
Baru saja kemarin aku dan Nayla kelimpungan mendapatkan banyak sekali pelanggan baru yang berdatangan ke butik, kami memiliki banyak sekali gaun yang harus di jahit juga mendapatkan banyak sekali keuntungan, hingga Nayla berpikir untuk membuat cabang baru untuk butiknya tersebut.
Namun tiba-tiba saja sekarang dia sudah menghilang bak ditelan bumi seperti ini, aku semakin mencemaskan dirinya dan Rasya yang tidak tahu kemana perginya mereka, bahkan rumahnya sendiri sudah tidak berpenghuni seperti saat ini, jadi dengan cepat aku segera memeriksa pada kantor milik Rasya yang berada di perkotaan, jaraknya cukup jauh dari sini, tetapi aku tetap harus pergi untuk memeriksa dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.
Hingga beberapa menit berlalu, aku telah sampai di kantor tersebut, anehnya aku lihat kantor itu juga sudah ditutup, hanya terdapat dua orang satpam yang menjaga di gerbang depan dan tidak mengijinkan aku untuk masuk ke dalam.
"Pak, ini itu kantor teman saya, dia CEO disini, tidak mungkin kantornya di tutup juga!" Bentakku dengan kencang pada kedua satpam yang berbadan tinggi dan kekar disana.
"Maaf mbak tetapi kantor ini sudah tidak beroperasi mulai hari ini, lihatlah ke sana banyak karyawan yang juga berdemo menuntut keadilan dari pendiri kantor ini, mereka sedang menjadi buronan polisi sekarang, anda tidak akan menemukan siapapun di dalam sana, semuanya sudah dikosongkan." Ucap salah satu satpam yang membuat aku sangat kaget.
Dan ketika aku berbalik menatap ke belakang, rupanya apa yang dikatakan oleh satpam tersebut memang benar, ada banyak sekali karyawan yang berbondong-bondong membawa sebuah sepanduk besar yang bertuliskan protesan dan tuntutan tanggung jawab terhadap Rasya, bahkan gambar wajahnya di coret-coret oleh beberapa orang disana.
Mereka juga mengamuk dan melepari gedung perusahaan yang baru berdiri beberapa tahun itu dengan batu dan benda keras lainnya, aku langsung berlindung untuk menjauh dari kerumunan masa yang menggila disana, tetapi mereka sudah memblokir semua jalan, dan terus saja semakin memanas, beberapa penjaga disana sudah tidak mampu untuk menahan para karyawan yang terlalu banyak sehingga mereka juga tidak bisa melindungi bangunan kosong itu sampai semuanya dibuat hancur berantakan, kaca yang pecah dan tembok yang habis dengan coretan, pembakaran api dimana-mana dan suasana yang sangat kacau, beberapa petugas kepolisian datang turun kelapangan dan berusaha untuk membubarkan kerumunan masa tersebut.
Karena mereka juga sedang mengusahakan diri untuk mencari tahu kemana perginya sang pendiri perusahaan tersebut, aku sangat syok, mataku mulai berkaca-kaca, tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang pendemo disana, untuk memastikan yang sebenarnya.
"Bu, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa perusahaan ini di tutup dan para karyawannya mendemo seperti ini?" Tanyaku kepada salah satu dari mereka.
"Mbak itu tidak tahu ya, kalau perusahaan ini ternyata adalah perusahaan ilegal, mereka melakukan banyak transaksi penipuan investasi bodong yang merugikan banyak sekali orang, termasuk saya dan para karyawannya yang lain, sekarang dia pergi melarikan diri secara tiba-tiba dengan membawa semua uang hasil tipuannya termasuk mengorbankan kami para karyawannya yang harus menanggung banyak tuduhan dari para costumer yang terkena tipunya." Ucap ibu tersebut menjelaskan kepadaku.
__ADS_1
"Tidak.. mereka tidak mungkin sejahat ini, semuanya pasti salah, aku harus menghubungi mereka, aku tidak akan percaya jika tidak mendengarkan penjelasan dari mereka terlebih dahulu, hiks.. ini tidak mungkin." Gerutuku terus saja merasa sangat syok.
Aku semakin syok, tubuhku menjadi lemas dan aku terus saja terdiam mematung, membiarkan tubuhku di seret dan terus tersenggol oleh banyak orang yang berlalu lalang dan mengamuk di sekitar sana.
Hingga tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dan dia memelukku dengan menutupi kepalaku menggunakan sebuah jas miliknya.
Aku menunduk dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi, saat aku menatap ke samping, ternyata orang yang baru saja menyelamatkan aku dari amukan masa yang menggila adalah tuan Jenson, orang yang selama ini sangat aku benci dan tidak pernah aku harapkan kehadirannya untuk menolongku sama sekali.
"Kau... Kenapa kau menolongku?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang masih kebingungan.
"Sudah jangan bertanya dulu, ayo ikut denganku, tidak aman terus berdiri di tengah kerumunan seperti ini." Ucapnya sambil langsung menarikku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.
"Tanganmu terluka, apa itu karena kau melindungi aku sebelumnya?" Tanyaku kepadanya.
"Tidak masalah, ini hanya luka kecil." Balas tuan Jenson kepadaku.
Walaupun begitu, tetap saja dia terluka karena ku, aku sungguh merasa memiliki hutang budi padanya, jadi aku tidak bisa diam saja aku pun segera mengeluarkan sebuah obat merah yang selalu aku bawa kemana-mana dan hansaplas miliku.
"Kemarikan tanganmu, biar aku obati." Ucapku sambil menarik tangannya dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak usah, untuk apa kau mengobatinya, ini tidak sakit." ucap tuan Jenson sambil menahanku.
Aku tidak mendengarkan dan langsung mengobati tangannya, membalutnya dengan hansaplas yang aku pegang, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya karena telah membantuku.
"Terimakasih sudah membantuku," ucapku kepadanya.
"Aku hanya tidak sengaja saja lewat di jalanan sana dan melihatmu, jadi aku tidak menolongmu, itu hanya kebetulan." Balasnya kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk saja menanggapinya, dia masih sama seperti dahulu, orang yang memiliki gengsi sangat tinggi bahkan untuk mengakui kebaikan yang dia lakukan untukku, tapi aku tidak masalah tentang semua itu. Karena bagaimana pun dia tetap telah menolongku dari kerumunan masa sebelumnya.
Mungkin jika tidak ada dia yang menolongku sebelumnya, sekarang kepalaku yang akan terluka atau bahkan aku akan terjatuh sampai terinjak-injak oleh banyaknya kerumunan masa yang menggila, di tambah ada banyak petugas keamanan yang mendesak mereka dan terus terjadi saling dorong satu sama lain.
"Kenapa kau bisa ada di tengah kerumunan masa tadi, apa kau juga korban dari investasi bodong itu?" Tanya dia kepadaku.
Aku menggelengkan kepala dan langsung menatap ke depan, aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya, jika orang yang menjadi incaran polisi saat ini adalah sahabat terbaikku sendiri, orang yang sudah membawa aku dan merawat aku dengan sangat baik sebelumnya.
"Kenapa kau diam?" Tanya tuan Jenson bertanya lagi, padahal sebelumnya dia sudah mengetahui siapa Rasya dan Nayla jauh sebelum Ros mengetahui hal ini.
"Tidak apa-apa aku hanya tidak ingin bicara denganmu saja." Balasku beralasan kepadanya, karena tidak ada alasan lain yang bisa aku gunakan jadi aku beralasan sembarangan seperti itu hanya agar dia tidak terus bertanya padaku.
__ADS_1