa aneh dengan kelakuan Rasya yang bisa bisanya menyalimi tangan tuan Jenson bak seorang anak yang ingin berpamitan ke sekolah kepada ayahnya.


"Ahahah...tuan kau benar-benar sudah cocok untuk jadi kakeknya." Ujar sekretaris Roy yang sudah tidak tahan lagi dan malah keceplosan dibuatnya.


Tuan Jenson langsung menatap tajam ke arah sekretaris Roy, sembari memberikan ancaman dengan menyipitkan matanya lewat pantulan kaca spion depan mobil tersebut.


Seketika sekretaris Roy terdiam dan matanya kembali menatap fokus ke depan, dia sudah tahu bahwa tatapan itu sama dengan ancaman keras dari tuan Jenson kepada dirinya, dia pun memilih untuk segera tutup mulut agar nasibnya aman.


*Astaga kenapa tatapan dari tuan Jenson begitu mematikan, aaa sial semoga saja dia tidak akan menyulitkan aku* batin sekretaris Roy yang segera menutup mulut dan tidak mau banyak menggoda tuan Jenson apalagi menertawakan dia seperti sebelumnya.

__ADS_1


Hingga sesampainya di kediaman tuan Jenson, saat itu sudah larut malam, aku baru saja menemani Teguh makan cemilan dengan Nayla, hingga tuan Jenson tiba bersama dengan Rasya dan sekretaris Roy yang memapah Rasya saat itu.


Teguh yang melihat Rasya dia langsung berlari memanggil nama Rasya dengan keras, karena dialah yang menyadari kemunculan mereka pertama kali.


"Om Rasya....ibu, Tante lihat ayah membawa om Rasya pulang, oomm aku sangat merindukanmu." Ucap Teguh berlari ke arah Rasya dan dia memeluknya dengan erat, Rasya juga langsung menggendong Teguh dan menciuminya, mereka saling melepaskan rindu satu sama lain, dan sempat membuat tuan Jenson merasa cemburu dibuatnya, karena dia yang merupakan ayah kandungnya sendiri tidak pernah mendapatkan hal seperti itu dari Teguh.


"Ekm....apa kamu hanya merindukan om kesayanganmu itu saja?" Tanya tuan Jenson membuat Teguh beralih menatap ke arahnya dan langsung tersenyum sambil diturunkan oleh Rasya dengan cepat.


"Ayah aku juga sangat mencemaskanmu, tapi aku tahu kau lebih hebat dari om Rasya jadi aku sangat percaya bahwa kau akan selalu baik-baik saja, kau ayah yang hebat, iya kan ibu." Ucap Teguh yang sangat pandai mencuri hati setiap orang, aku dan Nayla tersenyum menanggapi ucapan putra kecilku itu.


Dan tuan Jenson langsung mencubit hidung Teguh pelan karena dia sangat gemas mendengar ucapan dari anak sekecil itu tetapi sudah mengerti apa yang diinginkan oleh ayahnya saat itu. "Aish kau ini memang selalu aja bisa menurunkan emosi dalam diriku, kau pergi ke kamar dulu ya, ayah harus bicara dengan ibu dan tantemu, ini masalah orang dewasa, bocah kecil tidak boleh ingin tahu." Ucap tuan Jenson sekaligus membujuknya.


Walaupun Teguh nampak kecewa dan sedikit kesal tetapi dia menuruti perkataan dari ayahnya dan segera pergi dengan cepat. "Ahh ayah kau ini aku baru saja bertemu dengan om Rasya, aku kan mau bicara banyak tentangnya, kau sangat menyebalkan sekali sih." Ucap Teguh sembari berjalan meninggalkan tempat itu dan menaiki tangga bersama salah satu pengasuhnya yang selalu menemani Teguh sejak dia tinggal di rumah ini.


Nayla berjalan pelan dan langsung memeluk Rasya dengan sangat erat, air mata diantara keduanya sudah tidak dapat dibendung lagi, mereka berdua mencurahkan rasa cemas, rasa sayang dan rasa rindu yang sangat besar, rasa cinta dan penuh kecemasan yang pernah mereka rasakan sejak lama, terpisah karena orang jahat dan batin yang sama-sama tersiksa, itu sungguh menguras energi mereka berdua, sehingga kini mereka tidak dapat diganggu sama sekali, aku dan tuan Jenson hanya bisa melihat mereka dari samping dan tuan Jenson malah ikut memelukku dari samping membuat aku merasa heran darinya.


"Tuan kau ini apa-apaan sih?" Gerutuku kepadanya dengan kedua alis yang aku kerutkan saat itu.


"Sudah diam, mereka kan berpelukan, kenapa juga kita tidak melakukan hal yang sama?" Balas tuan Jenson kepadaku membuat aku tidak bisa bicara apapun lagi, hanya bisa terperangah heran untuk beberapa saat hingga akhirnya aku juga ikut tersenyum dan menangis terharu saat menatap betapa bahagianya mereka berdua sudah kembali dipertemukan lagi. Rasya juga langsung berterimakasih denganku, dia terlihat menangis haru bersama dengan Nayla, dan yang membuat aku semakin kaget, mereka berubah justru bersimpuh secara tiba-tiba di hadapan aku dan tuan Jenson.


"Tuan terimakasih banyak kau sudah menyelamatkan suamiku, Ros aku juga berterima sekali denganmu, jika bukan karena kamu aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Raysa. Terimakasih banyak kalian berdua adalah orang-orang yang baik." Ujar Nayla kepadaku.


Begitu pula dengan Rasya, aku sungguh merasa tidak enak hati jadi aku pun segera menyuruh Nayla dan Rasya agar segera bangkit berdiri, karena tidak baik jika mereka berterimakasih sampai seperti itu denganku. Apalagi aku tidak membantu terlalu banyak bagi mereka berdua, jadi dengan cepat aku pun segera menarik tangan Nayla begitu pula dengan tuan Jenson yang menarik tangan Rasya. "Eehh sudah kalian berdua tidak perlu melakukan semua ini hanya untuk berterimakasih kepada aku ataupun tuan Jenson, lagi pula kalian jauh lebih banyak membantu aku dimasa lalu dibandingkan dengan apa yang aku berikan saat ini." Balasku kepada mereka berdua.


Dan kami saling berpelukan satu sama lain, aku sangat senang akhirnya kami bisa melewati kesulitan yang datang sedikit demi sedikit.

__ADS_1


__ADS_2