Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Di Kamar Tuan Jenson


__ADS_3

"Tuan, kenapa sih kau harus menolak keinginan Teguh dengan kasar seperti ini? Dia itu hanya anak kecil, wajar saja jika menurutmu mungkin keinginannya itu aneh-aneh, tapi sebenarnya keinginan dia itu hanya sederhana, kamu tidak mungkin benar-benar tidak memiliki waktu untuknya bukan?" Ucapku mulai bicara memberanikan diri kepada tuan Jenson. Dan dia hanya menatapku dengan tatapannya yang datar.


"Ros kau itu terlalu banyak memanjakannya dan selalu mengabulkan apa yang dia inginkan, makanya dia tumbuh seperti itu, mudah marah dan selalu saja ingin dituruti semua kemauannya. Lagi pula memangnya menurutmu aku sesenggang itu ya? Aku ini pemilik bisnis terbesar di negara ini, aku orang sibuk berbeda dengan orang tua teman-temannya Teguh yang hanya karyawan biasa ataupun memiliki profesi yang beda denganku." Balas tuan Jenson membuat aku tidak menduga jika dia bisa berkata seperti itu, padahal dulu dia yang memaksa agar Teguh mau ikut dengannya dan dia juga yang memberikan segalanya kepada Teguh.


"Jika kau tidak memiliki banyak waktu kenapa dulu kau mengejar-ngejar aku dan Teguh, memaksa kami untuk ikut denganmu dan terus harus tinggal disini, bahkan menikahi aku, memperkenalkan aku dengan keluargamu, kau juga memberitahukan tentang aku kepada seluruh rekan kerjamu, apa semua itu tidak menghabiskan waktu berhargamu?" Balasku kepadanya berusaha untuk membuat dia tersadar.


"Itu beda, lagi pula pernikahan ini hanya kesepakatan kita berdua bukan, kau juga mengatakan bahwa kau sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku bahkan ketika kita sudah begitu dekat, sudahlah kau memang tidak pernah menganggap aku sebagai suamimu, jadi sebaiknya kita tidak usah terlalu dekat." Balasnya lalu pergi dari sana meninggalkan aku begitu saja.


Aku sendiri hanya bisa termenung dengan perasaan heran yang tidak menentu, entah apa yang sebenarnya telah mengganggu otak tuan Jenson hingga dia terlihat banyak berubah akhir-akhir ini terhadapku. "Kenapa aku merasa dia berubah banyak setelah kejadian waktu itu ya? Apa aku ada salah bicara dengannya?" Batinku terus saja memikirkan.


Aku tidak bisa membiarkan situasi ini terus berkepanjangan, jadi aku pun memutuskan untuk pergi mengejar tuan Jenson hingga berhasil menahan pintu kamarnya dengan cepat, sebelum dia benar-benar akan menutup pintunya.


"Tuan tunggu!" Ucapku sambil berusaha mengatur nafasku yang sangat menderu karena aku harus berlari menaiki tangga yang cukup tinggi untuk mengejarnya saat itu.

__ADS_1


"Mau apa kau kemari?" Tanya dia kepadaku masih dengan nada yang datar dan wajah yang terlihat begitu tidak menyenangkan.


"Aku mau tidur denganmu, aahh tidak-tidak maksudku, aku mau tidur di kamarmu itu begitu." Ucapku hampir saja salah bicara saat itu.


Tuan Jenson mengerutkan kedua alisnya beberapa saat tapi dia terus saja menyuruh aku untuk pergi dan selalu mengatakan apa yang aku katakan kepada dia sebelumnya.


"Untuk apa kau mau tidur di kamarku, disini hanya ada satu kasur saja, tidak ada tempat untukmu, lagi pula aku kan sudah bilang berkali-kali denganmu kalau kita itu bukan pasangan suami istri sungguhan, kau juga hanya berpura-pura baik dan perduli padaku, bahkan kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak memiliki perasaan apapun selain dari rasa kesal denganku, jadi untuk apa lagi kau menemuiku seperti ini sampai mau tinggal di kamarku, sana pergi ke kamarmu saja." Balasnya kepadaku.


Aku pun mulai curiga dengan tingkahnya yang aneh beberapa hari ini, sehingga setelah mendengar ucapannya itu aku segera saja mendorong tubuh tuan Jenson ke belakang dan ikut masuk ke dalam kamarnya agar dia tidak bisa mengusir aku lagi seperti yang dia lakukan sebelumnya. "Tuan kau tidak bisa mengusirku begitu saja, barusan saat tanganku terbakar kau sendiri yang bilang kau mencemaskan aku karena aku istrimu, begitu juga dengan apa yang aku khawatir kepadamu saat ini, bagaimana pun kita ini sudah menikah, kau adalah suamiku, dan kau tidak bisa mengatakan seakan-akan semua keperdulianku padamu selama ini hanyalah sebuah kepura-puraan semata, itu sama sekali tidak benar tuan." Ungkapku bicara dengan sangat serius kepadanya.


"Ya sudahlah, kalau kau mau tidur disini tidur saja di sofa sana." Balas tuan Jenson sambil menunjuk ke arah sofa kecil yang ada di dekat jendela kamarnya menuju balkon.


"Hmm apa kau setega itu menyuruhku untuk tidur di tempat seperti itu?" Tanyaku kepadanya dengan sedikit lesu, pasalnya sofa itu memang berukuran sangat kecil tidak akan bisa dipakai untuk tidur orang dewasa sepertiku.

__ADS_1


"Ya kalau kau tidak mau, keluar saja apa susahnya." Balas dia lagi yang terkesan sangat tidak perduli denganku, bahkan dia malah langsung tidur di ranjangnya begitu saja.


Aku sangat kesal dan tidak bisa menunggu lama lagi, langsung aku mendekatinya dan mendorong tubuh tuan Jenson hingga di terbaring di ranjang dan aku naik ke atas tubuhnya, ku pegang kedua tangannya agar dia tidak bisa berontak lagi denganku dan agar dia mau mendengar ucapanku sampai selesai saat itu.


"Eehh..apa yang kau lakukan, lepaskan aku, apa kau gila ya?" Ujar tuan Jenson saat itu.


"Tuan aku mau bicara serius denganmu tapi kau terus saja menghindari ku, kau juga tidak pernah bicara denganku belakangan ini, kau sangat ketus dan seperti tidak memperdulikan aku lagi, ada apa denganmu, apa kau marah deganku, apa aku melakukan kesalahan padamu? Ayo katakan tuan, aku berhak untuk tahu jangan terus diam dan memperpanjang masalahnya seperti ini, kau membuat aku tidak karuan." Ucapku dengan tegas dan nada suara yang tinggi padanya.


Tuan Jenson sendiri sebenarnya saat itu dia sama sekali tidak fokus dengan apa yang Ros katakan kepadanya, matanya justru malah fokus pada tubuh Ros yang dengan beraninya malah menahan dia dengan posisi seperti ini.


"Tuan kenapa kau diam saja, ayo jawab pertanyaan dariku, apa kau sengaja melakukan semua ini untuk...aaahhh" Tambahku lagi yang belum selesai justru malah tuan Jenson yang menarik tanganku dan membalikkan keadaan sehingga malah aku yang terbaring di bawah dan kini dia yang malah mencengkram kedua tanganku hingga aku sulit untuk berontak dan melepaskan diri darinya, sedangkan dia terus saja menahanku dengan kuat.


"Tuan lepaskan aku, kenapa kau malah menahanku, disini aku yang mau bertanya denganmu kenapa kau malah mencengkram tanganku seperti ini? Lepaskan!" Bentakku kepadanya sangat keras dan terus saja berusaha untuk melepaskan diri darinya.

__ADS_1


Sayangnya cengkraman tangannya terlalu kuat untuk aku yang memiliki tenaga kecil, sehingga aku tidak bisa melakukan apapun saat itu meski sudah berusaha berontak agar bisa melepaskan diri darinya.


__ADS_2