Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Ditertawakan Roy


__ADS_3

Perasaan kesal, cemas dan tidak menentukan terus saja menghantui diriku saat itu, sedangkan tuan Jenson sendiri malah terus bangkit berdiri dan dia terus saja pergi dari sana dengan berbicara aneh kepadaku dan terus saja melewati aku begitu saja sampai dia hampir terjatuh karena kakinya tersandung kaki meja saat itu.


"Ahh..aahh...ahh, maafkan aku, tadi aku aku tidak bisa mengontrol diriku, aku mau pergi, awas...awas..." Ucapnya terus saja menyuruh aku menyingkir saat itu.


Dia punya mata tapi tidak tahu matanya dia pakai untuk melihat ke mana, karena dia terus saja berjalan ke depan sampai kakinya tersandung cukup kuat saat itu, yang membuat tuan Jenson jatuh tersungkur ke lantai tetapi dia masih mengatakan dirinya baik-baik saja sambil mengangkat tangannya ke arahku, padahal aku tahu dia jatuh cukup kencang saat itu.


"Bruk..aduhh..aahh aku baik-baik saja, kau jangan cemas dan jangan membantuku, aku bisa sendiri." Ucapnya kepadaku dan menyuruh aku untuk tidak membantunya.


Padahal saat itu aku memang refleks langsung berdiri berniat untuk membantu dirinya, tetapi karena dia sudah bicara seperti itu, aku pun langsung menghentikan langkah kakiku dan kembali bertanya kepadanya apakah dia sungguh baik-baik saja atau tidak.


"Ehh ..tuan apa kau yakin baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya merasa sedikit cemas saat itu. Tapi dia tetap menggelengkan kepalanya dan langsung bangkit berdiri sampai berlari sangat kencang pergi menaiki tangga dengan kakinya yang pincang.


Aku hanya bisa menatapnya dengan terperangah dan merasa sedikit aneh dengannya yang bisa tetap berlari sekencang itu disaat kakinya pincang, sedangkan disaat tuan Jenson sudah pergi aku juga merasa sangat buruk dengan diriku sendiri yang sebelumnya, apalagi saat otakku sudah mulai membayangkan mengenai kejadian sebelumnya yang terjadi diantara aku dan tuan Jenson, aku terus saja menutup wajahku yang kembali mulai memerah sambil terus saja menggelengkan kepala dengan kuat. Berusaha untuk menghilangkan bayangan memalukan tersebut dari kepalaku.


"Aarrkkk tidak-tidak aku harus menghilangkan bayangan itu, aah sangat menjijikan sekali, kenapa aku bisa-bisanya malah menerima ciuman dari tuan Jenson dan diam saja, sial." Gerutuku saat itu sambil segera saja aku pergi ke kamar dengan cepat.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain tuan Jenson langsung menghampiri sekretaris Roy dengan cepat, Roy yang melihat tuannya datang ke sana dengan keadaan kaki pincang begitu terus saja dia mulai menggodanya sambil membantu tuan Jenson memapah dia untuk duduk di kursinya dengan segera. "Ahah..tuan sepertinya kau melakukan permainannya terlalu keras sampai kakimu pincang begini." Ucap Roy yang langsung saja mendapatkan tatapan tajam dari tuan Jenson dengan cepat.


"Aishh..dasar kau manusia sialan, apa yang kau pikirkan, aku baru saja jatuh, aaah kakiku sakit sekali." Balas tuan Jenson kepada Roy yang langsung saja mendapatkan tawa menggelegar dari Roy sangat kencang saat itu.


"Fftt..ahahah..jadi kaki kau terjatuh bukannya melakukan hal itu dengan nona Ros?" Balas Roy yang terlihat sangat puas untuk menertawakan nasib sial yang menerpa tuan Jenson saat ini, hal tersebut tentu saja membuat tuan Jenson kesal dan tidak diam saja untuk memberikan pelajaran kepada Roy.


"Diam kau! Sekali lagi kau menertawakan aku sepuas itu, aku berikan kau hukuman yang keras dan gajimu aku potong semuanya!" Bentak tuan Jenson langsung membuka sekretaris Roy membungkam mulutnya dan langsung saja memperagakan dianyang seakan tengah menarik resleting di mulutnya, menandakan dia tidak akan bicara apalagi tertawa sepuas sebelumnya.


Meski sebenarnya saat itu sekretaris Roy sangat ingin tertawa lagi dan lagi, tetapi dia harus terus menahannya dengan kuat karena tidak ingin berakhir dengan mendapatkan penyesalan hanya karena tawanya membuat dia mendapatkan hukuman yang tidak manusiawi dari tuan Jenson nantinya, apalagi jika gajinya nanti dipotong, bisa-bisanya dia tidak akan makan bulan depan.


Alhasil tuan Jenson pun langsung menyuruh Roy untuk pulang saja dan membicarakan semuanya besok di kantor. "Sudahlah Roy, sekarang kau kumpulkan saja bukti yang kuat tentang orang yang pernah menjebak aku dan Ros di masa lalu, selebihnya kita bicarakan besok di kantor saja, aku sudah tidak mood lagi." Balas tuan Jenson kepadanya.


"Baik tuan, selamat malam." Balas Roy segera pergi dari sana dengan cepat.


Setelah dia keluar dari ruangan tersebut, barulah Roy bisa tertawa dengan leluasa, dia terus merasa puas karena bisa menggoda tuan Jenson yang sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah bisa dia goda seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Ahaha...tuan Jenson ternyata bisa seperti itu juga, dia terlihat merah padam saat aku menggoda dan menertawakannya, hahaha..dia sepertinya sudah banyak berubah semenjak bertemu nona Ros, itu hal yang bagus aku harus memberi tahu nenek tentang hal ini." Gerutu sekretaris Roy sambil segera pergi menuruni tangga dengan cepat.


Ros yang tengah duduk di kamarnya dia masih saja merasa sangat bingung dan bimbang dengan apa maksud dari hal yang dilakukan oleh tuan Jenson kepada dirinya saat itu.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan kepadaku, apa dia juga akan melakukan hal yang sama kepada wanita lain jika dihadapan dalam situasi seperti tadi? Aahh kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?" Gerutu Yuki terus saja merasa kebingungan sendiri.


Tanpa dia sadari dirinya sendiri juga sudah memiliki benih-benih cinta terhadap tuan Jenson, karena tidak mungkin dia akan menerima ciuman dari tuan Jenson walau sedikitpun jika dia tidak menyukainya, atau bisa saja Ros akan marah dan kesal bukannya malah bingung dan terus memikirkan semuanya seperti saat ini.


Bahkan disaat aku mencoba untuk menutup mataku, tetap saja mata ini kembali terbangun lagi dan lagi, membuat aku merasa sangat kesal dan jengkel dibuatnya.


Aku pun seger bangkit terduduk dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku saat ini, aku pikir aku harus menanyakan semua ini secara langsung kepada tuan Jenson agar menjadi lebih jelas, karena aku juga tidak mau terus dalam kondisi yang sangat menggantung dan tidak jelas seperti ini.


"Iya aku harus memberanikan diri meminta penjelasan darinya sekarang juga!" Ucapku penuh tekad dan segera saja pergi dari kamarku menuju kamar tuan Jenson.


Sialnya disaat aku sudah sampai di depan pintu kamar tuan Jenson, aku justru malah merasa gugup tidak karuan, rasa berani dan tekad kuat yang aku miliki sebelumnya tiba-tiba saja menghilang begitu saja entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2