
Aku pun menyetujuinya dan segera saja kami pergi dari sana dengan cepat, lagi pula aku sudah lebih tenang dan enggan untuk memikirkan hal yang lainnya lagi, semuanya aku akan menyembunyikan kesedihan ini sendiri, dan berharap semoga tuan Jenson tidak akan mengetahuinya begitu juga dengan Rasya dan Nayla, karena jika sampai mereka tahu pasti mereka akan menjauhkan aku dengan Desi atau bahkan aku tidak akan bisa syuting lagi dalam film pertama yang akan aku perankan setelah aku hiatus bertahun-tahun lamanya, itu juga kesempatan emas untuk aku menunjukkan kepada Mike bahwa aku bisa berdiri sendiri aku bisa menjadi selebritis dan aktor terkenal seperti dulu bahkan lebih dari itu dengan usaha yang aku lakukan sendiri.
Kami pun tiba di rumah kebesaran tuan Jenson dan untungnya saat itu kami tiba tepat waktu disaat mobil sudah di masukan ke dalam bagasi hanya hitungan beberapa menit saja tuan Jenson pun akhirnya tiba dan aku masih sempat untuk menyambut kepulangannya, dengan berlari cepat dan terus saja aku terburu-buru mengusap wajahku sendiri agar tidak terlihat bekas menangis olehnya sebab sebelumnya mataku ini terlihat begitu sembab dan agak bengkak, aku tidak mungkin memperlihatkan semua itu di hadapan tuan Jenson, nanti yang ada dia pasti akan bertanya banyak hal denganku dan aku hanya akan kebingungan untuk membalasnya.
Jadi aku pun lebih memilih untuk tetap diam dan menyembunyikan apa yang sebenarnya telah terjadi, sampai saat aku tiba di depannya dan menyalimi tangan dia sambil membantu dia membawa tas kerja, tuan Jenson malah menahan tanganku membuka aku merasa sangat panik dan tidak menentu.
"Tunggu, kemari sebentar kenapa kamu terlihat terburu-buru?" Tanya tuan Jenson sambil menahan tanganku saat itu.
Aku terus berbalik lagi dan menundukkan kepala terus menerus karena aku sangat malu sekaligus takut untuk menampakkan wajah kepadanya, tapi yang ada tuan Jenson justru malah terus saja memegangi daguku lalu dia mengangkatnya sekaligus menyuruh aku untuk menatap matanya padahal saat itu aku sudah berusaha untuk memejamkan mata agar dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Hei, ayo cepat lihat ke arahku, ada apa denganmu, kenapa kamu terlihat begitu aneh Ros?" Tanya tuan Jenson lagi.
Aku pun mulai membuka mataku dengan pelan dan menatap ke arahnya sambil memberikan senyuman yang lebar.
"Ehehe..tidak ada apapun kok mas, aku hanya..." Ucapku yang langsung membuat tuan Jenson kaget sembari membelalakkan matanya sangat lebar dan dia langsung memegangi kedua pundakku menyuruh aku untuk mengulangi ucapanku barusan.
"Tunggu, apa kamu bilang barusan? Mas? Kau sudah bisa memanggil aku dengan sebutan selain tuan? Wahhh ini hebat, ayo ulangi lagi aku ingin mendengarnya dengan lebih jelas." Ucapnya lagi kepadaku.
Aku sudah sangat cemas dan kaget dibuatnya, tapi ternyata dia bukan ingin menanyakan soal mataku yang lebam karena sudah menangis tapi malah salah fokus dengan kalimat yang aku katakan kepadanya, untung saja aku juga bicara seperti itu ku pikir aku melakukan kesalahan lain yang akan membuat dia marah.
__ADS_1
"AA..ahhh..mas, aku mulai sekarang memang akan memanggilmu begitu, kau kan sudah jadi suamiku, dan bertanggung jawab atas putraku jadi tentu aku akan memanggilmu seperti yang seharusnya sebagai istri, tapi jika mas tidak suka aku bisa ganti kok." Ucap ku lagi kepadanya sambil terus memperpanjang bahasan itu agar tuan Jenson tidak fokus dengan hal yang lainnya.
"Oh..tidak usah diganti aku sudah senang mendapatkan panggilan sayang seperti itu darimu, apa pun nama panggilan yang kamu berikan padaku aku tetap akan menyukainya karena yang aku cintai itu dirimu bukan nama yang kau berikan padaku." Balas tuan Jenson merasa sangat senang dia juga segera berjalan di depanku sambil terus saja bicara sendiri, meluapkan rasa senang yang sangat besar hanya karena barusan aku memanggil dia dengan sebutan mas, padahal semua orang yang sudah menikah sebutannya sama saja, mas kalau tidak ayah dan sayang.
Tapi rasanya kali ini tuan Jenson memang terlalu berlebihan dan nampak sangat aneh karena malah salah fokus dengan nama panggilan tersebut padahal aku sudah panik dan cemas tidak karuan lebih dulu, kalau tahu akan begini aku juga tidak perduli lagi dengannya, biarkan saja kan ada banyak orang yang mengisi kekosongan nya itu.
Atau bahkan seseorang seperti tuan Jenson yang mengelola banyak cabang perusahaan besar tidak akan ada waktu untuk bermain atau pun bersantai di hari-hari biasa dia hanya dapat beristirahat jika pekerjaannya selesai lebih cepat, liburan bersama dengan adanya tanggal merah di kalender, atau jatuh mati dan tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini lalu lepasnya menyesali waktu yang sudah terjadi hingga saling menyalahkan satu sama lain nantinya.
Kami berdua pun berjalan masuk ke dalam kamar bersama karena saat itu tuan Jenson juga hendak membersihkan dirinya sedangkan aku juga masih harus membantu dia membereskan pakaian bekas yang dia kenakan tadi pagi sekaligus menaruh tas kerjanya, kini aku benar-benar bisa berperan layaknya seorang istri teladan yang sungguh, benar-benar sama dengan apa yang sering dilakukan oleh Nayla terhadap Rasya, begitu pula denganku, aku juga belajar dari Nayla bagaimana cara memperlakukan seorang suami yang baik dan benar, mulai menyajikan sarapan tanpa di minta dan memasak lagi untuk makan malam, merapihkan pakaiannya dan membantu dia membawa tas kerja sekaligus mengantarnya saat pergi dan menyambut kepulangannya.
Sebab aku juga tahu tuan Jenson bekerja begitu keras hingga sangat sibuk dan tidak memiliki banyak waktu luang semua itu juga bentuk perjuangan dia untuk istri dan putranya sendiri, sebagai seorang ayah yang cukup muda, dia terbilang sudah sangat sukses dan beruntung di dunia, semua orang pasti akan ingat berada di posisi aku sebagai istri sang sultan yang sangat berjaya ini, ditambah memiliki dua sahabat baik yang sangat support sistem dan begitu memahami aku sepenuhnya, dengan adanya kehadiran mereka di rumah ini aku merasa tidak kesepian lagi dan tidak terlalu takut karena memang memiliki orang lain yang bersedia menemani aku duduk mendengarkan aku mengobrol dan selalu bisa menghibur aku saat sedih bahkan memberikan dukungan penuh kepadaku saat aku gagal, mereka sama sekali tidak pernah mengecewakan aku apalagi, berbuat jahat kepadaku.
Kami berdua terus saja sibuk menceritakan kenangan masa lalu kami yang begitu penuh liku juga butuh banyak perjuangan saat itu hingga bisa sampai di titik ini dan masih saja mendapatkan berbagai macam ujian dalam hidup, tidak hanya dalam faktor ekonomi dan sosial tetapi juga dalam rumah tangga dan usaha yang semakin memburuk.
"Ros tidak terasa sekali ya, kini Teguh hampir menginjak usia tujuh tahun dan kita berdua sudah sama-sama memiliki suami, aku juga ingin segera memiliki momongan Ros agar aku tidak kesepian jika Rasya pergi bekerja." Ucap Nayla kepadaku.
"Iya Nay, padahal berasa baru kemari kita masih bersama kerja di cafe kecil dengan bayaran yang tidak masuk akal itu, tapi sekarang semuanya sudah berlalu begitu lama, apa cafe itu masih buka ya?" Balasku sembari bertanya mengenai kondisi cafe tempat kami pernah bekerja dahulu.
__ADS_1
"Entahlah aku sudah sangat lama tidak kesana lagi, bisa saja masih ada dan bisa juga sudah tutup, dulu saja tempatnya sudah sangat sepi dan ketika terakhir kali aku kerja disana bos sudah mengeluarkan beberapa karyawannya termasuk aku dan Rasya." Balas Nayla kepadaku, aku pun mengangguk sembari sedikit merasa sedih karena bagaimana pun banyak sekali kenangan yang tersimpan disana.
Masa-masa sulit yang aku rasakan lebih banyak tersimpan di cafe itu, pertama kalinya aku belajar mencuci piring dan menjadi pramusaji juga di tempat itu, pertemuan pertamaku dengan Rasya hingga di kenalkan dengan Nayla juga di depan cafe tersebut, sampai mereka yang memohon kepada bos galaknya untuk menambah pegawai lagi supaya aku bisa mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal di sekitar sana.
Jika mengingat semua itu aku selalu berpikir bahwa jika saja kala itu tidak ada Nayla dan Rasya mungkin aku sudah terlantar, menjadi pengemis yang meyedihkan atau pun bisa saja menjadi odgj yang nampak kacau dengan pikiran karena masalah yang harus aku tanggung nantinya. "Nayla apa kamu masih ingat betapa sulitnya aku dahulu, kenapa ya kok aku bisa-bisanya ya malah kabur darimu saat persalinan." Ucapku kepadanya sambil tersenyum kecil dan langsung saja di tanggapi oleh Nayla.
"Aku juga sangat cemas dan begitu kaget ketika mengetahui tau-tau kau sudah tidak ada, asal kau tahu Ros saat itu Rasya hampir putus asa karena dia tidak berhasil menemukan kamu juga bahkan dia hampir jadi gila karena itu, dia tidak mau makan, mengurung diri bahkan sampai tidak mau melakukan apapun lagi, dia sangat mencintai kamu dahulu." Ucap Nayla membuat aku merasa sangat tidak enak dengan dirinya sendiri.
"Ehh, Nayla kamu ini apa-apaan sih, sekarang kan Rasya sudah menjadi suami kamu, sudah lah jangan bahas masa lalu lagi sekarang yang menjadi tujuan hidupnya adalah kamu aku juga mencintai suamiku." Balasku kepadanya dan langsung di tanggapi sebuah tawa kecil oleh Nayla, untunglah Nayla tidak mudah cemburu dan dia adalah orang yang memiliki hati serta pikiran terbuka, tidak mudah marah dan mempercayai sahabatnya sendiri.
"Ahah..iya iya lagian kau ini begitu serius sih, aku kan hanya bercanda saja barusan." Balas Nayla lagi kepadaku membuat aku bisa merasa lebih tenang.
Sedangkan disisi lain tanpa kedua wanita itu ketahui sebenarnya ada dua pria yang mengintip mereka dan dengan sengaja menguping pembicaraan keduanya di balik dinding dapur saat itu, tuan Jenson terus saja berusaha untuk mendengar semuanya dan dia sangat kesal ketika mengetahui bahwa istrinya pernah di sukai oleh Rasya, pria yang sudah dia bantu keluar dari penjara dan saat ini tengah berdiri di sampingnya, tatapan tajam tuan Jenson langsung beralih kepada Rasya dan dia memberikan ancaman keras kepadanya sebab takut Rasya akan kembali jatuh cinta pada istri kesayangannya tersebut.
"Heh, awas saja jika kau sampai berani menyukai istriku lagi, akan aku jebloskan kau ke kandang macan!" Ancam tuan Jenson membuat Rasya sangat kaget dan sedikit takut sambil terus saja kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Iya...aishh kau ini begitu cemburuan sekali sih, aku kan sudah menikah dengan istriku juga mana mungkin aku mengkhianati istriku yang baik hati itu." Balas Rasya meyakinkan tuan Jenson sambil menatapnya lekat dan mengangkat dua hari tangannya.
__ADS_1
Menandakan janji yang dia sampaikan saat itu kepada tuan Jenson bahwa dia tidak akan mengulanginya lagi. "Baguslah jika kau sudah tidak mencintainya lagi, tapi jika sampai nanti ketahuan olehku kau memendam sedikit saja perasaan untuk istriku, awas saja kau aku akan benar-benar merobek kulit dan melepas dagingmu itu!" Tegas tuan Jenson kembali memberikan ancaman yang lebih menakutkan lagi dibandingkan sebelumnya.
"Wah...wah...tuan apa kau ini kanibal? Yang benar saja aku kan sudah berjanji kenapa kau masih saja takut, dasar tidak masuk akal." Balas Rasya sambil segera berjalan pergi dan memilih untuk menghindari tuan Jenson lagi