
Segera aku bangkit berdiri dan menghampiri Teguh untuk bermain dengannya, sedangkan tuan Jenson sendiri tanpa Ros ketahui sebenarnya tuan Jenson selalu memperhatikan dia dan menjaga dia selama ini di belakang Ros tanpa Ros ketahui.
Kali ini tuan Jenson berdiri di balkon kamarnya dan terus menatap ke bawah secara langsung memperhatikan Ros yang bermain dengan Teguh juga dengan pelayan di rumahnya saat itu, sedangkan dia segera menghubungi Roy untuk melanjutkan rencananya saat ini tanpa sepengetahuan Ros.
"Roy datang ke rumahku ada hal penting yang harus kau lakukan." Ucap tuan Jenson dalam panggilan telepon kepada Ros saat itu.
Hingga tak berselang lama akhirnya Roy tiba dan dia bertemu dengan Ros terlebih dahulu saat dia baru saja sampai di depan rumah tuan Jenson saat itu.
"Ehh..Roy mau apa kau datang kemari sore-sore begini?" Tanyaku merasa sangat heran ketika melihatnya datang menemui tuan Jenson di jam segini.
Padahal ini sudah hampir malam tapi dia malah datang ke sini dengan pakaian jas yang biasa dia kenakan untuk bekerja ke kantor seperti biasanya.
"Aahh.. aku juga tidak tahu nona Ros, tapi tuan Jenson yang memintaku untuk menghadap kepadanya saat ini juga, kalau begitu aku permisi, mungkin tuan Jenson sudah menungguku di dalam." Balas Roy sambil segera masuk ke dalam rumah setelah mendapatkan anggukan kepada dariku saat itu.
Aku benar-benar merasa curiga dan sangat penasaran dengan apa yang akan tuan Jenson bicarakan dengan Roy di waktu seperti ini, aku pun memberanikan diri untuk mengikuti Roy ke dalam dan melihat dia masuk ke dalam ruang kerja tuan Jenson bersama dengan tuan Jenson saat itu, aku juga segera mengikutinya lagi dan berdiri tepat di depan pintu ruangan kerja tuan Jenson yang selalu saja tidak diperoleh siapapun untuk masuk ke dalam kecuali dirinya dan Roy saja, bahkan orang yang harus membersihkan ruangan itu juga Roy sendiri dan tuan Jenson tidak pernah mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam sana, sehingga tentu saja itu membuat aku semakin penasaran, aku berdiri dan mencondongkan kepalaku ke samping pintu ruangan tersebut yang sedikit terbuka, aku terus berusaha menempelkan telingaku di sisinya agar bisa menguping pembicaraan yang mereka bicarakan di dalam sana.
__ADS_1
Sedangkan di dalam ruangan tuan Jenson yang baru saja duduk di kursinya begitu juga dengan Ros yang berdiri di hadapannya dia mulai melihat ke arah pintu yang tepat berada di depannya sedikit terbuka dan menampakkan bayangan Ros yang begitu jelas, tuan Jenson tahu bahwa orang yang berusaha untuk menguping dirinya adalah Ros, sebab hanya Ros yang memiliki bayangan sekecil itu, di tambah, orang lain di rumah ini tidak ada yang akan berani untuk melakukan hal seperti itu kepadanya, karena mereka tahu bahwa seluruh tempat di rumah ini dipasang cctv rahasia yang mungkin tidak mereka ketahui keberadaannya tetapi hanya dapat di jangkau oleh tuan Jenson dan Roy seorang.
Saat Roy bertanya kepadanya tuan Jenson langsung menyuruh Roy untuk diam dan dia segera menunjukkan tangannya ke arah pintu.
"Tunggu Roy, lihat ke sana." Ucap tuan Jenson saat itu.
Roy pun segera berbalik dan dia juga melihat bayangan yang sama di balik pintu yang sedikit terbuka saat itu, dia langsung saja merasa kaget karena dia pikir dirinya sudah menutup pintu dengan rapat sebelumnya.
"Ya ampun tuan, maafkan saya mungkin saya tidak menutup pintunya dengan benar, mohon maafkan saya." Ucap Roy yang langsung meminta maaf karena dia takut tuan Jenson akan menyalahkan dirinya yang ceroboh dalam menutup pintu saat itu.
"Tidak masalah, lagi pula dia itu istriku, dia mungkin penasaran dengan apa yang akan kita bicarakan, kau tunggulah disini sebentar." Ucap tuan Jenson sambil menapakkan sebuah senyum kecil di wajahnya.
"Eh... Kenapa tidak terdengar suara mereka, ini malah seperti suara detak jantung, apa kupingku bermasalah." Gerutuku terus merasa sangat heran sendiri.
"Hei, Ros apa yang kau lakukan?" Ucap tuan Jenson yang membuat aku sangat kaget dan langsung terperanjat ke belakang sangat cepat hingga kepalaku mengenai dagu tuan Jenson dan dia langsung merasa kesakitan karena benturannya cukup kencang, bahkan aku sendiri merasa sangat sakit dengan kepalaku.
__ADS_1
"Aaahhhh...tu tuan apa kau baik-baik saja, aku minta maaf aku...aaahh tuan hidungmu berdarah." Ucapku kaget saat melihat darah keluar dari kedua lubang hidungnya saat itu.
Aku sungguh sangat panik dan terus saja menarik tangannya dan membantu dia untuk menahan darah dari hidungnya agar tidak terus keluar seperti itu.
"Aahh tuan ayo ikut aku, cepat tengadahkan kepalanya, kau tidak boleh menunduk begitu, nanti darahnya akan keluar terus, ayo tahan oke tahan." Ucapku kepadanya sambil membawa dia turun ke lantai bawah dan mendudukkan dia di sofa.
Segera aku mengambil tisyu dan membersihkan darah di area hidungnya sampai menyumbat hidungnya tersebut dengan tisyu yang sudah aku gulung kecil saat itu.
Sementara tuan Jenson terus saja menatap datar dan aku tahu sedari tadi dia mengepalkan kedua tangannya sangat kuat, urat hijau di tangannya terlihat sangat jelas sekali. Itu pula yang membuat aku sangat panik tidak karuan, aku takut dia akan marah besar kepadaku dan aku pasti tidak akan bisa meredakannya.
"Tuan aku minta maaf tolong jangan marah padaku, tadi itu aku sungguh tidak sengaja, aku kaget kau muncul di hadapanku tiba-tiba seperti itu, dan kita sangat dekat, makanya aku langsung mengangkat kepalaku dan dan kau...aku minta maaf ya." Ucapku terus saja meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepadanya.
"Dia lucu sekali saat merasa bersalah seperti ini." Batin tuan Jenson saat itu.
Aku bingung harus bagaimana, karena tuan Jenson terus menatap aku dengan lekat tanpa mengatakan apapun dan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, jadi aku tidak tahu apakah dia masih marah, atau sudah memaafkan aku saat itu.
__ADS_1
"Tuan kenapa kau diam saja? Tuan ayo jawab aku, tuan...tuan Jenson?" Ucapku semakin kencang kepadanya, barulah dia memalingkan pandangannya dariku.
"Aahhh aku baik-baik saja, lain kali kau jangan mengintip apalagi menguping pembicaraan orang lain seperti tadi, aku kan suamimu kenapa kau beraninya menguping urusanku seperti tadi, apa kau mau mengkhianati aku ya?" Ucap dia yang ternyata sudah mengetahui bahwa aku mencoba untuk menguping pembicaraannya dengan Roy.