Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 1 Mall dan Meeting


__ADS_3

“Mama…tapek akuuu” Rengek suara imut di


dalam gendongannya. Pipi cabbynya menggembung sehingga memunculkan wajah yang


sangat menggemaskan. Raya tertawa gemas seraya mencubit pipi putrinya.


“Padahal Hanum selalu gendong mama lho,


dimana capeknya coba” Kata Raya memandang putrinya.


“Lapel mama…” Kata gadis kecil itu


dengan wajah melas seraya mengelus perutnya yang bahkan kelihatan buncit walau


sedang dalam keadaan lapar.


“Huh, makan aja yang di duluin, nih


kakak aja masih dapat satu baju, iya adek udah banyak…noh” Protes Titania


seraya mengangkat paper bag di tangannya yang berisi pakaian Hanum. Gadis kecil


itu hanya meringis dan hampir menangis.


“Pi Anium lapel mama…” Matanya sudah


berkaca-kaca. Raya jadi tidak tega melihatnya.


“Iya..iya, baiklah kita istirahat cari


makan dulu ya, Kakak Tita nanti dilanjut lagi cari bajunya, ya…” Raya menengahi


perdebatan kedua putrinya. Titania mengangguk dan mengikuti Raya menuju sebuah


kafe yang ada di dalam mall.


Mereka hari ini memang berjalan-jalan


untuk membeli perlengkapan sehari-hari, karena mereka baru pindah dan kebutuhan


rumah tangga juga belum dipenuhi. Raya membeli sebuah rumah tinggal dengan tiga


kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam, dapur, dan satu kamar mandi luar.


Perlengkapan rumah tangga masih kosong, sehingga ia mengajak kedua putrinya


mencari perlengkapan rumah tangga sekalian baju untuk kedua putrinya.


Dan di sinilah mereka, di sebuah kafe


di dalam mall yang mereka kunjungi. Hanum bersenandung riang di tempat duduknya.


Ia menunggu pesanannya dengan tidak sabar.


“Tak napa lama” Rengeknya pada


kakaknya.


“Ish…sabar dulu napa, ini juga masih di


masak kali” Kata Titania ketus. Raya hanya menggeleng menyaksikan perdebatan


kedua putrinya. Titania memang sifatnya ceplas ceplos cenderung judes, mirip


banget sama sifat Ervin papanya. Tapi itu tidak sungguh-sungguh ketika bersama


keluarganya.


“Mama…” Rengek Hanum menatap Raya.


Wanita itu mengelus kepala Hanum sayang.


“Iya, sabar ya, sebentar lagi pesenan


Hanum datang…” Baru menghibur putri kecilnya, hidangan mereka datang. Mata Hanum


langsung melebar berbinar. Tersaji hidangan di meja dengan tertata apik, sup


bola daging, nugget ayam, sosis bakar kecap kesukaan Hanum, ayam kremes dan


omelet telur dan sayuran kesukaan Titania, minumannya ada es krim vanilla


kesukaan Hanum, dan capcin kesukaan Titania, sementara Raya hanya memesan es


kelapa muda. Raya menyiapkan sepiring nasi dengan lauk yang di tata rapi di


sebelah nasi. Hebatnya Hanum tidak mau di suapi, ia bilang bahwa ia sudah gede


tidak mau manja. Hal itu membuat Raya merasa bersyukur. Raya hendak menyiapkan


nasi juga untuk Titania, namun langsung ditolak dengan cuek.


“Aku bisa sendiri Ma…” Raya tersenyum


kemudian mengelus kepala Titania. Ia menyaksikan kedua putrinya makan dengan


lahap, sesekali Raya akan menghapus noda saus di sekitar bibir dan pipi Hanum.


.


.


Tok

__ADS_1


Tok


Laki-laki gagah itu memutar hendel


pintu dan mendorong pintu memasuki ruangan bernuansa kalem nan sejuk. Tampak


seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya tanpa merasa terganggu dengan


keberadaan seseorang yang masuk. Karena ia tahu siapa yang memasuki ruangannya,


sehingga ia tetap fokus pada laptop di depannya.


“Tuan, meeting dengan perusahaan


Nirwana Raya sudah siap” Kata pria itu yang membuat laki-laki serius itu


mendongak menatapnya, kemudian mengangguk. Ia menyelesaikan ketikannya sekilas


kemudian berdiri meraih jas yang tersampir di sandaran kursinya.


“Je, kau atur nanti baiknya kerja sama


itu, aku mau tahunya beres.” Perintah atasannya.


“Baik Tuan, Anda tidak perlu


mengeluarkan suara sedikitpun”


“Bagus” Mereka keluar meninggalkan


ruangan kantor menuju lift eksklusif khusus presdir dan berlalu menuju tempat


parkir.


Asisten Je melajukan mobil dengan


kecepatan sedang merambah lalu lintas kota yang mulai padat. Mereka akan


bertemu dengan klien di restoran Chines Food, restoran yang memang menyediakan


tempat khusus bagi pertemuan para pebisnis untuk membangun jaringan bisnis.


Mereka tiba di lokasi bertepatan dengan


klien yang sama-sama ingin masuk ke dalam, sehingga klien itu mempersilahkan Alvero


dan Asisten Je masuk terlebih dahulu. Kedua pria gagah itu memasuki restoran di


ikuti oleh pria paruh baya dan sekretarisnya seorang wanita dengan dandanan


menor dan pakaian yang kurang bahan. Namun, kedua pria di depan tidak pernah menghiraukan


keberadaan sekretaris itu.


dipesan, dengan hidangan yang langsung disajikan begitu mereka duduk.


“Baik Tuan Haryo, apa yang bisa Anda


tawarkan agar kami bersedia bekerja sama dengan perusahaan Anda?” Tanya Asisten


Je langsung pada pokok bahasan. Baginya basa-basi sesuatu yang muluk-muluk dan


membuang-buang waktu.


Haryo, laki-laki paruh baya itu melirik


sekretarisnya untuk memulai rencananya memuluskan kerja sama tersebut.


Sekretaris itu berdiri dengan gaya yang di buat seksi bahkan ia berusaha


merendahkan dadanya untuk menarik perhatian kedua pria tersebut.


“Lakukan dengan benar Nona kalau ingin


kerja sama lancar!” Sentak Asisten Je tajam membuat sekretaris itu langsung


pucat pasi.


“Ba..baik Tuan” Sekretaris Rina


langsung memulai presentasinya dengan gugup, sesekali ia melirik ke arah


Asisten Je yang masih tetap berwajah datar. Suasana di ruang VVIP menjadi


mencekam, dua orang pria yang tidak bisa tersentuh dan seorang pria paruh baya


dengan sekretarisnya yang berusaha menyajikan presentasi yang menarik. Harapan


Haryo, ia bisa mengikat perjanjian itu melalui keseksian sekretarisnya. Namun


ternyata hal itu tidak mempengaruhi kedua pria di depan mereka.


Setelah satu jam di lalui dengan cukup


membosankan, akhirnya presentasi berakhir dan cukup membuat Alvero dan Asisten


Je tertarik, namun belum cukup untuk bisa menanamkan investasi yang besar. Mereka


akan menanamkan sahamnya sejumlah 15% saja, walaupun mengecewakan bagi Haryo,


ia tetap menerima dengan senang, dan kesepakatan akan dilakukan di kantor


Alvero. Haryo harus menerima konsekwensi mencari lebih banyak lagi penanam

__ADS_1


saham agar perusahaannya tetap bertahan.


Sekretaris Rina mempersilahkan Tuan


Alvero dan Asisten Je menikmati hidangan yang disediakan, sesekali ia


menawarkan hidangan lain pada Asisten Je, tapi pria itu tidak bergeming. Dalam


kesempatan langka itu sekretaris Rina sengaja menyenggolkan tangannya ke tangan


Asisten Je, pria itu langsung wajahnya mengeras penuh kebencian dan jijik, sehingga


ia langsung mengambil handsanityzer dan menyemprotkan berulang-ulang ke


tangannya yang disentuh tadi. Dalam waktu lima detik langsung muncul gatal-gatal


di seluruh tangan dan tubuhnya, ia hanya bisa menahan dengan rasa jijik yang


luar biasa, seakan ia telah terkena bakteri. Alvero mengetahui asistennya


mengalami gatal-gatal tapi tidak mau merusak persepsi orang tentangnya dan


perusahaannya karena memiliki asisten yang mengalami alergi parah, ia langsung


menggebrak meja dengan wajah garang, ia berdiri dan menyeret lengan Asisten Je


kemudian berucap dengan marah.


“Kerja sama batal!” Kedua orang itu


langsung pucat pasi dengan tangan sektetaris Rina yang gemetar ketakutan. Haryo


memandang sekretaris Rina dengan geram.


“Tuan…tolong pertimbangkan lagi” Haryo


memohon seraya menangkupkan kedua tangannya.


“Sekretarismu merusaknya!” Sentak


Alvero tajam tanpa memandang ke arah wanita itu.. Haryo langsung terduduk lemas


tak percaya, kerja sama yang sudah di pegang dalam genggaman tangan dalam waktu


tidak ada lima menit langsung hancur. Ia menatap sekretarisnya nyalang.


“Kenapa kamu membuat masalah hah! Kerja


sama kita gagal, haahhh!” Bentak Haryo marah kemudian pergi meninggalkan


sekretaris Rina yang masih pucat pasi. Haryo kembali berbalik dengan wajah


merah padam.


“Kamu di pecat!” Ucapnya dengan tekanan


kemarahan.


“Tu..tuan…jangan pecat saya…” Hiba


sekretaris Rina. Haryo tidak perduli, dia pergi meninggalkan wanita itu dengan


tergesa. Sekretaris Rina hanya duduk lemas seraya menangis meratapi nasibnya


yang sial. Hilang sudah kemewahan hidup yang selalu diberikan Haryo setiap


harinya, sugar daddynya telah pergi…


Sementara itu Tuan Alvero dan Asisten


Je melaju ke rumah sakit untuk mengobati gatal-gatal yang muncul di tangan


Asisten Je yang menjadi memerah karena terus digaruk dengan kasar begitu sampai


di dalam mobil.


Alvero yang menggantikan menyetir tidak


bisa menghentikan, dia hanya bisa menahan dengan mulutnya untuk tidak di garuk,


tapi tetap percuma karena Asisten Je menggaruk dengan semakin jijik.


“Hei, jangan kau garuk terus, nanti


tambah lecet!” Seru Alvero merasa cemas, ini kali kedua dia menyaksikan gejala


aneh yang muncul di kulit Asisten Je ketika ia bersentuhan dengan seorang


wanita, sampai kinipun ia tidak tahu kenapa laki-laki di sebelahnya begitu


benci dan jijik terhadap wanita. Asisten Je hanya diam dengan tetap menggaruk


tangannya, bahkan kini sudah muncul kemerahan dan terkelupas seperti habis


terbakar.


Mereka tiba di rumah sakit langganannya


dan langsung ditangani dengan segera oleh pihak rumah sakit dengan fasilitas


istimewa.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2