
"Tuhan kenapa kau tidak mempertemukan aku dan Rasya disaat aku masih jaya, kenapa disaat aku seperti ini, kau baru mempertemukan aku dengan pria sebaik dirinya, mungkin jika aku bertemu dengan dia sebelum memiliki anak ini, aku bisa memilih dia menjadi pendamping hidupku, dia akan sangat bertanggung jawab atasku dan pasti menyayangi aku dengan tulus, tapi sekarang aku merasa diriku tidak pantas sama sekali untuk siapapun." Batinku terus memikirkan saat itu.
Aku justru malah terus merasa bersalah, aku tidak mau jika Rasya sampai menyukai aku sebagai pasangan, aku tidak ingin dia mendapatkan wanita yang tidak layak seperti aku.
Meski dia bilang bahwa dia tulus dan bisa menerima aku apa adanya, tetap saja aku tidak bisa bersama dengan dia, ada banyak wanita baik di luar sana dan jauh lebih layak untuk bersama dengan Rasya dibandingkan wanita seperti aku yang sudah rusak seperti ini.
Terlebih aku tahu bahwa ada teman wanita Rasya yang lainnya dan mereka cukup dekat, namanya Nayla dia juga rekan kerjaku dia cafe sebelumnya, kami bekerja bertiga dan dari tatapannya aku tahu Nayla menyukai Rasya, dia juga sangat baik padaku, dia membantu aku mempersiapkan semua kebutuhan untuk bayiku, meski Nayla hanya tahu bahwa aku adalah Rosa yang merupakan seorang wanita yang di tinggalkan oleh suamiku, tetapi dia tidak pernah mempertanyakan apapun kepadaku termasuk asal usulku sebenarnya.
Saat ini saja dia yang terus menemani aku di rumah setiap hari, karena dia tinggal seorang diri di rumahnya dan aku juga sama-sama tinggal sendiri jadi dia selalu menginap di rumahku sejak kandunganku mulai membesar.
Sampai hari dimana bayiku akan lahir sudah tiba, aku terus saja tidak bisa tidur malam itu karena terus merasakan perutku yang mulai terasa mules dan aku bisa merasakan dengan begitu jelas bahwa bayi kecil itu akan segera keluar dari dalam perutku.
Hingga beberapa menit kemudian, aku benar-benar yakin aku akan melahirkan dan Nayla dengan panik langsung menghubungi Rasya yang masih bekerja saat itu, mereka dengan cepat membawa aku pergi ke rumah sakit, dan menemani proses lahiranku sampai bayiku benar-benar bisa lahir dengan selamat dan sehat.
"Eak....eakk....eaak..." Suara tangisan bayi yang baru saja aku lahir kan saat itu.
Rasya dan Nayla yang menunggu di luar mereka turut merasa senang ketika sudah mendengar bayiku menangis dan telah lahir ke dunia.
__ADS_1
"Selamat ya bayimu laki-laki, dia sangat tampan dan berkulit putih seperti ibunya." Ucap perawat yang membantu proses persalinanku saat itu.
Mereka segera membersihkan bayiku lalu menidurkannya di sampingku, Rasya juga masuk ke dalam ruanganku begitu juga dengan Nayla, mereka terlihat begitu antusias melihat bayi laki-lakiku yang sangat tampan.
Dan ketika melihat wajah bayi itu aku kembali teringat pada pria bernama tuan Jenson tersebut, wajah bayiku sangat mirip dengannya, walau aku baru bertemu dengannya satu kali tapi aku masih ingat dengan wajahnya aku tidak mungkin melupakan wajah dari ayah putraku sendiri, walau dia sangat menyakitkan untukku di ingat olehku.
"Wahh...Rosa bayimu sangat tampan, lihat bibirnya yang kecil dan imut, hidungnya juga mancung sekali, dia akan menjadi idaman para wanita ketika besar nanti." Ucap Nayla memuji bayiku saat itu.
"Nayla kamu ini bisa saja," balasku kepadanya.
"Iya dia sangat tampan sama seperti ibunya yang cantik iya kan Nayla." Tambah Rasya menimpali.
"Dia memang mirip ayahnya." Balasku yang membuat Rasya langsung terdiam.
"Benarkah? Wahh...kamu pasti sangat beruntung memiliki suami yang tampan sayang sekali dia malah meninggalkanmu dan putramu yang tampan ini, aku yakin suatu saat nanti suamimu itu akan menyesali perbuatannya padamu dan anakmu ini." Balas Nayla yang tidak tahu apapun saat itu.
Aku hanya bisa terdiam menahan rasa sakit di dalam hatiku sendiri sampai Rasya langsung saja menegur Nayla agar tidak membahas mengenai hal itu lagi, sebab dia tahu apa yang aku rasakan saat itu, hanya Rasya yang mengetahui semuanya tentangku termasuk rahasia besar yang aku bawa selama ini.
__ADS_1
"Aishh...Nayla apa yang kau bicarakan kau kan tahu Rosa tidak menyukai suaminya itu, kau jangan membahasnya dalam keadaan seperti ini." Ucap Rasya mengingatkan Nayla saat itu sampai membuat Nayla langsung meminta maaf.
"Aahh..iya aku lupa, maafkan aku ya Rosa, aku sungguh tidak bermaksud mengingatkan kamu pada lukamu sendiri, aku benar-benar tidak bermaksud begitu." Ucap Nayla yang langsung meminta maaf dan terlihat cukup merasa bersalah padaku saat itu.
"Ayolah apa yang kamu katakan memang benar, jadi kamu tidak perlu meminta maaf padaku, aku juga sudah tidak mempermasalahkan masalah aku dan ayahnya bayi ini, aku tidak akan mengingat dia lagi, aku sudah punya kalian dan bayi kecil ini, aku sudah bahagia dengan hal itu." Balasku kepadanya.
Dan Nayla langsung memelukku, dia memang orang yang baik bahkan saat dia tidak sengaja mengatakan hal itu dia bisa merasa bersalah sampai seperti itu kepadaku.
"Aaahh...Rosa kau membuat aku semakin merasa bersalah padamu, aku janji tidak akan membicarakan masalah itu lagi, aku menyayangimu Rosa kau teman terbaikku sejauh ini." Ucap dia sambil memelukku dengan erat, dan aku membalas pelukannya dengan lembut.
Sayangnya aku akan segera berpisah dengan mereka berdua, setelah aku menginap malam itu di rumah sakit ke esokan paginya aku sudah bersiap untuk pergi dari sana. Saat Rasya dan Nayla masih tidur aku diam-diam keluar dari ruanganku dan menyelesaikan semua administrasi rumah sakit sendiri, aku juga sudah mengurus keberangkatakan aku ke luar negeri dari jauh-jauh hari saat aku masih mengandung bayiku, aku membawa bayi kecil yang baru lahir itu bersamaku, dan menuliskan surat perpisahan terlebih dahulu untuk Nayla dan Rasya aku juga berharap mereka bisa bersatu.
Setelah menuliskan surat perpisahan dan aku menaruhnya pada ranjang yang sudah aku bereskan, aku seger pergi dengan cepat menuju bandara dan akan mengambil penerbangan paling pagi saat itu.
"Maafkan aku Nayla, Rasya... Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang diantara kalian berdua dan aku tidak ingin merepotkan orang baik seperti kalian, aku sangat menyayangi kalian, tapi aku harus pergi, selamat tinggal Nayla, Rasya..." Ucapku ketika aku sudah berada diatas pesawat saat itu.
Aku benar-benar telah meninggalkan negara tempat aku berkarir dan negara tempat aku tinggal juga tumbuh selama ini, serta meninggalkan rasa sakit yang pernah aku alami disana, seakan aku meninggalkan luka yang membuat kehidupanku pernah sehancur itu sebelumnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal Desi, Mike, dan semua luka yang pernah membuat aku menderita selama ini, ku harap aku tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang seperti kalian." ucapku sampai pesawat mulai terbang saat itu.