Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Bekerja di Butik


__ADS_3

Sejak itu aku mulai bekerja dengan Nayla, membantu mengembangkan butik yang baru beberapa bulan ini dia bangun sendiri, meski aku bisa membuat desain tapi aku tidak begitu handal dalam hal menjahit, sehingga aku hanya bekerja sebagai desain pakaian saja, Nayla yang akan menjahitnya dengan beberapa karyawan lain yang dia pekerjakan di ruangan khusus yang ada di belakang butiknya tersebut.


Bangunan butik yang dia dirikan cukup besar dan berada di tempat yang strategis, karena berada di pinggir jalan raya yang ada di ibu kota, semuanya tertata sangat rapih, semua pengguna jalan yang melewati jalanan tersebut sudah pasti bisa melihat butiknya yang memiliki bangunan cukup besar, meski hanya ada satu lantai, namun banyak sekali pakaian yang bagus dan hanya ada disana dengan kualitas bahan super dan harga yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan di butik yang lainnya.


Aku sekuat tenaga terus membantu dia membuat lebih banyak desain pakaian yang terinspirasi dari segala hal yang aku lihat sehari-hari, mendapatkan gaji yang cukup besar dari Nayla membuat aku mampu untuk menyewa apartemen yang letaknya sekitar 5 km dari butik tempat aku bekerja dan 12 km untuk sampai ke rumah Nayla, jadi menurutku jarak itu lumayan dekat hanya butuh waktu sekitar 6 sampai 10 menit untuk sampai ke butik dari apartemen yang aku sewa tersebut.


Meski apartemennya tidak terlalu besar dan hanya memiliki dua kamar saja, tapi itu lebih baik dibandingkan aku harus terus tinggal di rumah Nayla dan Rasya, itu sangat canggung sekali, sebab aku mengerti mereka adalah pasangan suami istri, dan meski aku sahabatnya, tetap saja kini sudah berbeda, apalagi aku tahu Teguh cukup nakal dia selalu saja berlari-lari kesana kemari dan mengotori rumah mereka, walaupun Rasya dan Nayla sama sekali tidak pernah marah, tetap saja aku merasa tidak enak hati, dan memang lebih menyenangkan dan lebih leluasa jika kita tinggal di rumah kita sendiri.


Hari ini aku sudah resmi menyewa apartemen tersebut untuk pembayaran satu bulan sekali, aku cukup puas dengan pasilitas yang diberikan disana dan Teguh juga sangat menyukainya, walaupun jarak dari apartemen ke sekolah Teguh lebih jauh dibandingkan ke butik, namun setidaknya kita punya tempat tinggal dengan bajet yang mencukupi dan seimbang dengan gaji yang aku dapatkan dari bekerja di butik.


Untungnya Teguh sama sekali tidak pernah rewel apalagi protes tentang masalah mencari tempat tinggal dan apapun, dia selalu menuruti semua yang aku tentukan jadi aku bisa dengan mudah memutuskan.


"Aaahh... Mamah aku senang sekali akhirnya kita punya rumah sendiri, sekarang aku bisa menonton tv sampai larut malam kan? Aku juga bisa memakan cemilan di dalam kamar atau diatas ranjang, aku bisa bebas meski tidak minum susu saat hendak tidur ahaha...aku bebas sekarang." Ucap Teguh yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Iya...iya.. terserah kamu saja, mama pergi ke kamar dulu." Ucapku sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


Dia mengangguk dan langsung duduk di sofa sambil menyalakan televisi dan seperti biasa selalu saja menonton berita.


Bayangkan saja, anak laki-laki berusia lima tahu lebih, yang sebentar lagi akan menginjak usia enam tahun, tapi tontonannya selalu saja tentang sejarah dunia dan pemberitaan luar dan dalam negeri, dia bercita-cita untuk menjadi dokter karena mengatakan ingin melindungi aku, tetapi yang aku lihat darinya, dia justru terlihat lebih tertarik dengan bisnis, selalu saja pandai berhitung dibandingkan aku dan selalu cerdas memainkan game asah otak apapun, dia bahkan bisa menghitung penjumlahan dan perkalian dalam empat suku angka sekaligus, entah darimana dia memiliki gen otak jenius seperti itu, padahal aku tidak merasa diriku sebelumnya secerdas dia.


Justru aku wanita bodoh dan lugu sebelumnya, karena sudah tertipu oleh kakakku sendiri, oleh orang yang sangat dekat dan sudah aku percaya dalam seluruh hidupku selama ini.


...****************...


Aku juga sesekali menjadi model pakaiannya di butik, dengan menjadi model disana aku mendapatkan komisi khusus dan bisa mendapatkan uang tambahan yang lumayan banyak, itu bisa untuk memenuhinya tabunganku untuk kedepannya sebab aku tidak pernah tahu apa yang akan aku hadapi kedepannya.


Seperti sekarang ini, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan telepon dari Nayla, dia meminta aku untuk menjadi model dari beberapa pakaian yang baru saja selesai di jahit, dia membuat model secepatnya, karena ada salah satu costumer yang meminta contoh pemakaian dari beberapa jenis pakaian itu saat ini juga, makanya setelah mendapatkan panggilan telepon tersebut, aku harus bergegas dengan cepat ke butik meski itu sudah pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Aku masih belum memiliki kendaraan sendiri, jadi masih harus memesan taxi dan butuh waktu cukup lama untuk sampai ke butik karena jalanan cukup padat malam ini.


Untungnya masih sempat untuk mengambil foto saat itu meski harus tergesa-gesa.


"Ah..hah..hah..hah.. Nayla dimana pakaiannya aku akan mengenakannya sekarang juga." Ucapku ketika baru saja masuk ke dalam buruk menemui Nayla.


"Akhirnya kau datang juga, aku sudah sangat resah sedari tadi, ini kau coba dulu satu per satu, aku akan memotretnya, nanti kau pakai yang ini dulu, hanya tiga pakaian yang mau dia lihat jadi kamu bisa pulang segera setelah selesai mencobanya." Ucap dia memberikan tiga pakaian itu kepadaku.


Segera aku ambil dan mengangguk, dengan cepat pergi ke ruang ganti dan memakai salah satu dress berwarna biru tua dengan renda kecil di bagian pinggangnya, terlihat sangat elegan dan begitu modis, aku berpose bak seorang model sungguhan, aku sudah terbiasa melakukan pemotretan besar sebelumnya karena aku adalah publik figur sebelumnya, jadi hal seperti ini sangat mudah bagiku.


Setelah selesai mencoba semuanya aku baru bisa bernafas dengan lega dan segera bisa kembali ke rumah, badanku sedikit pegal karena harus gonta ganti memakai pakaian di waktu yang berhimpitan dan masih harus melanjutkan tugas membuat desain gambarku yang belum selesai. Tapi semua kelelahan itu terbayar lunas ketika melihat Teguh yang tertidur di sofa dengan wajah tampannya dan bekas makanan yang berserakan di lantai juga meja disana.


"Ya ampun, anak ini benar-benar..." Gerutuku sambil menghela nafas cukup panjang da menggelengkan kepala melihat kelakuan Teguh.

__ADS_1


Segera aku gendong dia dan memindahkannya ke dalam kamar, menarik selimut hingga menutupi dadanya lalu mengecup kening dia dengan penuh kasih sayang.


"Selamat malam sayang." Ucapku sambil mematikan lampu kamarnya dan segera menutup pintu dengan rapat.


__ADS_2