Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Diketahui Teguh


__ADS_3

Aku tidak mengerti dengan tuan Jenson, dia merasa kesal karena aku yang membekap mulutnya tapi seharusnya disini yang kesal dan merajuk dengannya adalah aku, karena dia yang telah mengangkat tubuhku dengan paksa dan sembarangan sebelumnya, lalu terus saja bicara dengan lantang, jadi tentu saja aku harus menahan mulutnya itu, tidak ada cara lain lagi untukku.


Saat aku tengah melamun menatap punggung tuan Jenson yang semakin pergi jauh meninggalkan tempat itu tiba-tiba saja Teguh datang menghampiriku aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar, aku kaget bukan main karena melihat ternyata di balik pintu itu ada Teguh yang berdiri.


Entah sejak kapan dia ada disana tapi aku segera menghampiri dia untuk menanyakannya secara langsung.


"Ya ampun Teguh, sejak kapan kamu ada disini sayang?" Tanyaku kepadanya sambil berjongkok di hadapan dia.


"Mah, katakan yang sebenarnya, siapa tuan Jenson itu? Dan kenapa kita harus tinggal di rumahnya, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Teguh membuat aku merasa sangat gugup, dan terus saja memalingkan pandangan darinya.


Tidak tahu apa yang harus aku katakan saat itu, ini sungguh pilihan yang sulit bagiku, tapi Teguh terus saja mendesak aku hingga tiba-tiba saja dia ternyata sudah mendengar semua percakapan antara aku dan tuan Jenson sebelumnya.


"Cukup Mah, jangan menutupi semuanya lagi dariku, meski aku anak kecil tapi aku berhak tahu siapa ayahku bukan? Tuan Jenson itu ayahku kan? Dia yang selama ini aku cari, kenapa mama membohongiku selama ini?" Ungkapnya begitu saja.


Bak seperti tersambar petir di siang bolong, aku langsung terperangah lebar dan menutup mulutku dengan cepat, tidak bisa aku menyangka ternyata Teguh telah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Aku pun berusaha untuk menenangkan diriku sendiri agar bisa menjelaskan semuanya terhadap Teguh, aku tidak ingin dia salah paham dengan diriku dan membuatnya membenciku karena telah menyembunyikan identitas ayahnya sendiri selama ini.


"Teguh mamah sungguh tidak bermaksud seperti itu, tolong kamu dengarkan penjelasan mama dahulu, sebenarnya tuan Jenson memanglah ayahmu tetapi mama dan dia sama sekali, kita...kita tidak," ucapku yang belum selesai namun langsung saja di potong oleh tuan Jenson yang berlari menghampiriku saat itu.


"Kita berpisah sebelumnya dan sekarang akan menikah lagi, memulai hidup yang baru dan kembali berkumpul seperti sebelumnya, menjadi keluarga yang lebih baik." Ucap tuan Jenson di hadapan Teguh.


Aku pikir Teguh akan marah denganku, ataupun tuan Jenson yang akan mengatakan semuanya, tetapi ternyata semua itu tidak terjadi, Teguh terus saja tersenyum dengan lebar dia langsung memeluk tuan Jenson dan aku bergantian dengan begitu erat, dia terlihat begitu senang karena mendengar hal itu, bahkan aku dan tuan Jenson akan kembali bersama dan dia bisa memiliki orangtua yang lengkap seperti temannya yang lain.


"Aahh... benarkah? Terimakasih banyak mah, ini yang aku harapkan sejak lama, aku memang ingin menjodohkan kamu dengan tuan Jenson, tapi ternyata tuan Jenson memanglah ayahku, aku sangat senang jika kalian akan bersama kembali, jadi bisakah aku memanggilmu ayah mulai sekarang?" Tanya Teguh sambil memeluk tuan Jenson saat itu, langsung saja tuan Jenson mengangkat tubuh mungilnya dan dia mengangguk menyetujui apa yang Teguh ucapkan.


Langsung saja Ros menghembuskan nafas yang sangat kesal dia tidak terima tuan Jenson seenaknya mengubah nama panggilan yang biasa Teguh katakan padanya seperti itu, tapi sialnya Teguh justru malah menuruti ucapan tuan Jenson dengan begitu mudah, tanpa meminta pendapat dariku terlebih dahulu.


"Baik ayah, aku akan mendengarkan semua ucapanmu mulai sekarang." Balas Teguh sambil tersenyum senang, mereka lalu langsung masuk ke dalam bersama dengan Teguh yang terus berada dalam gendongan tuan Jenson, sedangkan aku yang ditinggalkan begitu saja, hanya bisa berdecak kesal dan menghentak-hentakkan kakiku sangat keras beberapa kali, untuk melampiaskan emosi saat itu.


"CK....dia benar-benar mau merebut Teguh dariku, aaaahhh aku tidak mau Teguh lebih dekat dengannya dibandingkan dengan aku yang jelas ibunya sendiri, orang yang sudah melahirkan dia dan susah payah aku menghidupinya sendiri selama ini!" Gerutuku merasa sangat tidak terima dan langsung ikut masuk ke dalam untuk menyusul mereka.

__ADS_1


...****************...


Sampai ke esokan paginya, Teguh bahkan lebih senang diantara sekolah oleh tuan Jenson dibandingkan denganku, sedari pagi aku terus berusaha menahan diri dan tidak bisa berhenti untuk terus menatap tajam ke arah tuan Jenson, karena dia telah mengambil banyak sekali perhatikan Teguh dariku, yang sebelumnya hanya aku yang mendapatkan semua itu dari Teguh.


Hingga ketika Teguh sudah masuk ke dalam sekolahnya dan hanya ada aku dan tuan Jenson di dalam mobil itu, aku mulai memberanikan diri untuk bicara dan perotes kepadanya dengan semua yang sangat menggangu diriku sejak semalam.


"Tuan, apa sebenarnya yang kau rencanakan di belakangku, kenapa kau malah mengatakan yang sebenarnya kepada Teguh kenapa kau merebut semua perhatian dia dariku, apa kau mau mengambil dia dariku?" Ucapku bertanya kepadanya dengan menatap penuh kekesalan.


Melihat Ros yang terlihat begitu ketakutan atas Teguh dan dirinya, tentu saja tuan Jenson merasa dirinya telah menang dalam hal itu, sehingga dia malah dengan sengaja mempermainkan Ros saat itu.


"Iya, kau benar, sangat benar sekali, aku akan membuat Teguh bergantung denganku sampai dia tidak akan memerlukan kau lagi, lalu aku akan ambil dia dan membawanya ke tempat yang jauh dan membuang mu dengan mudah, jadi tidak akan ada lagi wanita cerewet yang sangat merepotkan di sampingku!" Balas tuan Jenson bicara dengan begitu sinis dan terlihat sungguh-sungguh dalam ucapannya tersebut.


Aku terus saja terperangah sangat lebar dan langsung membentak dia dengan kencang, tidak lupa aku juga menepuk tubuhnya dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan emosi dalam diriku yang sudah aku tahan sejak lama kepadanya.


"APA? Aish.. kau benar-benar manusia biadab, kau sialan, beraninya kau bicara begitu, eugh..aku tidak akan membiarkan kau mengambil putraku begitu mudah, aku juga tidak akan bisa kau singkirkan, apa kau sungguh sejahat itu denganku, apa salahku padamu, aku yang dirugikan, kau sama sekali tidak bertanggung jawab apapun dan tidak menerima kerugian apapun atas kejadian yang terjadi di masa lalu, tapi kenapa sekarang kau begitu kejam padaku?" Ucapku sangat kesal dan melipatkan kedua tangan di depan dada saat itu.

__ADS_1


__ADS_2