Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Dijemput Tuan Jenson


__ADS_3

"Hei lepaskan aku, Nayla tunggu ini aku Ros, Nayla kau mau kemana tunggu aku!" Teriakku sambil terus saja berusaha berontak dan melepaskan diri dari dua penjaga yang menahan tubuhku sangat kuat kala itu.


"Nona silahkan anda pergi dan jangan membuat keributan disini." Ucap salah satu penjaga itu kepadaku.


"Pak itu tadi sahabat saya, saya mau mengejarnya tolong biarkan saya masuk." Ucapku memohon dan menjelaskan kepada dua penjaga tersebut.


Namun sayangnya mereka tetap tidak bisa membiarkan aku untuk masuk karena tetap patuh pada peraturan di perusahaan tersebut, dimana hanya orang yang diundang dan memiliki janji saja ataupun karyawan yang memiliki kartu akses saja yang bisa masuk ke dalam sana. "Maaf nona tetap jika anda tidak memiliki undangan, ataupun janji dan kartu akses, maka anda tidak dapat masuk ke dalam sini, silahkan pergi dan jangan membuat keributan lagi yang menggangu karyawan lainnya." Ucap penjaga tersebut kepadaku.


Aku pun mengeluh dan hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu, sebab benar-benar tidak bisa menerobos dua penjaga yang sangat ketat tersebut.


Saat aku keluar, kepalaku tidak bisa berhenti untuk terus memikirkan tentang Nayla, karena aku sangat yakin wanita yang baru saja aku lihat sungguh Nayla sahabatku, tetapi aku berpikir keras tentang untuk apa dia datang dan bisa masuk ke dalam perusahaan tersebut begitu mudah.


Karena yang aku tahu Nayla sahabatku sama sekali tidak mengerti apapun yang berhubungan dengan dunia entertainment, apalagi untuk jadi artis atau berada dalam naungan agensi Mike ini.


"Aahhh...apa mungkin tadi aku salah lihat? Tidak mungkin seseorang seperti Nayla tertarik dengan dunia hiburan seperti ini, dan untuk apa juga dia masuk ke agensi Mike, dia juga tidak mungkin memiliki kartu akses bukan? Aahh mungkin aku sungguh salah lihat saja, atau bisa saja wanita tadi memiliki wajah yang mirip dengan Nayla." Gerutuku mencoba untuk berpikir positif saat itu.

__ADS_1


Aku juga tahu Nayla tengah berada dalam kejaran polisi, tidak mungkin dia berkeliaran dengan begitu mudah seperti ini, aku pun pergi dari sana meski sebenarnya hatiku sendiri merasa tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan saat ini.


Hingga ketika aku keluar, hujan langsung mengguyur kota dengan deras, aku terus saja berlari untuk mencari tempat berteduh dengan secepatnya, berlari kencang mendekati salah satu kursi di depan toko yang tutup saat itu, disana juga ada beberapa orang yang tengah menunggu taxi, aku pikir aku juga bisa berteduh di tempat tersebut sembari menunggu taxi tiba, namun sudah sepuluh menit berlalu, tidak ada taxi lagi yang melewati jalanan tersebut, beberapa orang yang sebelumnya berteduh denganku juga mulai pergi satu per satu, ada yang memilih hujan-hujanan, ada yang di jemput keluarganya dan ada juga yang memilih pergi ke halte bus, aku pun hanya tinggal seorang diri disana dan mataku sudah semakin mengantuk, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat itu, hingga lama kelamaan aku mulai tertidur di kursi tersebut tanpa aku sadari.


Disisi lain seorang pria memperhatikan Ros dari kejauhan, dia memakai pakaian serba hitam dan sangat tertutup, membawa payung yang juga berwarna hitam dintangannya, berdiri di tengah hujan seorang diri, tersenyum kecil menatap Ros dan mulai berjalan menghampirinya disaat dia tau bahwa Ros mulai tertidur saat itu.


"Maafkan aku, kau sangat baik dan tidak seharusnya terlibat, semoga kau selalu bahagia, meski bukan denganku." Ucap pria tersebut dengan pelan dan dia menaruh payung tersebut di samping Ros, kemudian pergi dengan cepat dari sana.


Beberapa saat setelah pria itu pergi aku terbangun dan kaget melihat sudah ada payung di sampingku, terus saja aku merasa heran dan terperangah kaget melihatnya sambil terus menoleh ke segala arah mencari siapa pemilik payung tersebut.


"Ehh... Payung siapa ini?" Tanyaku kebingungan sendiri.


"Ibu..." Teriak Teguh yang membuka kaca jendela mobil dan mobilnya berhenti tepat di hadapanku saat itu.


Aku pun berpikir tuan Jenson lah yang memberikan payung itu kepadaku, jadi dengan cepat aku mengambilnya dan berjalan menghampiri mobil tuan Jenson saat itu.

__ADS_1


"Kenapa kau duduk di pinggir jalan sembarangan, ayo cepat masuk." Ucap tuan Jenson begitu serius sekali denganku.


Aku mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil tersebut, melipat payungnya dan membawanya masuk, lalu aku segera berterima kasih kepada tuan Jenson karena sudah menjemputku dan memberikan payung untukku saat itu.


"Terimakasih ya tuan, aku tidak menduga ternyata kau mau memberikan payung dan menjemput seperti ini." Ucapku kepadanya.


"Ehh...aku tidak menjemputmu, jangan ke gr an kau, Teguh yang sedari tadi merengek menanyakan dirimu, jadi aku harus mencarinya dan berkeliling sangat lama sampai akhirnya bisa menemukan kau juga, dan payung itu bukannya kau yang membawanya sendiri." Balas tuan Jenson yang membuat aku merasa sangat aneh mendengarnya.


"Loh, aku pikir kau yang memberikan payung ini untukku, ternyata bukan ya? Tapi jika bukan kamu lantas siapa?" Gerutuku terus memikirkan tentang payung itu.


Tapi pikiranku tersebut langsung saja tersingkirkan karena Teguh terus bersandar di sampingku dan dia meminta aku untuk tidak pergi secara tiba-tiba lagi seperti sebelumnya, aku pun mulai berjanji dengannya untuk tidak membuat dia cemas lagi, hingga Teguh sudah mulai tenang dan kami mulai bercanda satu sama lain, hingga aku lupa tentang payung hitam itu lagi.


"Ibu kenapa kau pergi secara tiba-tiba dan malah ayah yang menjemputku, aku mau mulai besok kau yang menjemput aku lagi, ayah sangat serius wajahnya selalu di takuti teman-temanku, jadi mereka tidak mau menunggu jemputan denganku lagi karena takut dengan wajah ayah." Ucap Teguh yang membuat aku langsung tertawa sangat lebar.


"Apa? Ahahah....temanmu itu memang pandai menilai orang, memang ayahmu ini titisan serigala, dia bisa saja memangsa teman-temanmu itu, jadi sebaiknya kamu bilang pada mereka untuk berhati-hati, ayahmu memang sangat menyeramkan." Balasku terus menanggapi ucapan Teguh dengan diiringi tawa dan sangat senang sekali mendengar pengakuan dari Teguh.

__ADS_1


Berbeda dengan tuan Jenson yang menyetir di depan sendiri dan terus memasang wajah kesal seorang diri, dia juga menatap tajam kepadaku lewat kaca depan kemudinya.


Tapi aku sama sekali tidak perduli dengan tatapan tajam itu, lagi pula disini ada Teguh, selama ada putraku dia tidak akan berani membentak aku ataupun mengancam diriku, jadi aku bisa berleluasa untuk mengejeknya sekaligus.


__ADS_2